
"Sialan kau, Tapi aku sudah terlanjur menculiknya, kau ambil lah, aggap saja dia bonus cuma cuma dari ku, kau dapat saham 30 persen gratis, setelah itu kau bisa menghabisi putrimu seperti dulu kau menghabisi ibunya saat Lubis Corp sudah kau rampas dan kuasai dari tangan nya dan keluarganya." oceh Rolan.
"Tapi sayangnya dia tak cukup berharga buat ku, saham 30 persen Lubis Corp itu hanya sekedar atas namanya saja, aku tak se bodoh itu, semua penghasilannya masuk ke rekening ku, bahkan dia tak bisa menjual 30 persen sahamnya tanpa adanya tanda tangan persetujuan dari ku, mungkin dia tak pernah teliti membaca surat peralihan atas nama saham ku untuknya itu, semua itu aku lakukan hanya untuk mengecoh Cobra, aku yakin Cobra tak akan berani mengusik saham itu jika tau atas namanya bukan aku," beber Arsan dengan enteng dan seolah tanpa dosa menceritakan semua kejahatan dan ke licikannya.
"Lalu, bagaimana dengan nasibnya? Tak mungkin aku lepaskan begitu saja, Lion pasti akan sangat marah dan mencari siapa penculik kekasinya, semua urusan akan kacau termasuk proyek mu!" giliran Rolan yang kini kelimpungan.
"Beresi dia, kau yang buat kekacauan sendiri, masa iya aku yang harus menerima akibatnya, aku tak mau berurusan dengan si Lion itu, masalah ku sdah banyak, dan satu lagi awas saja kalau masalah ini berimbas pada proyek ku!" ancam Arsan.
"Ah,,, sial! Bisa kacau ini urusannya!" kesal Rolan.
"Cepat urus dan bereskan semuanya, kau membuang banyak waktu ku!" kecam Arsan yang langsung pergi meninggalkan rumah itu tanpa memperdulikan keberadaan Raya yang mentapnya dengan tatapan kosong, tak lagi menatapnya dengan mengiba meminta pertolongan dari ayahnya yang kini tak lagi d rindukan dan tak lagi di sayanginya.
"Kalian, bawa gadis ini dan juga mobilnya ke gudang hutan pinus, jangan lupa hilangkan barang bukti, masukan dia mobilnya ke jurang agar di kira gadis ini mati kecelakaan, lakukan semuanya tanpa ada jejak sedikit pun!" Titah Rolan pada dua anak buahnya yang tadi di perintahkan menculik Raya.
Tanpa perlawanan Raya di bawa masuk kembali ke dalam mobilnya, dia akan di bawa ke gudang narkoba milik Rolan yang berada di tengah hutan pinus di pinggiran kota yang jauh dari pemukiman penduduk untuk di habisi dengan cara di masukan mobilnya ke jurang agar terkesan kalau kematiannya merupakan sebuh kecelakaan.
Raya sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi pada dirinya. Toh tetap hidup pun seakan tak ada bedanya seperti mati bagi Raya.
Namun saat sampai di hutan dan mobil Raya sudah hampir di tepi jurang dan siap di luncurkan, salah satu dari preman itu tiba tiba menghentikan aksinya mendorong mobil itu agar terhrmpqs ke jurang.
"Kenapa berhenti?" tanya salah satu temannya yang juga ikut mendorong mobil itu.
"Apa kau tak merasa mubazir cewek se bening itu kita buang begitu saja? Bagaimana kalau kita cicipi dulu tubuhnya, aku dari tadi sudah menahan hasrat ku, junior ku bahkan sudah berdiri meski baru saj membayangkan menikmati hangat tubuh nya," pria mesum itu mengungkapkan ide gilanya.
Temannya berpikir sejenak,
__ADS_1
"Tapi---"
"Ayolah si bos tak akan tau, lagi pula setelah kita puas dia tetap kita habisi, kalau kau tak mau aku makan sendiri, kau tunggu aku selesai baru kita habisi dia," ucap nya dengan senyum iblis yang menjijikan.
"Enak saja, aku juga ingin mencicipinya juga, malah kau ingin makan sendirian!"
mereka membuka pintu mobil dimana Raya meringkuk di jok belakang sendirian,
"Sebelum kau mati, layani dulu kami berdua, nona cantik!" ucap salah satu pria yang bertubuh lebih besar dari pada yang satunya.
Raya yang tadinya meringkuk lemas kini terkesiap, dia memang sudah malas untuk melanjutkan hidup, dia memang pasrah jika harus mati detik itu juga, tapi bukan berarti dirinya harus pasrah jika harus di rudapaksa oleh dua preman tak tau diri itu.
