Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Lolongan Serigala


__ADS_3

Sungguh keadaan ini membuat hatinya sangat kacau, bayangan bayangan buruk tentang Raya silih berganti hadir di pelupuk matanya meski mati matian dia menepis semua itu, apalagi saat mengingat dua pria yang mengapit Raya saat di basement kantor dan mengikutinya masuk ke dalam mobilnya lalu menghilang begitu saja.


Sampai di lokasi yang Panca kirimkan, kini Toni berada di tepi sebuah hutan pinus, matanya seketika menyapu setiap sudut area, mencari cari keberadaan mobil sport kuning terang milik Raya, harusnya tak sulit mencarinya, meski di tempat gelap seperti itu, warna terang mobil Raya harusnya cukup menyolok.


Namun belum juga bisa dia temukan keberadaannya. Ah,,, ini gila, mana mungkin Raya berada di tengah hutan seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi? gimaam Toni dalam cemasnya.


Sepuluh menit kemudian, mobil panca sampai di sana, dia membawa dua orang anak buahnya untuk berjaga jaga bila ternyata di tempat itu ada bahaya yang tak terduga dan dia membutuhkan bantuan tenaga.


"Bagaimana?" tanya Panca langsung menghampiri Toni yaang sejak tadi tak putus berkomunikasi lewat ponsel mereka.


"Belum ada titik terang, kau yakin di sini tempatnya?" Toni terlihat agak ragu, dia juga putus asa karena tak juga menemukan Raya maupun mobilnya.


Panca mengeluarkan ipad bergambar apel separo dari ranselnya, lalu kembali mengotak atik layar berukuran 11 inci itu dengan serius.


"Sebelah sana!" ucapnya sambil menunjuk ke arah dalam hutan.


"Yang benar saja, itu hutan. Mana bisa mobil masuk ke sana,!" protes Toni.


"Tak ada salahnya di coba, bukan?" ucap Panca terus berjalan mengikuti arah yang ada di peta, matanya terus memandangi ipadnya yang seolah di jadikannya sebagai pemandu jalan.


Mereka ber empat semakin dalam memasuki hutan pinus yang batang batang pohonnya sudah sebesar tangkupan tangan orang dewasa itu.


Sepi dan terasa mencekam suasana malam di sana, suara desiran angin yang meniup dahan dan daun pinus pun menimbulkan suara yang bergemerisik menambah keseraman suasana di hutan itu, bunyi bunyian binatang malam menjadi nyanyian malam yang membuat bulu kuduk merinding.


'Ah, benarkah Raya ada di tempat seperti ini, betapa dia pasti ketakutan jika benar dia di tempat se menyeramkan ini, tunggu aku Raya aku pasti menemukan mu!' batin Toni terus ber ceracau tanpa henti, memikirkan Raya berada di tempat se seram ini membuatnya semakin menggila.


"Di sana!" pekik salah seorang anak buah Panca sambil menunjuk ke arah mobil sport berwarna kuning yang berada tepat di tepi sebuah jurang.

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu lagi, Toni berlari sekencang mungkin ke arah mobil itu, tak peduli ranting dan semak semak setinggi dada orang dewasa menghalangi jalannya, dia tetap berlari ke arah sana.


Bayangan Raya yang tergeletak tak berdaya atau bahkan penuh kuka namun tak ada yang menolongnya membuat Toni bergidik ngeri,


'Tidak,, tidak,,, jangan sekarang, jangan sampai aku melihatnya dalam keadaan yang mengerikan, itu tidak adil, Tuhan,' jerit Toni dalam larinya.


Tak peduli dengan rasa perih yang di rasakan sekujur tubuhnya akibat duri semak belukar yang dia lewati, kini telah berada di dekat mobil Raya yang untuk ke dua kalinya tak berbentuk, penyok di sana sini, mungkin karena tadi di paksakan masuk ke hutan ini melewati jalan yang tak semestinya untuk di lalui mobil.


Ban belakang mobil itu tepat di bibir jurang terjal, entah apa yang terjadi sampai mobil ini berada di tempat se ekstrim ini.


"Bagaimana?" Teriak Panca yang baru sampai mengekor langkah seribu Toni menuju mobil di tepi jurang itu dengan nafas yang tersenggal senggal kewalahan mengejar Toni.


"Tak ada siapapun di dalam sini!" teriak Toni putus asa, dia memeriksa isi dalam mobil yang pintunya bahkan di biarkan terbuka begitu saja sejak Toni datang ke sana.


Merasa kecewa dengan apa yang ada di hadapannya dan saking marahnya, dia sampai melayangkaan tinjunya pada sebuah batang pohon pinus tak berdosa yang menjadi sandaran tubuhnya yang terasa begitu lemas kini, karena setelah perjuangan sejauh ini ternyata Raya tak di temukan.


