
Sungguh ini merupakan dilema berat baginya. Bukan tentang tak mau menolong sesama atau tak ingin meringankan beban Friska, atau bukan juga tak sudi menjalankan amanat yang di berikan Rolan padanya, ini lebih ke Toni takut kalau di suatu hari nanti keputusannya akan menjadi bomerang buat dirinya sendiri, sungguh dia takut jika harus menyesali keputusannya hari ini di lain waktu.
Namun jika dirinya tidak menyanggupi permintaan Friska, sepertinya dia tak hanya akan membuat kecewa ibu dari Cila itu, namun sepertinya dia juga akan membuat istrinya yang begitu antusias dalam membantu mengembalikan kewarasan sahabatnya menjadi kecewa juga.
"Aku akan datang lagi minggu depan, semoga semua sudah membaik," Toni akhirnya menyanggupi hal yang masih membuat dirinya bertanya-tanya benarkah keputusan yang di ambilnya kini.
Tapi ya sudahlah, toh keputusan sudah di ambil, tinggal di hadapi saja semuanya yang akan terjadi di masa depan.
**
Seminggu berlalu Toni dan Raya memenuhi janjinya untuk datang kembali ke rumah sakit untuk menemui Cila di sana, namun ternyata jawaban dari pihak rumah sakit lumayan membuat mereka berdua kaget, karena mereka mengatakan kalau Cila sudah tidak di rawat di sana lagi sejak 3 hari yaang lalu.
Friska sudah membawa paksa putrinya keluar dari rumah sakit atas alasan keuangan.
"Ayo temui mereka di rumahnya!" ajak Raya.
"Apa kita harus memasuki kehidupan mereka sejauh itu? Aku rasa kita biarkan saja mereka menjalani hidupnya sendiri," tolak Toni secara halus.
"Tapi kita sudah berjanji kalau minggu ini akan menemui Cila, sayang!" Raya mengingatkan lagi.
Kalau sudah seperti itu Toni pun tak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa patuh pada istrinya, selain itu memang benar juga apa yang dikatakan istrinya itu, kalau dirinya sudah berjanji.
Setelah sekilan lamanya Toni tak pernah datang ke rumah almarhum Rolan, hari ini adalah untuk yang pertama kalinya lagi Toni menginjakan kaki di rumah yang sebetulnya mengukir banyak kenangan masa mudanya, karena masa remaja Toni banyak di habiskan di sasana dan terkadang membantu-bantu di rumah utama Rolan demi mendapat upah dari ketua mafia yang semasa hidupnya dulu.
Namun keadaannya kini sudah tak seperti dulu lagi, jika dulu rumah itu terlihat mewah dan selalu banyak penjaga yang berada di sekitar rumahnya, kini rumah itu tampak kusam dan tak terurus, bahkan kini di sana tampak sepi, tak ada seorang pun yang menjaga rumah itu.
Begitu pun dengan sasana yang terlihat tutup, sepertinya sudah tak ada yang mengurus tempat berkumpulnya para petarung dan petinju di sana, bila sebelumnya setiap 3 hari sekali tempat itu akan terlihat ramai karena ada pertandingan tinju bebas, kini tempat itu hanya terlihat bak bangunan terbengkalai tanpa ada yang mengurus.
"Oh, kalian rupanya?" Sambut Friska membukakan pintu untuk tamu-tamunya.
"Tante, apa benar kalau Cila sudah tidak di rawat di rumah sakit lagi?" Tanya Raya.
Friska tertunduk, ada raut sedih di wajahnya.
__ADS_1
"Tante tidak bisa membayar lagi biaya Cila di sana,"
"Di mana Cila sekarang?"
"Dia di atas, sekarang sudah lumayan membaik, tante memilih untuk berobat jalan saja, karena perkembangannya juga sudah semakin membaik semenjak Lion mau menemuinya," Friska memunjuk ke arah kamar Cila yang pintu kamarnya tertutup.
"Sayang, temui Cila di sana, ada hal penting yang perlu aku bicarakan dengan Tante Friska,"
Lagi-lagi Raya menyuruhnya untuk menemui Cila sendirian tanpa dirinya.
Toni sudah tak lagi menyampaikan protes apapun, rasanya dia sudah malas walau untuk sekedar beradu argumen dengan istrinya itu.
Toni naik ke lantai 2 tanpa berbicara apapun baik itu pada Raya maupun pada Friska, langkahnya lunglai menuju ke kamar Cila yang sudah sangat dia hafal, mungkin ini yang dinamakan suami takut istri.
Apa tak ada rasa cemburu lagi di hati Istrinya itu untuknya, kenapa seolah dia terus di dorong untuk menemui Cila yang jelas-jelas masih mencintai nya itu, padahal dulu sebelum Cila depresi dan masuk rumah sakit jiwa, Raya paling cemburu pada wanita yang pernah menjadi tunangannya itu.
Toni mengetuk pintu kamar Cila beberapa kali seperti tak sabaran, mungkin karena efek rasa kesal Toni pada istrinya.
