
"Kamu gila ya," Dengus Adinda gemas.
Ketika mereka bertemu lagi, Rina lah yang mengajak Adinda untuk bertemu di tempat biasanya. Adinda akhirnya menyetujui ajakan Rina sahabatnya, kerena sejak kemarin ia menelpon ingin bertemu dengan Rina tapi hp Rina pending terus.
Pertemuan keduanya sebenarnya tujuannya berbeda, kalau Rina hanya ingin kalau Adinda bisa membantu dirinya untuk meraih cinta Rey yang telah lama ia inginkan.
Sedangkan adinda ingin bertemu dengan Rina hanya ingin menasehati Rian bukan mengejar cinta Rey tapi kejar lah Sang Pemilik cinta yang sebenarnya.
Belum sempat Adinda bicara, Rina telah bicara duluan, tapi ia tidak memungkiri kalau Rina ada wanita yang normal butuh sebuah kasih sayang apalagi oleh suaminya. Jadi pantas menginginkan semuanya dari Rey kerena memang Rey telah menjadi miliknya.
Tapi Rina lupa kalau Rey juga punya Pemilik yang abdi, dan Pemilik itu bakal cemburu saat Rina tidak pernah mengubrisnya.
"Kembali kehadapan Allah," ujar Adinda memberikan solusi.
Itu lah yang Adinda bisa katakan pada Rina. Ia tidak ingin Rina terhanyut dalam khayalan dirinya mengejar cinta yang semu. Memang Rey seutuhnya milik Rina, tapi itu hanya titipan saja.
"Kamu sok suci deh. Masa aku harus menyadari semuanya, seharusnya yang kembali pada Allah itu Rani!" Dengus Rian kesal.
Rina menyangka orang yang kembali kehadapan Allah itu orang yang penuh dosa apalagi disa zina, sedangkan dirinya merebut suami orang tidak harus kembali ke hadapan Allah aneh.
Ia tidak suka pada apa yang dibicarakan Adinda pada dirinya, bukan memberikan solusi yang baik malah menikung.
"Bukan maksudku mengurusi hidupmu, tapi aku lihat dan aku dengar dari cerita yang kamu sampaikan, kamu benar benar masih belum menerima apa yang terjadi," ujar Adinda.
"Emang aku nggak ikhlas, masaa aku istrinya tidak diapa apa sedangkan Rani hanya sebatas pacar itu juga udah lama malah terjadi," sela Rina kesal.
"Makanya itu kamu harus mencintai Allah sebelum cinta pada Rey."
"Kamu gila ya, masa aku harus pacaran sama Allah, cara deketin Allah itu bagaimana? Kenalan nya bagaimana?"
Tanya Rina bertubi tubi. Ia belum sepenuhnya mengerti apa yang dibicarakan oleh Adinda, maka itu ia langsung protes apa yang sahabatnya katakan.
__ADS_1
Adinda tersenyum mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rina, pertanyaan yang ia tunggu sebenarnya dari Rina. Tapi adinda tahu kalau Rina tidak mudah untuk dipengaruhi apalagi pengaruh baik, kerena ia tahu Rina protes dan menganggap dirinya sok tahu. Ini yang Adinda harapkan sebenarnya, dari Rina perubahan yang lebih baik lagi.
"Gampang deketin Allah," senyum Adinda.
Adinda spontan bicara itu, kerena rina.memprotes bagaimana cara mendekati Allah.
"Deketin Rey juga susah apalagi deketin Allah," Dengus Rina.
Pikir Rina masih belum sepenuhnya mengerti. Ia berpikir Rey yang ada wujudnya saja susah untuk diraih apalagi Allah yang sama sekali tidak kelihatan, bagaimana caranya mendekati Allah. Rani masih belum mengerti arah bicara adinda pada dirinya.
"Kamu sholat, berdoa, itu cara mendekatkan diri pada Allah.
Terlihat guratan guratan perasaan kesal, saat Adinda mengatakan itu, wajah Rina sangat kecewa mendengarkan apa yang adinda berikan untuk dirinya.
"Luangkan waktu dengan sholat dan berdoa," akhirnya Adinda memberi jalan.
"Din, dengar ya buat apa kita sholat, berdoa, kalau Allah memberikan ujian padaku. Oke aku sholat, berdoa tapi aku ingin Allah memberikan kebahagiaan yang hakiki," cemooh Rini gusar.
