BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Pagi hari cuacanya cerah sekali, burung burung kecil berkicau dengan merdunya menyambut hari yang indah sekali. Mentari pagi bersinar dengan hangatnya, embun pagi yang jatuh di daun membuat kelap kelip bagaikan hamparan emas yang bergelantungan di atas pohon. 


Dari badza subuh Rey, Dio, Rina dan Zoya bersiap siap untuk menuju kota propinsi. Mereka berempat tidur malamnya di rumah Ningsih, Amanda dari malam sudah Strat di rumah itu. Rina yang menyuruh ibunya datang ke rumah Ningsih, awalnya menolak tapi setelah Rina akan cerita akhirnya Amanda ke rumah Ningsih. 


Malam itu Rey yang menceritakan semuanya pada Amanda. Ia hampir tidak percaya kalau Rani nekad menemui Surya sedangkan nyawa Rani terancam kerena keserakahan Surya yang menganggap Rani anak Ilham. 


Saat sinar matahari naik, cahaya yang hangat menyentuh para mahluk bumi membuat semuanya riang. Begitu juga dengan empat orang yang bakal berangkat.


Rey, Dio, Rina dan Zoya mereka berempat berangkat pada pukul 08.00 menuju sebuah propinsi, berjalanan yang mereka lakukan penuh dengan kegembiraan biarpun itu hanya sesaat kerena mereka juga harus berpikir bagaimana caranya supaya Surya tidak melakukan hal diluar dugaan mereka. 


Ningsih dsn Amanda yang tahu keberangkatan mereka hanya bisa mendoakan. Amanda menatap kepergian Rani  dan Dio anak nya, ya biarpun Rina, satu ibu dengan Senja tapi ia memilih Rani. Kerena Rina sadari kecil ia rawat sampai sekarang sedangkan Senja? 


Awalnya Amanda tidak setuju kalau Rina dan Dio berangkat menuju kota propinsi apalagi menemui Surya, tapi setelah Rey menjelaskan siapa Senja yang sebenarnya ia akhirnya mengizinkan kedua anaknya bertemu dengan Senja. 


Ya bagaimana juga mereka adalah adik adik Senja biarpun beda bapak juga. 


Pagi itu Amanda dan Ningsih mengantarkan kepergian mereka, dengan tatapan penuh harapan serta doa untuk Rani. 


"Aku nggak menduga kalau semuanya bakal seperti ini?" Dengus Amanda pada Ningsih. 


Ya biarpun dulu Ningsih sempat membuat hatinya terluka kerena merebut suami dirinya, tapi untuk sekarang Amanda bisa memaafkan apa yang pernah dilakukan pada dirinya. 


"Aku yang salah kalau saja aku dulu nggak menggugat mas Surya nggak mungkin seperti ini semuanya." Tutur Ningsih menyesal.


Ningsih benar benar menyesal telah menggugat cerai Surya dulu. Kalau saja ia tidak mengingat Surya mungkin semuanya tidak akan terjadi, dan mungkin Zoya juga tidak akan pernah ada di dunia ini. Kerena pas Surya ada Ilham juga tidak ada disampingnya, Ia meninggalakan Surya dan Ilham datang. 


"Semuanya telah terjadi, kalau aku tahu semuanya terjadi mungkin aku akan berbagi suami denganmu." 


"Aku baru tahu kalau Senja adalah putriku dan mas Surya otomatis kakak dari Rani." Lanjut Amanda memegang tangan Ningsih dengan erat. 


Ningsih menarik nafas dalam dalam, ia tidak merespon apa yang dikatakan Amanda. Ia hanya tersenyum pada Amanda. 


Sedangkan Rani yang sejak kemarin di rumah Senja hanya terdiam melihat hilir mudik kendaraan yang menuju tujuan masing masing. 

__ADS_1


Senja mencegah Rani untuk pulang. Ya kerena kemarin Rina ke rumah itu kerena tujuan bertemu dengan Surya tapi Surya tidak ada di rumah. Ya Rani menginap di rumah Surya untuk pertama kalinya, untung Anindya sudah MP ASI. 


"Jangan nekad menemui ayah." Saran Senja di teras rumah. 


"Ayah sudah biasa nggak pulang beberapa malam bukan kerena nggak mau menemui kamu, aku nggak bilang kerena aku takut kalau kenapa kenapa," lanjut senja. 


