Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Curhatan Mantan


__ADS_3

Martin berlari menghampiri Sabrina yang di ketahuinya tadi sempat di serang dua orang tak di kenal.


"Sayang, apa yang terjadi, apa kamu baik baik saja ?" Martin menunjukkan perhatiannya pada wanita yang kini akan menjadi sumber uangnya itu.


"Aku baik baik saja !" ketus Sabrina sambil menepis tangan Martin yang mencoba mengelus rambutnya.


Entahlah setelah melihat Toni yang tadi berkelahi dengan para penyerangnya, Toni menjadi berkali lipat lebih keren di matanya, di banding Martin yang saat ini seolah terlihat bak pecundang yang tak mampu menjaga kekasihnya.


Sabrina tau kalau tadi Toni tak fokus saat melawan para penyerangnya, matanya beberapa kali menangkap Toni sedang memperhatikan dimana arah empat orang lainnya yang sedang berkumpul, sehingga Sabrina menyimpulkan hal itu di sebabkan oleh Toni yang sepertinya sedang khawatir dengan keselamatan Cila sang tunangan di sana. Setidaknya itu yang ada di pikiran Sabrina, meski kenyataannya yang sedang Toni khawatirkan saat itu bukanlah Cila seperti yang di pikirkan Sabrina, melainkan keselamatan Raya.


Tapi Lion tetaplah Lion, dalam hati Sabrina memuji meski fokusnya terbagi, kehebatan Toni dalam bertarung tetap terlihat jelas di matanya yang memang juga seorang yang menguasai bela diri.


Sepertinya kini Sabrina punya idola lain, dan Toni mendapat fans baru, sementara Cila,,, karena idenya yang mengikut sertakan Sabrina dalam acara hari ini, sepertinya dia harus bersiap siap mendapatkan saingan baru yang tak bisa di anggap sepele.


Senja telah datang, semenjak kejadian penyerangan tadi siang, wajah Cila tak se berseri sebelumnya, di tambah lagi Toni yang seakan di monopoli Sabrina dengan alasan pembicaraan bisnis, jadilah dirinya yang kesepian, karena Martin memilih bergabung dengan Raya dan Panca menikmati pemandangan laut sore hari dari ujung halaman vila yang memang berhadpan langsung dengan laut lepas.


"Kamu menyukai nya ?" tanya Martin yang memberanikan diri mendekati Raya yang sedang berdiri sambil sesekali matanya mencuri pandang ke arah Toni yang juga sedang berdiri sambil berbincang serius dengan Sabrina agak jauh dari tempat mereka, sementara Panca duduk di kursi teras sambil matanya tetap fokus memperhatikan Raya, dia tak ingin kecolongan hal buruk terjadi pada Raya, apa lagi setelah penyerangan yang terjadi pada Sabrina tadi siang, Panca tak ingin mati muda di tangan sahabatnya sendiri karena di nilai tak mampu menjaga Raya.


"Apa maksud mu ?" sinis Raya membuang pandangannya ke laut lepas, melihat ombak yang yang bergulung lalu pecah di pantai, seperti hatinya ang kini tengah bergelombang dan di gulung rasa kesal karena sejak tadi Toni seakan mengabaikan dirinya, sekalipun tak pernah menyapanya semenjak mereka datang ke tempat itu, seolah mereka berdua adalah orang asing yang tak pernah saling mengenal sebelumnya.


Entah peran apa yang sedang Toni mainkan sekarang ini, yang jelas hatinya merasa sangat kesal dan marah melihat itu semua.


"Kamu, menyukai bodyguard mu itu, kan ?" Martin memperjelas pertanyaannya.

__ADS_1


"Pertanyaan bodoh,!" cibir Raya yang seakan enggan menjawab pertanyaan konyol sang mantan tunangannya itu.


"Apa kamu tau dimana Karina saat ini ?" Raya mengalihkan topik pembicaraannya, dia teringat akan ibu tirinya yang mungkin masih berhubungan atau sekedar masih menjalin komunikasi dengan Martin yang nota bene mereka adalah sepasang kekasih.


"Bunda mu ?" Martin mengernyitkan dahinya.


"Ya, aku tau kalian sudah lama berhubungan di belakang ku, bahkan aku tau kamu sering menginap di rumah diam diam," ucap Raya datar seperti tak menunjukkan ekspresi marah atau kesal saat mengungkapkan hal itu.


"Ah,,, itu,,, anu,,, dia yang memaksa ku, dia yang---" Martin terlihat serba salah dan gugup.


"Itu urusan kalian, aku tak peduli sama sekali, yang aku ingin tau, dimana Karina sekarang ?" tanya Raya memutar wajahnya hingga bersitatap dengan Martin yang dulu sempat menjadi kekasih yang sangat di cintainya, bahkan dengan bodohnya, dia sempat berharap ingin menikah dengan pria berengsek itu.


Untung saja Tuhan segera membongkar kedok Martin dan menampakkan wajah asli dari pria yang sempat setahun menjadi tunangannya itu, sehingga Raya terhindar dari rencana busuk Martin dan ibu tirinya.


"Sudah lama rasanya Karina tak pernah menghubungi ku, aku juga lama tak menghubungi nya, semenjak upayanya untuk mencelakakan mu waktu itu, aku memang jahat, tapi aku tak sampai hati kalau sampai harus mereka yasa kecelakaan mu demi harta." urai Martin bercerita dengan lancarnya.


