
Kekesalan yang sebenarnya salah alamat jika itu di tujukan pada suaminya, karena kekesalan dan kemarahan yang Raya rasakan saat ini lebih tepat di tujukan untuk dirinya sendiri, karena perdebatan batin yang tak bisa dia kendalikan sehingga berakhir dengan sikap tak jelasnya.
Toni menghela nafasnya panjang sekali, entah apa yang terjadi pada istrinya itu, semenjak pulang dari penyergapan itu emosinya seakan tak terkendali.
"Oke, kita ke sana sekarang!" Toni mengalah, karena tak ingin istri tercintanya itu dramanya semakin menjadi dan semakin murka padanya.
Sore itu mereka berdua langsung berangkat ke rumah Sabrina demi memenuhi keinginan Raya yang absurd itu.
Wajah bantal Sabrina di sore menjelang malam itu masih sangat kentara, beberapa kali wanita itu menguap dan mengucek matanya seolah memperlihatkan betapa mengantuknya dia.
"Apa kau tidak lelah, Lion. Beberap hari ini kita tidak tidur, dan kau masih sempat sempatnya berjalan-jalan ke sini!" tanya Sabrina malas.
"Entahlah, ada yang rindu dengan ayahnya tuh!" Toni memajukan dagunya menunjuk Raya yang berjlan duluan menuju tempat penyekapan Arsan yang terletak di bangunan belakang terpisah dengan rumah utama yang di tempati Sabrina dan Yama.
"akh, sudah gila rupanya istri mu itu, iblis macam Arsan masih dia akui sebagai ayah!" ujar Sabrina denngan gaya ceplas ceplosnya asal.
Berimbas pada kepalanya yang langsung di toyor Toni karena tak terima istrinya di katai gila, namun Sabrina hanya nyengir kuda menerima perlakuan Toni itu.
Raya memasuki ruangan yang sebelumnya sebagai paviliun di rumah itu, namun kini di pakai untuk menyekap Arsan yang saat ini sedang terduduk dengan perban yang menempel di kening dan pergelangan tangannya, juga lebam yang hampir memenuhi seluruh wajah dengan garis tuanya yang sangat kentara.
Puluhan pejaga sengaja di tempatkan di sekitar tempat itu selam 24 jam non stop, di tambah dengan kamera pengawas yang selalu on di beberapa titik, membuat Arsan harus berpikir jutaan kali jik berniat untuk melarikan diri dari tempat itu.
Sabrina juga tak ingin kecolongan untuk kesekian kalinya, dia juga tak ingin iblis seperti Arsan berkeliaran bebas di luaran sana dan menebar kesakitan dan kenestapaan seperti yang di rasakannya selama ini.
Pandangan mata Raya meneduh dan terlihat sendu saat melihat Arsan yang duduk dengan wajah yang di buat se sedih mungkin saat itu, karena pria tua itu tau kalau Raya sedang memperhatikannya dari balik jendela.
__ADS_1
"Apa aku boleh masuk?" tanya Raya pada para penjaga yang malah saling tatap kebingungan dan tak bisa menjawab karena takut di persalahkan jika sampai terjadi apa-apa di dalam ruangan bila mereka mengijinkan Raya masuk.
Namun dari kejauhan Toi menganggukan kepalanya ke arah para penjaga seraya memberi kode pada mereka untuk membiarkan saja istrinya untuk masuk ke ruangan itu.
Para penjaga yang tanggap pun akhirnya membukakan pintu ruangan itu tanpa ragu karena kalau Toni mengijinkan, itu berarti pria itu bertangung jawab atas segala sesuatu yang mungkin saja terjadi di waktu selanjutnya.
"Raya, kamu datang kesini untuk menemui ayah?" lirih Arsan berusaha menarik simpatik dan rasa iba dari putrinya yang sudah dia perlakukan dengan sebegitu kejam dan menyakitkan.
