
"Aku cape, Ri. Aku harus bagaimana?" tanya Rani pada Riri ketika Riri berkunjung ke rumahnya.
Riri datang ke rumah Rani kerena ditelpon Rani. Awalnya ia ingin mengajak kakaknya untuk bertemu dengan Rani hari itu, cuma kakak perempuannya ada acara dengan suaminya.
"Kamu sabar saja sih!"
Hanya itu yang Riri katakan, kerena ia juga tidak tahu pasti harus berbuat apa, kerena menurut riri permasalahan Rani sebenarnya lebih rumit daripada wanita yang sudah menikah, mungkin kalau bertemu dengan kakaknya bisa seimbang.
"Ri, sebenarnya aku berusaha sabar tapi kesabaran ku ada batasnya, Rey terus menerus teror aku," desahnya.
"Lebih baik blokir nomornya," usul Riri mengelus bahu Rani lembut.
"Kamu seperti nggak tahu salah Rey, di kalau digituin lebih ngamuknya," jelas Rani.
Rani masih ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, ia pernah blokir kartu Rey, eh Rey datang ke rumahnya dengan wajah angkernya.
Ia juga sebenarnya tidak menduga sama sekali kalau Rey bakal datang ke rumahnya, ia bertujuan blokir kartu Rey kerena ia kurang nyaman saja dengan apa yang Rey lakukan pada.ditinya, eh malah datang ke rumah biarpun itu sudah malam, dan ia juga mau tidur.
Riri yang mendengar cerita Rani hanya mendengarkan.
"Orang aneh, nekad juga sih dia," lirih Riri heran.
"Makanya aku nggak mau mengulang kembali, bisa bisa jadi perkedel akunya," desah Rani.
Menolak permintaan Riri.
"Bisa sih, tapi setelah blokir aku pergi jauh biar nggak ketemu dia.lagi," Dengus Rani.
"Ran, apa kamu masih suka sama Rey?" tanya Riri tiba tiba.
DEG!
Rani langsung diam dan menatap wajah Riri dengan tajam, lalu ia.mengalihkan pandangan menatap dedaunan yang tertiup angin.
__ADS_1
Ya mereka berdua berada di teras rumah Rani, Riri sengaja meminta duduk lesehan di.luar supaya tenang dan nyaman apalagi rumah Rani di depannya ada pohon mangga yang rindang sekali, jadi semilirnya angin terasa sejuk dan nyaman.
Rani tidak.lanhsung menjawab.peetanyaan Riri yang tiba tiba sekali, ia sama sekali tidak menduga kalau Riri bakal mengatakan pertanyaan itu pada dirinya.
"Jujur, padaa dirimu Ran?"
"Bagaimana perasaan kamu pada Dio? Selam ini Dio orang yang baik dan selalu ada untukmu,"
"Ri, aku nggak mau dibilang munafik. Sebenarnya aku masih suka sama Rey, entah apa yang aku lihat dari Rey sekarang. Untuk Dio memang baik, tapi nggak pantas aku jadi miliknya, aku kotor," akhirnya Rani mengakui apa yang ada dalam hatinya.
Rani tidak menutupi perasaannya pada Rey,
ia juga heran sekali. Biarpun Rey telah melakukan hal hal diluar dugaan dirinya, misalkan berkat kasar pada dirinya. Tapi hati Rani masih ada sisa sisa perasaan pada diri Rey.
Terus menurut Rani, ia tidak pernah memungkiri kalau Dio itu baik, perhatian, tulus, serta peduli pada semuanya. Rani merasakan semuanya dari Dio bukan hanya hari ini saja, tapi sejak ia kuliah bareng dengan Dio, Dio selalu ada untuknya.
Tapi hati Rani belum terbuka untuk Dio sampai sekarang, ia juga tidak mengerti sama sekali.
Riri yang mendengarkan hanya menganguk angguk saja, biarpun ia tidak mennayakan hal itu pada Rani, sebenarnya ia merasakan pada sikap Rani di sekolah saat bertemu dengan kedua kaki laki itu, dari tingkah laku Rani saat menghadapi Rey dan Dio. Sangatlah jauh berbeda satu sama lainnya.
Rani mengangguk. Riri hanya mendesah saat melihat anggukan kepala Rani, ia langsung mengusap tangan Rani lembut.
