
"Apa yang terjadi ? Kenapa bisa jadi seperti ini ?" Raya mengulangi pertanyaannya, karena sejak tadi dia belum juga mendapat jawaban baik dari Toni maupun dari kedua orang yang datang bersama nya.
Namun Toni tetap mengunci rapat mulutnya, dia tak tau harus dari mana memulai cerita tentang kejadian hari ini yang mungkin saja telah menewaskan ayah dari istrinya itu.
"Apa kalian tidak mendengar berita tentang ledakan di pelabuhan?" Tanya Panca yang tanggap dengan kebisuan Toni yang sepertinya belum bisa bercerita.
Saat ini memang berita apa pun akan sangat mudah menyebar karena wartawan dadakan di internet pasti akan lebih cepat memberikan informasi pada khalayak umum.
"Ya, aku sudah lihat, kenapa memangnya?" Timpal Dila.
"Emh,,," tapi ternyata Panca pun tak berani berkata-kata saat itu.
"Arsan dan Rolan sepertinya mati di sana, karena Rolan meledakan diri saat dia menemui Arsan dan juga Bagas di kontainer miliknya," Ternyata hanya Sabrina yang mampu bercerita gamblang, mungkin itu karena Sabrina belum mempunyai ikatan emosional seperti Panca yang sudah sangaat dekat dengan istri dari sahabatnya itu jadi Sabrina bisa menceritakan semua itu seolah tanpa beban.
"Tapi itu belum bisa di pastikan, belum ada keterangan dari pihak kepolisian tentang siapa saja yang menjadi korban di sana, dan apakah mereka bertiga termasuk di dalamnya, kita tidak bisa menyimpulkan sendiri dan lengah sebelum itu semua benar-benar pasti," ungkap Toni.
"Ya, itulah yang di namakan keadilan Tuhan, sekeras apa kita ingin membunuhnya, ternyata Tuhan berkehendak lain, Tuhan ingin Arsan menebus semua kesalahannya dengan cara melewati kejadian yang sama saat ayah mu tiada, aku sendiri sudah menyiapkan diri ku sendiri juka sampai suatu hari dia menuai karmanya," urai Raya tenang.
Namun ternyata tanggapan dari Raya sendiri membuat semua orang yang tadinya merasa ragu untuk memberi tahunya kini terasa lega setelah melihat dan mendengar sendiri bagaimana Raya menyikapi hal ini.
"Benar kata Lion, sebaiknya kita menunggu keterangan dari pihak kepolisian, dan menunggu rilis resmi dari mereka agar semua menjadi jelas dan kita tidak asal menebak atau menelan berita asal yang dan simpang siur," lanjut Panca.
Akhirnya saat sore tiba, rilis resmi dari kepolisian benar benar sudah di siarkan di media-media nasional, Arsan, Rolan dan Bagas termasuk dalam ke 6 jasad yang di temukan di ledakan itu bahkan foto-foto mengenaskan dari mereka pun kini sudah beredar kuas di dunia maya.
"Apa kamu ingin kita mengambil jasad ayah mu dan memakamkannya secara layak?" tanya Toni pada istrinya.
Namun Raya menggeleng,
"Biarlah pihak kepolisian yang menguburkannya, aku tak ingin berurusan apapun lagi dengannya."
__ADS_1
Toni pun tak bisa memaksakan, lagi pula itu hak Raya sepenuhnya, entah dia mau mengurus dalam penguburan ayahnya atau tidak.
Namun kini yang jadi masalah adalah tentang pesan terakhir yang di kirimkan Rolan padanya sebelum dia mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu tragis, pesan itu seakan mengganggu ketenangannya, bahkan sampai saat ini, tepat di hari ke 7 atau seminggu setelah kematian 3 iblis jahat itu.
"Aku merasa kamu berubah setelah kejadian di pelabuhan itu." Protes Raya yang merasa Toni menjadi lebih banyak terdiam setelah kejadian itu.
"Rolan memberi ku pesan sesaat sebelum dia tewas, aku tak tau bagaimana aku harus menyikapinya," beber Toni.
"Pesan?" beo Raya.
"Hmm,," angguk Toni sambil menyodorkan ponselnya, menunjukkan pesan yang di kirimkan Rolan padanya.
Kening Raya berkerut saat membaca pesan di layar pipih milik suaminya itu.
"Apa yang harus aku lakukan ?" cicit Toni mengungkapkan kebingungannya.
"Tak ada salahnya menjalankan wasiat Rolan, temui saja Cila, aku juga jadi sedikit kepikiran tentang kesehatan Cila, kasihan dia. Dia masih muda dan harusnya bisa sembuh dan menjalani hidupnya dengan baik di dunia luar, bukan di tempat seperti itu." Urai Raya menyampaikan apa yang menjadi pemikirannya tentang Cila setelah dia bertemu dengan sahabatnya itu beberapa waktu lalu.
"Sepertinya hanya kamu yang bisa menyembuhkannya, hanya kamu yang dia ingat, saat ini, semua tentang kebaikan mu dan kenangan manis tentang mu masih tersimpan dengan rapi di ingatannya, dia bahkan tak ingat kalau kita sudah menikah, dan kalian pernah bertunangan," beber Raya lagi.
"Entahlah, aku sepertinya belum berminat untuk itu, aku masih tak bisa terima dengan apa yang wanita itu lakukan pada mu, sepertinya terlalu berat buat ku jika harus semudah itu melupakan atau memaafkan, aku tak sebaik itu!" Kata Toni.