Namun Raya masih tetap diam dan hanya memperhatikan pria tua yang selma ini dia kenali sebagai ayah yang baik itu.
"Raya, tolong katakan pada mereka untuk melepaskann ikatan ini, tangan ayah sakit sekali, nak!" bujuknya sambil menunjukkan tangannya yang terikat tali berharap Raya merasa sedikit iba dan mengabulkan permintaannya.
"Maaf tuan, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda, bahkan hanya di ikat seperti ini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan perbuatan anda yang sangat di luar batas dan tak layak untuk dikatakan sebagai manusia!" Aneh memang, kini saat Raya bertemu secra langsung dengan Arsan, kemarahan dan kebenciannya kembali memuncak, berbeda saat sebelumnya ketika dia terus kepikiran ayahnya bahkan sampai ikut merasakan sakit saat ayahnya tersakiti.
"Raya aku ini ayah mu, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu pada ku, kau tega membiarkan ayah terikat tak bisa berbuat apapun di tempat se sempit ini?" Pekik Arsan terus mencoba menggoyahkan hati putrinya yang mulai membatu dan sepertinya tak ingin lagi memberi kesempatan apapun padanya.
"Tuan, anda hanya baru beberapa jam saja terikat dan tak bisa bergerak bebas, apa anda tahu kalau ada seorang anak yang terlahir atas kebiadaban anda, selama belasan tahun dalam hidupnya dia tak bisa bergerak bebas karena kondisinya dan tak bisa bebas melakukan apapun?" Raya mulai emosional kembali saat melakukan perbincangan dengan pria yang kini mulai asing di matanya, karena banyak sekali kelakuan pria tua itu yang sungguh benar-benar membuatnya tercengang sekaligus merasa kecewa plus marah saat mengetahuinya.
"Apa maksudnya? Lalu apa hubungannya dengan ku?" Ocehan Arsan itu terkesan seolah diriya manusia paling suci dan tak pernah melakukan kesalahan apapun pada siapa pun di sepanjang hidupnya.
"Lihatlah cerminan wajah anda di wajah anak ini, betapa dia begitu sial memiliki wajah yang sangat mirip dengan anda, dan mewarisi darah anda yang mengalir dalam tubuhnya, andai dia tau kalau sebenarnya dia terlahir akibat kebiadaban dan ke bejatan seorang pria yang tak punya hati seperti anda karena memperkosa ibunya!" Suara Raya tercekat menahan sakit di dada dan tenggorokannya, namun sekuat tenaga dia tak menumpahkan air mata walau setetes pun.
Arsan memperhatikan layar ponsel yang di tunjukkan Raya padanya dimana ada gambar Yama yang sedang terbaring di ranjang khususnya.
Kening Arsan mengernyit, sungguh saat ini dia seperti sedang bercermin, melihat wajahnya sendiri saat dia masih muda.
__ADS_1
"Siapa dia?" Gumamnya dalam tanya.
"Anak anda lah, siapa lagi, dia adik laki-laki ku yang mungkin hanya salah satu dari sekian banyak saudara yang bisa saja aku belum menemukannya, mengingat kelakuan anda yang ternyata jauh dari kata normal selayaknya manusia, aku jadi berpikir kalau di luaran sana sepertinya masih ada banyak lagi saudara ku yang lain yang sama sialnya seperti ku karena mewarisi darah yang sama dengan anda," urai Raya.
Memang bukan hal yang aneh bagi Arsan jika sampai ada anak yang ternyata terlahir sebagai darah dagingnya mengingat dirinya yang sering meniduri banyak wanita, mungkin saja itu anak dari salah satu wanita yang pernah tidur dengannya.
Tapi jika menelaah lagi perkataan Raya yang mengatakan kalau anak itu terlahir dari wanita akibat pemerkosaan yang di lakukan dirinya, sepertinya Arsn sudah bisa menebaknya kalau itu anak dari Dewi, ibu dari Sabrina, istrinya Cobra dn merupakan saudara sepupu Maria sang istri.
