
"Hati-hati jebakan!" Teriak Toni saat melihat gudang itu tak di jaga oleh seorang pun, sementara kata nya Bara membawa Dila dan Panca ke tempat ini, apakah Friska telah sengaja menipu atau mengecoh mereka semua?
Pengalaman tentang Cobra yang masuk kedalam jebakan Arsan membuatnya semakin berhati hati, belum lagi jebakan di rumah tengah hutan yang terlihat sepi namun ternyata di dalamnya banyak sekali anak buah yang sudah berjaga memberikan trauma tersendiri bagi Toni cs, tak ingin lagi kehilangan siapa pun yang di cintainya membuat mereka menjadi lebih berhati-hati dalam hal penyerangan.
Sejujurnya mereka masih belum belum siap untuk kembali terlibat dalam hal-hal penyerangan seperti sekarang ini setelah kejadian tewasnnya Rolan di pelabuhan terakhir kali, hanya saja kali ini mau tidak mau mereka harus kembali masuk ke dalam peperangan yang telah menyisakan trauma yang cukup mendalam bagi mereka.
Meski musuh-musuh licik mereka seperti Arsan, Rolan sudah tak ada lagi namun kewaspadaan tetap harus tetap tinggi siapapun lawannya tak boleh dia remehkan dan sepelekan, karena bisa saja musuh-musuh nya lebih licik dari Arsan.
"Sayang, sebaiknya kamu jangan ikut ke dalam, tunggulah di sini bersama Sabrina, biar aku sendiri yang masuk, ini mungkin akan sangat berbahaya, aku tak mau terjadi apa-apa dengan mu dan anak kita." Pinta Toni.
"Tapi--" protes Raya.
"Sudahlah, aku akan menemani mu di sini, percayalah, tak akan terjadi apa-apa dengan suami mu itu, beberapa anak buah kuakan ikut bersamanya." Sabrina ikut menahan Raya.
Meski berat, Sabrina harus realistis, harus ada yang selamat di antara mereka, jika sampai benar di dalam gudang itu terdapat jebakan yang membahayakan.
__ADS_1
"Hati-hati, dan berjanjilah uintuk tetap baik-baik saja demi aku dan bayi kita!" Raya tau dia tak akan bisa melarang kepergian Toni, dia juga tak bisa egois, ada dua nyawa juga yang harus di selamatkan oleh suaminya, dan mereka berdua juga sudah layaknya seperti saudaranya sendiri, jadi dia pun harus melepaskan kembali Toni ke peperangan, meski itu berat.
Toni mengangguk lalu memeluk dan mencium kening istrinya memberi Raya kekuatan dan juga memberi dirinya kekuatan dalam aksi jya kali ini dalam misi menyelamatkan 2 sahabatnya.
Toni dan 6 orang anak buah Sabrina merangsek masuk ke halaman gudang yang sebagian besar bangunan nya terbuat dari kayu itu.
Raya melihat aksi suaminya dari kejauhan, lantunan doa tak putus dia panjatkan untuk keselamatan suaminya dan semua orang yang berada di sekitarnya.
"Percayalah, suami mu itu pria hebat, dia pasti akan kembali dengan baik-baik saja dan membawa dua saudara kita." Seperti tau akan kekhawatiran Raya, Sabrina coba menengangkan wanita yang dulu sempat lama di bencinya itu.
"Terimakasih, semoga saja,"
"Kau seharusnya gila saja, dan di rawat di rumah sakit jiwa di kurung dan tak boleh lagi ke luar sampai kau mati dan membusuk di sana," kata Sabrina kesal.
Bagaimana tidak, rasanya Cila terus saja membuat ulah tiada henti, bahkan setelah ayahnya meninggala pun dia seperti tak ada kapok nya dan bahkan malah dengan sengaja merancang kejahatan baru dengan berkolaborasi bersama Bara.
__ADS_1
Rasanya Sabrina sangat sulit untuk memaafkan kelakuan jahat Cila yang sudah di ambang batas toleransi.
Toni mendekati pintu tanpa handle yang berada di muka gudang itu. Toni mencoba mendorongnya pelan, namun sepertinya pintu itu terganjal dari dalam sehingga sudah sekali untuk di dorong.
"Aku akan memeriksa jendela samping," pamit salah satu anak buah Sabrina sambil menunjuk sebuah jendela tertutup yang terdapat di bangunan samping gudang itu.
"Hmm, hati-hati. Utamakan keselamatan, dan sebaiknya jangan sendirian!" Angguk Toni mengijinkan.
Dua orang anak buah Sabrina segera berjalan mengendap-endap ke samping bangunan gudang yang lumayan luas itu, entah di pergunakan untuk menyimpan apa dulu semasa Rolan hidup, yang jelas Toni hanya pernah sekali ke tempat itu waktu mengawal transaksi narko ba Rolan dan Martin.
"Terbuka!" pekik kedua anak buah Sabrina dari kejauhan memberi kode kalau ternyata jendela itu dapat di buka dan di jadikan akses untuk masuk.
Toni bersama ke 4 orang lainnya yang tadinya berada di depan pintu gudang bersama-sama menghampiri ke 2 orang lainnya yang berada di samping bangunan gudang dengan tergesa-gesa namun tetap berusaha tanpa mengeluarkan banyak suara karena berjaga-jaga apabila di dalam ruangan ternyata banyak musuh bersembunyi.
Pertama-tama Toni membuka jendela yang tak terkunci itu perlahan, lalu melongokkan kepalanya mengintip keadaan di dalam gudang, namun ternyata sayangnya gudang itu dalam keadaan gelap gulita, Tonibtak dapat melihat apapun dari luar, sementara dia pun tak berani membuka lebih lebar lagi jendela itu, karena khawatir cahaya dari luar justru masuk lebih banyak fan mengubdang perhatian orang-orang di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Namun setelah di perhatikan dan di pelajari beberapa saat, sepertinya tak ada suara dan pergerakan apapun dari dalam gedung itu sehingga Toni mengijinkan 2 orang anak buah Sabrina untuk masuk bersama dirinya melalui jendela yang kini terbuka itu.
Tak terlalu sulit bagi mereka memanjat jendela yang tingginya tak mencapai satu setengah meter itu, mereka semua cukup cekatan dan ahli dalam bidang itu, maka dalam sekejap saja mereka bertiga sudah berada di dalam ruang gudang yang sangat gelap, bahkan mereka tak dapat melihat telunjuknya sendiri di ruangan itu karena saking gelapnya.