Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Dua Empat


__ADS_3

Toni terus memperhatikan tubuh Raya dengan seksama, memastikan kalau tubuh gadis itu tak ada luka yang serius selain luka gores di sikut kanannya yang terkena pecahan kaca dan lecet di pelipis nya, mungkin kalau untuk luka atau lebam di tempat lain yang tertutup pakaian Toni juga tak berani memeriksa nya.


"Apa kau benar benar baik baik saja ?" tanya Toni untuk ke sekian kalinya menanyakan kondisi Raya.


"Hmm,,," jawab Raya dengan sedikit pincang berjalan mengikuti Toni menuju kuda besinya.


"Sepertinya kita harus ke rumah sakit untuk mengobati luka luka mu dulu," ajak Toni setelah dia duduk di atas tunggangannya dengan gagah.


"Aku tidak mau ke rumah sakit !" tolak Raya.


"Tapi kau terluka, !" bujuk Toni, dengan gayanya yang tak ada manis manisnya, tetap tengil meski sedang membujuk seorang gadis.


Raya bergeming, dia menggeleng gelengkan kepalanya dengan wajah cemberut.


"Dasar gadis manja, ya sudah aku akan mengantar mu pulang !" ucap Toni masih menunggu gadis itu yang tak kunjung naik juga ke atas motornya.


"Aku juga tak mau pulang,!" rajuk Raya, tangannya memilin ujung blouse yang di pakainya.


"Hmmmhhh,,,, baiklah apapun maumu, demi Tuhan cepatlah naik, kita harus segera pergi dari sini sebelum polisi datang, atau orang orang yang tadi mengejar mu datang lagi !" Toni sedikit kesal karena Raya masih saja mematung di sampingnya yang sudah menyalakan mesin motornya sedari tadi.


"A- aku tak tau cara naiknya, ini tinggi sekali, aku takut terjatuh !" cicit Raya yang ternyata sedari radi memikirkan bagaimana cara menaiki motor yang lumayan tinggi itu, sementara dirinya juga sedang tak bisa melompat karena keadaan kakinya yang sedang nyeri akibat kecelakaan tadi.


"Ckk, gadis kaya yang merepotkan ! Injakan sebelah kaki mu di sini lalu melangkah !" Toni membuka kedua footstep belakang yang masih terlipat dan menunjuknya agar Raya mengerti.


Raya mengikuti semua interuksi Toni dan kini sudah duduk di jok belakang punggung pria gagah itu.


"Pegangan," titah Toni sambil mulai melajukan kendaraannya.


Raya memegang ujung jahitan jaket kulit Toni di bagian pinggang dengan sedikit canggung, ini pengalaman pertemanya di bonceng naik motor, dan ini juga pengalaman pertama Toni membonceng seorang wanita di motor kesayangannya, belum ada wanita mana pun yang pernah duduk di belakang nya saat mengendarai motornya kecuali Raya.


Jalanan yang lengang membuat Toni memacu motornya dengan sedikit ngebut, karena ketakutan, kedua tangan Raya melingkar erat di pinggang sampai ke perut rata Toni, tubuh bagian depannya pun menempel ketat di punggung pria yang selalu Tuhan hadirkan untuk menolong di saat saat tersulitnya.

__ADS_1


Toni menepikan motornya di bahu jalan,


"Kenapa ?" tanya Raya ketakutan saat Toni tiba tiba menghentikan laju kendaraan nya di tepi jalanan yang sepi.


Toni tak berbicara apapun, dia lalu melepaskan jaketnya,


"Mau apa kamu ?!" tanya Raya lagi ketakutan, kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan melihat keadaan sekitar memeriksa apa ada rumah atau tempat yang bisa di mintai tolong kalau kalau dirinya di jahati Toni, namun sayangnya di sana hanya ada pepohonan dan tak ada satu rumah pun, karena kini mereka berhenti di daerah hutan kota.


"Pakailah !" Toni menyodorkan jaket yang tadi dipakainya untuk di kenakan oleh Raya yang sepertinya kedinginan.


"Ta-tapi,,,emh,,," gagap Raya, merutuki kebodohannya yang sempat memiliki pikiran jahat pada pria di depannya itu, padahal Toni hanya ingin berniat baik padanya.


"Sudahlah, cepat pakai,!" titah Toni lagi,


Motor kembali melaju setelah Raya mengenakan jaket kulit Toni yang kebesaran di tubuhnya namun terasa sangat hangat dan nyaman.


Kedua tangan Raya kembali melingkar erat di pinggang sampai perut Toni, tak ada percakapan apapun di sepanjang perjalanan, kepala Raya kini bersandar di punggung kokoh Toni ada rasa tenang yang dapat di rasakan Raya saat ini.


