Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Aktris hebat


__ADS_3

"Lapor bos, saya sudah mengikuti mereka, dan mereka tadi sempat mampir ke sebuah klinik dan masuk ke poli kandungan." Suara sseeorang di ujung telepon melaporkan apa yang tadi di lihatnya lalu percakapan itu berakhir begitu saja, karena si penerima telepon mengakhiri panggilannya secara sepihak.


"Arrrghh, berengsek!"


Seketika ruangan itu menjadi kacau balau akibat benda-benda yang berterbangan dan tak lagi berada di tempat asalnya karena amukan si pemilik ruangan.


"Kau tak boleh bahagia, kau tak boleh merasakan apa yang namanya bahagia, aku tak akan membiarkannya, akan ku pastikan kau menderita sampai akhir hidup mu!" Teriak nya memenuhi seisi ruangan.


Sungguh dia tak rela dan tak terima mendengar kabar bahagia itu, karena baginya bahagia itu seharusnya hanya milik dirinya seorang.


"Ada apa lagi ini? Apa kau mulai menggila lagi, aku tak segan-segan akan memasukan mu lagi ke rumah sakit jiwa jika kau mersakan barang seperti ini!" teriak Friska yang mulai jengah dengan kelakuan putrinya yang berteriak histeris dan merusak semua barang yang ada di sana.


"Cepat panggil Lion kesini, katakan padanya kalau kau tak bisa menanganiku!" Titah Cila.


"Aku ini ibu mu, kenapa kau kurang ajar sekali!" Friska balik berteriak, meneriaki anaknya yang kini mulai kurang ajar padanya itu.


Terus terusan menyuruhnya untuk bersandiwara seolah dia bersedih dan menangisi keadaan putrinya yang berpura-pura depresi demi mengambil hati Toni kembali dengan cara liciknya.


"Apa ibu mau hidup dalam kekurangan, menggembel dan tak punya uang? Satu-satunya cara agar kita bisa berjaya lagi adalah menarik Lion agar mau menikahiku dan menggantikan pekerjaan ayah, kita sama sama di untungkan, ibu ku sayang, kau dapat merasakan aliran uang kembali, dan aku mendapatkan cinta ku kembali!" Cila menyeringai dan lalu terbahak membayangkan semua itu akan segera terwujud.


Friska pun akhirnya tak bisa lagi menolak keinginan putrinya seperti biasanya, lalu menghubungi Toni menyampaikan semua ucapan yang tadi di perintahkan Cila untuk di sampaikan pada pria yang kini tengah berbahagia itu.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian, Toni datang lagi kesana, kali ini dia datang sendirian tanpa di temani Raya, karena Toni tak mengijinkan istrinya untuk ikut datang bersama dengan dirinya ke tempat itu, meski tadi sempat terlibat perdebatan karena Raya juga bersikeras ingin ikut datang bersama Toni ke tempat Cila, namun Toni dengan tegas melarangnya pergi, dan mengancam kalau sampai istrinya itu tetap memaksanya untuk ikut, Toni mengancam tak akan pernah datang lagi ke tempat sahabat istrinya itu apapun yang terjadi.


Ternyata ancaman Toni cukup berhasil, karena Raya mengurungkan diri untuk ikut ke tempat Cila, dan tak berani memaksa suaminya lagi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Toni setengah hati, jujur saja sebenarnya dia sudah malas dan tak ingin lagi datang ke tempat itu, apalagi setelah ucapan Cila yang sudah mengarah ke arah hubungan dan pernikahan segala rupa membuat Toni jadi merasa ini sudah tak benar lagi.


"Dia membaca berita tentang kematian ayahnya di berita onlen, dan dia langsung mengamuk, maaf kalau tante merepotkan mu, tapi tante tak tau pada siapa lagi meminta pertolongan." Lagi-lagi Friska memainkan drama mengiba dan seolah-olah sebagai seorang ibu yang benar-benar sedang merasa sedih, tak berdaya, dan sungguh membutuhkan pertolongannya.


Toni menghela nafas beratnya, lalu naik ke atas menuju kamar Cila, hari ini untuk kedua kalinya Toni menyambangi kamar itu, entah bagaimana caranya dia mengakhiri semua ini, karena Toni merasa dirinya jadi seperti terjebak dengan keadaan yang seakan memaksanya untuk terus masuk kedalam kehidupan Cila dan keluarganya semakin dalam sehingga terjebak di dalamnya dan sulit untuk keluar.


