
Panca masih membisu, mengunci mulutnya rapat rapat, dia bergeming untktak menceritakan apapun, meski dirinya akan di siksa atau di bunuh sekali pun, dia tak akan mungkin menghianati Toni.
"Baik, sepertinya sia sia saja aku meminta penjelasan dari mu, kamu temannya, bukan teman ku,!" kesal Raya menyambar kunci mobil yang berada di meja dan berlari ke luar rumah.
"Raya tunggu !" Panca dan Dila berhambur mengejar Raya secara bersamaan, mereka tak ingin Raya berbuat nekat menyusul Toni ke Jakarta sendirian.
"Kang Panca cepat ambil kunci mobilnya !" teriak Dila, yang masih bingung karena tak tau duduk permasalahan yang terjadi.
"Neng Raya,,, mau kemana, ini sudah malam !" tanya mang Dasep yang kini ikut terbangun akibat suara ribut Dila dan Panca.
"Aku harus ke Jakarta, mang !" Raya tak mengabaikan pertanyaan mang Dasep, bagaimnapun dia masih menghormati orang tua itu.
"Baik, tapi biar Dila dan temannya Toni ini ikut bersama neng Raya !" ucapnya, dia sangat tau kalau Raya keras kepala dan tak akan bisa di cegah keinginanya.
"Panca, pak,,,nama saya Panca !" ucap Panca menimpali ucapan mang Dasep yang hanya menganggukan kepalanya tanpa aa keinginan untuk menjawab pernyataan pria itu.
"Ayo, aku antar, kamu dan Dila bersiap siap dulu, bawa pakaian untuk ganti juga," tita Panca merebut kunci di tangan Raya.
Perjalanan dari Bandung menujuJakarta kali ini terasa sangat lama bagi Raya, Panca dan Dila, mungkin karena tak ada obrolan sedikitpun di antara mereka, hanya terdengar sesekali isak tangis Raya yang tak juga berhenti menangis yang entah menangisi apa.
Mereka sampai di Jakarta sekitar jam sembilan pagi, sesuai permintaan Raya, mereka mampir di rumah Panca dulu untk bersih bersih dan bersiap siap sebelum menghadiri acara pertunangan Cila dan Toni.
Raya pergi berdua bersama Panca, karena Dila masih merasa pusing akibat mabuk kendaraan.
Acara sedang berlangsun saat Raya dan Toni memasuki ballroom hotel itu dan berbaur denan para tamu undangan.
Dari kejauhan, Raya dapat melihat dengan jelas Toni yang sedng menyematkan cincin di jari manis Cila, satu pemandangan yang terpaksa harus di lihat kedua matanya yang tiba tiba kembali berair,
"Ray,,, tenang,,, tarik nafas, exhale,,,inhale,,,exhale,,,fiuhhhh!" bisik Panca mencontohkan agar Raya menarik dan membuang nafasnya seperti yang di lakukannya.
Sayangnya apa yang di rasakan Raya saat ini tidak se simple exhale inhale dan semua kesediahan bussshhh,,, dapat berhembus begitu saja, dadanya kini terasa seperti di remas, menyaksikan itu semua, seolah dirinya baru di terbangkan ke langit oleh Toni, dan lalu di hempaskan begitu saja, rasanya sangat sakit, sangat sakit !
"Raya, apa kamu mencintai Lion ?" tanya Panca konyol, jelas jelas Raya menangisi pertunangan Toni semenjak semalam, masih saja pria bodoh itu pertanyakan, tentu saja pertanyaannya itu hanya mendapatkan sikap diam Raya sebagai jawaban dari pertanyaan konyolnya itu.
Raya mengikuti gerak gerik Toni yang sepertinya akan keluar meninggalkan ruangan itu, dia buru buru menyusulnya, Raya hanya ingin tau, mengapa pria itu merahasiakan semua ini darinya.
"Selamat atas pertunangan kalian !" ucap Raya yang kini berhadapan dengan Toni dan Cila yang menyusul di belakangnya lalu mengapit tangan kekar pria itu mesra seakan sengaja memanas manasi hati Raya.
__ADS_1
Tentu saja sikap Cila itu membuat detak jantung Raya berdegup sangat kencang menyaksikan semua nya, apa lagi raut wajah Toni seperti tak senang dengan kedatangannya ke acara mereka.
