BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rey menyalahkan Rani 1


__ADS_3

PLAK


Sebuah tamparan tepat mendarat dengan suksesnya di pipinya Rani yang sedang menulis di laptop nya.


Rani yang tidak menduga langsung meringis, mengusap pipinya dan melihat siapa orang yang telah menampar pipinya, di depan Rani telah berdiri dengan tegapnya Rey dengan pandangan mata menatap tajam menghujam hatinya Rani.


"Jangan jangan kamu ya yang bicara kalau kamu ingin jadi yang kedua!" teriak Rey dengan wajah merah padam.


"What? Jadi yang kedua, maksudnya apa, aku nggak ngerti apa yang kamu omongkan?" jerit Rani ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rey dihadapannya.


Rani dengan refleknya mengebrak meja yang dipakainya, ia langsung berdiri membalas tatapan Rey yang menatap dirinya.


"Kalau ngomong yang jelas, jangan sepotong sepotong. O,ya yang ngomong itu bukan aku ya tapi ibu kamu," cerca Rani.


Ia sebenarnya ingin meloloskan diri dari Rey tapi Rey menghalangi dirinya. Ia akhirnya hanya bisa membalas kata kata yang keluar dari mulut Rey, ia tidak Taku menghadapi laki laki yang pernah mengisi hatinya.


"Kamu jangan salahkan ibuku, jangan memutar balik fakta!" Dengus Rey sewot.


"Siapa yang memutar balik fakta? Kamu yang memutar balik fakta yang sebenarnya. Makanya cari tahu kebenarannya bukan cuma dengar dari satu orang saja," tohok Rani tajam.


Ia tidak habis pikir sama omongan Rey. Rey yang memutar balik fakta yang sebenarnya malah menyalahkan dirinya, kalau mau jujur ia sendiri lah yang menolak jadi madu Rani, bukan mengajukan diri jadi madu.


"Ibu? Nggak mungkin ibu yang meminta kamu jadi madu Rani, tapi kamu kan yang mengajukan diri. Wanita tidak tahu diri," sembur Rey marah.


PLAK


Rani tidak tahan lagi atas apa yang diucapkan oleh Rey. ia dengan cepatnya.lanhsung melayangkan sebuah tamparan yang mengenai pipi Rey, Ray yang tidak menyangka kalau Rani akan menampar langsung memekik saat pipinya di pukul Rani.


Ia langsung mengusap pipinya sambil tersenyum sinis, ia geram sekali kerena tidak menyangka wanita seperti Rani bisa memukul dirinya.


Rey langsung menatap tajam wajah Rani. ya ia mendengar apa yang Santi bicarakan pada dirinya tentang Rani.

__ADS_1


Sejak itu ia pegang pembicaraan dengan ibu dan mertuanya, Rey geram sekali. Mendengar cerita mertua dan ibunya tentang Rani.


Untung semua siswa sudah pada masuk ke kelas semuanya, jadi hanya mereka lah yang ada di ruang perpustakaan. Kalau di ruang itu ada siswa tidak tahu apa yang terjadi pada diri Rey yang ditampar oleh Rani.


"Rey!"


"Apa!" sembur Rey sambil mendorong bahu Rani dengan kasarnya. Ia benci sama Rani yang tiba tiba menampar mukanya.


Rani langsung menepiskan tangan Rey dengan cepat. Melihat Rani melawan Rey tidak terima, ia langsung menarik rambut Rani dengan kasarnya.


"Jangan sok cari perhatian!"


"Rey, bicara yang sopan!" teriak Rani gusar.


"Aku ulangi ya, ibu kamu datang menyuruh aku menjadi yang kedua, bukan aku meminta ibumu untuk merestui kita, bukan!" sembur Rani marah.


Ia kesal pada Rey yang telah menarik rambut dirinya dengan kasarnya. Rani tidak suka prilaku Rey seperti itu pada dirinya, ditatap laki laki yang ada dihadapannya. Wajah Rey penuh dengan kebencian saat Rey menatap wajah Rani.


"Aku nggak ngerti kamu marah pada siapa, tapi aku paham apa yang kamu bicarakan itu!" sinis Rani.