Dalam diamnya berbagai pikiran mengganggu ketenangan pikiran Raya, begitu berat beban yang harus dia alami, ayahnya yang masih kritis di rumah sakit, menghadapi Martin dan Karina yang ingin merebut jabatan di perusahaan, di tambah lagi mengalami kecelakaan tadi yang hampir merenggut nyawanya, rasanya dia ingin menyerah saja dan menyusul almarhum ibunya, mengingat sosok ibunya, Raya menangis sesenggukan di punggung kokoh itu sampai membasahi baju bagian belakang Toni.


Motor berhenti tepat di depan kamar kost Toni, keadaan kost sepi, semua penghuni pasti sudah terlelap semua karena ini sudah hampir jam 4 subuh.


"Ke-kenapa ke sini ?" tanya Raya yang masih betah duduk di atas jok motor meski Toni sudah meninggalkannya turun duluan.


"Lantas aku harus membawa mu kemana ? Ke rumah sakit tak mau, di antar pulang ke rumah mu, juga kau tak mau, hanya ini satu satunya tempat yang ada di pikiran ku !" ucap Toni dengan tatapan kesalnya.


"Apa kau akan tetap di atas motor sana, dan tak mau masuk ke dalam ?" pekik Toni gemas karena Raya masih saja duduk di atas motornya.


"Aku tak bisa turun, kaki ku rasanya sakit sekali dan tak bisa di gerakkan !" keluh Raya menunduk sedih.


Toni menghela nafas berat dan panjangnya, lalu mendekati Raya dan membantunya turun dengan memapahnya.

__ADS_1


"Duduk lah !" ucap Toni menarik kursi plastik yang tadinya berada di depan kamarnya ke dalam.


Raya hanya patuh dengan apa yang di perintahkan Toni, begitu pun saat pria itu menggulung ujung celana panjangnya, dan memeriksa pergelangan kakinya yang saat ini sudah terlihat membengkak dan membiru, entah bagaimana ceritanya bisa sampai keseleo, atau saking paniknya ketika menginjak rem yang blong sampai kakinya keseleo.


Toni memijat pelan kaki dengan memar biru keunguan yang tampak sangat kontras dengan kulit mulus putih Raya, sesekali gadis itu rampak meringis menahan sakit.


Toni mengeluarkan kotak obat miliknya, lalu menyemprotkan pain killer ke pergelangan kakinya, obat obatan seperti itu sudah menjadi barang wajib dia punya, mengingat pekerjaannya yang selalu bersinggungan dengan luka dan salah urat, juga keseleo.


Pria itu juga dengan telaten membersihkan dan mengobati luka di sikut dan pelipis Raya.


"Tak ada luka lain ?" tanya Toni datar.


Raya menggeleng pelan,


Rasa cemburu di hati Raya tiba tiba menyeruak, betapa beruntungnya Cila mempunyai kekasih se perhatian Toni, meski mulutnya selalu pedas, tapi dia yakin kalau hati pria dingin itu selembut salju.


'Ah, andai saja pria tampan ini pacarnya, aku tak akan membiarkan dia menyentuh wanita lain seperti sekarang dia mengurusku !' batinnya berandai andai.


"Tidurlah, aku akan menjaga mu. Besok pagi aku akan mengantar mu pulang, kasur ku cukup bersih untuk kau tidur, aku baru mengganti sprei nya tadi pagi !" kata Toni menunjuk kasur yang memang terlihat bersih dan masih rapi.


"Hmm,," angguk Raya dan melangkah pelan ke arah kasur yang sepertinya memang sangat di rindukannya, badannya terasa remuk dan sangat ingin meluruskan badannya di atas benda empuk itu.


Namun baru saja Raya merebahkan tubuhnya di atas kasur, tiba tiba dia menjerit.


"Aauhhhh !" ringisnya, air matanya bahkan sampai menetes dari ujung matanya.


"Kenapa ? Apa yang sakit ?" Toni yang sedang membereskan kotak obat bekas tadi mengobati Raya langsung terlonjat kaget dan loncat ke sebelah gadis yang kini meringkuk miring ke sebelah kiri menghadap dinding sambil menahan sakit dan tangisnya.


"Punggung kanan ku,,,, sakit sekali rasanya, tadi tidak terasa, kenapa sekarang rasanya nyeri, panas dan seperti di tusuk tusuk jarum,,,!" adu Raya dalam ringisannya yang mulai menjadi tangisan.


Toni terlihat kebingungan,

__ADS_1


'What,,, punggung ?' bagaimana cara dia memeriksanya, bukankah itu berarti gadis itu harus menarik blouse nya agar dia bisa melihat apa yang terjadi di sana.


__ADS_2