Bahkan pria itu seengaja melampiaskan kemarahannya pada Panca di luar ruangan, hampir saja Panca babak belur jika Raya tak segera menghalanginya.
Flash back off
***
"Untuk apa Kau datang ke sini, bukan kah sudah ku bilang untuk tetap di sana, kenapa kau begitu bengal dan tak mau mendengarkan ku, di sini berbahaya untuk mu !"bentak Toni pada Raya yang masih berdiri menghalangi tubuh Panca dari jangkauan Toni yang sepertinya masih ingin menghajarnya.
"Aku hanya ingin melihat wajah bahagia mu, setelah memberi kebahagiaan palsu pada ku, semalam !" ucap Raya, meski mencoba untuk tegar, tetap saja dia tak bisa membendung derasnya air mata yang membuatnya kembali terisak dan tergugu.
Toni tak tau apa yang harus di lakukannya sekarang, dia menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan frustasi, sungguh bukan seperti ini cerita yang di harpkannya, meski pun cepat atau lambat Raya pasti akan mengetahui tentang cerita pertunangan nya ini, namun setidaknya jangan sekarang, dimana baik dirinya maupun Raya belum merasa siap untuk menghadapi ini semua.
"Pulanglah,,, jangan berkeliaran, Cobra benar benar sedang menargetkan mu !" titah Toni, sungguh saat ini dadanya bagai tertimpa batu sebesar gajah, sesak dan nyaris tak dapat bernafas.
"Kenapa,,, kenapa kau merahasiakan ini semua dari ku ?" tanya Raya dalam isaknya, dia tak peduli atas perintah bodyguardnya itu.
"Kenapa ? Apa ada larangan bertunangan, untuk menjadi bodyguard mu ? Atau jangan jangan,,, kau jatuh cinta pada ku ? Hey,,, kau juga sudah bertunangan, nona, apa kau lupa ?" Entah setan dari mana yang membuat Toni dengan teganya mengucapkan semua kata yang dapat menyakiti hati Raya itu.
Toni tak punya pilihan lain, selain membuat Raya membencinya, sehingga dia bisa dengan tenang menjalankan misinya, tanpa harus membagi pikirannya dengan hal lain.
"Oke,,, Lion ! Tolong di ingat semua ucapan mu yang barusan itu, dan ingat kata kata ku, aku tak pernah jatuh cinta pada pembohong seperti mu !" geram Raya menarik tangan Panca agar segera pergi dari tempat itu.
'What,,, Lion !? gadis itu bahkan ini memanggilnya Lion ?' entah mengapa hati Toni begitu sangat kesal saat Raya memanggilnya dengan nama Lion, padahal bukankah semua orang mengenalnya dan memanggilnya dengan nama itu, mengapa tiba tiba itu menjadi sebuah masalah saat Raya yang mengucapkannya ?
"Panca,,, urusan kita belum selesai !" teriak Toni, lagi lagi memuntahkan rasa kesalnya pada pria naas itu dengan ancamannya.
Sementara Cila yang menonton semua drama itu dari kejauhan tersenyum samar, seolah sangat menyukai kesakitan yang di rasakan Raya, meski sangat dia tau kalau Toni juga merasakan sakit yang sama seperti yang di rasakan Raya saat ini, dia tak peduli, sungguh dia tak peduli dengan sakit yang di rasakan Raya, biarlah dia merasakan akibat dari mencoba merebut pria yang di cintainya itu.
Sedangkan untuk kesakitan yang saat ini Toni rasakan, biarlah itu menjadi urusannya, dia yakin bisa menyembuhkan luka hati Toni yang kini sudah sah menjadi tunangannya itu, dan dia akan membuat pria itu seutuhnya melupakan Raya di sepanjang hidupnya, sumpah Cila dalam hati.
Toni terduduk lemas di rerumputan taman, mengeluarkan bungkusan rokok dari dalam saku jas nya, Toni menyulutnya dengan korek gas, tak lama asap putih membumbung tinggi, setelah dia hembuskan dengan kasar ke udara.
