Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Serangan Untuk Cila


__ADS_3

Toni tersenyum dalam hati, semua tepat seperti yang di harapkan nya, sesuai rencana.


Tunggu kehancuran kalian yang sebenarnya, sebentar lagi.


Tak sampai hitungan hari, semenjak pagi itu Rolan menyerahkan kekuasaan penuh untuk memegang kendali peredaran obat terlarang di kawasan sebagian besar Jakarta ke tangan Toni,


Rolan sudah mendapat laporan baik dari pria yang tanpa di sadarinya sedang balik menyerang atas kejahatan dan api kemarahan yang dia percikkan terlebih dahulu pada Toni.


"Kau memang luar biasa, Lion.! Di tangan mu semua masalah beres bahkan hanya dalam hitungan jam saja," puji Rolan sangat merasa bangga dengan pencapaian yang telah Toni dapatkan.


Jelas saja Toni dapat dengan mudah menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi, orang yang menciptakan kerusuhan dan kegaduhan itu dia sendiri.


"Abang, apa abang mau menemani Cila ke klub nanti malam, salah satu temen Cila ada yang ulang tahun, abang mau ya,,,!" rengek Cila sambil menggoyang goyang lengan Toni.


"Hmm, coba liat nati, kalau aku tak ada pekerjaan, pasti nemenin kamu," jawab Toni tak ingin memberi jawaban pasti saat itu, si pria bucin itu harus meninta ijin dulu dari gadisnya, salah salah ambil keputusan, Raya bisa ngamuk dan akan sangat merepotkan baginya jika sampai Raya murka padanya.


Malam itu Toni bersiap, pria itu telah mendapat ijin untuk datang ke acara itu bersama Cila, karena ternyata Raya juga mendapat undangan yang sama, secara circle pertemanan Raya dan Cila dulu kan sama.


"Jangan minum yang aneh aneh, jangan berpisah dari Panca dan Dila, jangan jelalatan liat pria lain!" ucap Toni terlihat seperti seorang bapak bapak yang sedang memberi 'rules' pada anak ABG nya yang baru akan pernah pergi dugem ke tempat hiburan malam.


"Ish,,, kau ini cerewet sekali, tenang saja, aku dan Dila akan menjaga kekasih mu ini, sudah sana pergi temui tunangan mu,!" usir Panca yang merasa kesaldengan tingkah konyol sahabatnya yang dulu terkenal dingin dan judes pada lawan jenis, kini malah seolah terlihat sangat berlebihan.


"Jomblo seperti mu mana ngerti apa yang aku rasakan sekarang ini!" ejek Toni yang akhirnya mengijinkan Raya pergi ke klub untuk menghadiri ulang tahun temannya dengan syarat Panca dan Dila harus menemani nya, dan itu syarat mutlak tak dapat di ganggu gugat.


"Sialan, ini pacar ku, pacar ku satu satunya, gak serakah seperti mu, ada tunangan, ada kekasih, ada gebetan, ada rekan kerja tapi selalu deketan!" sewot Panca sambil menunjuk Dila yang kini di dekapnya seraya ingin menunjukkan kalau dirinya dann Dila adalah sepasang kekasih.


"Eh bangsat kau, mulut mu itu lho!" kesal Toni saat melihat Raya sedikit cemberut mendegar ledekan Panca.

__ADS_1


"Kamu kan tau bagaimana aku yang sebenernya, jangan dengerin si bangsat yang satu itu ya!" ucap Toni mengelus pipi Raya, sementara Panca hanya cekikikan sambil memasuki mobilnya.


***


Toni memasuki ruangan gelap dengan suara musik yang memekakan gendang telinga, matanya menyapu setiap meja yang berada di hadapannya, sebuah lambaian tangan terarah padany memberi kode untuk dirinya agar mendekat, rupana itu lambaian tangan Cila.


Ya, mereka tidak berangkat bersama, mereka janjian bertemu di tempat itu. Toni melangkahkan kakinya mengikuti arah lambaian tangan Cila yang sedang berkumpul dengan beberapa temannya tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Semuanya, kenalin,,, ini tunangan ku, bang Lion!" ucap Cila sesaat setelah Toni sampai di dekatnya, memperkenalkan tunangannya dengan baangga pada teman teman nya yang berkumpul di meja panjang di sana.


