Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Pawang Singa


__ADS_3

Raya hanya ingin menyampaikan pada Toni, jika memang harus berjuang, Raya siap berjuang bersama sama, tak perlu dia berkorban sendirian, dia akan membuktikan kalau dia cukup kuat dan tangguh untuk berjuang bersama Toni, terlebih semua masalah ini bersumber dari dirinya, dari keluarganya, Raya merasa, jika ada yang harus berkorban, maka dirinya lah yang paling pantas melakukan itu, bukan Toni.


Toni mengeraskan rahangnya, tersirat kemarahan di wajahnya yang begitu jelas, tangan kanannya malah kini sudah terkepal di atas meja, sementara tangan kirinya masih tak berani dia lepaskan diri dari genggaman Raya.


Pria itu marah? Jawabannya iya, sungguh sangat marah sekali. Marah pada siapa? Jawabannya pada dirinya sendiri, mana berani dia marah pada Raya, wong sayang, kok marah!


Mungkin rasa marah yang di rasakan Toni lebih ke kecewa karena setelah sekian jauh dirinya berkorban kenapa harus Raya ikut mengorbankan dirinya juga, lantas apa artinya pengorbanan yang dia lakukan selama ini?


"Cukup,,,! Sebaiknya kamu pulang!" lerai Toni dengan melirik tajam ke arah Raya yang sepertinya masih akan mengeluarkan unek unek nya yang tertahan di dada.


"Abang, kenapa abang malah menyuruhnya pergi begitu saja, dia sudah mengganggu acara kita, aku gak suka dia dengan seenaknya mengacaukan kebersamaan kita ini," protes Cila karena Toni malah menyuruh Raya pergi, seolah tunangannya itu sedang sengaja melindungi Raya dengan menyuruhnya pergi, di tau kalau dirinya bisa saja berbuat nekat bahkan tak segan untuk menyerang bahkan meyakiti Raya, tak peduli dulu mereka pernah bersahabat sekalipun.


"Tolong jangan buat keributan di tempat umum seperti ini!" ucap Toni masiih dengan nada bicara yang datar meski terlihat menahan marahnya sekuat tenaga.


"Dia yang memulai keributan duluan, apa maksudnya coba datang dan tiba tiba minta bergabung bersama kita, lalu mengarang cerita seolah olah aku dan ayah ku memaksa mu untuk berunangan dengan mu?" sewot Cila tak terima.


"Okay,,, aku juga sudah muak dan malas berada di sini, ayo Dil, kita pulang, nafsu makan ku hilang seketika melihat wajahnya!" Raya melepaskan tautan tangannya dengan Toni lalu bergegas berdiri dan meninggalkan meja itu dengan menarik tangan Dila agar pergi menjauh dari sana.


"Hey pelakor, jangan kabur lo !" teriak Cila,namun Raya tak memperdulikannya dia tetap berjalan tanpa mau menoleh apalagi berbalik ke arah di mana Cila dan Toni berada.


Rasa hatinya sudah lumayan sedikit plong setelah membuat Cila meradang karena niat dia mempermalukan Raya di depan umum malah berbalik seperti mempermalukan dirinya sendiri.


"Cila, sikap mu keterlaluan, memalukan !" bentak Toni yang langsung berdiri lalu mengikuti jejak Raya meninggalkan Cila sendirian dengan rasa marah, kesal dan malu yang mengaduk aduk emosinya di dalam dada.


"Pergi saja sana, susul selingkuhan mu itu, kalian sama sama berengsek!" teriaknya putus asa karena tak dapat menahan langkah Toni untuk tak pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Air mata Cila menganak sungai di pipinya,dia takpedulipandangan orang lain yang menatapnya dengan pandangan sinis, aneh, bahkan mengasihaninya.


Cila tersakiti oleh harapannya sendiri, terluka oleh asa nya di mana dia terlalu percaya diri kalau bahagianya akan terwujud hanya dengan cara dia memiliki Toni, pria yang menjadi objek obsesinya semenjak jaman sekolah dulu, dia tak peduli jika itu da dapatkan dari cara memaksa atau dengan cara menyakiti orang lain, dengan cintanya yang sangat besar pada Toni, dia yakin akan bisa membahagiakan Toni sekali gus mewujudkan kebahagiaannya sendiri.


Cila lupa kalau yang menjamin kebahagiaannya adalah dirinya sendiri, bukan Toni atau siapapun, kebahagiaan itu hanya diri kita sendiri yang bisa menciptakan, bukan tergantung pada orang lain.


***


"Aduh Raya, kok malah di bongkar sih, mati lah aku,,, Lion pasti akan murka pada ku, aku akan buat surat wasiat dulu lah sebelum Lion datang ke sini dan membunuh ku," ucap Panca yang baru saja mendapat cerita dari Dila kalau Raya baru saja bersitegang dengan Cila dan Raya mengatakan tentang pertunangan paksa itu.


"Aku tak sengaja mas, lagi pula aku tak bilang kalau aku tau cerita ini semua dari mas Panca, lagian tadi aku kelepasan, emosi liat wajah si Cila," Raya mencoba ber alibi.


"Tak perlu kamu mengatakan siapa yang telah memberi tahu mu tentang masalah itu aku sudah tau siapa penghianat itu!" Toni yang tau tau sudah berada di teras rumah mnatap tajam Panca yang ketakutan.


