BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Masih Simpang Siur 1


__ADS_3

Rey hanya termangu memikirkan Rani dan informasi tentang berita kalaj surys telah tahu nam anak Ilham.


"Kita ketemu di tempat biasa," kata Rey menyutuh Jo datang menemui dirinya.


Hari itu Jo salah satu kepercayaan Rey sayang ke tempat yang telah ditentukan oleh Rey. Mereka.semgaja bertemu ingin tahu masalah tentang Rani.


"Apa.nggak salah itu informasi?" Tanya Rey mengulang pertanyaan pada Jo.


"Kayanya nggak salah, Surya telah mengetahui nama anaknya ilham, trus apa yang harus kita lakukan?"


"Jo, aku kira Surya tahu kalau Rani anaknya, berarti yang Surya tahu kalau anak Ilham itu Rani?"


"Iya itu yang aku dengar sih! Tapi kalau Abang mau menyelidiki serahkan semuanya pada kami. Aku nyakin informasi itu yang di dapatkan.


"Bang, selama ini Surya nggak tahu kalau Rani anaknya?" Tanya Jo menatap wajah Rey.


"Nggak sama sekali, Jo sebenarnya aku bisa saja mwmghabiskan Rani, untuk balas dendam kematian ayahku." Gumam Rey lirih.


"Bang jangan gila. Apa Abang mau seperti Surya balas dendam pada anak Ilham kerena ia nggak mampu balas nya ke bapaknya,"sindir Jo..


Deg!


Hati Rey berdetak keras sekali. Apa yang diucapkan Jo langsung menghantam hatinya Rey. Apa yang Jo katakan benar sekali, apa bedanya dirinya dengan Surya kalau gitu. Tidak jauh bedanya, kalau begitu.


"Ah kamu bisa. Aku jga nggak bakal melakukan itu sih, kasihan Anindya." Ujar Rey.


"Kasihan Anindya atau Abang masih suka sama ibunya," tawa Jo menggoda Rey.


Rey hanya diam saja tidak ada reaksi sama sekali. Ia juga tidak menanggapi godaan Jo pada dirinya. Rey hanya termwnung memikirkan apa yang harus ia perbuat. Kalau misal ia menemui Surya itu sama saja membangkitkan masa lalu. Ia berusaha untuk tidak menemui Surya, dan menahan hatinya yang benar benar terluka.


Jo menepuk bahu Rey lembut, ia seperti tahu apa yang dipikirkan abangnya. Rey hanya mendesis saat tangan Jo menyentuh bahunya. Rey menepiskan usapan tangan Jo lembut.


Di tempat lain Rani, Senja dan Dio hanya terdiam begitu saja. Memikirkan jalan yang mereka harus tempuh untuk menemukan Surya.


"Ayah sebenarnya jarang pulang. Apalagi kalau sekarang ada masalah denganku, pulangnya tidak tentu," ujar Senja pada Rani.


"Aku nggak menghalangi kalau kamu ketemu ayah di rumah ini, rumah ayah jadi rumah kamu juga." Lanjut Senja.


"Gimana Ran?" Tanya Dio menatap Rani..

__ADS_1


Dio hanya menunggu keputusan dari Rani ia juga tidak mungkin meninggalkan Rani di rumah itu sendirian. Bukan sendirian sih, kerena Rani datang dengan dirinya otomatis ia juga pulang dengan Rani.


"Kita tidur di sini yuk! Malam ini saja," pinta Rani pada Dio.


"Oke!" Dio mwnyetujui usul Rani.


Senja tersenyum melihat keduanya bahagia.


"Kalau misal malam ini ayah nggak pulang, ya besok besok kalau pulang aku bakal telpon kalian lagi. Ya biarpun jarak kalian jauh juga," senyum Senja.


Ya ia tahu Rani dan Dio melakukan perjalanan kesini itu memakan waktu yang banyak sekali, dan tidak mungkin datang singkat. Mereka menempuh perjalan selama 3 jam lamanya, untung tidak disertai macet. Kalau di sertai macet mungkin bisa 6 jam perjalanan.


Daerah daerah macet itu daerah lampu merah, ditambah lagi kalau terminal yang mobilnya asal asalan berhenti itu menambah kemacatan saja.


Malam itu Rani, Senja dan Dio masih asyik di teras rumah.


"Ayah sering pulang jam segini," Senja membuka percakapan.


