
Mungkin terlambat untuk mengungkapkan, sejujurnya aku menikah dengan Rina terpaksa, terpaksa menikah dengan wanita idaman ibu. Ya Ibuku Santi yang entah kenapa harus menikahkan aku dengan wanita yang sama sekali aku kenal.
"Bu, aku nggak mau. Kenapa sih harus wanita itu yang menikah denganku?" Teriakku marah.
Aku sama sekali tidak mau meninggalakan Rani, wanita idaman yang selama ini aku harapkan melahirkan anak anakku kelak.
"Rey, kalau kau menikah dengan Rina hidupmu terjamin!"
"Ibu hanya berpikir harta dan harta," semburku.
Aku tahu kalau ibu berniat menikahkan aku kerena Rina adalah wanita keturunan orang yang mampu, sedangkan Rani wanita yang sederhana sekali, tapi menurutku Rani lebih anggun daripada Rina.
Ya aku kalah. Ibarat tokoh utama yang harus terjebak oleh rayuan seorang ibu, seperti sinetron sinetron Indonesia yang lebih menguasai perasan dari pada logika, begitu juga aku.
Aku terpaksa menikah kerena bukan aku yang menikah, aku hanya mengucapakan. Ijab saja dihadapan pengulu. Setelah menikah aku ingin langsung memboyong Rina tapi mamanya Rina yaitu Amanda tidak mau kalau anaknya diboyong, Amanda ingin aku dan Rina hidup bersama nya.
Akhirnya aku mengikuti ajakan mama untuk hidup di rumah mama.
"Cepat punya momongan ya, pokoknya mama ingin kalian langsung hamil." Ujar mama menatapku dan Rina.
"Aku juga pengen langsung hamil kok, mama, kayanya seru deh kalau aku bisa hamil." Celetuk Rina dengan wajah berseri seri.
Aku hanyaembuang muka mendengar ocahanan ibu dan anak. Anehnya aku merasa gerah mendengar mereka mengatakan ingin langsung punya momongan, jujur aku merinding sekali kalau sampai aku punya anak dengan Rina.
Aku bukannya menjawab apa yang mereka.katakan, aku langsung pergi begitu saja dari hadapan mereka. Melihat aku yang pergi begitu saja mama dan Rina saling tatap, entah apa yang mereka pikirkan.
Malam pengantin yang seharusnya indah. Bagiku itu hanya penjara buatku, masa aku harus tidur dengan wanita yang sama sekali tidak aku sukai, aku memilih tidur di ruang tamu.
Terlihat wajah Rina yang sedih saat aku meninggalakan dirinya, tapi aku tidak pedulikan Rina.
__ADS_1
"Mas, kenapa tidur di kamar terpisah,suara Rina bergetar menahan gejolak.
"Aku cape, kamu tidur disini ya aku di ruang tamu." Ujarku tanpa berdosa.
"Mas, kita tidur sama sama, kan udah sah suami istri," Rina melonggo melihat aku pergi begitu saja.
Malam itu!
Aku dan Rina tidur di kamar terpisah untung rumah Rina besar dan ada satu kamar yang tidak terpakai, ya aku pakai.
Aku tidak peduli apa yang dipikirkan Rina waktu itu, aku hanya berpikir pasti Rani sedang menangis kerena harus ditinggal menikah olehku, sedangkan aku pernah janji akan membahagiakan Rani.
Aku mengambil hpku dan menghubungi nomor Rani, tapi nomor Rani tidak bisa dihubungi sama sekali. Aku merasa bersalah pada Rani kerena aku telah meninggalakan Rani tapi tidak ada usaha sama sekali, wajar kalau wanita itu marah dan meninggalakan aku
Biarpun Rina memiliki tubuhku penuh, tapi hatiku sama sekali tidak. Ya sejak lima tahun aku tidak pernah menyentuh Rina, dan yang paling parah lagi mama yang dulu baik padaku akhir akhir ini suka menyindir kerena selama lima tahun Rina tidak hamil ya iyalah tidak bakala hamil kalau tidak dibuahi.
