Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Apa kamu kini sudah tak peduli dengan suami mu ini, bahkan jika sampai dia meminta menikah dengan ku kamu akan menyuruh ku untuk memenuhi keinginan nya?" sewot Toni tak dapat lagi menahan diri.


"Itu gak mungkin!" cicit Raya.


"Gak mungkin gimana, kamu itu sekarang berubah, selalu bertindak semau mu, tanpa berpikir apakah aku setuju atau tidak, apakah itu membahayakan dimasa depan atau tidak," marah Toni mengungkapkan kekesalannya yang selama ini dia pendam sendiri dalam hatinya.


Mendengar kemarahan suaminya tanpa menunggu lama Raya langsung menangis tersedu saat itu juga, bahkan tangisannya terdengar begitu membuat Toni juga tak tega mendengarnya dan mengakhiri sesi marahnya.


"Aku-aku juga tak tau kenapa aku jadi seperti ini, ini sungguh bukan keinginan ku, aku sellu bertindak aneh dan di luar keinginan dan kehendak ku sendiri," ucap Raya dalam isak tangisnya.


Toni sedikit berpikir dan mengingat-ingat sesuatu, setelahnya dia segera membelokan kendaraan yang sedang di lajukan nya itu menuju sebuah klinik.


"Kenapa membawa ku ke sini, apa kamu juga menganggap aku depresi? Atau malah menganggap ku gila?" Protes Raya tak terima.


"Patuhlah, aku mencurigai sesuatu, dan aku harus mengetahui jawabannya sekarang juga untuk menghilangkan kecurigaan ku ini." Toni memerkirkan kendaraannya di pelataran klinik yang lumayan besar itu.


"T-tapi--"


"Tolong diam dan ikuti kata-kata ku sekali ini saja!"


Raya kembali terdiam dan hanya ikut saja bahkan saat saang suami mendaftarkan dirinya untuk bertemu dengan seorang dokter kandungan.


Toni menceritakan kecurigaan atas perubahan sikap istrinya dan mengungkapkan keinginannya untuk dokter wanita itu memeriksa istrinya karna kata hatinya mengatakan kalau Raya kini sepertinya sedang mengandung, karena sungguh sikapnya di luar kebiasaan seorang Raya yang selalu penurut dan mengikuti apa yang di katakannya.


Dan ketika di ngat-ingat lagi dia juga tak pernah mendengar keluhan sakit perut Raya saat dirinya datang bulan, karna biasanya Raya selalu heboh kalau saat datang bulan, dia selalu kesakitan dan Toni pasti tau.

__ADS_1


"Baiklah, untuk menjawab semua rasa penasaran bapak, lebih baik kita langsung periksa saja, silakan ibu naik ke tempat tidur dan brbaring di sana, kita akan melihat dan memastikannya lewat USG." Ucap dokter itu ramah.


"Sayang, kamu ini apa-apaan, aku tidak--" Raya terlihat enggan untuk melakukan apa yang di perintahkan dokter itu, melihat ranjang rumah sakit dan harus berbaring di atasnya membuat dirinya merasa sedikit trauma karena seketika bayangannya di rawat begitu lama di rumah sakit di luar negeri membuatnya menjadi ketakutan, selain dirinya harus berpisah dengan suaminya, dia juga kerap kali merasakan kesepian di sana.


"Percayalah, aku akan menemani mu dan selalu berada di sisi mu," Toni seperti tau akan kecemasan dan ketakutan istrinya itu, sehingga dia langsung menuntunnya dan selalu memnggenggam tangan istrinya tanpa di lepaskan meski sebentar, membuat dokter itu tersenyum sendiri melihat perlakuan manis Toni pada istrinya itu.


Setelah dokter itu mengoleskan gel khusus di atas perut Raya, lantas dokter itu mulai menggerak-gerakan sebuah alat yang terhubung dengan monitor yang berada tepat di atas kepala Raya yang sedang terbaring menunggu hasil yang di sampaikan dokter itu atas pemeriksaan yang di lakukannya.


"Selamat pak, bu, ada adik kecil di sini, tuh masih saangt kecil sekali, usianya masih baru enam minggu, ini yang titik hitam itu bayinya." Urai dokter itu ,menjelaskan dan menunjuk ke arah monitor.


Tetesan air mata itu menetes begitu saja dari sudut mata Toni yang selalu tampak gagah berani dan tak pernah takut dengan apapun, seorang petarung yang nyaris tak pernah terkalahkan itu harus kalah saat mendengar penyataan dokter tentang istrinya yang sedang mengandung buah cintanya.