Jika pun Raya harus mati, dia tak ingin mati dalam keadaan kesuciannya di renggut paksa oleh pria yang bukan suaminya.
Seketika wajah Toni terbayang di pelupuk matanya, dia tak ingin mati ebagai penghinat untk ekasih tercntanya karena mati dalam keadaan tak suci lagi.
Tubuh Raya di seret paksa oleh keduapria itu ke luar mobil untuk mereka gagahi dengan paksa.
Entah ini keberuntungn atau bukan, namun tiba tiba ikatan di kaki Raya terlepas, seketika dia ingat apa yang di ajarkan Toni padanya dulu saat mereka di Bandung,
'Semua anggota tubuh mu adalah senjata mu, baik itu tangan, kaki, kepala, bahkan gigi mu sekali pun bisa kau gunakan untuk menggigit lawan, gunakan semua yag adadi dekat mu sebagai benteng pertahanan dan perlawanan!' kata kata Toni yang itu tiba tiba terngiang ngiang di telinganya, seakan memberi kekuatan dan semant baru baginya untuk melawan dan bangkit.
Saat salah satu dari pria itu menempelkan bibirnya di bibir Raya berniat hendak melu mat bibir merah Raya, tanpa pikir panjang lagi Raya langsung mengigit bibir yang dengan lancang mendarat tanpa permisi di bibir Raya sampai pria itu mengerang kesakitan, dia tak bisa menjerit karena bibir atasnya tak juga Raya lepaskan dari gigitannya sampai sepertinya terluka parah karena terasa sekali di mulut Raya asin dan bau anyir darah menyeruak ke hidungnya sampai rasa rasanya dia mual dan berasa ingin muntah.
Begitu bibirnya terlepas akibat Raya yang merasa mual dengan bau anyir darah, pria itu langsung murka, lalu langsung menampar pipi kanan Raya sampai ujung bibir raya robek di buatnya,panas dan sakit sekali rasanya pipi Raya saat ini.
__ADS_1
"Wanita sialan!" teriaknya, suaranya tak terdengar jelas akibat bibir atasnya yang kini bengkak dan mengeluarkan darah segar terus menerus.
Pria satunya malah menertawakan temannya yang kini wajahnya terlihat lucu dengan bibir yang bengkak seperti tersengat tawon.
"Hahaha,,, kauterlihat tambah jelek, biar aku saja yang memakannya duluan!" ejeknya smbil menunjuk wajah temannya, dia lantas mendekati tubuh Raya, baru saja dirinya bersimpuh mendekat ke arah Raya yang kini setengah berbaring di tanah.
Tanpa aba aba kini lutut kanan Raya dia layangkan tepat ke junior pria yang sedang menurunkan resleting celananya itu, kontan saja diia teriak kesakitan, Raya lantas menendang sekali lagi tubuh pria yng sedang membungkuk sambil mengerang kesakitan itu hingga tubuhnya tersungkur ke tanah.
Denagn kedaan tangan yang mmasih terikat, Raya berdiri lalu lari sekencang mungkin, meski tak tau harus lari ke arah mana, yang jelas dia harus pergi dan menjauh dari pria pria berengsek itu, si lebih baik mati di maka hewan buas di hutan, dari pada harus mati di tangan manusia manusia bejat itu.
Dalam pelariannya yang tak tau arah, dia kini tiba di sebuah bangunan yang di jaga oleh beberapa pria yang membawa senjata di tangannya, bak keluar dari mulut buaya, lantas masuk ke mulut harimau, Raya pasrah, karena kini dirinya di kepung oleh lebih dari enam orang pria berbadn tegap.
Dia tak bisa berbuat apa apa, bahkan mulutnya pun masih di tutup lakban, tangannya masih terikat.
"Buruan siapa yang lepas nih?" teriak salah satu dari mereka di susul oleh gelak tawa pria pria lainnya.
"Dia sandera milik bos Rolan!" ucap salah satu dari mereka yang ternyata tadi berada di rumah Rolan menyaksikanRaya di sekap di sana.
pria pria yang tadinya ingin meraba raba Raya pun akhirnya mundur, mereka tak ingin berurusan dengan bosna yang terkenal kejam itu.
Pria tadi lantas menghubungi Rolan, setelah berbicara beberapa saat diamengakhiri pembicraannya.
"Bos bilang, amankan wanita ini di dalam gudang, lalu cari dua orang preman yang mengantarnya ke sini, lalu habisi di tempat, mereka lalai dalam menjalankan tugas bos," ucapnya yang lalu di angguki ole teman teman yang lainnya.
Karena kelelhan dan beban mental yang tak bisa dia tahan lagi, akhirna Raya pingsan, dia tak dapat mengingat apapun lagi yang selanjutnya terjadi.
__ADS_1
Flash back off