
"Aku puas dengan hasil kerja mu, semua berjalan lancar," ucap Rolan yang sore itu sedang berbincang santai dengan Toni di sasana, Rolan merasa pengerjaan Kasino yang sedang di tangani Toni sungguh sangat berjalan cepat, bahkan lebih cepat dari perkiraannya, tak salah dia memilih Toni untuk mengerjakan proyek ini.
"Aku bertemu Karina di sana, apa kau bisa cari tau tentang itu ?" ucap Toni mengadukan pertemuannya yang tak terduga dengan Karina yang sempat dia temui di sana.
"Karina ? Apa kau yakin, bisa saja kau salah orang ?" Rolan seperti meragukan ucapan Toni.
"Aku yakin itu benar benar Karina, dia bahkan kabur saat akan aku datangi, sialnya aku terkecoh dan kehilangan jejaknya," kesal Toni dengan tangan terkepal, rasa kesal dan marahnya bahkan masih saja terasa sampai saat ini.
"Aku akan membantu mu mencari tahu tentang itu, kau fokuslah pada pekerjaan mu, untuk masalah Karina, serahkan semuanya pada ku, aku tak mau masalah ini mengganggu konsentrasi mu dalam penyelesian pekerjaan mu itu !" kata Rolan.
"Abang,,, Cila tadi ke tempat kost abang, tapi kata ibu kost abang tak pulang, abang dari mana saja, bukan nya subuh tadi ketika baru sampai bandara abang buru buru pamit ingin langsung pulang ?" tanya Cila penuh curiga.
"Aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan !" Toni melengos dan meninggalkan Cila yang masih berdiri di hadapannya, Toni lebih memilih latihan bersama Burhan yang sejak tadi menunggunya untuk berduel di atas ring.
Sepertinya Burhan harus bersiap siap menjadi sasaran kemarahan dan kekesalan Toni, bagaimana tidak, belum habis kesalannya sore ini karena kembali harus teringat dengan kegagalannya memburu Karina, kini dia harus bertemu dengan Cila yang sungguh sangat ingin dia musnahkan dari muka bumi ini karena selalu saja mengirimi pesan yang tidak tidak pada Raya, sayangnya dia tak bisa menyalurkan kekesalan itu pada Cila, karena jika dia menegur nya, maka tunangannya itu akan dengan sangat mudah menebak kalau dirinya masih berhubungan dengan Raya, dan sudah dapat di pastikan Raya lah yang akan menanggung resikonya jika sampai Cila tau dirinya sering bersama Raya.
Bahkan bukan tak mungkin jika di lihat dari sifat dan perangai Cila, wanita itu bisa saja mencelakakan Raya, jika di anggap menjadi batu sandungan dalam hubungannya bersama Toni.
Untuk itu Toni lebih memilih diam dan menelan semua rasa amarahnya pada tunangannya itu sendirian.
"Abang,,, Cila sedang berbicara pada abang, seharian ini abang di mana, pulang kemana ?" merasa tak juga mendapat jawaban dari Toni, Cila terus mengejar dan mengekor Toni kemana pun pria yang tak pernah memperdulikan dirinya itu pergi.
Merasa kesal karena terus di buntuti dan terus terusan di tanyai kemana dirinya pergi, hampir saja Toni kehilangan kesabarannya dan menghardik tunangannya itu, untunglah perpanjangan tangan Tuhan lagi lagi datang di waktu yang tepat.
"Tadi pagi Toni bersama ku,dia aku panggil ke kantor karena ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya," Sabrina tiba tiba muncul dan mengatakan hal yang tentu saja bertujuan untuk membantu rekan kerjanya itu.
__ADS_1
Sabrina memang pernah sangat menyukai Toni sampai dia terobsesi ingin tidur dengan pria gagah itu bagaimana pun caranya, hanya saja setelah dia tau kalau Toni tak menyukai perempuan, (Lebih tepatnya Toni tak menyukai wanita lain selain Raya,) Sabrina menyerah, namun entah mengapa dia saat ini sangat tertarik untuk menjadi temannya, baginya kepribadian Toni sangat unik, dalam melakukan pekerjaan pun sangat bisa di andalkan, dalam artian hebat dan cocok untuk di jadikannya rekan kerja, apalagi kemampuan beladiri Toni yang sangat dia kagumi, membuat dia benar benar murni hanya ingin berteman dengan pria itu.
Toni melirik ke arah Sabrina yang menyeringai aneh, melihat hal itu Toni lebih memilih mengurungkan niatnya untuk berduel dengan Burhan di atas ring, namun malah menarik paksa tangan Sabrina agar pergi bersamanya dari sasana itu.
"Abang,,, mau kemana lagi, Cila ada perlu sama abang !" teriakCila yang melihay tunangannya memilih pergi menarik tangan perempuan lain bahkan tepat di depan matanya.
"Ak ada pekerjaan mendadak dengannya, iya kan ? Kau datang ke sini untuk menjemput ku pergi ke kantor ?" cengkeraman jari Toni mengencang di tangan Sabrina memberinkode agar wanita itu mendukung apa yang di takannya pada Cila.
