
Dio berjalan ke ruangan perpustakaan, Rani yang sedang membereskan perpustakaan melihat kedatangan Dio.
Dio tisk.lanjsung masuk ke perpustakaan seperti kemarin kemarin, ia sepertinya hanya ingin melihat Rani saja lalu tanpa bicara apa apa ia berjalan menuju tempat duduk yang dibuat dari semen yang dijadikan tempat duduk dipinggir perpustakaan.
Dio langsung kesana, duduk dengan menyenderkan punggungnya ke dinding perpustakaan, dengan posisi menghadap parkiran motor dan mobil.
Rani yang melihat Dio tidak masuk ke ruangan perpustakaan merasa heran sekali, kerena Dio tidak langsung masuk seperti kemarin kemarin, malah berjalan ke pinggiran perpustakaan dan malah duduk.
Rani merasakan kalau Dio mempunyai sesuatu yang dirasakan oleh dirinya sendiri, akhirnya ia keluar menuju arah Dio yang hanya diam saja tanpa mempedulikan kedatanganya.
Dio hanya termenung saat mendengar dengan jelas kalau Santi bakal menikahkan Rey dengan Rani. Ada perasan sakit dalam hatinya. Tapi saat melihat Rey biasa saja, ia merasa tenang sekali, Santi kekeh kalau ia ingin segera menimang cucu yang ada di perut Rani.
'Apa yang aku harus perbuat?' tanya dalam hati Dio.
Sebenarnya ia juga sayang sama Rani, tapi hati Rani kekeh pada Rey, ia merasa heran kenapa harus Rey yang mendapatkan perasaan khusus dari Rani, sedangkan dirinya yang benar benar tulis malah tidak dianggap, tapi biarpun Rani terang terangan menolak dirinya, ia masih tetap di samping Rani.
"Dio kenapa kamu?" tanya Rani sambil duduk agak jauh dengan Dio.
Akhirnya Rani mendekati Dio yang masih termenung seperti memikirkan sesuatu, ya Dio memikirkan perasaannya pada Rani. Kalau saja Rani bisa satu kali membohongi dirinya, kalau ia benar benar sayang padanya mungkin saja ia tidak seperti ini.
Dio bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rani, ia hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Seperti mengeluarkan beban yang menghimpit hatinya. Ditatapnya wanita yang selama ini ia sayangi, dengan perasan yang lembut. Pandangan mereka seketika beradu satu sama lainnya, Rani merasa risi ditatap sedemikian rupa oleh Dio.
Lalu ia mengalihkan pandangan kearah lainya, supaya tidak saling tatap dengan Dio. Dio hanya tersenyum tipis, seperti mengusir perasan yang lain.
"Aku nggak suka rencana ibu Santi," ujar Dio memalingkan muka ke arah lurus.
"Rencana? Rencana apa lagi sih! Aku nggak habis pikir banyak rencana yang tidak terselesaikan," Dengus Rani.
__ADS_1
"Menikahkan kamu dengan Rey," lanjut Dio menatap wajah Rani tajam.
Deg!
Hati Rani bergetar seketika mendengarkan apa yang Dio ucapakan dihadapannya.
"Apa aku nggak salah dengar?" tanya Rani shock.
"Nggak, kamu senang kan bakal menikah dengan Rey, tapi itu melukai kak Rina," ujar Dio dingin.
"Kamu bahagia bisa menikah dengan laki laki yang kamu impikan selama ini," lanjut Dio langsung menohok hati Rani.
Ujaran kata kata Dio biarpun pelan menghujam ke hati Rani yang paling dalam. Rani merasakan kalau kata kata itu sebenarnya mewakili hati Dio yang masih mengharapakan dirinya.
"Aku nggak pernah berpikir apa apa Dio, apalagi merebut Rey di hadapan kakakmu," jelas Rani tegas. Ia sama sekali tidak mau di salahkan kembali oleh keluarga Rina.
"Dio!" teriak Rani.
"Selamat ya, semoga kamu bahagia," kata Dio sambil meninggalkan Rani yang masih duduk di luar ruangan perpustakaan.
