
Arsan berhasil di bawa dari rumah sakit itu untuk di pindahkan kembali ke rumah Sabrina, namun dalam perjalanan mereka menuju kediaman Sabrina, mobil mereka di hadang oleh sebuah mobil dua kabin yang memalangkan mobilnya di depan kap mobil yang si kendarai Toni dan Panca.
Sementara Arsan di bawa di mobil terpisah di bawah pengawasan Sabrina dan anak buahnya, di ikuti oleh Rolan dan beberapa anak buahnya yang mengawal mobil Sabrina yang juga membawa Arsan di dalamnya.
Namun sepertinya ada mobil lain juga yang ikut menyusup dalam iring-iringan mobil itu, dan menunggu lengah dari mereka semua untuk melakukan tindakan yang bisa saja di luar dugaan siapapun juga.
Toni memberi tanda pada Sabrina lewat pesan yang di kirim kannya.
"ikan buruan sudah berada di jala mu, giring mereka ke daratan!" tulis Toni dalam pesannya.
Sabrina hanya tersenyum kecil sambil melirik spion mobilnya, tak lupa dia juga menyalakan lampu hazard mobilnya berkali kali memberi tanda pada Rolan dan juga para anak buahnya tentang informasi yang tadi di berikan Toni padanya.
Tentu saja Rolan dan para anak buahnya sudah langsung mengerti dengan tanda yang di berikan Sabrina.
Iring-iringan mobil sabrina dan Rolan tiba-tiba dibuat terpecah menjadi dua bagian, hal itu di buat sengaja untuk mengecoh para penguntit.
Rolan berserta anak buahnya yang bertukar kendaraan dengan mobil milik Sabrina memisahkan diri dari mobilnya yang kini Sabrina kemudikan, sehingga kini dia hanya berjalan tanpa kawalan apapun.
Para penguntit itu pasti mengincar Arsan, dan mereka akan mengira kalau Arsan berada di dalam mobil yang anak buah Arsan bawa.
Benar saja, beberapa mobil double cabin memepet mobil yang di kendarai oleh anak buah Rolan itu, mereka bahkan mengintimidasi dengan memuntahkan beberapa tembakan ke arah mobil yang hanya berisi Rolan dan tiga orang lain di dalamnya, untungnya sopir yang di percaya Rolan untuk mengendarai mobil itu ternyata cukup ahli, tentu saja Rolan sudah memikirkannya dengan matang, dan sangat tau anak buahnya yang mana yang paling mahir dalam berkendara.
Tiga tembakan yang di luncurkan dari mobil yang mengikutinya sejak tadi, apa lagi jalanan yang di lewati saat ini cukup sepi.
Di tempat lain juga Toni dan Panca masih di ikuti oleh sebuah mobil yang belum di ketahui siapa pengemudinya dan apa tujuannya.
"Bagaimana, kita apakan nih tikus got?" tanya Panca sambil terus serius mengemudikan kendaraanya.
"Cemplungin ke laut!" Jawab Toni cuek.
Mobil mereka yang memang kini menuju pelabuhan itu sengaja di bawa Panca menuju jalan tepian dermaga saat mereka benar-benar berada di tepian tanpa batas, Panca langsung mendekati mobil yang terus mengikutinya sejak tadi, dan tanpa aba-aba dia memundurkan mobilnya secara tiba-tiba lalu sengaja menambrakan diri ke mobil penguntit itu, karena sepertinya mereka panik dan tak menyangka dengan aksi berbahaya Panca, mobil dua kabin itu pun akhirnya membanting setir ke sebelah kiri dimana itu merupakan tepi dermaga yang tanpa batasan membuat mobil itu oleng dan langsung benar-benar tercebur ke perairan.
"Sialan, kau benar-benar menceburkan mereka ke laut?" Toni menganga tak percaya dengan kelakuan sahabatnya yang gila itu.
__ADS_1
"Sesuai perintah mu!" cicit Panca tak kalah santainya dalam menjawab, namun Toni hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak.
Setelah memastikan kalau mobil musuhnya tak terlihat lagi di permukaan, Panca langsung tancap gas dan menyusul Sabrina yang juga berada di daerah itu hanya saja mereka sengaja memakai rute yang berbeda.
