Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Ketindihan Setan ?


__ADS_3

Halah,,, kenapa hati Toni terasa makin porak poranda saat ini ?


Apa hatinya sudah mulai lemah hanya karena mendengar pernyataan cinta dan sentuhan tangan Raya di bahunya ?


Tidak,,, tidak,,, tentu saja Toni tak boleh menjadi lemah seperti itu.


"Toni,,,! Aku bilang, aku menyukai mu !" rengek Raya sambil menyentuh bahu pria itu sekali lagi, meski dia tetap saja tak bereaksi, Toni memilih untuk pura pura tertidur dari pada harus ikut terhanyut dengan perasaannya sendiri, terlebih dia juga tak ingin menyakiti Raya sekali lagi berpura pura menolaknya dengan cara yang kejam, cukup saat hari pertunangan itu saja, dan sampai saat ini dirinya menyesal tak habis habis karena merasa telah terlalu jahat memperlakukan Raya.


"Ishhhh,,,, kenapa ada manusia seperti mu di dunia ini sih, !?! Lagi serius serius nyatain cinta malah di tinggal tidur !" cebik Raya masih dengan rengekannya, dia terus saja mengajak Toni bercerita, meski Toni tak menanggapinya.


"Aku takut tau,,,! malah kamu enak enakan tidur !" protes Raya yang masih asik mengobrol dengan punggung Toni.


Namun tiba tiba, Bruakkk ! suara sesuatu jatuh di atas plafon kamar, sepertinya suara tikus kejar kejaran atau entah suara apapun itu yang jelas sukses membuat Raya terjingkat kaget, belum lagi beberapa menit setelahnya lampu kamar tiba tiba mati.


Tanpa berpikir panjang lagi, Raya langsung beringsut turun dari kasur dan berpindah tidur tepat di belakang tubuh Toni, merapatkan tubuhnya di punggung kekar itu, melingkarkan tangan kirinya di pinggang pria yang seperti tak merasakan kalau sedang di dekap erat olehnya, padahal di balik itu semua, jantung Toni terdengar seperti dentuman meriam setiap detaknya, namun dia tak bisa berbuat apa apa selain pura pura tidur dan membiarkan gadis itu mendekapnya erat.


Tiga puluh menit berlalu, punggung Toni terasa basah, sepertinya Raya menangis sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Toni, suara nafas gadis itu terdengar teratur, sepertinya Raya sudah tertidur saat ini saking takutnya.


Toni membalikkan tubuhnya ke arah Raya yang ternyata benar benar sudah tertidur dengan menghadap ke arahnya, listrik masih mati, karena daerah sana sudah biasa mengalami pemadaman listrik bergilir, di angkatnya kepala gadis itu pelan agar tidur di atas lengan kirinya, meski dengan pencahayaan yang minim, wajah Raya yang kini sangat dekat dengan wajahnya itu terlihat sangat cantik, bahkan dalam posisi tertidur lelap seperti itu, tangan kanan Toni mengusap pipi Raya yang masih terasa lembab akibat sisa air mata.


"Dasar penakut, apa kau menangis sampai tertidur, hemh ?" gumam Toni sambil menoel hidung bangir Raya gemas.


"Untunglah kau cepat tertidur, dan berhenti mengoceh, kalau tidak,,, aku tak tau apa aku bisa menahan diri ku atau tidak, untuk mengatakan kalau aku juga--- sangat mencintai mu !" ucap lirih Toni seraya mendekap erat tubuh gadis itu yang sepertinya sudah berkelana ke alam mimpi.


Jangan tanya bagaimana atau apa yang di rasakan Toni saat ini, rasa hati Toni saat ini terasa sangat damai, untuk pertama kalinya perasaannya seringan kapas meski dirinya sedang di terpa banyak masalah berat.


Lelah memandangi wajah gadis yangvkini berada dalam pelukannya, Toni tanpa di sadari ikut terlelap, matanya tiba tiba terasa berat, jadilah mereka tidur saling berpelukan dengan nyamannya.


***


Raya membuka matanya, tapi pandangannya terasa masih gelap, dia ingat terakhir kali sebelum dirinya tertidur lampu kamar itu tiba tiba mati, apa sekarang masih mati lampu ? pikirnya, tapi tunggu,,, kenapa badannya terasa berat seperti tertindih benda yang sangat berat, tiba tiba bayangan tentang kuburan angker itu terlintas kembali di kepalanya, apa mungkin ini yang di katakan orang ketindihan setan atau kena reprepan itu ?

__ADS_1


"Huaaaaa,,,,,,!" seketika tangis Raya pecah saking gadis itu ketakutan.


Toni yang saat itu masih terpejam, sontak saja langsung terbangun mendengar tangisan gadis yang masih tenggelam dalam pelukannya itu.


Toni mengurai pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Raya yang masih menangis histeris itu.


"Hey,,, kenapa kau menangis ?" tanya Toni kebingungan.


Raya membuka matanya ketika tubuhnya terasa enteng tak terasa ada sesuatu yang menindih tubuhnya, pandangannya pun mulai jelas, ternyata hari sudah mulai pagi, karena sinar matahari sudah muli mengintip malu malu di celah gorden jendela kmar itu.


"Tadi,,,,tadi aku ketempelan setan, badan ku sesak seperti ada yang menindih, aku juga tak bisa melihat apa apa, semuanya gelap !" beber Raya di sela isak tangisnya yang masih terdengar jelas.


Toni menggeleng pelan, lalu mengusap wajahnya kasar, dasar penakut, jelas jelas tadi tangan kekarnya yang melingkar di tubuh mungil gadis itu, malah di kira ketindihan setan, sialan memang,, dirinya malah di kira setan, batinnya, dan jelas saja pandangan gadis penakut itu gelap semua, wajahnya semalaman ngusel ke dada bidangnya !


