
Raya asik bercerita dengan Dila, sahabat masa kecil yang sudah lama sekali tak di jumpainya, mereka sibuk mengulang cerita cerita saat dulu mereka bermain bersama, bernostalgia tentang tempat tempat yang mereka sering kunjungi di kebun, sejenak Raya terlihat melupakan semua masalahnya, wajahnya begitu ceria dan berseri.
Sementara Dila yang juga asik bercerita, sesekali terlihat mencuri curi pandang ke arah Toni yang berjalan tak jauh dari mereka, hanya saja Toni mengambil sedikit jarak agak di belakang kedua sahabat yang otaknya seolah sedang kembali berkelana ke masa kecil mereka itu.
Raya bukannya tak menyadari kalau Dila sepertinya tertarik pada sosok Toni, hanya saja dirinya sedikit merasa kesal karena kejadian tadi Toni memeluk pinggang Dila saat wanita itu hampir terjatuh itu sangat membuat dirinya ingin marah, tapi seakan tak berdaya karena status dirinya yang bukan siapa siapanya pria dingin itu, terlebih wanita itu Dila, mana mungkin dirinya harus memarahi sahabatnya itu tanpa alasan.
"Sssttsss,,, apa itu tunangan mu yang sebentar lagi akan menikah dengan mu itu ?" tanya Dila tak dapat lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Mang Dasep memang pernah bercerita padanya kalau Raya telah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah dengan kekasihnya.
Jujur saja Dila sering merasa sangat iri dengan kehidupan sahabatnya yang selalu berada dalam limpahan berkat Tuhan, bagaimana tidak, wajah yang cantik, keluarga kaya raya, lulusan luar negri, dan kini mempunyai calon pasangan yang sangat gagah dan tampan.
Sementara kehidupan nya berbanding terbalik dengan semua yang di dapat Raya, wajah yang biasa saja, dirinya yang harus bekerja keras setelah lulus sekolah menengah kejuruan, apalagi tentang kisah kehidupan percintaannya yang tragis, dimana dia harus menjadi janda di usianya kini yang terbilang masih sangat muda.
Satu satunya kesamaan nasib yang dia punya dengan Raya adalah mereka sama sama sudah kehilangan ibu dan hanya di besarkan oleh ayahnya, haya saja mang Dasep tidak menikah lagi seperti halnya Arsan yang menikahi Karina setelah di tinggal wafat Maria sang istri.
"Husshh,,, ngawur kamu, dia,,, dia----" Raya mencari cari kata yang tepat untuk memperkenalkan Toni sebagai apa untuk dirinya.
"Aku pengawalnya !" Toni menyambar kalimat Raya yang menggantung, dia seakan tau kebingungan Raya untuk menjabarkan Toni sebagai siapanya.
"Waw,,,! semacam bodyguard seperti di film film itu ? Pantas saja, badannya keren !" wajah Dila berbinar, saat mengetahui kalau Toni bukanlah tunangan Raya, namun hanya sekedar pengawalnya saja, yaah,,, namanya juga orang kaya, jelas lah di dampingi seorang atau bahkan lebih pengawal itu bukan yang aneh lagi, karena Dila bahkan semua orang juga tau, sebesar apa dan sehebat apa Arsan Lubis, sorang pengusaha terkenal seantero negeri.
Namun wajah dengan mata berbinar milik Dila justru terbanding terbalik dengan wajah lesu yang tampak jelas pada mimik Raya, seakan hatinya tak dapat menerima kalau Toni mengatkan dirinya hanya seorang pengawal bagi nya saja.
'Ayolah Raya, memangnya jawaban apa yang kamu harapkan keluar dari pria bermulut pedas itu, bukankah dia memang hanya pengawal mu saja ?' akal sehat Raya menyentil egonya sendiri.
"Hemh,, iya dia bodyguard ku !" akhirnya Raya mengamini perkataan Toni dan hal itu membuat hati Dila jingkrak jingkrak kegirangan tanpa Toni ataupun Raya tahu.