Namun sialnya ternyata rencana mereka sepertinya tercium Bagas, terbukti saat mereka melihat kalau mobil yang Sabrina kendarai itu sedang menepi di jalan yang mereka sedang lalui itu, ada dua mobil asing yang mengapit di depan dan belakang mobil itu.
Toni dan Panca saling berpandangan, sepertinya mereka mempunyai pemikiran yang sama saat ini, ada yang tak beres dengan Sabrina.
Panca menghentikan kendaraannya, senjata juga sudah siap di tangan mereka masing masing, ketika di dekati, hanya tersisa dua orang anak buah Sabrina yang tadi bertugas menemani Sabrina dan Arsan di mobil itu.
Tangannya terikat, mulutnya di sumpal kain, maka buru-buru saja Toni dan Panca melucuti tali dan sumpal di mulut kedua orang itu.
"Di mana Sabrina dan Arsan?" Tanya Toni.
"Katanya Bagas akan membawa mereka berdua ke pelabuhan, sepertinya mereka bekerja sama dengan preman pelabuhan." Terang salah satu anak buah Sabrina.
Namun Baik Toni maupun Panca hanya tersenyum penuh misteri.
"Hahaha,, akhirnya, mampus mereka!" tawa dua pria itu pecah.
"Kalian ikuti kami, bawa mobil nya," titah Toni pada dua orang itu yang langsung mengangguk patuh tanpa banyak pertanyaan.
"Awas saja kalau sampai nanti Sabrina tau kalau dia di jadikan umpan oleh kita, dia pasti akan ngamuk," celoteh Panca.
"Kalau dia sampai tahu, itu berarti kau yang membocorkannya, hanya kita berdua yang tau tentang ini!" timpal Toni.
Jadi semalam saat Toni tak bisa tidur dan menerima pesan dari Panca itu, mereka berdua langsung merencanakan ini semua, meski terkesan agak jahat karena menjadikan Sabrina sebagai umpan, namun ini semua sudah di perhitungkan oleh mereka berdua semuanya, bahkan semua rentetan kejadian demi kejadian yang terjadi hari ini adalah rencana Toni dan Panca.
"Ompong sudah mengabari kalau Sabrina dan Arsan sudah berada di markas mereka, sepertinya kita akan sedikit berolah raga pagi ini!" Ujar Toni seraya melakukan peregangan leher dan tangannya di dalam mobil.
Di tempat lain, Sabrina kini tengah merasa kesal karena merasa terkecoh oleh Bagas yang ternyata dapat menemukan dan menaangkap dirinya dengan mudahnya.
Selang beberapa menit kemudian Toni dan Panca datang ke tempat itu, Sabrina tak merasa curiga sedikitpun saat kedua kakak angkatnya itu masuk ke markas Bagas tanpa terdengar kerusuhan dan keributan, justru kedua pria terlihat melenggang dengan santainya masuk ke area kekuasaan lawannya itu.
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga, aku fikir kau sudah tak butuh saham itu, ayo cepat selesaikan transaksi kita, aku juga sudah ada calon pembeli senjata-senjata itu," ucap Bagas.
"Santai, tanda tangani dulu pemindah kuasaan sepenuhnya saham Lubis Corp yang akan di alihkan pada Yama, karena ini butuh tanda tangan mu dan juga, Arsan." Toni melirik pria tua yang tengah terduduk santai di ruangan itu, dia juga sudah mencapai kesepakatan untuk bersama-sama lagi dan berkolaborasi dalam kejahatan dengan asistennya, karena Arsan tanpa Bagas atau pun sebaliknya, mereka itu seakan tak ada nyawanya.
"Hey, apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba ada transaksi segala macam? Apa yang kalian rencanakan di belakang ku, tanpa sepengetahuan ku?" Protes Sabrina mendelik ke arah dua kakak angkatnya itu, namun sialnya dia tak dapat jawaban apapun dari keduanya, malah justru Bagas yang memberikan jawaban, tentu saja menurut versinya sendiri.
