
Di ruangan perpustakaan Rani hanya bisa diam saja, ia sebenarnya malas untuk mengerjakan pekerjaannnya. Sebenarnya kalau di ceritakan pekerjaan yang harus di kerjakan di perpustakaan banyak sekali..
Ya ia sebenarnya harus mengerjakan tugas perpustakaan, memberikan label ddc di punggung buku. Kemarin ada buku datang tiga dua buku kesustraan dan beberapa buku paket. Kemarin juga ia hanya memberikan stempel inventaris dan stempel intantasi saja, di tambah lagi penulisan di buku induk supaya banyaknya buku diketahui oleh pustakawan dan kepala pustakawan.
Sekarang seharusnya ia memberikan sticker ddc di pungung buku serta menulis nama instansi, nomor ddc, tiga huruf penulis, serta satu huruf judul buku.
Contoh:
Perpustakaan
SMP Negeri 1 Angsana
---------------------------------------------------
027.8
Pas
P
Tapi ia malah diam saja hanya mencoret coret kertas yang ada dihadapannya, pikirannya entah kemana perginya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan ayahnya secara pribadi bukan secara teman saja..
Apa yang di ceritakan Dio terbukti, ya kemarin malam Dio mengajak ketemuan awalnya sih ia menolak, tapi lama lama Rani mengikuti apa yang Dio katakan.
"Aku hanya nggak ingin Surya menemui kamu sebagai anak Ilham, itu bahaya kalau ia tahu?"
"Aku sih inginnya kita bergerak bertemu dengan Surya dan menceritakan apa adanya tentang kamu, sebelum semuanya terungkap." Lanjut Dio pada Rani.
"Aku nggak berpikir bahaya apa pun juga, aku hanya nggak mau kalau ayah ketemu dengan Zoya, apa yang ak katakan pada ayah?" Tanya Rani lada Dio..
"Aku sih pernah bilang sama Zoya kalau aku akan tetap menolong Zoya apapun yang terjadi, dan aku akan ceritakan kalau kasih sayang Ilham bagaikan kasih sayang ayah kandung," lanjut Rani.
"Itu sudah bagus, jadi kalau kita bertemu dan pak Surya menanyakan Zoya kita jawab saja apa adanya," imbuh Dio setuju.
"Iya ngomong ngampang, tapi apa ayah bakal percaya dan bisa memaafkan bapak, sedangkan aku tahu bapak nggak mungkin bersalah." Lirih Rani.
__ADS_1
"Percaya sama aku, pak Surya nggak bakal jahat sama Zoya."
Rani hanya mwngelangkan kepala saja mendengar apa yang diucapkan oleh Dio. Ia juga tidak bisa.memastikan bagaimana reaksi ayahnya kalau misal ia tahu Zoya anak Ilham.
Rani hanya bisa menarik nafas kalau dikeluarkan begitu saja, kalau ingat percakapan dengan Dio kemarin sore.
Rani langsung beranjak dari duduknya lalu menatap deretan buku buku yang masih berserak, jilid plastik juga banyak yang lepas tidak karuan. Ia membereskan buku buku yang tercecer, dan menyimpan di meja untuk di kasih sampul.
Rani hanya menggaruk garuk kepala saat ia melihat kantong buku lepas begitu saja slip pinjam juga raib entah kemana. Mau tudkammau ia harus mwmwbuT kantong slip pinjam lagi. Pekerjaan itu membuat ia kadang kesal apalagi Rey sebagai kepal perpustakaan nya malah tidak setuju kalau ia mengunakan aplikasi SLiMS perpustakaan.
Pernah membuat di laptop tapi Rey memarahi nya.
"Kamu tahu nggak internet disini nggak sstabil, banyak nganggiannya," bentak Rey emosi saat dirinya tahu kalau Rani membuat aplikasi SLiMS perpustakaan untuk perpustakaan sekolah.
"Terlalu mewah, lebih baik pakai manual saja!" Lanjut Rey.
Rani hanya mengkerutkan wajahnya saja mendengar apa yang Rey katakan, ia hanya bisa mengangkat kedua bahunya saja melihat Rey seperti itu.
"Rey internet disini stabil, kamu hanya bikin orang susah aja sih!" Rani emosi.
