Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Double Date ?


__ADS_3

"Aku akan menjalin kerja sama bisnis dengan Cobra, dan kau yang akan menjadi perwakilan ku, ini akan menguntungkan mu, karena dengan begitu kau akan bisa masuk ke lingkaran Cobra," ucap Rolan.


"Kau--- dan Cobra ?" Toni mengernyit, ini terdengar agak aneh, setelah sekian lama mereka menjadi musuh bebuyutan, lalu kenapa tiba tiba mereka menjalin kerja sama bisnis ? pikir Toni, merasa ada yang janggal dengan itu semua.


"Kau lihat, betapa aku tak main main dalam membantu mu ? aku bahkan membuang jauh harga diri ku, untuk menerima tawaran bisnis dengan pria sialan itu !" geram Rolan, raut wajahnya selalu terlihat tidak senang jika berbicara mengenai Cobra.


"Bisnis apa yang kalian sepakati ?" Toni memicingkan matanya, sungguh ini benar benar di luar dugaannya, Rolan bergerak jauh dari yang di bayangkan, benarkah Rolan melakukan ini semua semata untuk membantunya ?


"Cobra ingin membuka wilayah baru di daerah utara, tapi di sana ada beberapa tempat yang sudah di pegang oleh gangster gangster kecil namun lumayan membahayakan, jadi dia mengajak ku untuk kerja sama, untuk menyingkirkan para cecunguk kecil itu, kebetulan aku juga punya bisnis tambang di sana, jadi Cobra akan memanfaatkan link ku di sana," terang Rolan.


"Apa tugas ku ?" Toni tau, Rolan sudah tidak sabar ingin segera melibatkan dirinya dalam bisnis hitam nya.


"Kau hanya perlu memastikan Cobra tidak mengganggu wilayah perbatasan, karena wilayah perbatasan utara seperti perbatasan Malaysia, Filipina dan Singapura adalah wilayah ku." urai Rolan.


"Apa itu artinya aku harus pergi ke sana ?" Toni mulai khawatir, karena urusannya di sini takut kalau sampai harus terbengkalai.


"Tidak, untuk sementara ini kau hanya perlu memastikan kerjasama ini berjalan lancar tanpa ada kecurangan, nanti kalau bisnis sudah berjalan, sebulan sekali kau menunjau kesana," terang Rolan yang lumayan membuat hati Toni sedikit lega, karena dalam waktu dekat ini dia tak perlu pergi jauh, dan dia bisa tetap menjalankan rencananya sambil melaksanakan tugas yang di berikan Rolan padanya, bukankah tugas itu juga akan mempermudah rencananya, jadi buatnya tak ada masalah untuk melakukandua pekerjaan sekali gus, toh jalannya masih searah.


"Malam ini pergilah bertemu Cobra untuk pertemuan makan malam," Titah Rolan yang lantas di angguki Toni tanda setuju.


Malam itu Toni sudah bersiap untuk pergi ke klub milik Cobra tempat dimana mengadakan janji bertemu untuk membicarakan bisnis mereka.


"Ayo bang, aku sudah siap !" ucap Cila yang tiba tiba sudah berada di muka kamar kost Toni saat pri itu baru saja membuka pintu kamarnya,


'Sejak kapan wanita ini berada di sini?' pikir Toni.


"Apa maksud mu ? Apa kau---" belum saja Toni menyelesaikan kalimatnya, Cila sudah memotong ucapannya,


"Tentu saja abang pergi ke pertemuan itu dengan ku, apa ayah tak memberi tahu mu ?" ucap Cila yang langsung menyodorkan kunci mobilnya yang akan merek kendara ke tempat pertemuan.


Merasa malas berdebat, Toni hanya menyambar kunci itu, dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan tunangnnya itu yang berjalan di belakangnya mengekor dengan senyuman puas.


Sampai di klub, Toni tak merasa terkejut sedikit pun saat melihat Martin duduk bersama Cobra, justru sebaliknya, Martin yang agak terlihat syok saat mendengar Cobra menyapa Toni sebagai menantu Rolan.


"Halo Lion ! Bagaimana kabar mu, aku tak menyangka Rolan akan sangat beruntung mendapatkan menantu seperti mu, aku sungguh iri !" ucap Cobra yang lumayan menyikut harga diri Martin yang nota bene kini sedang dekat dengan Sabrina putrinya, dia jadi merasa kalau dirinya sedang di banndingkan dan di anggap sebelah mata oleh calon mertuanya itu.

