Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Sementara Cila tersenyum lebar di hatinya, dia merasa sudah semakin berhasil mengambil hati Toni meski bukan sebagai kekasih, tapi setidaknya Toni sudah mau membantunya itu lebih baik.


Ternyata sedikit mengalah dengan berpura-pura menerima dan mendukung hubungan Toni dan Raya lebih memudahkan dirinya untuk masuk ke dalam hubungan mereka, dan mulai merusaknya dari dalam.


'Tunggulah sampai tiba saatnya, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hak ku.' gumam Cila dalam batinnya.


**


"Benarkah? Cila mau menerima kenyataan jika kita sudah menikah dan hampir punya anak?" Beo Raya tak percaya saat Toni menceritakan tentang Raya yang akhirnya menerima hububgan mereka.


"Aku bahagia sekali, walaupun mungkin suatu saat nanti dia akan kembali mengingat kalau aku adalah teman yang paling di sayangi sekaligus paling di bencinya." kata Raya sedikit lirih.


"Apa yang kau bahagiakan, apa pentingnya wanita yang pernah hampir mencelakai mu itu? Andai saja bukan kamu yang menginginkan aku untuk membantu mereka, rasanya malas dan hati ku menolak nya." Ucap Toni sebal.


"Tak ada salahnya bukan jika kita memberi kesempatan untuk orang yang ingin berubah ke arah yang lebih baik?" kilah Raya.


"Tidak ada salahnya sama sekali, hanya saka jika itu bukan Cila, entah kenapa hati ku masih belum rela melakukan semua ini, aku masih merasa---"


"Sayang, sudahlah, iklas lah dalam berbuat kebaikan, yang penting niat kita ingin berbuat baik, tentang bagai mana nanti hasilnya, biar Tuhan yang menentukan." Kata Raya terdengar mengeluarkan kata-kata bijaknya, atau bahkan mungkin hanya terdengar naif saja di telinga Toni.


**


"Ah gila, yang benar saja, apa kau benar benar ingin membantu wanita sinting itu?" begitu kira-kira tanggapan Sabrina saat Toni mengemukakan niatnya untuk membantu menjalankan kembali usaha milik Rolan demi untuk membantu Friska dan Cila.


"Sepertinya kau sudah mulai sama gilanya dengan perempuan itu!" Panca menimpali ucapan Sabrina, meledek sahabatnya yang kini tengah berkumpul di rumah Toni untuk membicarakan masalah itu, sekali gus mengundang mereka makan siang di rumah untuk merayakan kehamilan Raya, Martin dan Dila juga hadir di sana menemani pasangan mereka.


"Iya, aku juga tak setuju jika kalian masih berhubungan dengan wanita itu, aku takut kalau wanita itu punya maksud lain di balik ini semua." Dila juga ikut mengomentari pembicaraan mereka.


Mungkin hanya Martin yang terlihat kalem tak ikut berkomentar apa pun, selain memang dia tak banyak tahu dengan apa yang mereka bicarakan, dia juga tak ingin Toni menangkap lain pendapatnya, karena apapun yang Martin lakukan dan ucapkan, jika di mata Toni semua menjadi salah, jadi baginya diam sepertinya lebih baik dan aman untuk posisinya.

__ADS_1


"Hust, kita tak boleh berburuk sangka, lagi pula kasian, dia itu benar-benar sedang membutuhkan bantuan," bela Raya, keukeuh dengan pendiriannya.


Tadinya, Toni pikir dengan mengundang teman-temannya ke rumah dan membahas masalah ini dapat membuka pikiran Raya kalau pendapatnya itu bertentangan tak hanya dengan suaminya saja, bahkan hampir semua yang ada di sana berpendapat sama dengan Toni.


Tapi nyatanya itu semua tidak membuat dirinya bergeming sedikit pun.


"Martin, dari tadi kau diam saja, bagaimana menurut pendapat mu?" Tanya Toni yang merasa kalau semenjak tadi Martin hanya sibuk dengan ponselnya dan tak ikut berkomentar sedikit pun.


"Hah, pendapat ku?" Martin menunjuk dadanya sendiri.


"Iya, kau di ajak ke sini untuk di ajak berdiskusi, bukan untuk mainan ponsel terus dari tadi, apa kau malas berada di sini? Jangan-jangan kau merasa tak suka karena Raya hamil!" Tuduh Toni.


"Benar kan, aku diam saja salah, apalagi bicara!" cicit Martin lirih, membuat semua yang ada di sana kecuali Toni tertawa menertawakan ekspresi memelas dan ketakutan Martin saat ini.


Namun di tengah tawa mereka yang menggema memenuhi isi ruangan, terdengar suara bel pintu dari depan,


"Biar aku saja yang membukakan pintu," kata Dila langsung beranjak dari tempat dudukya.