"Tentu saja, kau pikir itu kecelakaan biasa ?! Karina tak terima karena aku melamar mu saat itu dan meminta mu untuk segera menikah dengan ku saat itu." terangnya.


"Tapi, bukankah yang melakukan itu semua anak buah dari ayah kekasih mu itu ?" Raya memajukan dagunya menunjuk ke arah Sabrina, karena setahu dirinya dan Toni, yang merekayasa kecelakaan nya adalah anak buah Cobra, terbukti dari rekaman dashboard mobil yang memperlihatkan dua orang pria yang mengikutinya itu mempunyai tato ular di tangannya.


"Karina menyewa jasa mereka, setelah upaya penculikan oleh preman kampung yang di sewanya tidak berbuah hasil, dia menyewa anak buah Cobra agar rencananya berjalan mulus, namun untungnya, Tuhan masih melindungi mu!" papar martin mengurai satu persatu kejadian yang selama ini masih menjadi tabir misteri bagi Raya.


"Bahkan penculikan itu ?" pekik Raya,teringat dirinya yang hampir di perkosa dan hampir mati di bunuh akibat kejadian itu.

__ADS_1


"Hemh,,,aku bertengkar hebat dengan Karina, dan kita memutuskan untuk jalan sendiri sendiri karena aku tak setuju dengan semua rencana rencana jahatnya yang menurut ku sangat di luar batas, dan menurut ku kami sudah tak sejalan," Martin mengangguk.


Raya menatap dalam mata Martin, sepertinya tak ada kebohongan dari semua yang di ucapkannya, terlihat kilat kejujuran di kedua maniknya.


"Dan kenapa kamu menceritakan semuanya pada ku saat ini ?" selidik Raya, karena Martin tiba tiba dengan entengnya menceritakan semua kebusukan ibu tiri nya pada dirinya saat ini.


"Aku tak ingin menyimpan rasa bersalah pada mu terlalu lama, aku sudah sangat jahat padamu selama ini, aku ingin memulai lembaran cerita baru dalam hidup ku, aku sepertinya akan berusaha mulai mencintai Sabrina," ucapnya tulus, tanpa dia tahu hati Sabrina sepertinya kini mulai terpaut pada sosok Toni yang perlahan telah menyita perhatiannya.


"Aku tau aku hanya di jadikan alat balas dendam Sabrina pada mu, dan aku juga tak tau masalah apa yang terjadi antara kamu dan Sabrina sebelumnya, yang jelas perlahan aku akan membuat Brina mencintai ku, dan meredakan kebeciannya pada mu, anggap saja ini penebusan dosa dosa ku pada mu," ucap Martin terdengar tulus.


"Boro boro kamu, aku saja tak tau apa yang membuat kekasih mu itu begutu membenci ku, padahal bahkan aku tak pernah mengenal dia sebelumnya," cicit Raya kembali melempar pandangannya ke laut lepas memandangi matahari yang mulai menghilang di telan lautan, jauh di ujung sana.


"Aku akan membantu mu mencari tau, percayalah !" martin menepuk bahu Raya pelan, sebenarnya tak ada niatan dirinya untuk mencelakakan Raya, itulah yang membuatnya murka pada Karina yang bertindak di luar sepengetahuannya, Martin akui di memang gila harta dan kekuasaan, tapi dia tak pernah setuju jika harus melakukan pembunuhan atau sejenisnya demi mencapai semua itu.


"Ehemmm,,,!" Suara dehaman seorang pria mengagetkan Martin yang saat itu berdiri di samping Raya.


Rupanya Toni dan Sabrina kini telah berada di dekatnya, sejak tadi pandangan Toni terkunci pada dua orang mantan kekasih yang terlihat sangat akrab, sungguh hatinya sangat geram dan marah, apalagi saat melihat Panca yang malah membiarkan Raya berduaan dengan Martin, sementara dirinya mati matian sengaja mengalihkan perhatian Sabrina agar tak menyenggol Raya.


"Sayang, sudah selesai pembicaraan bisnisnya ?" tanya Martin pada Sabrina yang memandangnya dengan pandangan tak suka karena melihat pria itu berduaan dengan mantan kekasihnya sekali gus wanita yang sangat di bencinya itu.


"Dan kau,, apa kau sudah selesai bernostalgia dengan mantan kekasih mu itu ?" sinis Sabrina melempar tatapan tak sukanya pada Raya.


"Kami hanya mengobrol biasa, sayang. Tak ada hal yang lain lain," elak Martin.

__ADS_1


"Yaa,,, namanya juga pernah lama bertunangan, dan bertahun tahun jadi pasangan kekasih, sepertinya untuk melupakan begitu saja kenangan yang pernah terjalin itu akan sangat berat, apalagi suasana nya sangat mendukung seperti ini, pastilah akan ada sedikit tak sengaja kilas balik mengingat moment indah, ck,,,, seharusnya kalian menghargai pasangan kalian yang sekarang, kasian kan, Sabrina dan koh Panca !" seakan mendapat celah yang sempurna, Cila langsung saja menyambar tanpa menyia nyia kan kesempatan emas yang sejak tadi pagi di tunggunya, bahkan sejak semalam di rencanakannya itu.


"Kami hanya berbincang biasa saja, lagi pula, tak ada hal manis yang perlu kami kilas balik, semua cerita di antara kami sudah selesai !" ketus Raya meninggalkan orang orang yang seakan memandangnya dengan penghakiman, tak terkecuali Toni, yang terlihat ikut memandangnya dengan pandangan yang seakan sulit di artikan namun seperti menyimpan amarah.


__ADS_2