Rani langsung memegang tangan Dio dengan cepat, tapi Dio langsung menepiskan tangan Rani. Rani hanya melihat kepergian Dio dengan perasan bersalah.
Dio langsung masuk ke ruang guru, sedangkan Rani masuk ke ruang perpustakaan lagi, di kursi ia memikirkan kata kata Dio.
Rani gelisah. Akhirnya ia menuju ruang guru, di lihat ruang guru sepi, kerena semua guru mengajar di.kelas masing masing sesuai dengan mapelnya. Hanya ada Dio yang sedang memegang komputer. Ia mendekati Dio dengan berlahan duduk di kursi kursi depan Dio hanya terhalang oleh satu meja saja.
Dio tahu kalau Rani mendekati dirinya tapi ia cuek saja kerena ia sedang tidak mood.
__ADS_1
"Aku.ngak.mau.ada poligami diantara pernikahan Rey dengan Rina. Buat apa Dio aku harus jadi yang kedua, kalau saja aku nekad bisa saja aku melawan kehendak Santi." kata Rani pelan.
"Kamu pasti menyangka kalau aku senang, tidak Dio aku tidak senang, kerena aku lebih memikirkan perasaan kak Rina." lanjut Rani.
Kerena melihat Dio diam saja tidak ada reaksi sama sekali. Rani kesal melihat Dio tidak merespon apa yang ia ucapkan pada Dio.
"Itu hanya keinginan ibu Santi saja, bukan keinginan ku. Dio kalau aku berniat menjadi madu kakakmu, kenapa aku harus menyembunyikan kehamilanku pada keluargamu," kasta Rani menjelaskan..
"Aku juga nggak apa apa kok kalau kamu menikah dengan Rey, itu keputusan kamu Ran, bagaimanpun ank itu butuh ayah kandungnya," Dengus Dio tajam.
"Oke! Rey ayah kandung bayi yang aku kandung tapi dia bukan ayah nasabnya Dio. Rey hanya ayah biologisnya," getir Rani.
"Kamu perlu tahu Dio, nasib anak yang aku kandung itu menyedihkan. Kerena biarpun ia anak perempuan ia tidak mungkin Rey bisa menjadi wali nikah anak ini, kerena Rey bukan ayah nasabnya." Rani mendesah panjang saat menjelaskannya.
"Kamu perlu tahu, kali anak ini lahir laki laki ia juga tidak bakal bisa menjadi wali nikah adik perempuannya," lanjut Rani pelan tapi penuh dengan emosi yang ia tahan.
Dio langsung diam seketika juga mendengar apa yang Rani katakan, apa yang dikatakan Rani memang benar, ia pernah mendengar tapi ia lupa dimana mendapatkannya..
Anak yang lahir dari hubungan diluar nikah ber nasab pada ibunya, bukan pada ayahnya. Kalau ia lahir sebagai anak perempuan, maka sang ayah biologis tidak akan menjadi wali nikah. Begitu juga sebaliknya kalau ia lahir sebagai anak laki laki, anak laki laki itu juga tidak bisa menjadi wali nikah adik perempuannya.
"Aku bisa menikah dengan Rey. Tapi menurut aku itu percuma.kerena biarpun aku menikah dengan Rey, anak ini tetap bernasab padaku bukan pada Rey. ia tetap anak biologis Rey," Suara Rani getir.
Dio hanya diam saja mendengar apa yang diucapkan oleh Rani, hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Rani. Tapi dio sebenarnya sudah menduga duga rencana Rani apalagi setelah bertemu dengan Santi. Tapi Rani meruntuhkan dugaan Dio, Rani tidak ingin kalau Dio menduga yang tidak ada dalam pikiran dirinya.
Dio tidak bicara apa apa pada Rani, ia langsung mematikan laptop dan langsung pergi begitu saja meninggalakan Rani untuk kedua kalinya, hatinya.masih belum bisa menerima kalau Rani memilih Rey.
Kalau Dio bisa meminta pada rani, ingin rasanya kalau ia meminta kalau Rani melupakan Rey untuk selamanya. Rani termangu saja kerena melihat kepergian Dio untuk kedua kalinya meninggalkan dirinya. Ia hanya mendesah*
__ADS_1