Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Titik Terang


__ADS_3

Raya, kini sedang kelimpungan, sudah dua hari ini semenjak Toni berpamitan pulang dan katanya hendak menemui Maman, dia tak pernah datang lagi ake rumah Panca, bahkan ponsel nya pun tidak di aktifkan.


"Mas Panca, ayo dong coba hubungi Toni, aku takut ada sesuatu hal buruk yang terjadi padanya, dia gak pernah ngilang tanpa kabar seperti ini, tolong lah!" rengek Raya pada Panca malam itu.


Panca sendiri tak bisa berkata apa apa karena dia sendiri pun tak tau Toni di mana, dirinya juga bahkan tak bisa menghubungi Toni, puluhan kali dia menyambangi tempat kost sahabatnya itu, namun hasilnya selalu nihil, tak pernah dia temui pria yang biasanya tak pernah absen datang ke rumahnya untuk menemui Raya itu, yang kini seperti hilang di telan bumi, tanpa jejak.


"Aku sendiri tak tau dia di mana, sumpah!" Panca bahkan sampai bersumpah karena merasa kalau Raya sepertinya tak mempercayai nya, dia merasa menjadi satu satunya tersangkadi rumah itu dari Raya dan Dila yang mengira dirinya tau keberadaan Toni saat ini,


Selain Raya, salah satu orang yang juga khawatir dengan keadaan Toni di sini adalah Panca, jadi tanpa Raya minta pun, setiap hari dia selalu mencari tau tentang keberadaan sahabatnya itu.


***


Langit malam terasa sangat terang karena sinar bulan yang bulat sempurna itu menggantung tanpa tali menghiasi langit malam yang bertabur bintang, di sini lah Toni berada, di kebun teh milik ibunya Raya, menyendiri, mempertimbangkan jalan apa yang harus di pilihnya untuk melanjutkan perjalanannya dalam usaha membantu Raya yang kini sepertinya sudah berubah haluan.


Jika sebelumnya misinya adalah mencari keberadaan Arsan, kini misinya adalah mencari tau apa yang terjadi pada Arsan, ada hubungan apa antara pria itu dengan Rolan.


Mang Dasep menghampiri Toni dengan sepiring singkong rebus dan kopi yang uapnya masih mengepul,


"Terimakasih Tuan, sudah sampai sejauh ini tuan menjaga nona, jika bukan tuan, dia benar benar sendirian," lirih mang Dasep tulus,


dia juga tak banyak tanya dan tak banyak protes saat Toni datang ke rumah itu sendirian dan banyak melamun, mang Dasep yakin kalau Toni pasti sedang menghadapi masalah yang rumit, dia pun meng iyakan saja saat Toni mewanti wanti padanya agar tak memberi tahu siapapun tentang keberadaannya di rumah kebun teh itu.


"Sudah aku bilang berulang kali panggil saja aku Toni atau Lion saja tak usah tuan tuan segala, rasanya geli di telinga ku menerima panggilan seperti itu," protes Toni.


"Mang Dasep, apa ayahnya Raya tak pernah ke sini?" tanya Toni mulai membuka pembicaraan setelah dari kemarin hanya terdiam dan berbicara seperlunya saja dengan Dasep.

__ADS_1


"Tuan Arsan? Seingat saya, terakhir kali tuan Asan ke sini itu saat pemakaman nyonya Maria, sekitar lima belas tahun yang lalu, setelah itu, hanya nona Raya saja yang rutin mengunjungi makam ibunya," terang mang Dasep.


"Apa dia tau keberadaan kebun teh ini?" tanya Toni lagi.


"Kalau keberadaan tentang kebun ini, jelas dia tau, tapi tentang siapa pemiliknya Tuan Arsan memang tidak tahu, Nyonya Maria merahasiakannya, Tuan Arsan taunya rumah ini dan kebun di depan itu milik saya," jawab mang Dasep sambil menunjuk hamparan kebun teh yang luasnya berhektar hektar itu.


"Kenapa harus di rahasiakan dari Arsan?" Toni mengangkat sebelah alisnya, merasa ada yang aneh.


"Karena nyonya Maria yang juga sahabat ku itu ingin mewariskan semua ini pada Raya, anak satu satunya. Kasihan Maria, selama hidupnya dengan suaminya dia sangat menderita, padahal dia dari keluarga kaya raya, tapi semua harta peninggalan keluarganya di kuasai oleh suaminya, beruntungnya dia masih bisa menyelamatkan kebun teh ini, Tuan Arsan sungguh keterlaluan, selain menguasai hartanya dia juga gemar bermain perempuan, sampai akhir hayatnya semua orang mengira kalau Maria baik baik saja dan hidup bahagia, sampai petaka itu terjadi---" suara mang Dasep terdengar parau, sepertinya dia menahan tangisnya.


Toni mengerutkan keningnya, sejauh cerita yang Toni dengar dari Raya, ayah dan ibunya saling mencintai, bahkan ayahnya baru menikah lagi setelah beberapa tahun ibunya meninggal.


"Apa yang terjadi?" Toni mulai penasaran dengan cerita mang Dasep.


"Kalau hanya sekedar tuan Arsan yang sering membawa jallanng ke rumah itu sudah bisa Maria terima, termasuk membawa jallaang yang sekarang ini di peristrinya, mereka sudah sering menginap di rumah itu saat Maria masih ada,"


"Ada yang lebih menyedihkan dari pada itu, laki laki berengsek itu bahkan memperkosa Dewi, adik sepupunya yang juga mempunyai saham di perusahaan milik keuarga besar Maria yang kemudian di ambil alih kepengurusannya oleh Arsan," urai mang Dasep.