"Kalau sekarang entahlah, kerena pagi kami betengkar jadi mustahil buat pulang," lanjut Senja lembut.


"Memangnya ayah seperti itu ya Kak? Kalau ribut pasti pergi tanpa pulang?" Tanya Rani kemudian.


"Ayah baik, tapi egoisnya minta ampun." Lanjut Senja mengeluh pada diri sendiri.


Apa.yang dikatakan oleh Senja malam.itu memang benar sekali, Surya malam itu tidak pulang. Dan Rani berusaha menelpon ayahnya, ia berusaha menghubunginya dengan meminta telpon Surya.


Tapi tetap saja Surya tidak.bisa dihubungi sama sekali. Rani putus asa sekali, sedangkan Dio merangkul bahu Rani lembut sedangkan Senja mengemggam tangan Rani.


"Ran, aku juga sebenarnya ingin ketemu ibu." Gumam Senja.


Tapi gumaman Senja masih terdengar oleh Rani dsn Dio. Dio menatap wajah Senja saat telingganya menangkap kalau wanita itu ingin bertemu dengan ibu.


Dio merasakan ada kisi kisi di hatinya.


"Gimana kalau kita besok pulang, kakak bisa bertemu dengan mama kok. Mama juga pasti senang kalau anaknya pulang ke rumah." Ajak Dio antusias..


Ya kerena ia nyakin kalau mamanya bisa menerima kedatangan Senja apalagi Senja adalah anak ibu dari suami lain, Rani yang mendengarkan hanya mengangguk setuju atas ajakan Dio pada Senja.


"Trus ayah?' tanya Senja ragu mendengar ajakan dari adik beda ayah itu.

__ADS_1


"Takut ayah pulang, ayah pulang aku nggak ada?"


"Kan ada mbok Minah."


Senja mengangguk ia pagi hendak ikut ke rumah ibunya. Dio dsn Rani mengangguk setuju kalau pagi nanti mereka pulang bersama dan akan membuat kekuatan pada Amanda sebagai ibu kandung dari Senja.


*


Saat pagi hari datang. Kita kira setelah sarapan pagi, mereka meninggalkan rumah.


"Mbok kalau ayah pulang katakan aku ke rumah ibu Amanda ya." Kata Senja pada mbok Minah.


"Ayah pasti tahu ibu Amanda,"lanjut Senja sebelum mbok Minah mengatakan sesuatu pada dirinya.


Setelah berpamitan mereka langsung menuju sebuah perkampungan yang di tempati oleh Rani.


"Ibu!" Panggil Senja ketika mereka telah sampai di rumah Amanda.


Senja menghampiri Amanda yang sedang duduk bersama Rina dan Rey. Ketiga orang yang duduk di teras langsung mengalihkan pandangan ke sebuah suara yang ada di sebalah kanan Amanda..


"Kak Senja!" Gumam Rina dan Rey shock tidak menyangka kalau Senja bakal menemui ibunya.


"Ka kamu siapa?" Tanya Amanda yang tiba tiba hatinya bergetar saat memandang wajah Senja.


"Bu, aku anakmu dari ayah Surya!" Terbata bata Senja mengatakan itu pada Amanda.


Senja langsung menubruk tubuh Amanda dengan eratnya, begitu juga dengan Amanda ia tidak menyangka kalau Senja adalah anaknya.


Tiba tiba Senja seperti merasa nyaman berada diperlukan Amanda ia familiar dengan suara detak jantung Amanda, begitu juga dengan Amanda yang merasakan perasan yang sama saat mereka berpelukan.


Ya tadi Rey menceritakan tentang Senja, Amanda tidsk menyangka kalau Senja yang pernah ia temui itu adalah anak kandungnya.


"Ayah melakukan ini, ayah ingin menyelamatkan aku," ujar Senja akhirnya menceritakan penculikan bayi yang dilakukan oleh Surya.


"Mama nggak menyangka kalau kamu perempuan, masalahnya ada yang cerita kalau anakku laki laki, nggak tahunya seorang perempuan." Senyum Amanda terharu.


"Aulia sini nenek peluk," kata Amanda sambil meraih tangan Aulia yang ada di samping Rani.


Gadis itu langsung menghampiri Amanda.

__ADS_1


"Ibu aku senang ketemu nenek." Ujar Aulia polos.*


__ADS_2