
Para pelayan satu berdatangan karena mendengar keributan di ruang utama tempat kini mereka berkumpul.
Sungguh aneh, hanya Maman yang di sekap, sementara penhuni lain seperti para pelayan dan Raya yang seharusnya menjadi target utama penerangan justru luput dari serangan, atau bahkan sengaja tak di sentuh.
Entah apa maksud para penyerang itu, atau memang benar seperti yang di tulis di surat kaleng yang di tujukan untuk Toni kalau itu hanyalah sebuah peringatan awal,.
Toni mengecek semua cctv, semua masih utuh tak ada kerusakan, tak ada tanda tanda mereka menghilangkan jejak atau berusaha melenyapkan bukti kejahatan mereka, seolah mereka memang sengaja mengunjukkan diri secara terang terangan dan memang sengaja agar di kenali siapa mereka sebenarnya.
Dengan sangat teliti Toni memperhatikan rekaman cctv, sangat tepat seperti dugaannya, kalau yang datang menyerang ke rumah adalah anak anak buah Cobra, Toni meruntuki kecerobohannya sendiri yang bisa lengah dalam menjaga Raya, padahal dalam keadaan seperti tadi, anak buah Cobra tentu saja bisa dengan mudah mencelakai atau bahkan menculik Raya,
Oooh,,, itu sungguh sangat mengerikan, dan Toni sepertinya tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Raya akibat kecerobohannya yang meninggalkan Raya sendiri tanpa pengawasan dirinya.
"Bagaimana tanggung jawab mu atas semua masalah ini ?" tanya Martin yang sengaja terus memojokan Toni karena merasa mendapatkan celah atas kecerobohan dan kesalahan pengawal pribadi tunangannya itu.
"Kau penyebab semua masalah ini, bukan kah kau di bayar untuk memastikan calon istri ku agar selalu selamat, bukan di bayar mahal untuk menjadi gi golo dia !" kesal Martin sambil menunnjukan jari telunjuknya ke arah Karina, yang sejak tadi terus saja menempel di dekat Toni seperti lintah.
"Sebaiknya kau tutup mulut mu kalau sekiranya hanya bisa memperkeruh suasana !" hardik Toni dengan tatapan galaknya yang di tujukan unuk Martin yang sengaja terus saja berkomentar untuk memanaskan keadaan.
"Beraninya kau, lancang sekali mulut mu, jelas jelas semua ini akibat kelalaian dan kecerobohan mu, kenapa kau malah memelototi ku seperti itu." Martin berusa membalas tatapan galaknya Toni agar dia tidak merasa kehilangan harga dirinya di hadapan Raya dan seluruh penghuni rumah itu.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa hubungan mu dengan kelompok mafia Cobra ?" tanya Toni dengan tegasnya tanpa basa basi lagi, dia sudah cukup muak dengan tingkah Martin yang menurutnya sangat menjijikan itu.
"Apa maksud mu ? Mafia ? Cobra? Mana ku tau tentang hal hal seperti itu, aku seorang pengusaha properti tak mungkin berhubungan dengan dunia hitam seperti itu !" sangkal Martin, meski dari nada suaranya terdengar kalau dia sangat gugup dan tak menyangka kalau Toni bisa mengetahui perihal kerja sama bisnis narkoba yang baru saja akan di mulainya bersama kelompok mafia berlambang ular itu.
Lagi pula apa hubungannya dengan penyerangan yang terjadi kali ini di rumah Raya, bukan kah itu semua tak ada hubungannya sama sekali, hubungannya dengan Cobra juga terbilang angat baik, tak ada masalah sama sekali, jadi tak mungkin kalau obra berada di balik penyerangan ini.
Tapi Martin juga sebenarnya sedikit merasa bingung, kenapa ada yang menyerang rumah itu secara tiba tiba, dan itu semua bukan berasal dari rencananya, apa ada orang lain yang juga ingin mengacau di sana, atau mungkin Karina yang bergerak sendiri tanpa melibatkan dirinya demi keuntungan pribadinya.
Martin menjadi melebarrkan kecurigaannya kemana mana, terlebih penyerangan ini di rasa cukup aneh dan terlalu tiba tiba.
"Kau hanya perlu menjawab, apa hubungan mu dengan Cobra, tak perlu berbelit belit memberi alasan dan penjelasan sampah !" ucap Toni
"Bajiingan kau, kenapa justru malah aku yang seolah menjadi tersangka di sini ? Aku tak kenal Cobra atau siapa pun yang kau katakan itu, tak usah meng ada ada dan melemparkan kesalahan pada orang lain, satu satunya orang yang pantas di salahkan di sini adalah, kau !" tampik Martin tetap teguh pada pendiriannya, sekali menyangkal tetap menyangkal, tekadya.