"Bro!" Lirih Panca, sungguh dia tak kuasa melihat sahabatnya yang sedang terpuruk seperti itu, Panca merangkul bahu sahabatnya agar Toni tak merasa sendiri, dia sangat tau dan mengerti dengan apa yang di rasakan Toni saat ini, bahkan dirinya pasti tak akan se tegar Toni jika saja hal ini terjadi pada dirinya.


"Aku akan memeriksa kamera dashboard, dan mencari barangkali ada petunjuk, kau istirahat lah dulu sejenak di sini, tenangkan diri mu!" ucap Panca.


Namun Toni tak bisa beristirahat begitu saja, sementara dia tak tau bagaimana keadaan Raya saat ini, kondisi seperti apa yang terjadi sebelumnya sampai mobil berada di bibir jurang dan di tinggalkan dengan keadaan pintu yang terbuka.


Toni kembali menggeram saat mendapati dash cam mobil Raya ternyata sudah dalam keadaan di rusak, lengkaplah sudah penderitaan Toni, tak ada petunjuk apapun atas menghilangnya sang kekasih, ingin rasanya mengeluh dan mengadu atas kegundahan hatinya, tapi pada siapa?


"Lantas apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Panca.


"Kau dan anak buah mu boleh pulang, aku masih akan mencari petunjuk di sini," ucap Toni.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, mana mungkin aku meninggalkan mu sendirian di sini, maksud ku ayo kita cari petunjuk bersama, jangan putus asa," Panca meralat kata katanya, sungguh dalam keadaan seperti ini hati Toni pasti lebih sensitif dan kesalah pahaman akan terjadi karena pikiran mereka sama sama kacau saat ini, namun Panca masih berusaha untuk tetap waras meski keadaan memaksanya untuk ikut gila.


Keterbatasan pandangan dalam gelapnya malam memang menjadi kendala saat ini, bermodalkan cahaya senter dari ponsel mereka yang hampir kehabisan daya sungguh sangat kurang membantu dalam mencari petunjuk.


"Mungkin aku akan menunggu hari terang, siapa tau Raya masih berada di sekitar sini, bahkan mungkin aku akan turun ke jurang itu untuk memeriksa barangkali----" Ucapan Toni terhenti, sungguh apa yang di pikirkannya barusan tak ingin menjadi sebuah kenyataan.


"Bro, aku akan bersama mu, menemani dan membantu mu, kau bukan hanya sahabat, tapi juga sudah seperti saudara bagi ku, jangan sungkan untuk mengeluh dan menumpahkan segala apa yang kau rasakan, kita akan saling menguatkan!" Panca meninju pelan lengan atas Toni yang keras.


"Aku yakin Raya baik baik saja, jangan banyak berpikir hal buruk, tetap berpikiran positif, maka hasilnya akan baik juga," lanjut Panca menguatkan dan menyuntikan semangat untuk sahabatnya.


"Terimakasih!" lirih Toni, hatinya kembali bersemangat.


Terkadang memang dukungan dari sahabat dan orang orang terdekat merupakan energi tersendiri bagi jiwa yang sedang rapuh dan terkurung keputus asaan.


"Bos,,, aku menemukan ini!" salah seorang anak buah Panca menunjukkan sebuah ponsel.


"Ini milik Raya, di mana kau menemukan nya?" Tanya Toni antusias sambil menerima ponsel yang dia yakini memang milik kekasihnya itu.


"Di sana sekitar seratus meter dari sini" pria yang menemukan ponsel Raya itu menunjukkan sebuah tempat ke arah hutan lebih dalam.


Seketika harapan di hatinya kembali mengembang dan memenuhi jiwanya menghasilkan semangat yang kembali membara untuk mencari keberadaan sang kekasih, meski hanya sedikit petunjuk, setidaknya Toni bisa meyakini kalau Raya tak berada di jurang sana, semoga saja!


"Bagaimana kalau kita berpencar?" usul Toni.


"Tidak, akan sangat berbahaya jika kita berpencar dalam suasana seperti ini, kita tetap bersama sama, kita tak tau apa yang akan kita hadapi di hutan ini, setidaknya kita bisa bahu membahu menghadapi segala rintangan yang mungkin menghadang kita bersama sama," Tolak Panca mengemukakan keberatannya.


Memang lumayan logis juga pemikiran Panca, saat ini mereka memang masih harus bersama sama menyisir hutan, selain sama sama tak tau medan yang kini sedang di jelajahi mereka, mereka juga harus tetap berjaga jaga jika ternyata segerombolan penjahat atau bahkan hewan buas ternyata sedang mengintai mereka, bukankan akan lebih mudah jika mereka melawannya bersama sama daripada harus berpencar.

__ADS_1


"Oke, aku ikut saran mu!" ucap Toni.


__ADS_2