"Halo kang, perkenalkan nama saya Dila, saya sahabat Raya sewaktu kecil !" Dila mengulurkan tangannya mengajak Toni bersalaman.
"Aku tau, bukankah sejak tadi kalian jutaan kali mengatakan itu,? telinga ku masih berfungsi dengan baik !" ketus Toni, alih alih menyambut uluran tangan Dila, pria itu malah menunjuk telinganya.
__ADS_1
Raya tersenyum senang dalam hatinya, Toni tetaplah Toni dia memang si es batu yang tak mungkin ber haha hihi pada orang tak di kenalnya, apalagi wanita, orang yang cukup lama akrab dengannya saja mungkin tak pernah melihat senyumannya.
"Namanya Toni, dia memang agak sedikit kaku," terang Raya saat melihat ada sedikit semburat kekecewaan di mata Dila saat melihat sikap jutek Toni tadi.
"Ooo" Dila hanya ber O ria menanggapi penjelasan Raya.
Hari sudah semakin siang saat mereka bertiga memutuskan untuk pulang dan beristirahat, apalagi Toni juga harus mempersiapkan diri karena nanti malam harus kembali ke Jakarta.
Namun saat mereka baru saja sampai di pekarangan rumah, wajah Dila tiba tiba berubah pucat dan seperti ketakutan saat melihat seorang pra yang kini tengah duduk di kursi teras rumahnya,
Secara spontan Dila mundur an bersembunyi di balik punggung kekar dan lebar milik Toni, tangannya terlihat gemetaran saat pria itu terlihat bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri mereka.
"Dila,,, apa yang kamu lakukan, siapa pria itu ? Apa dia yang sudah membuat mu tak ingin rujuk dengan ku ?" bentak pria itu menarik dengan kasar tangan Dila agar menjauh dari balik tubuh Toni yang terlihat cuek saja menanggapi pria yang sepertinya tengah murka itu.
"Hey, siapa kau ?! Kasar sekali memperlakukan wanita,!" protes Raya tak terima dengan sikap pria itu terhadap sahabatnya.
"Aku suaminya, aku berhak melakukan apa saja padanya, dia milik ku ! Kau tak berhak ikut campur, orang asing !" pria itu balik membentak Raya.
"Tapi bercerai adalah keinginan mu saja, aku tak pernah setuju, aku ingin kita kembali seperti dulu," ucap pria bernama Bara itu semakin mengeratkan cekalan di tangan Dila sang mantan istri.
Hari itu Bara dengan bebas bisa datang ke sana karena mang Dasep sedang ke kota membeli beberapa bahan makanan dan beberapa barang keperluan Raya.
Raya tak sanggup lagi melihat wajah kesakitan Dila, dengan tiba tiba Raya menarik tubuh Dila saat Bara sedang sedikit lengah, dan berhasil melayangkan tinjuannya ke wajah pria itu setelah dia menarik Dila kembali ke sisinya.
Dengan wajah marah Bara mengagkat tangannya ke udara berniat membalas pukulan yang di layangkan Raya padanya, harga dirinya merasa tersakiti karena dia di hajar seorang wanita asing yang bahkan dia sama sekali tak mengenalnya, namun secepat kilat tangannya di tangkap Toni yang tiba tiba sudah berada di hadapannya kini.
"Kalau kau benar benar pria, jangan sekali kali gunakan tangan ini untuk menyakiti wanita,!" geram Toni dengan tatapan mata yang mengintimidasi Bara, persis seperti saat kalau dia sedang mengintimidasi lawannya di atas ring.
"Dia memukul ku terlebih dahulu !" teriak Bara tanpa rasa tau malu masih berusaha menyerang Raya yang seakan menjadi target utamanya saat ini.
"Maka balaslah pada ku, jika kau bisa !" ejek Toni degan senyuman merendahkan seraya melepas cekalan tangan nya di pergelangan tangan Bara.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Bara yang sudah di kuasai rasa emosi di dadanya langsung menyerang Toni yang hanya menghindar dan menangkis pukulan dan serangan Bara dengan mudahnya, tanpa keinginan untuk menyerang balik pria temprament tersebut.