Toni hanya tersenyum tipis sambil menarik kursi lalu memposisikan diri di sebelah Cila, matanya kembali menjelajah di setiap penjuru ruangan itu, mencari sosok kekasih hatinya yang belum terlihat di sana, padahal mereka tadi berangkat hampir bersamaan, "Dimana mereka duduk?!" gumam Toni dalam hatinya merasa ksal karena tak juga menemukan sosok Raya di antara riuhnya orang orang di tempat itu.


"Hai Josh, happy b'day ya bro, sorry aku telat!" tiba tiba suara yang sangat di kenal Toni terasa cukup dekat dari tempat nya kini duduk.


Raya, gadis yang sejak tadi dia cari cari di setiap penjuru ruangan dengan jelajah pandangannya, kini malah berada di hadapannya,


dan tunggu,,, tunggu,,, kekasihnya memeluk lalu cipika cipiki dengan pria muda yang di panggilnya dengan nama Josh itu, bahkan dia baru tau kalau pria muda yang sejak tadi duduk di hadapannya itu adalah teman Cila yang sedang berulang tahun.


Kontan saja wajah Toni berubah sangat keruh, namun dia juga tak bisa berbuat apa apa selain memendam rasa kesalnya karena tak ingin Cila curiga dengan hubungannya dengan Raya dan akan mengakibatkan keselamatan Raya yang nantinya bisa saja terancam.


Rencananya sudah berjalan sejauh ini, tak mungkin harus kacau hanya gara gara kecemburuannya saja, bukan?


"Hai Raya, kangen banget, sini gabung!" pira yang berulang tahun itu menarik kursi kosong yang berada di sebelahnya, seraya mempersilahkan Raya untuk duduk di sebelahnya. Jadilah kini Raya dn Toni duduk bersebrangan hanya di pisahkan oleh meja panjang di hadapan mereka berpura pura asing dan tak saling sapa satu sama lain.


Kikuk, itu jelas yang Raya rasakan saat ini, dengan tatapan Toni yang sangat jelas menunjukan ketidak sukaannya, belum lagi dengan tingkah lebay Cila yang seolah sengaja memamerkan kemesraannya dengan Toni padanya.


Sungguh sikap Raya menjadi sangat serba salah berada di satu meja dengan Toni, sehingga dia berniat untuk menyerah dan berpamitan meninggalkan meja itu.

__ADS_1


"Josh, sepertinya aku harus ke meja teman ku dulu, mereka menunggu ku," Raya menunjuk meja dimana Panca dan Dila berada seraya memberi tahu secara tidak langsung pada Toni juga tempat yang nantinya akan dia tempati.


"Ah,,,Josh, kau sepertinya harus patah hati lagi, kau pasti tak tau ya, kalau pria itu kekasih barunya Raya, tapi jangan patah semangat, selama janur kuning belum melengkung,dia masih bisa di tikung!" sambar Cila yang tiba tiba ikut berkomentar.


"Hahaha,,, tak ada kata menyerah dalam kamus Joshep, lima tahun aku mengejarnya, bahkan sampai aku ikuti dia bersekolah di luar negeri, tentu saja aku tak akan menyerah begitu saja, aku selalu menunggunya sampai kapan pun," ucap pria bernama Joshep itu yang sepertinya fans berat Raya, sekaligus rival berat Toni juga.


Andai ruangan itu tidak gelap, pasti sudah tampak jelas wajah Toni yang kini berubah menjadi merah menyala karena marah, belum lagi dirinya yang sekuat tenaga menahan rasa marahnya pada pria bernama Joshep yang berada di hadapanya itu, padahal ingin sekali rasanya dia menghajar dan mengangkat meja di hadapannya itu lalu dia lemparkan ke wajah pria yang dengan lancangnya merayu Raya di depannya.


"Baguslah, kau memang harus mengejarnya sampai dapat, kalau perlu rebut dan nikahi dia, jangan sampai dia kembali menggoda tunangan ku,!" ucap Cila yang langsung menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu kokoh Toni.


'Sabar,,, sabar Ton,,, hanya tinggal beberapa langkah lagi semua ini akan berakhir dan Raya akan segera di miliki seutuhnya,' Toni berbicara pada dirinya sendiri dalam hati, mencoba menenangkan emosinya yang semakin meningkat dan hampir melebihi batas kesabarannya.