"Jangan terlalu berkeras hati, tak ada salahnya membantu sesama," Raya masih keukeuh dengan segala kebaikannya.
Tak ada yang salah dalam hal berbuat baik pada siapapun, hanya saja bagi beberapa orang seperti halnya Toni mungkin salah satunya, akan sangat susah baginya jika harus berbuat baik pada orang yang pernah berbuat jahat padanya, apalagi menyakiti orang-orang yang di sayanginya, meski ada juga orang-orang seperti Raya yang masih bisa berbuat baik terhadap orang yang pernah menyakitiinya, semua punya alasan dan pertimbangannya sendiri dalam melakukan hal itu.
Baru saja mereka berdua selesai membicarakan masalah Cila, tiba-tiba nomor asing menghubungi ponsel Toni, dua kali di abaikan karena Toni merasa malas untuk menerimanya pagi itu.
"Sayang, angkatlah, siapa tahu itu penting!" kata Raya begitu risih mendengar suara ponsel Toni yang terus menerus berdering namun terus menerus di abaikan oleh pemiliknya.
__ADS_1
Toni akhirnya menerima panggilan itu setelah ponselnnya kembali berdering untuk ke sekian kalinya, Toni merasa mungkin memang yang menghubunginya itu benar-benar ada sesuatu yang penting untuk di sampaikan padanya sehingga panggilannya terus di lakukan secara berulang.
Toni terlihat serius berbicara dengan sseorang di ujung telpon sana, wajahnya juga menampakkan raut seperti berpikir, beberapa kali ibu jari dan telunjuk tangannya memijat keningnya.
"Ada apa?" Tanya Raya sesaat setelah Toni mengakhiri pembicaraannya bersama orang yang menghubunginya itu.
"Friska mengabari kalau Cila saat ini dalam keadaan yang sangat kritis dan meminta ku untuk menemuinya di sana." Jawab Toni.
Entah dari mana istri Rolan itu mendapatkan nomor ponselnya, dia bahkan memohon sambil menangis-nangis, meminta agar Toni mau menemui Cila di rumah sakit jiwa di mana tempat putrinya itu di rawat kini, karena putrinya itu terus memanggil-manggil namanya dan merengek ingin bertemu dengan dirinya.
"Temui saja, kasian tante Friska, dia pasti sangat sedih dan bingung saat ini, apalagi dia baru saja kehilangan suaminya." Kata Raya.
Toni hanya terdiam tak ingin buru-buru menjawab apa yang di katakan oleh istrinya itu, dia masih menimbang nimbang antara memenuhi permintaan Friska atau tidak sama sekali, jujur saja hatinya bimbang, dia sebenarnya sudah tak ingin terlibat lagi dengan apapun yang berkaitan dengan Rolan atau apapunyang berhubungan dengan nya bahkan dia juga tak akan mengambil bisnis dan sasana yang telah Rolan hibahkan padanya dan juga Sabrina.
Toni ingin memulai kehidupan tenangnya bersama Raya setelah Arsan, Bagas dan Rolan tewas dan di rasa semua kekacauan sudah berakhir, namun ternyata suara Friska yang mengiba dan memohon sambil menangis justru membuat dirinya goyah, karena merasa tak tega akan hal itu.
Toni juga tak tau mengapa dirinya justru menjadi se lemah ini, biasanya dirinya paling teguh dengan pendiriannya dan tak pernah goyah meski di bujuk dengan cara apapun, tapi kali ini dia harus mengakui kalau pertahanan dirinya hampir jebol hanya karena mendengar isak tangis dan permohonan Friska yang mengiba dan memohon padanya.
"Baiklah, aku sepertinya akan menemuinya, tapi kau harus menemani ku, dan aku juga hanya akan sebatas menemuinya saja, aku tak mau jika harus di minta melakukan lebih dari itu." Putus Toni.
"Ayo kita bersiap dan pergi ke sana, semoga tak ada hal yang lebih serius lagi terjadi pada Cila." Ucap Raya begitu antusias saat akhirnya Toni mau menengok sahabatnya di sana.
Semoga saja keputusan Toni untuk menemui Cila di sana itu adalah keputusan yang benar-benar memberi kebaikan untuk semua pihak, dimana Cila menjadi lebih baik keadaannya, dan Friska juga bisa merasa tenang.
Dan semoga saja kebaikan Raya ini tak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri kelak di hari-hari berikutnya, karena terkadang niat baik atau perbuatan baik tidak selalu mendapatkan balasan yang baik juga.
Berharap dengan kematian 3 orang yang membuat kehidupanmereka berdua seakan berada di neraka itu mengakhiri semua penderitaan dan mengakhiri semua permasalahan yang terjadi, meski terkadang terbersit pertanyaan konyol baik di hati Raya maupun di benak Toni
'Apakah semua ini benar-benar sudah berakhir?'
__ADS_1
Tentu saja masalah itu akan selalu datang tak akan pernah ada usainya, bagi mereka orang yang hidup di bumi, karena sepanjang perjalanan hidup di dunia ini adalah tentang belajar, belajar bagaimana menghadapi masalah, bagaimana menghadapi kesedihan, kepahitan, kebahagiaan.
Karena kebahagiaan pun terkadang akan menjadi sebuah masalah jika kita tak mengeri bagaimana cara menyikapinya dengan sewajarnya.