"Siapa yang datang Dil?" Tanya Raya menyelidik saat wajah Dila terlihat menjadi agak berubah menjadi tegang.


"Emh-- itu--" Ucapan Dila tersendat-sendat dan terlihat agak ragu saat akan menjawab pertanyaan Raya.


"Ini aku,!" Tiba-tiba Cila muncul dari balik punggung Dila dengan wajah sok polosnya.


Membuat semua orang yang berada di sana terlihat agak heran dengan kedatangannya karena merasa tak ada yang mengundangnya, lantas darimana juga Cila tau alamat rumah Raya yang baru, sementara tak ada seorangpun yang memberi tahu nya.


Begitupun dengan Dila yang merasa heran karena seingatnya, dengan tegas dia menyuruh wanita itu untuk menunggu di luar, namun ternyata Cila justru malah mengikutinya masuk ke dalam rumah, membuat Dila memicing ke arah wanita yang di anggapnya tak punya sopan santun itu.


"Apa kedatangan ku mengganggu kalian semua? Aku tak tau kalau sedang ada banyak tamu di sini," kata Cila dengan senyuman yang di buat sepolos mungkin, dan seolah tanpa dosa.

__ADS_1


"Ah, tidak, kebetulan kami sedang berkumpul saja, sini gabung," ajak Raya ramah.


Seperti tak ada kecurigaan sedikit pun di diri Raya, dia menyambut hangat kedatangan Cila yang notabene pernah hampir membuatnya celaka bahkan kehilangan kesuciannya secara paksa, beruntung Tuan masih melindunginya.


Sementara semua orang yang lain yang ada di sana langsung menunjukkan wajah tak sukanya atas kedatangan Cila di tengah-tengah mereka .


Ini terlalu ganjil, dimana Cila tiba-tiba saja datang ke rumah itu, dan membuat suasana menjadi canggung karena jelas-jlas mereka sedang membicarakan tentang wanita itu tadi.


"Darimana kau tau alamat rumah kami?" tanya Toni tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, apalagi seingatnya dia belum pernah menceritakan atau memberi tahu tentang alamat rumah baru mereka pada wanita itu.


"Ah, itu,, aku pernah memberi tahunya alamat rumah kita, akhir-akhir ini kami memang sering saling berkirim pesan, dan aku pernah memberi tahukan tentang alamat rumah kita padanya, " sambar Raya, dia tak ingin Cila merasa terintimidasi dengan pertanyaan Suaminya yang terkesan menghakimi.


"Harusnya kau tak sembarangan memberikan alamat rumah mu pada orang asing, itu akan sangat membahayakan!" Sinis Sabrina, di antara semua orang, hanya raut wajahnya yang tak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya pada Cila, di matanya wanita itu menyimpan banyak kelicikan yang tersembunyi di balik sikap polos yang di pertontonkannya di hadapan semua orang.


"Ah sudah lah, dia bukan orang asing, dia bagian dari kita sekarang," tepis Raya tak ingin membuat Cila tersinggung.


"Cih, mana bisa,!" tolak Sabrina, yang langsung mendapat lirikan dari sang kekasih.


"Sayang, jangan galak-galak sama dia, nanti gilanya kumat!" bisik Martin dengan polosnya.


"Maaf kalau kehadiran ku mengganggu kalian, dan maaf juga kalau aku datang tanpa mengabari mu terlebh dahulu, aku hanya ada sedikit permasalahan yang hasus di bicarakan dengan bang Lion!" kata Cila membela diri.


"Apa kau tak tau apa yang di sebut ponsel, dan apa gunanya, kenapa harus banget datang ke sini?" sambar Sabrina masih dengan nada sinisnya.


"Maaf, tapi ini masalah sangat serius dan tidak bisa di ceritakan lewat telepon, lagi pula, hubungan aku dan bang Lion kini hanya sebatas adik dan kakak saja, jadi aku harap jangan ada pikiran buruk tentang aku," tepis Cila.


"Sabrina," tegur Raya memberi kode pada nya untuk tak terus-trusan mengintimidasi Cila.


"Bela teroos, sekarang sih iya masih bersayap kaya malaikat, liat saja sebentar lagi jug paling keluar tanduknya berubah menjadi ib---" ucapan Sabrina tak sempat di selesaikannya karena Cila langsung terbangun dari duduknya dengan wajah yang juga sama marahnya dengan wajah Sabrina.

__ADS_1


"Cukup! Sejak tadi kau menghina dan menuduh ku tanpa alasan, apa masalah mu dengan ku? Jika kau tak suka aku berada di sini, aku akan pergi sekarang juga, permisi!" ketus Cila yang tak tahan mendengat ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Sabrina yang terkenal selalu ceplas-ceplos dan menyakitkan lawan bicaranya itu.


__ADS_2