"Bang Lion? Abang beneran datang lagi menemui Cila?" Senyuman perempuan seumuran istrinya itu merekah, matanya berbinar menyambut kedatangan Toni.
"Abang sedang ada masalah di sasana? Kok kaya gak bahagia gitu? Kapan abang tanding lagi, Cila mau nonton," oceh Cila penuh semangat.
"Aku sudah tak bertanding lagi, aku sudah pensiun."jawab Toni asal.
"Sejak kapan? Apa ayah sudah tau? Oh iya, ayah kok, gak pernah kelihatan semenjak Cila pulang, Cila tak pernah melihat Ayah, ibu juga kalau di tanya tentang ayah gak pernah menjawab. Apa abang tau kemana perginya ayah?" Cila terus saja bertanya dan berceloteh seperti anak kecil.
"Ayah mu?" Beo Toni, seolah-olah tak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Cila, padahal dia hanya berusaha menghindari membahas tentang masalah itu, karena takut kalau perkataannya salah dan membuat kondisi Cila kembali drop.
"Sayang, ada Raya ini," Friska datang menyusul ke kamar Cila dengan membawa serta Raya bersamanya.
"Hai, Raya, lama sekali kita tak bertemu, terakhir kita bertemu saat kau mau pergi kuliah ke luar negeri, kangen banget!" seru Cila histeris, seolah-olah dirinya lama tak bertemu dengan Raya, padahal beberapa hari yang lalu juga mereka bertemu saat dirinya masih dirawat di rumah sakit jiwa.
Sepertinya ada beberapa part ingatan di kepala Cila yang hilang, kalaupun ingatannya tidak hilang, urutannya menjadi tidak sesuai, setidaknya itu tadi yang di jelaskan Friska pada Raya saat berada di bawah.
__ADS_1
Sebenarnya Raya tadi menawarkan bantuan jika Friska memang memerlukan bantuannya, hanya saja Friska menolaknya, dengan alasan tak ingin merepotkan orang lain, Friska hanya meminta dirinya dan Toni sering-sering datang untuk menengok putrinya, karena kedatangan mereka berdua khususnya Toni terbukti bisa membuat keadaan Cila semakin membaik. Kemajuannya pun semakin terlihat.
"Bang, kenalin nih, sahabat ku waktu sekolah, dia baik banget sama aku, dia juga anaknya asik dan setia kawan, dia gak pernah nikung temen!" celoteh Raya yang memperkenalkan Raya pada Toni, seolah-olah dalam pikirannya itu mereka belum saling mengenal.
Toni dan Raya saling melemparkan senyuman kaku mereka.
"Awas jangan naksir, di mulai dari saling melempar senyum, lama-lama saling melempar perasaan! Inget Martin Ray, lagi juga Bang Lion hanya milik ku seorang, tak bosleh ada yang mengambilnya dari ku." kata Cila.
"Tenang saja, aku sudah menikah, nih!" Raya memamerkan cincinnya ke arah Cila.
"Kamu sudah nikah? Dengan Martin? Ah, selamat! Tapi kamu tega gak ngunfang aku"
"Iya aku sudah nikah, tapi bukan dengan Martin, melainkan dengan Toni!" jawab Raya.
"Toni? apa itu teman kuliah mu?" kening Cila tampak berkerut.
"Iya Toni, kapan-kapan aku akan mengenalkannya pada mu," ujar Raya sambil mengedipkan sebelah matanya berusaha menggoda dan membuat teka teki yang seolah menggoda Cila dan berdikap sok misterius, sementara pria yang di maksud yang tak lain dan tak bukan adalah Toni, pria yang kini berdiri di hadapannya itu hanya tersenyum kecil.
"Nanti kalau aku menikah dengan bang Lion aku akan mengundang mu, bahkan aku juga akan mengundang semua orang termasuk teman-teman kita semasa sekolah dulu, aku juga akan mengadakan pesta yang sangat besar selama satu minggu full," celoteh nya penuh semangat saat bercerita.
Sebaliknya yang terjadi pada Raya dan Toni, wajah mereka langsung pucat dan terlihat serba salah saat mendengar celotehan Cila barusan.
Membuat keduanya terdiam dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bagaimana jika sudah begini sekarang?" tanya Toni saat mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Cila.
Toni terus saja bersungut-sungut dan menyalahkan Raya yang keukeuh memaksa dirinya untuk menemui Cila, dan terbukti ujung-ujungnya malah menjadi hal rumit seperti ini.
"Namanya juga orang sakit, sayang. Kita maklumi saja!" Elak Raya.
"Apa kamu sudah tak peduli dengan suami mu ini, bahkan jika sampai dia meminta menikah dengan ku kamu akan menyuruh ku untuk memenuhi keinginan nya?" sewot Toni tak dapat lagi menahan diri.
"Itu gak mungkin!" cicit Raya.
__ADS_1
"Gak mungkin gimana, kamu itu sekarang berubah, selalu bertindak semau mu, tanpa berpikir apakah aku setuju atau tidak, apakah itu membahayakan dimasa depan atau tidak," marah Toni mengungkapkan kekesalannya yang selama ini dia pendam sendiri dalam hatinya.