Ya, memang itu lah yang menjadi tujuan Cila membuat dirinya seolah menjadi tergantung pada Toni sampai pria itu merasa tak tega dan tak bisa mele[paskan Cila karena rasa ibanya.


Sampai akhirnya Rolan harus mengorbankan dirinya terlebih dahulu dan memberikan pesan terakhirnya pada Toni, barulah Cila mendapatkan apa yang di inginkannya selama ini, kematian ayahnya berhasil membuat Toni mau menemuinya.


"Semua sudah menjadi takdir Tuhan, Ayah mu juga sudah memilih pergi dengan caranya, jadi ku rasa tak ada yang perlu di tangisi lagi, ayah mu sudah memilih cara bahagianya sendiri." Ujar Toni.


"Tapi aku tak punya ayah lagi, aku tak punya orang yang melindungi ku lagi, bahkan anak buah ayah ku pun kini sudah meninggalkan kami semua, bagaimana cara aku dan ibu ku melanjutkan hidup, ibu bilang, semua usaha ayah juga sudah tak ada yang berjalan, bagaimana dengan nasib hidup kami selanjutnya?" Sungguh Cila merupakan aktris yang hebat, dia bisa memerankan segala macam karakter, mulai dari peran sebagai orang depresi, gila, lupa ingatan, bahkan sekarang berperan sebagai seorang anak yang sedang sangat terpuruk karena kehilangan ayahnya.


Ingin sekali Toni tak peduli, dan bersikap abai dengan semua yang terjadi dan membiarkan saja apa yang terjadi pada Cila dan Friska sebagai hukuman atas semua yang pernah mereka lakukan, namun ternyata hatinya tak setega itu, melihat Cila menangis pilu di dadanya membuat rasa benci dan marahnya yang membatu itu mulai mencair.


"Kau masih punya aku, anggap aku abang mu. Aku akan membantu dan melindungi kalian, tapi tolong jangan berharap lebih dari ku, jangan mengharap cinta dari ku, aku katakan pada mu dari sekarang kalau aku sudah punya istri dan sebentar lagi akan mempunyai anak," terang Toni, mau tidak mau dia harus mengungkapkan semuanya jika dirinya berniat membantu Cila dan ibunya.

__ADS_1


Cila melepaskan pelukannya berlagak seoalh dirinya sedang merasa sangat kaget dengan penuturan Toni barusan.


"Abang sudah menikah? Tapi kapan? Dengan siapa?"


"Ya, aku sudah menikah, aku sudah menikah dengan Raya, sahabat mu, aku tau kamu menyimpan perasaan pada ku, namun aku mencintai Raya, sangat mencintai nya. Bahkan kami juga sudah mau punya bayi dalam beberapa bulan ke depan."


"Raya? apa abang benar-benar mencintainya?"


"Sangat, bahkan dia adalah hidup ku!"


Cila tersenyum kecut,


"Baiklah jika memang abang sangat mencintainya, tak ada yang lebih penting dari pada kebahagiaan abang, aku tak keberatan, lagipula Raya juga sahabat ku, aku tau dia perempuan baik, cantik, cerdas, aku ikut bahagia untuk kalian." lirih Cila meyakinkan Toni kalau dirinya sudah bisa menerima hubungan pria yang di cintainya itu dengan sahabatnya sendiri.


"Sukurlah, aku akan membicarakan tentang bisnis ayah mu dengan Sabrina, karena sepertinya ayah mu juga mempercayakan bisnisnya kepada Sabrina, dan untuk dalam waktu dekat, aku akan menghubungi Burhan agar dia membuka kembali sasana, agar kalian ada pemasukan, biar nanti aku yang mengurusnya," ucap Toni mulai merencanakan apa yang akan dia lakukan dalam membantu Cila dan ibunya agara kehidupan mereka tetap beeerjalan.


Sementara Cila tersenyum lebar di hatinya, dia merasa sudah semakin berhasil mengambil hati Toni meski bukan sebagai kekasih, tapi setidaknya Toni sudah mau membantunya itu lebih baik.


Ternyata sedikit mengalah dengan berpura-pura menerima dan mendukung hubungan Toni dan Raya lebih memudahkan dirinya untuk masuk ke dalam hubungan mereka, dan mulai merusaknya dari dalam.


'Tunggulah sampai tiba saatnya, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hak ku.' gumam Cila dalam batinnya.

__ADS_1


__ADS_2