"Kamu harus berhadapan dengan ku kalau kamu ingin mencoba mengusik mas Panca," ucap Raya seraya bergeser dan kini berdiri tepat di hadapan Panca menjadikan dirinya tameng hidup untuk pria yang sedang di landa ketakutan itu.


"Di bayar berapa kau, untuk menjadi bodyguard si mulut ember ini?" tatapan Toni kini mau tidak mau beradu dengan tatapan tajam Raya yang seakan tak ada sedikit pun rasa takut pada nya, malahan terkesan menantang nya.


"Tidak semua di harus ukur dengan uang, dia sahabat yang baik buat ku, dan juga buat mu, dia hanya tak tega melihat kita yang harus saling tersksa dengan perasaan kita, dalam hal ini aku yang justru meragukan mu, benarkah kamu mencintai ku, seperti yang sering kamu ucapkan pada ku ?" mata Raya memicing tajam bak mengandung sinar laser yang menyilaukan nya sehingga Toni harus mengalihkan pandangannya karena tak kuasa menerima tatapan itu.


"Apa maksud mu, kenapa aku yang menjadi tersangka sekarang?" elakToni.


"Tentu saja, kamu satu satunya tersangkanya di sini, gara gara kamu mengambil kepututusan bodoh dan konyol sehingga semua menjadi seperti ini, atau kamu memang benar benar mencintai Cila dan memang merasa senang bertunangan dengan nya, bukan kah itu artinya kamu berbohong kalau kamu mengatakkan mencintai ku ?"serang Raya, membuat Toni tak bisa berkutik, melawan wanita yang sedang marah memang tak akan ada menangnya, semua argumen yang di katakan Toni pasti akan dengan mudah Raya patahkan.


"Tidak seperti itu,,,, bukan seperti itu maksud ku, aku mencintaimu sungguh !" sang singa jantan kembali menjadi kucing lucu yang tak bisa berbuat apa apa jika di depan pawangnya.

__ADS_1


"Kalau kamu mencintai ku, lalu kenapa kamu mengambil keputusan sendiri, kamu pikir aku akan bahagia dan berterima kasih setelah kamu mengorbankan diri mu sendiri hanya untuk demi membantu menyelesaikan masalah ku ?" Nah kan, perkataan Toni yang hanya beberapa patah kata saja, langsung di balas Raya dengan beberapa paragraf.


"Tapi---"


"Kamu pikir kamu keren, berkorban demi aku, mengorbankan seumur hidup mu bersama wanita yang katanya tidak kamu cintai, tapi entah lah !"


"Aku melakukan semuanya demi kamu, aku benar benar tak pernah mencintai Cila," kali ini Toni bermain jujur, barangkali pawangnya ini tak terus terusan murka padanya.


"Lantas apa kamu tak memperdulikan perasaan ku? Egois !" marah Raya belum juga mau mereda.


"Kalian masuk kamar saja lah, jangan berantem di sini," sela Panca.


"DIAM !" pekik Toni dan Raya serempak, membuat pria itu seketika ngacir meninggalkan mereka berdua, membawa Dila serta bersamanya.


"Maafkan aku, aku salah, aku akui aku ceroboh dalam mengambil keputusan, tapi aku benar benar kalut saat itu, tak ada opsi lain selain menerima tawaran Rolan," Toni mulai mengemukakan alasannya.


"Kamu tau,,,, kualitas hidup manusia itu di tentukan oleh keputusan hidupnya, akumulasi keputusan yang di ambilnya akan menunjukkan bagaiman karakter diri kita," suara Raya agak melemah,ketegangan di wajahnya juga sudah hampir tak terlihat.


kini Raya duduk di kursi teras rumah Panca, matanya menatap nanar jauh ke sana, entah apa yang menjadi objek tatapannya.


"Apa yang kamu hasilkan dari pengorbanan mu itu selain hanya membahagiakan Cila yang memang terobsesi untuk memiliki mu dan kebahagiaan ayahnya yang memang sejak dulu mengharapkan kamu terjerumus dalam dunia bisnis hitamnya?" Raya mendapat kan cerita itu juga dari Panca, tentang Rolan dan bisnis hitamnya.


Toni terdiam membeku, jika di pikir lagi, tak ada yang Rolan lakukan untuk membantunya dalam menyelesaikan satu pun masalah keluarga Raya, tentang informasi tempat penyekapan Arsan yang ternyata bocor saat dirinya datang ke tempat itu, tentang janji ketemu membicarakan masalah Karina yang ternyata malah dirinya terjebak untuk menemani Cila makan, jika dipikir lagi saat ini, memang agak janggal, Rolan mengajaknya bertemu di Mall, padalah selama ini biasanya mereka bertemu dan berbicara di rumah Rolan atau di sasana, sayangnya Toni telalu gampang senang akan mendapatkan info yang dapat membantu Raya, sehingga tanpa pikir panjang lagi dia menuruti arahan Rolan begitu saja.


Sungguh Toni memang memerlukan pawang seperti Raya agar dia tak bertindak sesuka hati dan mengambil keputusan dengan ceroboh.

__ADS_1


__ADS_2