
"Aku sayang kakak." ujar Zoya memeluk tubuh kakaknya.
Rani tersenyum getir mendengar ucapan Zoya. Memang ia masih bersama dengan Zoya, biarpun hanya beda bapak. Tapi Rani sama sekali tidak menduga kalau ia adalah anak sambung dari Ilham itu sangat menyakitkan sekali.
Mereka masih saling pelukan satu sama lain, tapi kemesraan mereka.teeusik.olwh ketukan pintu yang terdengar nyaring, keduanya melepaskan pelukan satu sama lainnya. Rani langsung membuka pintu terlihat Rey yang berada di ambang pintu. Rani langsung menatap Ningsih yang berada disamping Rey.
"Dia kekeh pengen ketemu sama kamu, sudah ibu larang juga," Ningsih mengucapkan itu
Rani tidak.lamhsungnmwnjawaba tapi ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Rani akhirnya mengenal Rey keluar menuju teras sedangkan Zoya dan Ningsih masih berdiri ditempat yang semula, awalnya Ningsih mengikuti mereka tapi Zoya menahan.
"Jangan jangan ini hanya tak tik kamu saja kan?" sembur Rey setelah berada di teras rumah.
"Maksudmu apa? tak tik aku?," Hela nafas Rani heran.
"Ah! Kamu kan yang mengada Ngada masalahnya ini supaya kamu selamat." terang Rey.
"Masalah ibumu dan ayahku? Picik, aku juga nggak tahu apa apa Rey, aku baru tahu kalau,"
"Alah jangan nge les kamu!" ketus Rey marah..
"Aku cape. Kamu diterangkan juga bakal nggak ngerti," Rani langsung berjalan untuk masuk..
Tapi Rey dengan cepat memengang tangan Rani. Rani langsung menepiskan tangannya dari tangan Rey..
"Kamu berani melawan aku Ran?"
Rani diam mendengarkan ucapan Rey. Rani langsung menatap wajah Rey tajam.
"Rey sekali lagi aku nggak tahu ya masalah itu. Aku hanya tahu ayahku itu Ilham bukan Surya!" jerit Rani frustasi..
Ia sebenarnya tidak ingin membahs ini, Rey datang malah bicara masalah yang tadi belum terungkap. Sebenanya ia pulang bersama Ningsih juga hanya ingin menenangkan perasaannya saja, eh Rey malah datang.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pulang saja, dari pada disini bikin onar!" cicit Rani sebal.
Tanpa menunggu waktu lagi Rani masuk dsn mengunci pintu seakan akan ia tidak ingin Rey kembali lagi, ibu dsn Zoya masih berada di kamar Rani keduanya saling tatap satu sama lainnya, tapi Rani hanya diam saja, ia membaringkan tubuhnya ke kasur.
Zoya dan Ningsih akhirnya keluar mereka seperti memberikan waktu buat Rani untuk memikirkan semuanya. Apalagi Ningsih yang tahu persis kejadiannya, ia nyakin kalau Rani masih belum bisa menerima apa yang seharusnya tidak pernah terjadi pada dirinya.
Setelah ibu dan adiknya keluar dari kamar Rani menangis sambil.memluk guling.
'Ya Allah apa yang aku harus perbuat, aku kotor, aku hina ya Allah di hadapanMu,' rintih Rani sambil mengucap cairan bening yang keluar dari matanya.
"Allah maha pemaaf, jadi kalau kamu ingin kamu bisa bersimpuh dihadapanNya," suara Adinda terhiang hiang sangat jelas di telinga Rani.
"Tapi apa pantas aku bersimpuh dihadapan Allah dalam keadaan kotor seperti ini," rintih Rani waktu itu.
"Allah maha pemaaf pada hambanya yang mau bertobat," kata adinda memberikan motivasi.
"Aku kotor, aku telah hamil..," terbata bata Rani mengatakan itu.
Rani terdiam mendengar semuanya dari Adinda kata kata Adinda bagaikan embun yang jatuh disiang hari, ia merasakan keindahan kasih sayang Allah melalui Adinda.