"Kak, aku ingin ketemu ayah sekali saja." Pinta Rani menatap wajah Senja..


"Aku takut, aku takut kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Kita baru bertemu masa aku haru kehilangan kamu lagi kerena ayah, ujar Senja. 


"Kak, percaya lah. Ayah nggak bakal melakukan apa apa, aku bakal jelasin semuanya," harap Rani. 


Sebenarnya bukan itu yang Rani katakan pada Senja. Dalam hatinya ia mengatakan seperti ini,"aku hanya ingin memastikan kalau laki laki yang dipanggil ayah itu, orang yang berjanji mentraktir aku." 


Tapi malah kata kata yang keluar dari mulut Rani adalah yang pertama. Jadi Senja kekeh tidak mengizinkan adiknya bertemu dengan ayahnya.


Rani hanya mendesah. Ia akhirnya berjalan menuju kursi dan ia duduk di kursi dengan pandangan lurus. 


"Jangan nekad. Aku tahu kalau kamu bakal melakukan sesuatu yang aku nggak tahu,kan," selidik Senja menghampiri Rani. 


Wanita itu menyentuh pundak Rani dengan lembut sekali. Rani hanya diam tidak ada reaksi sama sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Senja. Dugaan  Senja menurut Rani meleset, ia bukan diam memikirkan rencana buat bertemu Surya bukan. 


Tapi ia memikirkan laki laki yang ia tolong dan pernah berjanji bakal mentraktir dirinya kalau bertemu, tapi Rani tidak mengharapakan sih! Cuma ia hanya ingin melihat reaksi Surya saja sat melihat dirinya menemui nya. 


Apalagi wanita yang bakal dibunuhnya adalah wanita yang pernah menolongnya. Entah Rani juga tidak tahu apa laki laki itu Surya atau bukan. 


"Dek! 


"Aku hanya ingin ketemu ayah, untuk terakhir kalinya kak," rengek Rani memalingkan badannya ke Senja yang berada di belakangnya. 


"Kalau misal ayah membunuh aku, aku pasrah saja kak." Lirih Rani. 


Belum sempat Senja angkat bicara, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Kedua wanita itu langsung menatap mobil yang berhenti, hati Rani berdetak dengan keras ia tahu mobil yang ada di depan nya adalah mobil Rina..

__ADS_1


"Jangan jangan," lirih Rani. 


Belum sempat Rani mikir panjang. Orang di dalam mobil itu keluar, dan tersenyum kearah Rani. 


"Kalian kenapa kesini!" Teriak Rani spontan. 


Senja hanya diam saja melihat reaksi Rani seperti itu, ia juga tidak menduga kalau Rian bakal datang kembali ke rumah itu membawa pasukan lagi. 


Rey, Dio , Rani dan Zoya menghampiri Rani dan Senja. 


"Kami kesini khawatir pada kamu, jadi kami menyusul," Rina angkat bicara. 


"Kamu nggak bilang dulu kesini," protes Senja. 


"Kejutan, kak." Senyum Rina sambil cipika cipiki pada senja. 


"Kalian saling kenal?" Tanya Rani terkejut. 


"Sebelum kamu datang kesini kemarin, aku udah kenal dengan Senja." Senyum Rina lembut. 


Rani mencipir."Kalian nggak bawa Anindya?" Tanya Rani menatap wajah orang yang baru datang. 


"Nggak. Aku takut kalau Anindya dibawa rewel," Rey tukas Rey. 


"Ya Allah Rey! Kalian tega Anindya nggak dibawa," getir Rani sendu. 


"Kenapa?" Tanya Dio perhatian. 


"Nggak apa apa," ujar Rani. 


Rani hanya menarik nafas dalam dalam, kemarin seharian Anindya tidak menyusu pada dirinya. Seharusnya Anindya harusnya menyusu, dan akibat asi tidak di minuman pada Anindya ia merasakan sakit pada kedua ***********. 


Tadi malam juga tidak bisa tidur kerena *********** bengkak dan sakit sekali, ia berusaha mengeluarkan ASI-nya dan ditampung di wadah yang disediakan oleh Senja dan ASI nya kini ada beberapa botol di kulkas.*

__ADS_1


__ADS_2