__ADS_1


'What,,, menantu tuan Rolan ? Ternyata mereka benar benar pasangan ?' meski Martin tak terlalu kaget dengan kebersamaan Cila dan Toni karena pernah bertemu dulu saat di klub, namun tetap saja dalam hatinya Martin merasa sedikit kikuk, apalagi Martin juga jadi bertanya tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin menantu tuan Rolan itu menjadi bodyguard Raya, tapi dia mencoba menyembunyikan itu semua, dia tak ingin gegabah karena dalam dunia permafiaan mungkin banyak intrik yang di mainkan untuk mencapai tujuan mereka yang seringkali tak bisa masuk logika orang orang seperti dirinya yang sedikit awam tentang dunia hitam dan dunia permafiaan, Martin hanya penjual narko ba kecil yang kebetulan beruntung karena di dekati Sabrina meskipun dia hanya di jadikan sebagai alat balas dendam Sabrina untuk menyakiti Raya, yang tak pernah merasa memiliki masalah dengannya.


Toni hanya tersenyum miring menjawab sapaan Cobra, hatinya masih sangat marah atas keterlibatan pria pada kecelakaan yang menimpa Raya, belum lagi tentang hilangnya Arsan dan termasuk penjualan saham yang tiba tiba di kuasai Cobra si manusia yang saat ini paling di bencinya itu.


Sungguh saat ini Toni ingin mengeluarkan glock yang dia bawa di saku jaketnya dan llu menmbakan nya ke kepala pria tua itu, namun sayangnya, tentu saja itu tak akan menyelesaikan masalah, karena dia tak akan menemukan kebradan Arsan dan bukan tak mungkin nyawanya juga akan berakhir malam ini, karena anak buah Cobra tentu saja tak akan membiarkannya keluar hidup hidup dari tempat itu.


"Kau akan berhubungan langsung dengan Sabrina, putri ku yang kebetulan akan mewakili ku juga, seperti halnya Rolan, aku juga sudah cukup lelah mengurusi hal hal seperti ini, sudah waktunya kalian para generasi penerus yang bergerak, hanya saja sayangnya aku tak punya menantu hebat seperti mu," mata Cobra melirik ke arah Martin yang kini tertunduk, belum lagi sejak tadi Cila memandanginya penuh tanya, karena Martin yang dia kenal sebagai tunangan Raya itu ada dalam pertemuan mereka.


"Hai, aku Sabrina, kau Lion, kan ? kita sepertinya akan sering bertemu !" Sabrina membuka percakapan setelah Cobra meninggalkan tempat itu dan menyerahkan semua urusan pada putrinya dan Toni, tent saja.


"Oh iya, ini Martin,,, kekasih ku,!" sambung Sabrina melirik Martin yang setia duduk di sampingnya tanpa mengucap sepatah kata pun seperti hal nya Cila yang hanya diam, dan sialnya, selain Toni yang tak berinisiatif memperkenalkannya, Sabrina juga terkesan tak peduli dengan kehadiran Cila di sana, dia sibuk membicarakan rencana bisnis nya dengan Toni dan menganggap Cila hanya angin lalu.


Karena merasa bosan mendengarkan pembicaraan bisnis antara Toni dan Sabrina, Cila berpamitan pada Toni untuk ke toilet, padahal itu hanya alasannya saja yang sekedar ingin berjalan jalan di sekitar sana.


Tanpa di sadari, ternyata Martin mengekor Cila yang kini duduk di meja bar sambil menikmati segelas cocktail, untuk menghilangkan rasa bosannya.


"Apa pria tadi benar benar suami mu ?" tanya Martin yang salah mengartikan perkataan Cobra yang menyebut Toni adalah menantu dari Rolan, Martin mengira kalau mereka pasangan suami istri.


Cila menoleh ke sumber suara, terlihat Martin yang kini sudah duduk di kursi kosong yang terletakdi sampingnya.


"Emm,,, kami sudah selsai !" jawab Martin yang juga berbohong, karena sebenarnya antara dirinya dan Raya belum benar benar berpisah, hanya saja Raya memang sepertinya sudah menganggap mereka selesai, apalagi semenjak kejadian kemarin di kantor saat dirinya kepergok sedang bermesraan dengan Brina.


Lagi pula Sabrina sepertinya akan lebih menguntungkan baginya dari pada terus bersama Raya yang kini sudah tak punya apa apa lagi, menurutnya.


Mulut Cila membentuk huruf O, dengan kepala yang mengangguk pelan, 'Pantas saja Raya mendekati tunangannya,!' cibirnya dalam hati.


"Apa kamu tau kalau suami mu itu pernah bekerja jadi bodyguardnya Raya ?" tanya Martin penasaran.