Adinda shock mendengar apa yang dikatakan oleh Rina, ia benar benar tidak percaya kalau Rina dihadapannya telah berubah jauh tidak seperti dulu. Ditatapnya wajah Rina dengan lekatnya, disana adinda hanya melihat kekecewaan yang sangat.
"Rin, kenapa kamu seperti ini? Apa kerena cintamu tidak dibalas Rey?" kata Adinda sedih mendengar apa yang Rian katakan padanya..
"Din, aku butuh Rey bukan Allah,"
"Rin, Istigfar! Manusia butuh Allah, tapi Allah tidak butuh manusia," desis Adinda menatap wajah Rina tajam.
"Kalau memang Allah nggak butuh kita kenapa kita harus menyembah Allah selama lima waktu?" tanya Rian menantang Adinda.
Rina sebenarnya sudah gusar atas apa yang dibicarakan oleh Adinda, menurutnya adinda sekarang tidak asyik lagi. Tidak seperti dulu Adinda menurutnya berubah ya sejak 7 tahun yang lalu, tapi perubahan adinda sekarang lebih parah dibandingkan yang dulu.
"Rin, Allah nggak butuh semuanya itu dari manusia macam kamu, sesungguhnya kita lah yang butuh Allah, makanya kita harus bersandar padaNya tiap waktu," tekan Adinda.
__ADS_1
"Din, please aku cape! Dan jangan menambah beban untukku lagi," rintih Rina.
Adinda melihat mata Rina ada kekosongan dan kehampaan, jadi pantas kalau ia bicara seperti itu pada dirinya.
"Kamu hanya mengejar ciptaanNya tanpa mengejar pemilik ciptaanNya," Adinda lembut.
Tapi ia bertekad ingin melihat Rina menyongsong masa depan yang indah bersama Rey, tapi ia bakal melakukan sesuatu yang bermanfaat buat Rina sahabatnya.
"Kamu nggak asyik sekarang." Dengus Rina langsung beranjak dari tempat duduknya. Meninggalakan Adinda yang menatap kepergian sahabatnya. Ada perasaan yang hilang dihati Adinda melihat Rina seperti itu, ada ******* penyesalan kenapa ia dulu pernah meninggalkan Rina yang waktu itu tanpa memperdulikannya.
Kalau waktu bisa diputar mungkin, ia bakal memegang tangan Rina dengan erat membawa Rina, tapi itu hanya keinginan dirinya semata. Kenyataannya tidak sama sekali.
Rina yang berjalan menuju parkiran. Ia disana duduk di dekat pohon yang tubuh disana, tiba tiba hatinya terketuk apa yang Adinda bicarakan pada dirinya, sebuah nasehat yang berharga tapi ia menolaknya.
'Allah nggak pernah adil padaku, kalau.memang Allah adil nggak mungkin kan Rey selingkuh?' protes Rina.
'Allah itu lebih sayang Rani," desah Rina dalam hati.
Rina akhirnya beranjak dari duduknya lanhsung pulang dengan pikiran kemana mana untung ia menjalankan roda duanya dengan kecepatan sedang saja. Biarpun jalan yang dilalui nya lengang juga, ia tidak mau menanggung resiko di jalan raya..
"Kak," Dio memanggil Rian yang memarkirkan motornya.
Rian langsung membalikan kepalanya saat mendengar adiknya memanggil namanya. Dio menghampiri Rina yang belum sempat turun dari motornya, Dio menghalangi kakaknya supaya tidak turun..
"Rani nggak tahu masalah yang kakak bicarakan itu," kata Dio hati hati.
"Apa? memang kakak pernah bicara apa?" Rina langsung menyipitkan matanya tanda heran.
"Rani nggak tahu menahu tentang rencana mertua kakak, Rani malah menolaknya kok kak." lanjut Dio.
"Dio maaf ya kakak nggak mau bahas itu lagi ya. Kakak nggak mau dengar masalah itu, lebih baik kamu minggir jangan halangi jalan kakak," Rina langsung meninggalakan Dio.
__ADS_1
Dio menyentuh tangan Rina tapi wanita itu langsung menepiskan tangan adiknya. Ia lebih baik masuk ke dalam kamar daripada harus membicarakan masalah Rani.*