
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat dengan keras ke pipi Rani. Rani langsung menjerit kesakitan saat pipinya di tempeleng oleh Ningsih yang baru sampai ke rumah yang ditempati oleh Rani dsn adiknya.
Awalnya Rani menghindar dari pukulan Ningsih, tapi saat ia menghindar ia terjatuh dan ambruk di lantai dekat kursi. wajahnya langsung meringis seperti kesakitan, ia hanya menahan rasa sakit itu.
"Kamu menikah sama laki laki yang pernah meninggalakan kamu dulu," geram Ningsih menatap wajah Rani.
Ningsih terkejut atas pengakuan Rani kalau ia menikah dengan Rey, awalnya Ningsih terkejut melihat perut Rani yang kelihatan membuncit, ia menatap curiga pada Rani DNS Zoya.
Sebenarnya Rani terkejut melihat ibunya datang tiba tiba sebelum persiapan matang Anatar Rey dengannya. Hanya rencana mereka berubah drastis kerena permintaan Santi.
Awalnya mereka mau rencana awal tapi Santi mengancam bakal membocorkan semuanya pada Ningsih kalau rencana mereka berjalan, akhirnya Rani dsn Rey terpaksa menyetujui rencana Santi dengan resiko yang berbeda.
Ketika Ningsih datang matanya membulat seketika melihat perut Rani, ia tidak menyangka kalau Rani sedang hamil, sedangkan menurut Ningsih Rani belum memberitahukan pernikahannya. Ada curiga menghantui Ningsih.
"Kamu hamil, kapan kamu menikah, siap ayah bayi dalam kandungan mu?" pertanyaan bertubi tubi keluar dari mulut Ningsih yang terkesima oleh keadaan Rani putrinya.
"Ini anak Rey, Bu, maaf kami tidak memberitahukan kalau aku dan Rey menikah," akhirnya Rani bicara sesuai rencana Santi.
"Apa? Rey yang telah meninggalkan kamu. Kamu pernah ngomong sama ibu, kalau kamu nggak akan balikan lagi sama Rey tapi kenapa?" jerit Ningsih menatap wajah Rani tajam.
Mendengar kata kata Rani, tiba tiba Ningsih merasakan didihan darah sampai ubun.ubun kepalanya, ia yang belum duduk menatap wajah Rani yang berdiri. Wanita itu dsn adiknya hanya menunduk merasa bersalah, telah membohongi ibunya, tapi harus bagaimana lagi mereka lakukan.
Mendengar apa yang dibicarakan Rani, tiba tiba Ningsih dengan garangnya melayangkan tangannya ke pipi Rani bertubi tubi, sampai ia terjatuh dan Zoya berteriak histeris melihat ibunya memukul tubuh Rani..
Zoya berusaha untuk memisahkan ibunya dan kakaknya, ia tidak ingin kalau ibunya terus menerus memukul. Rani tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Zoya yang ada disamping Rani hanya diam saja ia terpaku, oleh adegan ibu nya yang memukul wajah kakaknya.
Akhirnya ia melerai keduanya, sambil menangis saat melihat kakaknya kesakitan dan menangis.
__ADS_1
Kemarin kesepakatan Santi digunakan. Untuk menutupi dari Ningsih akhirnya Rey seolah oleh suami nya Rani. Apa yang ditakuti oleh Rani dsn Dio terbukti. Ningsih marah dan mengamuk dan memukul wajah Rani dsn beberapa bagian tubuh Rani sampai Rani kesakitan.
Zoya langsung ingat pada Dio, ia tidak menunggu waktu lagi menelpon Dio. Dio terkejut seketika juga mendengarkan cerita Zoya, ia langsung meluncur ke rumah Rani. Ia.menghslanhi Ningsih untuk memukul Rani.
"Bu, hentikan!" teriak Dio dengan keras sambil memegang tangan Ningsih yang hampir saja melayangkan ke tubuh Rani yang terduduk di teras, sambil menangis.
Hampir saja Dio menceritakan kebenaran yang ada, tapi ia mengurungkan niatannya untuk cerita kerena ia takut kalau Ningsih bakal marah kalau tahu kejadian yang sebenarnya. Jadi Dio hanya bisa memisahkan Ningsih dari Rani.
"Perutku!" jerit Rani sambil memegang bawah perutnya.
Saat Ningsih memukul wajahnya ia sebenarnya menghindar tapi punggungnya terbentur kursi, dan bokongnya langsung ke lantai terbentur.