Tapi untung saja Raya sangat penakut, jadi gadis itu tak menyadari kalau Toni semalaman memeluknya erat.


"Mana ada setan pagi pagi begini, kamu cuma mimpi, kali !" ucap Toni, matanya masih sangat ngatuk, dan posisinya tadi sangat nyaman, kenapa gadis itu pake cepat cepat bangun, sih ! protesnya dalam hati.


"Cuci muka mu sana, sebentar lagi Panca pasti akan menjemput mu, dan tolong patuhlah, jangan pergi pergi sendirian seperti kemarin, untung saja semalam tak ada orang jahat !" nada suara Toni terdengar lembut, tak dingin atau sinis seperti biasanya.


Raya terdiam, matanya kembali terlihat berair, ada kesedihan yang teramat dalam yang dapat Toni lihat di sana.


"Ada apa lagi ?" tangan Toni terulur mengusap pucuk kepala Raya yang kini tertunduk dalam.


"Sepertinya ayah bukan menghilang, tapi sengaja tak ingin bertemu dengan ku !" lirih Raya.


"Mengapa kau bisa menyimpulkan seperti itu ?" Toni mengangkat sebelah alisnya.


"Saham milik ayah telah di jual pada orang yang bernama Cobra, di sana tertera tanda tangan asli Ayah dan juga Karina, aku tau kalau itu tanda tangan asli ayah, tak mungkin di palsukan," kata Raya yang kini mulai meyakini kalau ayahnya tidak menghilang, namun sengaja menghindarinya, entah mendapat pikiran dari mana, yang jelas, saat ini setidaknya itu yang ada di kepalanya saat ini.


"Ayah mu menjual saham nya pada Cobra ?"

__ADS_1


"Iya, bahkan kini putrinya yang bernama Brina itu menggantikan posisi ku di kantor, dan itu tanpa rapat atau peberitahuan apapun pada ku sebagai pemegang saham juga, meski saham yang ku punya itu cuma 30 persen, wanita bernama Brina itu mendapat surat kuasa langsung dari ayah sebagai perwakilan ku, bukankah ini gila ?" pekik Raya sedikit emosi saat mengingat lagi wajah menyebalkan wanita itu di kantor kemarin.


Toni mulai menyambungkan cerita Raya dengan kejadian hilangnya Arsan di tempat penyekapannya kemarin, ada yang tak beres,,, sepertinya memang ada suatu rahasia besar di antara Cobra dan Arsan, tak mungkin Cobra bertindak sejauh ini.


"Toni,,, apa kamu mendengarkan cerita ku ?" tanya Raya yang melihat Toni justru malah melamun saat ini.


"Ah, itu,, iya aku dengar, kau jangan terlalu banyak berpikir, biar aku selesaikan semuanya satu persatu, cepat cuci muka mu, aku akan membeli sarapan untuk kita," Toni bangkit dari duduknya dan terlebih dahulu masuk ke kamar mandi sempit yang ada di sebelah kamarnya, membersihakan diri dan bersiap membeli sarapan untuk dirinya dan Raya makan, lalu setelah itu gantian Raya yang masuk ke kamar mandi itu untuk mencuci mukanya dan membersihkan badannya.


Raya masih berada di dalam kamar mandi saat Toni pergi membeli sarapan, namun tiba tiba,,,


"Bang,,,, bang Lion !" suara Cila yang memmanggil manggil Toni terdengar juga oleh Raya yang kini masih berada di kamar mandi.


Raya kebingungan, dia tak ingin menambah masalah jika dirinya kini menampakan diri di sana, apa kata Cila jika dia mendapati tunangannya tidur sekamar dengan dirinya, Raya juga tak ingin memberi masalah baru pada Toni.


Pintu kamar Toni tak biasanya terbuka, padahal si empunya kamar selalu menguncinya rapat jika kamar sedang di tinggalkannya, sepertinya tadi Raya lupa menutup pintu kamar itu.


Terdorong rasa penasarannya, Cila memberanikan diri masuk ke kamar tunangannya untuk pertama kalinya, selama ini Toni memang tak pernah mengijinkannya masuk ke kamar miliknya itu.


Sekarang Cila sudah menjadi tunangannya, rasanya sah sah saja jika dirinya masuk ke kamar itu, pikir nya.


Cila memperhatikan semua sudut dan barang yang ada di ruangan itu, hingga beberapa menit kemudian,


"Apa yang kau lakukan di sini !?!" terdengar bentakan Toni yang membuat Cila terlonjak kaget.


"A- aku hanya mencari mu, dan melihat pintu kamar mu terbuka, lalu aku berinisiatif untuk menunggu mu di dalam sini," ucap Cila ketakutan, ini pertama kalinya Cila melihat Toni murka.


"Keluar dari sini cepat ! Jangan pernah sekali kali berani masuk ke kamar ku tanpa ijin !" kata kata Toni terdengar sangat tegas, wajahnya pun terlihat sangat serius dan marah.


"Kenapa bang ? Kenapa abang sebegitu marahnya hanya karena aku masuk kamar abang, apa yang abang sembunyiin di sini ? Aku ini tunangan mu !" protes Cila.


"Atau ini, yang sedang abang sembunyiin dari ku ? milik siapa ini, siapa dia bang ? Di mana dia, bang ?!" Cila meraih sepasang sepatu wanita yang ada di depan pintu kamar kost tunangannya itu.

__ADS_1


Cila tak cukup bodoh, tentu saja sikap marah Toni sekarang ini karena pria itu sedang menyembunyikan atau menutupi kesalahannya, terlebih bukti kini sudah berada di tangannya, Toni tak akan bisa mengelak lagi, pikirnya.


__ADS_2