Dan satu kebanggaan ku pada Rina, biarpun aku tidak pernah berbuat baik. Tapi Rina tidak pernah menduakan aku, malah aku menduakan dirinya.
Sedangkan Rani waktu itu tidak tahu, aku sebenarnya menyangka kalau Rani tahu semuanya. Tapi Rani sama sekali tidak tahu apa apa, tapi aku terlanjur telah menyakiti wanitaku.
Aku mencintainya tapi tidak bisa memiliki itu mungkin, kerena ayah Rani sebenarnya yang telah memisahkan aku dan ayahku sendiri, itu yang Rani sampai Sekaran GB tidak tahu sama sekali.
Aku berusaha untuk menghilangkan anak yang ada dalam rahim Rani supaya aku tidak ada hubungan apa apa dengan bayi itu, aku nggak mau anak itu memanggil aku ayah, ya memang aku ayahnya biarpun ayah biologis.
Surya sebenarnya yang membunuh ayahku. Aku tidak ikhlas kalau ayahku dibunuh oleh ayahnya wanita yang aku cintai, masa aku harus menikah dengan Rani sedangkan ayahnya juga seorang pembunuh.
"Kamu harus menemani Rani berjuang," ujar Dio waktu Rani akan melahirkan.
Aku gamang. Tapi Dio meninggalakan aku di PKM ya sudah aku berusaha tenang biarpun hatiku waktu itu kacau tidak karuan sama sekali mendengar rintihan dan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Rani.
__ADS_1
Rani berusaha mengejan beberapa kali, sambil tanganya memegang pinggiran ranjang yang ia tiduri.
"Gara gara kamu semuanya, sakit tahu!" Jerit Rani saat ia mengejan.
Aku hanya diam saja, aku tidak bisa apa apa,wlihat wajah Rani yang agak pucat dan penuh dengan keringat yang bercucuran serta air mata yang keluar.
Tiba tiba aku merasa bersalah pada Rani yang membuat dirinya kesakitan seperti itu, tiba tiba timbul rasa benci pada diriku. Tapi perasaan itu aku tepiskan begitu saja.
Akhirnya dengan perjuangan Rani, bayi perempuan itu lahir. Ibu memberikan bayi itu buat aku gendong dan aku adzan dan Iqamah ditelinga bayi itu.
Tanpa sengaja air mata ku menetes jatuh ke pipi bayi yang aku gendong. Tangisannya berhenti saat aku adzan dan Iqamah di telinganya.
Dua Minggu setalah Rani lahiran. Aku melihat Rina menangis meninggalakan rumah itu, aku tereyuh melihat Rina menangis. Tapi aku hanya diam saja, aku jgantudak mengejar Rina, ku biarkan ia menangis.
"Kamu seneng ya lihat aku nangis!" Sembur Rina.
"Kamu tadi lihat aku menangis, tapi kemudian saja. Ini gara gara kamu," ketus Rina.
"Kok kerena aku sih!" Ujarku heran.
"Kenapa sih bukan aku yang hamil dan lahirkan anakmu, malah wanita lain,"
Aku hanya diam mendengarkan kata kata Rina, tapi kenapa hatiku begitu sakit ya melihat tangisan Rina.
"Aku juga pengen hamil, ngapain punya suami kalau tidak bisa menghamili aku, masa aku harus cari laki laki lain," bentak Rina.
Wanita itu langsung meninggalkan aku begitu saja, aku hanya menghela nafas saja. Melihat istri yang hanya status di kertas menangis.
Aku sebenarnya kesal pada diriku sendiri, kenapa hatiku belum terpaut atas nama Rina. Ya menurutku Rina pantas mendapatkan cintaku yang tulus tapi aku malah selalu tidak pernah peduli padanya.
__ADS_1
'Ya Allah kenapa harus ada Rani dalam hidupku, kalau memang kau menggariskan hidupku dengan Rina,' bisik ku kesal.
Kalau saja Rina yang awal datang duluan lebih baik aku bakal pupuk rasa cintaku pada Rina, ini adalah kebalikan. Aku menikah dengan Rina tapi hatiku masih ada Rani.*