"Haha, kau hanya di jadikan sebagai kurir untuk mengantarkan Arsan kepada ku, dan sebagai jaminan kalau mereka akan memberikan senjata-senjata itu pada kami."tawa Bagas dan Arsan terdengar sangat menjijikan di telinga Sabrina, terlebih dia juga merasa kesal karena kedua pria yang sudah di anggapnya sbagai saudaranya itu tega merencanakan hak lain di belakangnya.
"Tak usah banyak mendongeng, cepat tandatangani di sini, bukankah kau ingin semua cepat selesai?" bentak Toni seraya ,menyodorkan beberapa lembar dokumen yang sebenarnya sudah di siapkan Raya sejak dia tahu kalau Yama adalah adik kandungnya, hanya saja pengesahannya terhambat tanda tangan Arsan dan Bagas yang juga terlibat dalam pembuatan dokumen sebelumnya.
Dua pria jahat itu akhirnya menanda tangani dokumen itu, dan Toni menyerahkan kunci kontainer yang berisi senjata milik Rolan, berbarengan dengan mereka yang melepaskan Sabrina dan menyerahkan wanita yang wajahnya terlihat sangat tak bersahabat itu pada Toni dan Panca.
"Sialan kalian, kenapa kalian berbuat ini tanpa sepengetahuan ku, apa kalian lupa betapa sulitnya kita untuk menangkap mahluk se licik Arsan itu, lantas kalian melepaskan nya begitu saja hanya karena saham 30 persen itu? Apa kalian gila? Kalian pikir Yama semelarat itu? Bahkan aku punya 70 persen dari itu semua dan aku bisa memberikan semuanya pada adik ku, aku benar-benar tak dapat mengerti dengan jalan pikiran kalian, kalian sudah sinting rupanya!" Sabrina terus mengomel dan memaki pada dua pria yang seolah menerima saja saat Sabrina maki-maki mereka.
"Cih, dasar wanita, di mana-mana cerewet dan berisik!" ucap Toni menanggapi makian Sabrina dengan santainya.
"Sudahlah, aku tak ingin mendengar pertengkaran kalian, sekarang antar aku ke kontainer itu, aku harus memastikan kalau semua senjata itu memang ada di sana." Lerai Bagas yang sudah tak sabar ingin menjual senjata senjata itu lalu pergi sejauh mungkin menikmati hasil penjualan senjata yang harganya pasti sangat besar.
Panca membuka kunci kontainernya di dampingi oleh Bagas dan Arsan, saat pintu kontainer terbuka, mata Bagas dan Arsan seakan hendak lompat dari tempatnya karena melihat tumpukan peti berisi senjata dimana di matanya itu terlihat bak tumpukan uang.
"Ah, kau memang benar-benar bodoh Lion, bagaimana mungkin kau tak tergoda untuk menjual semua ini? Semua ini bahkan nilainya lebih besar dari saham 30 persen itu," cicit Arsan sambil melihat-lihat setiap peti kayu dan memastikan kalau semua itu memang senjata yang akan membuat mereka kembali menikmati kejayaan nya.
"Aku sudah menghubungi orang yang akan membeli senjata kita, katanya sekitar 30 menit lagi mereka akan datang." ucap Panca.
"Kalau begitu, kita sudah tidak ada kepentingan apapun, jadi kami sudah boleh pergi, kan?" tanya Toni.
"Pergilah, semoga kita tak akan bertemu lagi untuk selamanya, karena setelah ini aku dan Bagas akan pergi jauh menikmati hasil penjualan senjata ini." kata Arsan.
"Baiklah, ayo!" ajak Toni pada Sabrina dan Panca.
Sabrina terlihat agak berat untuk meninggalkan tempat itu, hatinya masih tak rela jika harus melepaskan Arsan begitu saja, namun Toni terus menariknya keluar dari tempat itu sampai Sabrina tak bisa berkutik lagi.
Tepat setelah mereka bertiga berada di dalam mobil dan masih berada tak jauh dari lokasi, Toni langsung menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Rolan, urusan ku dengan mereka sudah selesai, sekarang giliran mu," ucapnya langsung menutup percakapannya tanpa menunggu jawaban apapun dari Rolan yang menerima panggilannya di ujung telepon.