"I- iya,,, aku ke sini mau jemput dia !" gugup Sabrina.
Sepanjang perjalanan Sabrina menggerutu di dalam mobil, bagaimana tidak, dia yang baru saja datang ke sasana berniat latihan tinju, karena sudah janjian bersama Burhan malah di tarik paksa untuk pergi menemani Toni.
"Apa tadi pagi kamu pulang ke tempat pacar mu ?" tanya Sabrina, jelas saja 'pacar' dalam pikiran Sabrina adalah kekasih pria Toni.
"Hem,,,!" Toni hanya mengangguk, jelas saja dia mengangguk, toh dia memang jujur, kalau dia pulang ke tempat Raya, meskipun entah gadis itu layak untuk di sebut pacar, kekasih atau malah selingkuhan, karena mereka tak punya ikatan apapun.
Sayangnya Toni tak meladeni gurauan Sabrina, dia justru serius memperhatikan rumah yang pernah dia datangi atas petunjuk Rolan, dan di yakini pernah di jadikan tempat menyekap Arsan dan Karina oleh Cobra.
"Rumah siapa ini ? Apa ini rumah pacar mu ?" tanya Sabrina polos.
Toni mengernyit, kenapa Sabrina justru seperti tak tau tentang rumah ini, bukankah ini milik ayahnya ?
"Apa kau yakin tak pernah tau tentang rumah ini ?" tanya Toni penasaran.
Namun Sabrina hanya menggelengkan kepala dan mengendikan kedua bahunya, sepertinya dia benar benar tak tau menahu dengan dengan rumah ini, dan Toni juga tak melihat kebohongan dari sorot mata dan air wajah wanita itu.
__ADS_1
Bila sebelumnya saat terakhir Toni datang ke rumah itu untuk menyelamatkan Arsan rumah terlihat sepi dan kosong, berbeda dengan saat ini dimana rumah itu terlihat ramai, bahkan terlihat dua orang pria kekar berjaga di dekat gerbang pintu masuk rumah itu.
"Bukankah mereka itu anak buah ayah mu ?" telunjuk Toni mengarah ke dua orang yang terlihat sedang mengobrol sambil menikmati asap tembakaunya.
"Bukan, aku mengenali hampir 90 persen wajah anak buah ayah ku, karena mereka kini menjadi anak buah ku, bisnis ayah ku hampir semua sudah aku pegang," terang Sabrina, seraya menyombongkan kemampuannya sendiri.
"Bisa saja mereka termasuk dari 10 persen anak buah ayah mu yang tak kau kenali wajahnya !" keukeuh Toni, masih meyakini kalau rumah itu adalah milik Cobra, dan dua pria yang berdiri di sisi kiri gerbang itu adalah anak buah dari Cobra yang tak lain adalah ayah dari Sabrina.
"Ishhh,,, kau ini, cepat katakan, rumah siapa ini sebenarnya, bikin penasaran saja !" kesal Sabrina, tak sabaran.
"Kalau kau benar benar merasa penasaran ini rumah siapa, kenapa tak kau tanyakan saja pada dua pejaga itu, barangkali kau akan mendapat info yang bisa di bagi dengan ku !" ucap Toni, secara tidak langsung mengatakan kalau dia sendiri pun tengah mencari tahu tentang itu.
"Jadi,,, kau pun tak tau rumah ini milik siapa ?!!" teriak Sabrina terbelalak tak percaya, bagaimana tidak, hampir tiga puluh menit lamanya mereka memantau rumah yang berada di depannya itu dari dalam kabin mobilnya, sementara Toni saja tidak tau itu rumah milik siapa, dia pikir Toni tau atau kenal dengan pemilik rumah itu.
"Baiklah, aku akan bertanya pada mereka," Sabrina mengalah dan keluar dari kabin mobilnya, hanya saja ketika dirinya baru saja maju beberapa langkah, Sabrina kembali ke dalam mobil, dia urung bertanya tentang kepemilikan rumah itu.
"Kenapa ?" tanya Toni.
"Aku baru ingat kalau salah satu dari mereka memang anak buah ayah ku, tapi kenapa mereka berjaga di rumah ini, sebenarnya rumah milik siapa ini ?" gumam Sabrina seraya bertanya pada dirinya sendiri.
"Sebaiknya kau tanyakan segera pada ayah mu, jangan jangan ini rumah tempat ayah mu menyembunyikan wanita simpanan nya agar tak di ketahui oleh mu," ujar Toni asal.
"Sialan,,, ayah ku itu pria setia, tak mungkin mencintai wanita lain selain ibu ku !" ucap Sabrina menepis perkataan Toni.
"Eh, siapa tau !"
__ADS_1
"Berengsek kau, ayah ku bukan pria seperti mu yang suka selingkuh, udah gitu selingkuhnya sama cowok pula !" balas Sabrina yang langsung mendapat pelototan galak dari Toni.