"Semuanya belum terlambat, taubatlah sekarang Allah membuka pintu taubat untuk orang orang yang serius,"
Rani hanya mengangguk seketika juga. Ya hati ia seperti kosong sekali, hampa seperti tidak punya gairah apapun juga. Selama ini ia jauh sekali pada Allah dan malah mengikuti bisikan setan yang menjerumuskannya dengan keindahan sesaat.
Rani tersentak. Saat telinganya sayup sayup mendengar sayup sayup suara adzan dari sebuah mesjid yang tidak jauh dari rumahnya, relung hatinya yang kosong kini terisi oleh suara indah dan merdu.
Air matanya menetes haru mendengarkan adzan yang selama ini ia sepelekan. Rani akhirnya beranjak dari tempat tidur dan langsung ke tempat wudhu.
Dengan kerendahan hati dan keikhlasan, ia mengambil wudhu dengan tertib dan melaksanakan sholat. Setelah selesai sholat ia berdoa meminta ampunan pada Allah.
Setelah berdoa ia membaca Alqur'an beberapa surat yang ia baca. Tangisan Rani benar benar tumpah seketika juga saat ia membaca salah satu surat dari Alquran yang membuat hatinya bergetar dengan hebatnya.
__ADS_1
'Ya Allah bimbing aku dalam kebenaran Mu ini, jangan kau sesatkan hati hamba mu ini, ya Allah jadikan lah hamba menjadi orang yang selalu mendekat padaMu,"
Beberapa kali ia mengucapkan kata kata aduan pada Allah. Tapi nun jauh di tempat lain Rina saling bertolak belakang dengan Rani.
Rina mendatangi Adinda ia mencurahkan perasaan pada sahabatnya itu tentang keluarganya yang selama ini ia tidak duga.
"Kamu bilang itu saja dari kemari," Dengus Rina tidak mengerti apa yang adinda maksud sama sekali.
"Aku sudah cape, tapi kamu bilang aku harus bertobat, bertobat apa sih menurut kamu? Aku nggak pernah melakukan kesalahan apapun juga,"lanjut Rina geram pada adinda.
Rina mendatangi Adinda hanya ingin kalau Adinda menyatakan apa gitu bukan menyarankan hal yang aneh seperti itu, itu yang ia tidak suka pada Adinda. Bukannya memberi solusi yang baik untuknya tapi ia malah menasehati.
"Din, sebenarnya kamu itu maunya apa sih aku datang ke rumahmu hanya ingin curhat bukan mendengarkan ceramah mu itu!" Dengus Rina.
"Ran, bukan ceramah ini buat kebaikan kamu sendiri,"
"Sama saja!"
"Aku nggak suka ya kalau aku cerita seharusnya kamu dengarkan terus kasih aku saran bukan saran kaya gituan, saran nggak ada gunanya,"
Adinda menarik nafas dalam dalam mendengar apa yang diucapkan oleh Rina, ia benar benar merasa heran terbuat apa hati Rian sampai ia tidak mendengarkan kebaikan yang ia berikan.
Ya tadi ia hanya memberikan solusi buat Rina dengan cara mendalami diri pada Allah itu saja, memang Rina panjang lebar menceritakan tentang keluarganya dsn tentang anak ibunya yang beda ayah itu, Adinda hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Rina.
"Oke! Kalau gitu rencana kamu sekarang apa? Mencari keberadaan kakak kamu atau apa?" Akhirnya Adinda berkata seperti itu pada Rina.
"Aku hanya ingin mencarinya, aku ingin tahu dia seperti apa? aku juga Pengan ketemu ayah Surya." Rina mengungkapkan keinginannya.
"Ibu kamu tahu keinginan kamu itu?" tanya Adinda.
Ia tahu kalau sebenarnya Rina nekat banget. Adinda nyakin kalau Rina bakal pergi begitu saja tanpa diketahui orang lain, itu yang ia takutkan sebenarnya dari Rina.*
__ADS_1