"Bodyguard ?!" beo Cila seperti terlihat kaget mendengar perkataan Martin barusan.


Sebelum Martin membuka mulutnya untuk mengatakan hal lain tentang Toni, sebuag tangan meremas bahunya sangat kencang,


"Tidak usah mencampuri urusan orang lain, karena aku bisa dengan mudah mengatakan hubungan mu dengan Karina pada kekasih dan calon mertua mu itu, dan aku juga bisa mengadu pada mertua ku atas penghianatan mu dengan bergabung ke kubu Cobra, ingat,,, kau masih terikat bisnis dengan Rolan, kau masih berhutang banyak pada nya, kan ?" bisik Toni tepat di telinga Martin yang kini seolah membeku, sungguh Toni memegang banyak rahasianya yang dapat mencelakakan dirinya jika sampai terbongkar.


Tanpa basa basi lagi, Martin melengos dan meninggalkan Cila dan Toni, dengan mimik wajah yang seperti ketakutan.

__ADS_1


"Ayo, pulang !" ajak Toni, dan Cila tak bisa membantah ajakan Toni itu, dia hanya bisa patuh, dan dia juga belum berani menanyakan perihal yang di katakan Martin tadi padanya, tentang Toni yang pernah menjadi bodyguard Raya.


"Bang, aku lapar, aku ingin makan dulu !" pinta Cila menunjuk salah satu rumah makan padang yang di lewatinya.


Toni terpaksa membelokkan mobil ke pelataran parkir rumah makan itu, perutnya pun terasa lapar saat ini.


Tapi memang dunia novel hanya selebar daun kelor, ketika mereka memasuki rumah makan itu, di salah satu kursidi dekat pintu masuk, Panca dan Raya juga sedang menikmati makan malamnya di sana, tadi mereka baru saja mengantar Dila ke stasiun, karena Dila harus mengajukan resign ke tempatnya bekerja, demi menemani Raya di ibu kota dan berniat akan bekerja di bengkel milik Panca setelah itu.


Cila spontan langsung melingkarkan tangannya di lengan Toni, setelah menyadari Raya sedang menatap ke arahnya dan Toni.


Panca yang menyadari keadaan, langsung melambaikan tangannya memanggil Toni, bersikap se biasa mungkin.


"Lion, sini,,, gabung !" panggilnya, meski senyumnya terasa kaku dan sedikit garing.


Cila dengan senang hati langsung menghampiri meja Panca dan Raya, meski Toni terlihat agak enggan.


"Koko kenapa bisa bareng Raya ? jangan jangan kalian pacaran ya !?" tanya Cila yang memang sudah kenal lama dengan Panca karena sering ke sasana, dan terkadang Cila juga sering ke bengkel nya kalau mobilnya bermasalah.


"Ah,,, kami hanya---"


"Kenapa malu malu, aku juga kenal Raya, dia baik, lagian sekarang dia jomblo, udah putus sama tunangannya, iya kan Ray ? Lo udah putus sama Martin, kan ?" Cila bersikap seolah biasa saja.


Cila tau kini Toni dan Raya terlihat sedang menyembunyikan rasa tidak nyamannya, namun justru Cila tersenyum puas dalam hatinya.


"Bagaimana kalau besok kita double date, kebetulan besok aku sama bang Lion mau ke pantai, ayo biar rame !" Cila semakin menjadi.


"Cila, aku banyak pekerjaan !" ucap Toni dingin, dia tak tau apa yang saat ini Cila rencanakan.


"Oh,,, ayolah bang, besok hari sabtu,,, masa masih bekerja juga, apa bos mu itu sangat kejam, sampai tak di beri waktu libur ?" rengek Cila sambil menyandarkan kepalanya di bahu Toni, dengan tujuan sengaja memanas manasi Raya yang sejak tadi selalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seakan sengaja tak ingin melihat kemesraan yang Cila ciptakan.


"Koko sama Raya juga mau, kan ?" tanya Cila lagi.


"Tapi aku sama Raya tidak----" Panca sungguh tak ingin menyiksa batin Toni dan Raya jika sampai mereka pergi bersama.


"Kita mau,,, kita bersedia, jam berapa besok ?" Raya memotong kalimat Panca yang belum di selesaikannya.

__ADS_1


"Asiik,,, kita akan double date bang !" wajah nya terlihat sumringah, berbanding terbalik dengan wajah tegang Toni, tangannya terkepal di bawah meja, dia yakin klau Cila pasti merencanakan sesuatu yang tidak baik, dan dia tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Raya, sampai sampai dia menyetujui ajakan Cila.


__ADS_2