Rani mendengus kesal melihat Rey seperti itu, ia hanya bertanya tanya dalam hati kenapa Rey menolak, sedangkan yang mengerjakanny bukan tapi Rani sendiri yang mengerjakannya.
"Lebih baik kamu.bikin.katalog saja dari pada bikin aplikasi SLiMS itu lebih rumit," ocehnya.
"Rey ulah mawa maneh sih, timbang geh di gawean ku urang( jangan egois sih, ini semua di kerjakan sama aku )," ujar Rani mengunakan logat sundanya.
Ada kesal sih pada Rey yang tidak pernah mendengar apa yang ia maksud, sejak kemarin kemarin ia sebenarnya ingin menggunakan aplikasi SLiMS perpustakaan, tapi Rey menolaknya.
"Alasan nggak masuk akal!" Dengus Rani kasar.
"Yelah ada orangnya juga nggak nyait!" Seru Rey mengangetkan Rani yang sedang membereskan buku.
Rani terkejut saat Rey berada didepannya, lebih terkejut lagi kerena tanpa Rey sadari ia memikirkan percakapan dirinya dengan Rey.
"Anindya nggak dibawa?" Tanya Rey celingukan.
__ADS_1
"Ngapain nyari Anindya? Bentar lagi anak mu lahir," sindir Rani.
Rani mengatakan itu tidak melihat ke Rey. Ia.asyik membereskan buku buku yang berserakan dan di simpan di meja lainnya. Rey hanya diam saja mendengar sindiran kata kata Rani pada dirinya.
"Rey, gimana sih kalau kita pakai aplikasi SLiMS saja untuk bikin nomor DDCnya, katalognya juga," kata Rani saat setelah membereskan buku yang tercecer..
"Ran, dengerin aku lah, jangan.mengunakan SLiMS perpustakaan, itu harus mengunakan komputer, laptop," sanggah Rey lirih.
"Kenapa Rey, aku sih maunya seperti itu," Rani agak memaksa.
"Ran, coba ngerti sih apa yang aku mau,"
"Iya kaku kamu yang mau aku harus.mengerti tapi saat aku yang mau kamu nggak pernah mengerti," sembur Rani kesal.
"Rey lebih baik kamu keluar saja di ruangan perpustakaan ini," ketus Rani.
Rani langsung duduk di kursinya. Sedangkan Rey masih berdiri ditempat semula.
"Ran, bukan nya begitu! Tapi," ujar Rey..
"Tapi apa Rey? Kamu itu sebenarnya mempersulit aku dari dulu juga. Kamu nggak mau dukung aku, Rey kamu tahu perpustakaan manapun juga mengunakan aplikasi SLiMS perpustakaan untuk mempermudah pemustaka bukan mempersulit." Kata Rani panjang lebar menjelaskan tentang katalog OPEC pada Rey.
Rey hanya diam saja menerima penjelasan dari Rani. Sebanrnya apa yang dikatakan oleh Rani memang benar sih perpustakaan dimana pun juga telah mengunakan katalog OPEC untuk mempermudah pemustaka, maupun pustakawan.
"Terus kamu maunya apa sekarang?" Tanya Rey langsung duduk di hadapan Rani yang duduk di kursi ya.
"Aku hanya ingin SMP ini mengunakan aplikasi SLiMS perpustakaan titik!" Ketus Rani.
Rani langsung beranjak dari tempat duduk dan perg ia begitu saja, meninggalkan Rey yang masih di ruangan perpustakaan.
Rey mengejar ke.luar tapi ia melihat Rani sedang duduk dengan Dio, ia hanya bisa menarik nafas kesal melihat keintiman mereka, Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, ia akhirnya pergi ke begitu saja.
Di tempat parkiran, Rani dan Dio duduk bersama, dihadapan mereka ada beberapa botol minuman dan makanan ringan. Mereka tidak menyadari keluar dari perpustakaan kerena mereka. Membelakangi ruangan perpustakaan.
Jadi wajar kalau Rani maupun Dio tidak tahu kalau Rey keluar dari ruangan itu. Rani sebenarnya mengajak Dio bicara di depan parkiran hanya untuk membahas tentang rencana dirinya untuk membuat aplikasi SLiMS perpustakaan.*
__ADS_1