Toni hanya menganggap ini main main, tentu saja Toni bisa mengukur kemampuan Bara yang sama sekali tidak ada apa apanya, jadi dia tak ingin bertanding dengan lawan yang tak seimbang dengannya, itu terlalu memalukan baginya.
Toni merasa kelelahan dengan gerakan dan seranganny sendiri yang seolah selalu hanya memuku dan menendang angin, membuat diaakhirnya terjatuh dengan sendirinya, lalu pergi membawa rasa malu dan dendam yang teramat sangat.
"Aku akan membalas hinaan kalian, terutama kau !" tunjuk Bara pada Toni yang hanya menampakan wajah datarnya saja tanpa ekspresi seperti biasanya.
Bagi Bara, lebih baik dia pulang dalam keadaan babak belur karena bekelahi dengan Toni dari pada dia hanya merasa tak luka sedikit pun tapi merasa kelelahan seperti sekarang ini, ini sangat memalukan baginya.
"Kang Toni gak apa apa ? Akang baik baik saja kan ?" Dila berhambur mendekati Toni, dia sangat terpesona dengan keahlian Toni, akan sangat bahagia rasanya jika dia bisa setiap hari di lindungi oleh sosok seperti Toni, pikirnya.
"Maaf, aku jadi melibatkan kalian dalam masalah ku, dia mantan suami ku, aku bercerai dengan nya karena dia sering melakukan KDRT, dia temprament dan ringan tangan, jadi setahun yang lalu aku menceraikannya, tapi dia tak terima dengan itu semua dan masih mengejar ku untuk mendapatkan ku kembali, makanya aku memilih bekerja di kota agar bisa jauh dari dia, mungkin dia mendengar aku pulang hari ini makanya dia langsung datang," urai Dila dengan berurai airmata.
"Tenanglah Dila, kita kan sahabat, malah aku sudah menganggap mu sebagai saudara, selama aku bisa bantu, aku akan membantu mu," Raya memeluk sahabatnya agar tak merasa sedih lagi.
Malam telah datang, saatnya Toni untuk pergi, dengan beberapa perintah dan larangan yang harus Raya patuhi selama dirinya di ibu kota, di antaranya tak boleh keluar rumah sembarangan dan sendirian, tetap berlatih dan memberinya kabar jika terjadi sesuatu yang urgent.
Toni sudah menggendong ranselnya di pundak bersiap untuk pergi, namun langkahnya terhenti sesaat ketika dia hampir memasuki mobil mewah Raya.
"Kang Toni mau kemana ?" tanya Dila yang tak mengetahui kalau Toni akan kembali ke ibu kota untuk beberapa hari.
"Pulang !" jawab Toni singkat.
Terlihat wajah sedih berbalut kecewa pada Dila, setelah kejadian dirinya yang di selamatkan dari amukan mantan suaminya tadi, katakan lah Dila menaruh harapan yang terlalu tinggi pada diri Toni karena dirinya mengharapkan pria jagoan itu berada di sisinya lebih lama lagi.
"Toni harus pulang beberapa hari karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, setelah itu dia akan kembali ke sini," terang Raya yang di jawab degan anggukan Dila yang merasa sedikit lega karena masih mempunyai harapan untuk bertemu lagi dengan 'pahlawan' nya itu.
"Cepat kembali !' ucap Raya setengah berbisik saat Dila sudah menjauh menyisakan mereka berdua saja di halaman rumah luas itu.
"Hemhh,,, paling lama tiga hari aku sudah kembali lagi ke sini," jawab Toni yang lalu segera memasuki mobil, seraya membuang jauh jauh pandangannya dari wajah Raya, menghindari perasaan kuat dirinya yang sangat ingin memeluk gadis itu, namun tentu saja itu tak mungkin dan boleh terjadi, mengingat hubungan mereka hanya sebatas bos dan bawahan saja, dia cukup tau diri siapa dirinya, dan siapa Raya yang bagaikan bintang di langit yang kecantikan dan keindahannya hanya bisa dia pandangi dan kagumi namun tak akan pernah bisa dia raih.
__ADS_1