"Ri, aku nggak bisa lupa sama Rey, mungkin kerena kemarin kemarin ia nggak pernah lakukan kesalahan, bentak aku juga nggak," lirih Rani.
Rani mengingat semua kenangan dengan Rey ketika Mereka masih pacaran, Rey baik, sopan, dan selalu hadir diantara Rani. Riri hanya mendengarkan semua keluh kesah Rani, ia hanya diam saja tidak mau bicara dulu sebelum Rani menghentikan ceritanya. Riri mengusap beberapa kali tangan Rani.
"Ayahmu masih hidup?" tiba tiba Riri menanyakan hal itu pada Rani.
"Sudah meninggal, memangnya kenapa?"
"Pantes," gumam Riri.
"Kenapa?" tanya Rani tidak mengerti..
__ADS_1
"Maaf ya Ran, aku nanya tentang ayah kamu, nggak apa apa kok" hindar Riri.
Rani menatap heran. Mau menanyakan jauh tentang pertanyaan dari Riri, Rani segan kerena takut Riri tidak mau menjelaskan apa yang ia tanyakan, jadi Rani hanya diam saja. Riri juga tidak menanyakan lagi tentang bapak nya Rani.
"Trus sekarang kamu bagaiamana tujuan setelah kejadian ink?" tanya Riri..
Riri sengaja mengalihkan pertanyaannya supaya Rani tidak menanyakan hal lain apalagi mennayakan pertanyaan yang ia lontarkan, Riri hanya merasa getir saat Rani menceritakan tentang ayahnya. Jadi Riri tidak mau bahas tentang pertanyaan Rani takut Rani tersinggung sebenarnya.
Riri hanya ingin tahu sejauh mana sebenarnya Rani dekat pada sosok bapaknya, kerena bapak sebenarnya adalah cinta pertama anak perempuannya.
"Entah lah, RI. Aku sebenarnya tidak punya tujuan apa apa. Aku pasrah saja, apalagi tetangga sudah tahu aku hamil," lirih Rani pelan.
Saat ini usia kandungannya jalan 6 bulan, tetangga kanan kiri banyak bisik bisik, apalagi Dio sering ke rumahnya. Kadang Rani tidak mau kalau Dio datang ke rumahnya kerena pasti mereka menanyakan kapan menikah, Dio hanya tersenyum. Ia yang frustasi mendengar apa yang dibicarakan mereka.
"Kamu nya sih kemarin kemarin Dio ngajak kamu menikah tapi kakunya jual mahal," protes Riri.
Ya ia mendengar Dio menyatakan perasaannya pada Rani, beberapa kali. Kemarin juga dio.mengjak nikah pada Rani waktu kandungan Rani masih rata. Tapi Rani keukeuh tidak mau diajak menikah oleh Dio..Riri sampai mengelengkan kepala saja mendengar keputusan yang dilontarkan oleh Riri.
"Aku nggak mau Dio yang menanggung kesalahan Rey," sela Rani cepat.
"Aku menolak Dio untuk menikahi aku kerena aku takut menyakiti dia, Ri. Maksudku, aku nggak mau kalau misal melempiaskan kebencian ku pada Rey yang kena damprat ya Dio. Kaya Rey ke Rani," pungkas Rani.
"Trus sekarang bagaimana?" tanya Riri paham.
"Entah!" Hela Rani blank.
"Untuk saat ini aku.nggak punya rencana apa apa, mungkin setelah lahiran aku memikirkan semuanya,"
"Aku dukung apa yang kamu jalani, tapi jangan buru buru untuk mendapatkan yang terbaik, semuanya butuh proses," kata Riri menepuk bahu Rani.
Rani mengangguk dengan cepat. Ia bakal mengurus semuanya sendirian, mungkin bantuan Zoya yang akan ia.libatkan semuanya. Kerena Rani tidak mungkin kalau minta bantuan sama Rey, kerena ia tahu pasti Rey tidak bakal mau. Ia sebenarnya tidak ada daftar bagi Rey untuk dirinya, sudah mengakui juga sudah. Tapi Rey sampai saat ini tidak pernah mengakui anak yang ada dalam kandungannya, itu yang membuat sakit hati.
"Kalau itu keputusan kamu, jalani semuanya. Dio lebih baik kok untuk jaga kamu," canda Riri tersenyum.
__ADS_1
Rani langsung memukul lengan Riri, tapi wanita itu langsung kabur. Mereka tertawa bersama sama*