Rani memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Dio yang melihat itu langsung menghampiri Rani dan memengang kedua bahu Rani dengan perasan khawatir melihat keadaan Rani.
"Aku nggak apa apa kok!" desis Rani pelan sambil memegang tangan Dio.
"Bu, apa yang ibu lakukan bisa membahayakan Rani!" teriak Dio tajam menatap wajah Ningsih.
Ia tidak menduga kalau Dio yang datang bukan Rey suaminya Rani. Ningsih benar benar tidak terima kalau memang benar Rani menikah dengan Rey tapi yang datang adalah Dio.
"Bu, aku bisa jelaskan semuanya!" tekan Dio.
Ia berusaha membantu Rani untuk duduk di kursi, biarpun Rani masih merasakan sakit. Rani meringis sambil mengigit bibir bagian bawah dsn tangannya berusaha memengang tangan Dio.
Zoya yang ada didekat kakaknya langsung mengelus pungung kakaknya lembut, ia juga kaget melihat ibunya ngamuk seperti itu.
"Nggak apa apa kan?" tanya Ningsih shock!
Ia tidak menyangka kejadian ya begitu cepat. Dan Ningsih shock melihat keadaan putrinya
__ADS_1
"Zoy, kamu telpon bidan kanrumah!" terik Dio dengan cepat.
Zoya langsung menelpon bidan yang terdekat dengan rumahnya. Dio duduk disamping Rani yang menyandarkan pungungnya di kursi. Tidak lama kemudian bidan datang, dan langsung memeriksa kandungan Rani, Dio yang tadi duduk di samping Rani langsung berpindah tempat duduknya menjauhi Rani, untuk memberikan ruang untuk bidan..
Rani yang tadinya menyandarkan diri di kursi, akhirnya tiduran di kursi dengan bantal di kepalanya. Bidan membuka baju Rani, untung Rani hanya mengunakan kaos tangan pendek polos warna Dongker dan celana pendek selutut.
Bidan menekan pelan bagian perut Rani, bersamaan dengan itu Rani menjerit kecil sambil memegang tangan bidan yang memeriksa nya, Firda bidan langganan Rani langsung tersenyum..
"Nggak apa apa kok, janinnya baik baik saja. Hati hati jangan sampe terjatuh, maupun terbentur, jangan stres ya!"
Firda lanhsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Rani masih berbaring sambil tanganya mengelus bagian bawah perut yang kram, kadang kram kadang tidak.
Ningsih menghampiri keduanya, sedangkan Zoya masih berdiri di kursi yang digunakan Rani terbaring.
"Zoya kamu harus ya telpon Rey bukan dia!" ketus Ningsih.
Zoya gugup sekali mendengar Ningsih supaya menelpon Rey, ia dan kakaknya ganti nomor intinya tidak mau ada hubungan kembali dengan Rey, tapi sekarang Ningsih meminta dirinya untuk menghubungi Rey.
Dio melihat gelagat kedua kakak beradik.
"Udah kakak saja yang telpon Rey," timpal Dio seperti tahu apa yang dirasakan adik kakak itu.
"Lho kok kamu yang telponnya, seharusnya istri atau Zoya yang telpon," sanggah Ningsih heran.
"Punya kakak dan aku pulsa nya habis Bu, jadi nggak bisa menghubungi kak Rey," sela Zoya cepat.
Dio dan Rani bernafas lega mendengar penjelasan Zoya yang spontan. Ningsih akhirnya mengizinkan Zoya meminta bantuan Dio kerena ia hanya tahunya kalau kedua putrinya benar benar habis pulsa dan paketnya.
Dio akhirnya menghubungi Rey, Rey yang belum siap hanya melonggo saja, Dio tidak menceritakan kronologinya. Dio hanya mengatakan kalau ibu mertua Rey datang ke rumah, hanya itu yang Dio katakan pada Rey.
__ADS_1
Dio awalnya akan menelpon Rey keluar tapi Ningsih tidak mengizinkan Dio telpon keluar, ia hanya ingin Dio telpon di ruangan yang sama, akhirnya ia menghubungi Rey di ruangan itu. Hati Rani berdebar keras takut ketahuan oleh ibunya.
Ningsih menatap Dio dan kedua putrinya saling bergantian, hatinya mengatakan kalau ada sesuatu diantara mereka bertiga, tapi Ningsih hanya ingin mengorek saja. Ditatap wajah Rani yang terbaring, tapi Rani malah menghindar dari tatapan mata ibunya.*