"Terserah kau mau mengelak dengan cara apa pun, hanya saja satu yang perlu kau tau, apa yang terjadi sekarang ini adalah ulah anak buah Cobra, kau pikirkan lah itu semua itu,!" sinis Toni meninggalkan ruang utama dan menuju lantai atas dinama kamarnya berada.
Raya semerta merta langsung mengekor bodyguardnya itu sikapnya sungguh seperti orang linglung yang mencari cari pegangan dan mencari cari siapa yang harus di percayainya, meski pilihan terakhirnya tetap mengikuti kata hatinya yang lebih percaya pada Toni sang bodyguard.
"Hey,,,kenapa kau malah ikut meninggalkan ku ? Seharusnya kau di sini bersama calon suami mu, bukan pergi bersama pengawal tak berguna mu itu !" cegah Martin yang tak di hiraukan sedikitpun oleh Raya yang tetap pergi bersama satu satunya orang yang menurut kata hatinya bisa di percaya saat ini.
__ADS_1
"Toni,, tunggu aku !" kejar Raya setengah berlalari mengekor langkah lebar Toni yang terkesan tak peduli padanya.
"Toni, jelaskan padaku, apa benar yang Martin katakan kalau kamu tadi pergi ke klub bersama ibu tiri ku ?" Raya menarik baju bagian belakang Toni agar pria itu menghentikan langkahnya dan mendengarkan apa yang saat ini sedang dia sampaikan padanya.
"Apa kau masih percaya ucapan ku ? Akan buang buang waktu bagi ku, jika menjelaskan pada mu namun kau tak percaya ucapan ku, sebaiknya kau percaya saja pada ucapan calon suami mu itu !" sinis Toni, hanya menghentikan langkahnya tanpa meoleh sedikitpun ke arah Raya yang kini sedang memandangi punggungnya.
"Apakah mengatakan ya atau tidak sangat berat bagi mu ? Sejak tadi kamu bahkan tak menjawab pertanyaan ku," lirih Raya, yang matanya kini sudah mengeluarkan linangan bulir bulir jernih yang tak dapat lagi dia tahan untuk tak mengalir.
Setelah membuang napasnya secara kasar, Toni akhirnya memutar tubuhnya menghadap Raya yang berada tepat di belakangnya dengan masih memegangi baju bagian belakangnya.
"Aku tidak pergi dengan siapa pun, aku memang pergi ke klub, tapi sendirian. Terserah kau percaya atau tidak !" ucap Toni.
Ada rasa hangat menjalar di hati Raya, lega rasanya mendengar penjelasan Toni, dan tanpa di duga duga Raya memeluk pinggang Toni erat dan menumpahkan airmatanya yang mulai menganak sungai di pipinya seakan ingin memuntahkan segala ketakutan yang memenui dirinya.
"Tolong jangan tinggalkan aku lagi, aku takut !" cicitnya dalam isak tangis yang tak kunjung reda dan malah semakin menjadi di dada Toni.
"Aku ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan tadi, maaf aku memang telah teledor meninggalkan mu," untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Toni, dia berbicara lembut sambil meminta maaf pada lawan bicaranya, bahkan sebelah tangannya terangkat menepuk nepuk bahu Raya pelan.
Toni memang tak pernah tau bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan baik, dengan halus, namun setidaknya, tindakannya kali ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar untuk seorang Toni yang hampir tak punya sisi lembut sama sekali dalam hatinya.
__ADS_1
Martin dan Karina yang melihat pemandangan itu dari kejauhan merasa hatinya seperti terbakar dengan perasaan mereka masing masing, mungkin ada satu hal yang sama yang saat ini mereka pikirkan, mereka merasa kalau antara Toni dan Raya bukan hanya sebatas hubungan pengawal dan majikan saja jika di lihat dari sikap yang mereka tunjukkan, bahasa tubuh mereka mengatakan hubngan mereka lebih dari sekedar itu.
"Siapa kau sebenarnya ? Apa tujuan mu masuk ke dalam rumah ini ? Aku harus segera mencari tahu dan se segera mungkin menyingkirkan pria itu, sebelum dia benar benar menjadi hambatan dalam hubungan ku dengan Raya !" gumam Martin dengan mata yang masih terkunci menatap calon istrinya yang kini sedang memeluk pria lain di depan matanya sendiri.