"Benar, sebaiknya kau menjaga tunangan mu itu dengan baik, karena kalau tidak, aku yang akan menikung tunangan mu itu sebelum janur kuning kalian melengkung!" balas Raya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Toni dengan gaya genitnya.


Duh,,, hati Toni rasanya mau copot melihat gaya genit Raya barusan, bisa bisa nya gadis itu bersikap seperti itu di depan anyak orang, apa dia berniat menggoda para pria hidung belang yang ada di tempat itu? pikir Toni, rasanya dia ingin menggendong kekasihnya itu dan membawanya pulang saja.


"Abang jangan liat dia,,, jangan liat pelakor itu, dasar cewek penggoda, pergi jauh jauh sana !" marah Cila seraya kedua tangannya terangkat di depan wajah Toni menutupi mata tunangannya itu agar tak meliahat ke arah Raya.


Raya hanya tertawa puas karena merasa sudah berhasil membuat Cila merasa kesal, Raya berjalan meninggalkan meja itu menuju mja tempat Panca dan Dila berada dengan hati yang puas dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Di tengah rasa kesalnya atas tingkah Raya yang seolah mengejeknya tadi, kini perasaan Cila kembali di uji dengan kedatangan Sabrina yang entah dari mana datangnya karena ujug ujug berada di antara mereka.


"Hey, kau! Pergilah, jangan mengganggu kebersaaan ku dengan tunangan ku, jangan selalu beralasan membahas pekerjaan, sekarang ini bukan waktunya bekerja!" sewot Cila saat Sabrina sedang berdiri di samping Toni yang sejak tadi duduk diam di sebelahnya.


"Apa kau mabuk nona?" tanya Sabrina tak terpancing emosi sama sekali.


"Aku tidak mabuk, aku hanya tidak suka dengan sikap mu yang selalu mengekor ke manapun tunangan ku pergi, tak cukup kah setiap hari kalian bersama? Dan kali ini saat aku dan tunangan ku sedang menikmati waktu kebersamaan kami yang sangat jarang ini, masih ingin kau ganggu juga? Apa kau tak punya pekerjaan lain selain mengejar ngejar tunangan ku? Apa kau pikir aku tak tau kalau sebenarnya kau menyukai nya, kau hanya berpura pura menjadikan pekerjaan sebagai topeng untuk bisa selalu berdekatan dengan nya, dasar wanita wanita jaman sekarang ini pada tak tau malu, bisanya hanya menggoda dan mengejar ngejar pria milik orang lain, pergi sana, jangan ganggu kami !" amarah Cila yang sejak tadi di pendamnya akhirnya membuncah dan pecah juga, amarah yang sebetulnya terarah pada Raya terpaksa harus di lampiaskan pada Sabrina yang di nilainya selalu menempel pada tunangannya tanp tau waktu dan tempat, membuat dirinya tak punya waktu untuk bersama dengan Toni karena rasa rasanya waktu Toni selalu di monopoli oleh Sabrina dengan alasan pekerjaan.

__ADS_1


"Nona, aku ke sini bukan untuk menemui mu atau tunangan mu, aku ke sini untuk menyapa konsumen ku, barangkali anda lupa, saya pemilik klub ini, anda tidak berhak memaki saya di klub milik saya sendiri, atau jangan jangan anda merasa sedang berada di klub milik keluarga anda? Halooo klub milik keluarga anda sudah terbakar dan sudah tidak beroperasi lagi, jadi jangan lupa diri dan lepas kendali saat sedang berada di klub seolah sedang berada di klub milik anda sendiri!" ucap Sabrina memukul telak harga diri Cila di hadapan teman temannya yang kini menonton pertunjukan adu mulut antara Cila dan Sabrina.


Tentu saja itu semua menjadi pukulan berat tersendiri bagi Cila, niat hati ingin mempermalukan wanita wanita yang menggoda tunangannya dengan terang terangan di hadapannya, tapi apa daya malah dirinya lah yang justru ternyata di permalukan dengan sedemikian rupa di hadapan banyak teman temannya oleh Raya dan Sabrina.


__ADS_2