Karena seingatnya hanya Dewi lah satu-satunya wanita yang dia tiduri secara paksa saat wanita itu di sekap olehnya dan tak mau menyerahkan saham milik keluarganya untuk dirinya.
Namun jika tentang Dewi mempunyai anak hasil dari rudapaksa dirinya itu, memang sempat dia dengar beritanya sepintas lalu, hanya saja dia tak ambil pusing dengan hal itu, apalagi setelah itu yang dia tahu juga wanita itu meninggal karena bunuh diri, jadi dia pikir anaknya juga ikut mati bersamanya.
"Apa anda sudah ingat, dari rahim perempuan mana anak ini terlahir, dari korban kebiadaban anda pada wanita mana sehingga anak ini harus menanggung deritanya seumur hidup?" tanya Raya lagi, krena tak sepatah kata pun keluar dari mulut Arsan, seolah pria itu kehabisan kata-kata untuk melawan Raya.
"Dewi, mungkin anak itu terlahir dari rahim Dewi, setidaknya itu yang aku ingat, selebihnya aku tak pernah memaksa wanita mana pun untuk tidur dengan ku,kerena mereka melakukannya atas dasar suka sama suka atau atas dasar uang." Jawabnya tanpa ad rasa malu atau bersalah sama sekali mengakui dosanya dengan begitu bangganya.
"Dasar bejat, pria tua tak tau diri, kenapa kau tak mati saja saat penyergapan kemarin, sungguh aku menyesal dan merasa jijik pernah menjadi istri mu!" teriak Karina yang masuk tiba-tiba ke ruangan itu, karena dia baru tahu kalau Arsan ternyata berada di sana, di sungguh tak bisa menahan lagi rasa marahnya paada pria yng pernah menjadi suaminya itu.
Karina memang pernah salah, pernah jahat, pernh serakah namun bukankah sebaik-baiknya orang adalah orag yang menyadari kesalahannya dan berjanji tak akan mengulangi kembali kehilapannya dan berusah hidup lebih baik dari sebelumnya, setidaknya itu yang sedang Karina jalani saat ini. Berubaah ke arah yang lebih baik.
Menebus semua dosa-dosanya di kehidupan sebelumnya saat wanita itu masih hidup bersama Arsan, kini Karina mengabdikan hidupnya untuk Yama, denga sukarela dia mengurus remaja pria yang kini sudah di anggapnya sebagi anaknya sendiri, karena dia sudah merasa sangat menyayangi Yama, baginya yang memang sudah sejak kecil menjadi seorang yatim piatu itu sakan menemukan sosok yang lebih dri sekedar anak, saudara yang bisa dia sayangi, lindungi dengan sepenuh hatinya.
Kalau dulu bahagianya hanya di ukur oleh materi, lain halnya dengan sekarang, kebahagiaannya adalah saat melihat kemajuan pada kesehatan dan tumbuh kembang Yama, bahkan sekecil apapun perkembangan yang Yama lakukan, merupakan kebahagiaan luar biasa baginya.
"Bunda, tenanglah!" cicit Raya memegangi tangan Karina yang meronta-ronta berusaha menyerang tubuh Arsan.
__ADS_1
"Tak bisa aku tenang menghadapi iblis biadab seperti dia, biar aku saja yang membunuhnya, dia itu tak layak untuk berada di dunia ini," Karina masih tetap berteriak histeris mengumpat mantan suaminya itu, atau mungkin masih suaminya, karena bukankah di antara mereka belum ada kata perceraian secara resmi?
"Bunda, ingat Yama, dia masih membutuhkan kasih sayang bunda, aku juga merasakan kemarahan dan kebencian yang sama seperti yang bunda rasakan saat ini, tapi rasanya, kematian terlalu enteng untuk dia menebus segala dosa-dosa yang telah di perbuatnya," Raya berusaha menenangkan perasaan ibu tirinya yang kini sedang di balut amarah itu.