Rani tidak peduli kalau Rey bakal mendengarkan atau tidak yang penting ia membela diri daripada selalu disalahkan oleh Rey terus menerus. Wanita itu hanya menduga kalau Rey marah hanya masalah pembicaraan Santi yang pastinya dianggap salah oleh Rey dan Rina.


"Jangan Ge er dulu Rey aku nggak pernah mengharapkan kamu lagi," cipir Rani..


Rani langsung berjalan menuju luar. Tapi Rey dengan cepat memegang tangan Rani. Rani berontak tapi pegangan tangan Rey sangat kuat sekali.


"Tapi kenapa kamu bilang pada ibu, masalah poligami!"


"Oh, kamu berharap kita poligami, kamu ninggalin Rina hanya untuk meraihku lagi," delik Rani sinis.


"Jangan harap!"

__ADS_1


Kata Rani kesal mendengar kata kata Rey. Rani mengatakan itu pada diri Rey hanya menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, kerena percuma kalau Rey tahu juga tidak mungkin laki laki itu bisa.memakluminya, mungkin Rey bakal merendahkan dirinya.


Biarpun dalam hatinya ia.merasa sakit saat ia mengucapkan apa yang tidak keluar dalam hatinya. Ia sebenarnya hanya ingin Rey sayang sama kandungannya biarpun Rey membenci dirinya, tapi kenyataannya malah sebaliknya.


Malah Rey membenci bayi yang ada di kandungannya, ada sesuatu yang menjalar dalam hatinya. Perasaan kecewa pada Rey dan frustasi. Tapi perasaan itu hilang kalau dekat dengan Dio. Kalau ingat Dio ia merasa bersalah kerena Dio yang tulus tidak ia gubris kan sedangkan Rey yang telah menodai kehidupannya malah meninggalkan dirinya begitu saja.


Rani langsung menghentakkan ngenggaman tangan Rey dengan kuat. Ia tidak ingin kalau tangannya di sentuh maupun dipengang oleh Rey. Tapi Rey seperti sengaja memegang tangan Rani dengan kuat sekali. Rani risi melihat kelakuan Rey seperti itu!


"Tapi kamu inginkan, menikah dsn hidup denganku. Jangan sok alim kamu, kamu inginkan kalau aku menemani saat kamu lahiran nanti!" hardik Rey melepaskan nganggaman tangan Rani.


"Rey dengar, sejak kamu.nggak terima bayi ini, aku nggak pernah berharap lebih darimu. Kamu juga nggak akan pernah peka apa yang aku rasakan!" teriak Rani.


"Apa kamu peduli. Nggak kan?" damprat Rani keras.


Rani langsung kabut menuju ruangan Pengadaan yang tidak jauh dari ruangan perpustakaan, ia sengaja masuk ke ruangan pengadaan hanya ingin menyelamatkan diri dari Rey.


"Ran, ada apa?" tanya Dio langsung menyongsong Rani yang datang ke ruangannya.


Dio langsung paham, kerena ia melihat Rey mengikuti Rani di belakang. Rani tidak langsung menjawab pertanyaan Dio, Rey yang melihat Rani meninggalakan perpustakaan langsung mengejar Rani ke ruangan pengadaan buku.


"Kamu jangan ikut campur! Kamu jangan ikut campur, ini urusan aku dan Rani,"hardik Rey saat melihat Dio berusaha melindungi Rani.


"Kak, please! Ini di sekolah, urusan pribadi jangan dibawa ke sekolah," ingat Dio pada Rey.


"Alah kamu jangan sok jadi penasehat!"


Rey merasa kesal sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Dio, apalagi kata kata itu diucapkan dihadapan Rani.


Dio langsung menarik tangan Rani, Rani hanya mengikuti Dio. Rey menyentuh bahu Rani tapi Rani dengan cepat menepiskan tangan Rey. Rey yang tahu Rani menepiskan tanganya, tidak terima ia mengejar keduanya yang menuju parkiran.


Rani berlarian kecil.

__ADS_1


"Jangan lari!" Dio mengingatkan Rani. Rey yang awalnya ingin mengejar keduanya, berhenti kerena ada panggilan masuk dari Rina.


Rey mematikan hpnya, tapi Rina menelpon kembali, sampai Rey mengangkat panggilan dari istrinya dengan perasaan bergemuruh*


__ADS_2