
Ketiganya sudah sampai di rumah Amanda. Di teras rumah terlihat Rey sedang melamun entah apa yang ia pikirkan. Ningsih langsung turun dan menghampiri Rey tanpa menunggu waktu lagi Ningsih langsung memukul tubuh Rey yang membelakanginya.
Rey yang sedang berdiri otomatis marah, dan ingin membalas orang yang telah memukulnya, tapi matanya langsung shock saat dilihatnya Ningsih telah berada di belakangnya.
Dio dan Rani juga terkejut sekali saat melihat Ningsih yang tiba tiba datang langsung memukul tubuh Rey dengan kerasnya. Dio menghampiri Rey dan Ningsih, sedangkan Rani hanya berdiri dekat mobil.
"Kamu bajingan! Cowok bejat!" teriak Ningsih marah.
"Maksud ibu apa, datang datang," jerit Rey marah.
"Jangan pura pura nggak tahu, kamu yang telah menghamili Rani tapi mencampakkan Rina begitu saja,"
"Sedangkan kamu tahu kamu sudah punya istri dimana otak kamu," lanjut Ningsih menghardik Rey bertubi tubi.
Riana dan Santi yang berada di rumah langsung keluar saat mendengar suara keributan di teras rumah.
"Kalian lagi! semuanya nggak punya otak!" sembur Ningsih.
Saat melihat Santi dan Rian muncul bersama. Santi hampir saja menampar muka Ningsih yang lancang bicara seperti itu, tapi Rian langsung melati mertuanya..
Rani yang masih ada di depan mobil langsung menghampiri mereka. Dio hanya memegang tangan Santi kerena tadi ia melihat Santi menyerang Ningsih.
"Hentikan semuanya bi, aku mohon!" Rani memegang tangan Ningsih memohon pada ibunya untuk tidak memancing keributan.
Tapi Ningsih menepiskan tangan Rani dengan kasarnya..
"Aku ingin kamu mempertanggung jawabkan kelakuan anakmu, aku nggak ikhlas lalu Rani hamil tanpa ada pendampingnya." Ningsih menatap wajah Santi.
Sudut bibir Santi terangkat satu. Hatinya bersorak gembira mendengar apa yang diucapkan Ningsih. Apa yang ia inginkan semuanya bakal terkabul kalau Rani menikah dengan Rey.
"Aku nggak pernah mengizinkan Rey menikah!" teriak Rina kekeh.
"Aku juga nggak mau menikah dengan Rani," teriak Rey.
Keduanya berteriak secara bersamaan satu sama lainnya.
__ADS_1
"Dia anakmu Rey!" Santi mengingatkan.
Santi memohon pada Rey untuk menyetujui rencana dirinya, begitu juga dengan Amanda. Amanda tidak tahu apa yang terselubung dari ajakan Santi untuk menyatukan Rey dengan Rani. Kalau Santi tahu mungkin sejak lama ia menikahkan Rey dengan pilihannya, tapi terlambat ia telah menikah anaknya dengan wanita lain.
Tapi ini kesempatan yang tidak pernah Santi sia siakan sekarang. Santi tidak ingin kalau ia gagal untuk menikahkan anaknya dengan Rani, satu gagal hal biasa tapi gagal dua kali itu tidak akan pernah sama sekali.
"Bu, bagaimana denganku?" jerit Rina tidak terima sama sekali keputusan dari mertuanya.
Rina menatap wajah Rani penuh kebencian, ia sama sekali tidak bakal memaafkan kalau semuanya terjadi, ia bakal mengejar kaku sampai Rani bersanding dengan Rey.
"Lebih baik kamu versi saja nggak bisa ngasih anak sama Rey!" hardik Ningsih menatap tajam kearah Rina.
Santi mengangguk apa yang dikatakan Ningsih ada benarnya untuk dirinya, seperti ada angin segar saat Ningsih mengucapkan kat kata itu.
"Bu, jangan sepihak!" teriak Rina tidak setuju.
Tapi teriakan Rina tidak pernah digubris sama sekali oleh Santi dsn Ningsih. Rina hanya menarik nafas dalam dalam mendengar hardikan Ningsih yang pedas sekali. Rina bergetar hatinya, boro boro menyetujui pernikahan Rani, ia yang mendengar kehamilan Rani juga tidak pernah ia ikhlaskan, ia hanya ingin kalau Rani memberikan anaknya pada dirinya. Tapi lacur Rani tidak pernah memberikan anak yang di kandung.