"Dewi?" beo Toni.


"Ya, neng Dewi orangnya baik, dia anak dari pamannya Maria, dia sangat mirip dengan Maria, saya tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan suami dan anak neng Dewi, apalagi menurut gosip yang beredar, dari hasil perkosaan yang di lakukan Arsan, neng Dewi melahirkan anak laki laki dan karena setres berkepanjangan, neng Dewi akhirnya depresi, berusaha membunuh bayinya dan kemudian bunuh diri, mungkin itu juga yang membuat Maria jadi sering sakit sakitan, dia pasti sangat merasa bersalah atas kelakuan suaminya itu pada sepupunya." beber mang Dasep dengan mata yang berkaca kaca menahan tangis.


"Apa mang Dasep punya foto Dewi?" Toni sepertinya mencurigai sesuatu dari apa yang di ceritakan mang Dasep barusan.


Mang Dasep kembali ke teras rumah setelah tadi masuk sebentar untuk mencari foto Dewi, setelah itu dia kembali menghampiri Toni sambil memberikan selembar foto usang Maria yang sedang bersama seorang wanita yang memang sangat mirip dengan ibu kandung Raya itu,

__ADS_1


"Ah,,,shiiiitttt!! Pantas saja!" umpat Toni kesal,


pantas saja saat di rumah Sabrina dan ketika dia melihat foto keluarga Cobra yang menggantung di dinding itu Toni seperti tak asing dengan wajah wanita yang di akui Sabrina sebagai ibunya itu, karena Toni pernah melihat foto Maria di kamar Raya beberapa kali, hanya saja pikiran Toni tidak sampai ke sana, pikirannya benar benar blank saat itu tak dapat mengiingat sampai ke Maria.


Saat itu yang dapat Toni simpulkan kalau foto keluarga yang menggantung di dinding itu sepertinya dengan sekilas mata saja gambar ibunya Sabrina seperti di tempel atau editan, dan itu sempat menjadi pertanyaan di benak Toni, kenapa harus editan, oh,,, ternyata jawabannya karena ibunya sudah meninggal, mungkin mereka menginginkan foto keluarga lengkap, jadi mengakalinya dengan mengedit seolah olah mereka berfoto bersama, bukankah jaman sudah semakin canggih sekarang?


"Kenapa,?" mang Dasep merasa heran.


"Terima kasih mang, sepertinya aku sudah mulai menemukan titik terang di masalah ini, meskipun baru sedikit, tapi aku akan mencoba mengurai semuanya mulai dari sini." ada sedikit kelegaan di wajah Toni karena sudah dapat mengurai sedikit benang kusut ini.


"Apa Raya tau tentang semua masalah ini?" tanya Toni kemudian.


"Tidak, di mata non Raya, ayahnya adalah ayah yang baik, setidaknya itu yang selalu Maria tunjukkan di hadapan Raya saat kecil, dia tak pernah sekali pun menunjukkan kebejatan suaminya, dia tak ingin menggoreskan trauma di hati putri kecilnya itu," geleng mang Dasep yang terlihat menerawang sambil berkaca kaca, mungkin dia merasa prihatin dengan nasib yang di alami Raya selama ini.


"Sejak ibunya meninggalkannya di usianya yang masih sangat kecil, tak ada lagi yang menyayangi nya dengan tulus, sampai sampai dia tumbuh menjadi gadis yang naif, tak bisa membedakan mana kasih sayang asli dan mana yang palsu, saya mohon, jaga dan lindungi non Raya,,," pinta mang Dasep memelas.


"Aku tak akan berjalan sejuh ini jika aku tak bersungguh sungguh ingin menjaga dan melindunginya," ucap Toni.


Beberapa saat suasana teras terasa hening, kedua pria itu hanya menikmati asap tembakaunya masing masing sambil menatap hamparan kebun teh yang berkabut tebal, dengan pikiran mereka sendiri sendiri yang entah memikirkan apa.


"Sebenarnya, aku sudah mengetahui keberadaan Arsan saat ini,!" akhirnya Toni bercerita juga setelah lama menimbang nimbang apa mang Dasep dapat di percaya atau tidak jika dirinya menceritakan tentang ini, secara sepertinya saat ini dia seakansedang merasakan krisis kepercayaan karena merasa banyak pihak yang menipunya demi kepentingan mereka sendiri, semoga saja tidak untuk mang Dasep.


Mang Dasep terlihat seperti terkaget, terakhir kabar yang dia dengar dari Raya saat gadis itu menginap di sana, bercerita kalau ayahnya menghilang dalam keadaan sakit di rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya?" tanya mang Dasep.

__ADS_1


"Dia baik baik saja, sangat baik malahan!" sinis Toni penuh kesal.


"Persis seperti yang sudah saya duga, itu hanya permainan pria berengsek itu, sayangnya saya tidak punya nyali untuk mengatakan dugaan itu, saya tidak tega!" ucap mang Dasep seperti sedang meledek perasaan Toni yang saat ini tengah merasakan perasaan yang sama persis dengan yang mang Dasep ceritakan barusan, dia tak punya nyali dan tak tega untuk menceritakan tentang pertemuannya dengan Arsan.


__ADS_2