Pikiran pria itu luar biasa kalut saat ini, sungguh dia tak menyangka semua akan kacau seperti sekarang ini, dia bahkan sekarang menyesali telah berkata kasar pada Raya tadi, sepertinya gadis itu sangat terluka dengan ucapan kasarnya, tapi semua telah terjadi, dan waktu tak akan pernah bisa di ulang, yang tersisa hanya penyesalan.
Cila mendekati pria itu takut takut,
__ADS_1
"Bang, ayo masuk lagi, masih banyak tamu yang harus abang temui, kita pasti di cari orang orang di dalam !" ucapnya.
"Persetan dengan acaranya, persetan dengan tamu, kau masuk saja sendiri dan temui mereka, bukan kah mereka semua teman teman mu dannkolega bisnis keluarga mu ? cih,,, buat apa aku menemui mereka, tak ada hubungannya dengan ku !" decih Toni segera bangkit daan berdiri lalu meninggalkan Cila yang terdiam di tempatnya.
"Bang Lion, acaranya belum selesai !" teriak Cila.
"kau ingin bertunangan dengan ku, dan aku sudah melakukannya, sekarang apa lagi jangan berlebihan !" Ucap Toni sambil menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Cila yang menjadi simbol terikatnya mereka dalam ikatan pertunangan.
Toni tak ingin memperdulikan apapun lagi, dia hanya ingin segera pergi meninggalkan tempat yang bagai neraka baginya itu.
Motornya melaju menuju bengkel Panca, masih ada hal yang ingin dia bicarakan dan tanyakan pada pria yang mengaku sahabatnya itu.
"Aku menunggu mu di depan !" ucap Toni bernicara pada Panca lewat saluran ponselnya saat fia sudah berada di depan bengkel pria itu, dia tak ingin masuk ke sana seperti biasanya karena pasti di sana dia akan bertemu Raya, dan itu akan membuat mereka saling menyakiti satu sama lain.
"Bro, sungguh bukan gue yang memberi tahu perihal pertunangan lo, gue bahkan tak berani berkata apapun pada Raya,"ucap Panca ketakutan saat dia menghampiri Toni, dia bahkan membentang jarak antara dirinya dan Toni, sungguh rasa pegal di hidungnya masih terasa sampai sekarang.
"Dari mana dia tau, sementara di sana yang tau hal ini cuma kau saja !" ucap Toni.
"Cila,,,, Cila mengirim pesan pada Raya dan mengundangnya datang, sumpah,,, sampai saat ini gue tak pernah berbicara apapun !" Panca mengacungkan jari tengah dan telunjuknya tanda kalau apa yang di ucapkan itu adalah suatu hal yang sebenarnya.
"Cila ? sialan !" umpat Toni, dia tau wanita itu pasti sengaja mengundang Raya, dengan tujuan untuk menyakiti Raya.
Toni ingat betapa wajah Cila sangat kesal saat Toni dengan sengaja mencium pipi Raya saat di depan kostnya, itu dia lakukan karena dia tau Cila sedang memperhatikannya dari kejauhan, namun fia tak menyangka kalau Cila membalasnya dengan begitu telak.
"gue bahkan puluhan kali mencoba menghubungi lo tadi pagi, tapi ponsel lo tidak aktif," terang Panca.
Toni ingat dirinya mematikan ponselnya karena Rolan terus menghubunginya tanpa henti.
"Aku minta maaf, aku salah, kau boleh membalas ku, pukul aku, aku tak akan melawan !" Toni menyodorkan wajahnya.
"Sudahlah, gue tau dan sangat mengerti dengan apa yang terjadi pada kalian berdua,!" lirih Panca, sekarang dia sudah berani mendekat ke arah Toni.
"Aku titipkan dia pada mu, jaga dia, tolong biarkan dia tinggal di sini, jangan sampai dia lepas dari pengawasan mu, jangan biarkan dia pergi sendirian, pastikan luka di tangannya tak kena air," pesan Toni yang panjang bak rangkaian kereta api.
"Gue bukan pengasuhnya ! Kenapa tak kau lakukan itu semua sendiri !" tolak Panca.
"Andai aku bisa !" lirih Toni.
__ADS_1
"Aku hanya bisa mengandalkan mu sekarang ini, aku mohon !" pinta Toni dengan wajah memelas yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun,
Seorang Toni sampai memohon hanya agar Panca menjaga Raya nya.