"Aku juga nggak mau, Rey mencoba ingin mengugurkan kandungan ku, aku nggak Sudi menikah dan membina rumah tangga dengan dirinya, aku juga nggak mau dimadu." tekan Rani.
Tanpa Rani maupun Rey sadari kalau mereka telah masuk perangkap dirinya masing masing. mencintai tanpa harus memiliki malah membuahkan perbuatan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Ia sudah salah tidak ingin menambah kesalahan lagi dengan menikah dengan Rey, itu yang ia pikirkan sekarang..
'Anak itu tidak ber wali pada ayahnya, biarpun anak itu memang anak Rey. Kalau anak itu lahir perempuan dan menikah, maksa wali hakim lah yang bisa menikahkan. Begitu kalau anak itu lahir laki laki ia tidak bakal jadi wali nikah bagi adik perempuan.'
Terhiang hiang ditelinga Rani tentang nasehat dari Adinda sahabatnya. Jadi apapun yang terjadi ia tidak ingin menikah dengan Rey, percuma menikah juga kerena kalau lahir anak perempuan Rey sama sekali tidak akan menjadi wali nikah anaknya. Itu sama saja dengan bohong.
"Jangan menolak, bagaimanapun juga anak itu butuh ayahnya." teriak Ningsih tidak suka mendengarkan alasan dari anaknya.
"Rey nggak pernah menginginkan bayi ini, Bu, jadi jangan paksa aku untuk menikah dengan Rey," jerit Rani.
"Bu, jaga perasaan Rina!" terik Rey tidak suka.
"Kalian jahat, hanya memikirkan sepihak saja," ketus Rina berontak.
__ADS_1
Belum sempat Ningsih bersuara kembali, ia sebenarnya ingin memprotes ucapan Rani tapi tiba tiba Amanda datang dan menghampiri mereka, Amanda heran kerena sejak kedatangan Santi pasti ada saja pertengkaran diantara anak anaknya dengan Rani.
"Kamu Ningsih!" seru Amanda matanya terbelalak.
"Kamu!" Ningsih ternganga melihat kedatangan Amanda yang tiba tiba sekali.
"Ibu kenal?" tanya Rani heran.
"Mama kenal?" seru Rina.
Rani menatap wajah Ningsih dan Amanda saling bergantian satu sama lainnya, sedangkan Santi menatap heran pada Amanda dan Ningsih.
Ningsih yang awalnya ingin membela perkataan Rina tapi ia membatalkan begitu saja kerena dihadapannya ada Amanda. Mereka tidak menyangka kalau mereka.jatus bertemu di waktu itu.
Amanda langsung meninggalkan Ningsih, tapi Ningsih langsung mengejar Amanda. Rani menatap heran, ia melihat ada perubahan di wajah Ningsih maupun Amanda.
"Kamu ngapain kesini," ketus Amanda.
"He, seharusnya aku yang nanya kenapa kamu meninggalakan semuanya, kamu menghilang setelah merampas semua yang aku miliki!" teriak Ningsih sambil membalikan bahu Amanda dengan.kerasnya.
Rani dan yang lainnya hanya melonggo mendengar percakapan mereka, percakapan dengan orang baru bertemu bukan seperti itu, Rian langsung menghampiri Ningsih dsn Amanda.
"Kalian saling kenal?" tatap Rina.
"Amanda perebut suami orang!" hardik Ningsih geram.
"Apa?" tanya Rani langsung menghampiri ketiga wanita itu.
"Ran, kamu harusnya tahu kalau wanita ini adalah perebut suami orang, sampai hamil!" terang Ningsing sambil menunjuk muka Amanda.
Terlihat kegusaran di wajah Ningsih saat ia menunjuk muka Amanda.
"Oh! Apa bedanya dengan Rani yang merebut suami orang sampai hamil!" ketus Rina menyindir sambil melirik Rani yang ada disampingnya.
"Itu masa lalu kalian, tapi waktu ini adalah kejadian yang seharusnya nggak terulang sekarang malah terulang. Mama hamil kerena pacaran dengan suami orang, dan sekarang Rani hamil dengan suami orang. jadi impas semuanya," lanjut Rina puas.
__ADS_1
Rian mengucapakan itu kerena ingin membela ibunya..Sejujurnya Rian juga tidak tahu apa yang diucapkan Ningsih kerena Amanda ibunya tidak pernah menceritakan masa lalunya.*