Ini memang situasi yang membuatnya sangat emosional, sungguh pria garang itu tak pernah menyangka kalau dia akan mempunyai seorang anak dari seorang wanita yang sangat di cintainya itu.


Tak pernah trbayangkan sedikit pun dalam angannya jika dia akan memiliki istri lalu sekarang di titipi seorang anak, dimana sebelumnya dirinya selalu mereasa kalau dirinya hanya seorang pria jalanan yang tak jelas dan tak punya orang tua dengan asal usul yang tak jelas, bahkan kehidupannya pun bisa di bilang begitu suram karena tak punya pekerjaan tetap dan hidupnya hanya di habiskan untuk bertarung, juga melakukan hal-hal yang tak jelas.


"Ah, iya, maaf. Aku sepertinya melamun," Toni mengusap kasar wajahnya dan segera mengembalikan kesadarannya, dia juga mengusap tetesan air matanya yang ternyata tak terasa terus saja menetes dari sudut matanya.


Kii giliran Raya yang berkonsultasi dengan dokter kandungan itu bertanya tentang seputar masalah kehamilan yang baru pernah di alaminya membuat banyak hal yang ingin di tanyakannya pada dokter wanita itu.


Sepasang suami isteri itu masih terlihat tak percaya namun aura bahagia masih terlihat jelas saat kedua orang itu keluar dari bangunan klinik menuju pelataran parkir.


Toni juga menjadi terlihat sangat protektif pada istrinya, tanpa rasa malu bahkan Toni tak segan menuntun sang istri di sepanjang jalan memperlakukannya seperti dia sedang membawa sebongkah berlian yang rentan rusak ataupun pecah.


"Hati-hati,!" pekik Toni saat mereka menuruni sebuah undakan di pelataran parkir klinik itu.

__ADS_1


"Sayang, tolonglah! Aku ini sedang hamil, bukan sedang sakit parah, kamu terlalu berlebihan dalam memperlakukan ku," Protes Raya yang merasa risik dengan perlakuan Toni padanya.


"Iya, aku tau, tapi kamu juga kan, harus hati-hati. ada bayi kita di dalam sini," tunjuk Toni ke perut istrinya yang masih terlihat rata itu.


Tak dapat terlukiskan bagaimana bahagianya pria itu dalam menyambut kehadiran calon bayi mereka yang akan hadir dalam beberapa bulan lagi, bahkan Toni sudah dapat membayangkan bagaiman istrinya jika kelak perutnya sudah membesar, sehingga senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.


"Aku tak mau kamu cape atau memikirkan apapun lagi setelah ini, aku juga akan mencari asisten rumah tangga untuk menngerjakan semua pekerjaan rumah dan menemani mu saat aku keluar rumah, kamu juga sudah tak boleh lagi bekerja di Lubis corp, biar nanti aku yang berbicara pada Sabrina, biar aku saja yang menggantikan mu," sederet peraturan baru mulai di keluarkan oleh Toni.


"Kenapa bisa begitu?" Protes Raya yang merasa kegiatannya menjadi di batasi dan dia akan merasa bosan setiap hari di rumah jika semua kegiatannya tidak boleh di lakukan dan di larang oleh suaminya.


"Aku tak mau terjadi apa-apa dengan mu dan juga bayi kita," elak Toni beralasan.


"Tapi bukan berarti aku di penjara di rumah, kan?"


"Kamu masih boleh berkegiatan di luar rumah slama itu tidak membahayakan, tidak membuat mu lelah, dan yang paling penting aku harus menemani mu." Pungkas Toni tak ingin di bantah lagi, keputusannya sudah bulat dan tak ingin sang istri banyak berkegiatan yang menguras tenaga dan pikirannya.


**


"Lapor bos, saya sudah mengikuti mereka, dan mereka tadi sempat mampir ke sebuah klinik dan masuk ke poli kandungan." Suara sseeorang di ujung telepon melaporkan apa yang tadi di lihatnya lalu percakapan itu berakhir begitu saja, karena si penerima telepon mengakhiri panggilannya secara sepihak.


"Arrrghh, berengsek!"


Seketika ruangan itu menjadi kacau balau akibat benda-benda yang berterbangan dan tak lagi berada di tempat asalnya karena amukan si pemilik ruangan.


"Kau tak boleh bahagia, kau tak boleh merasakan apa yang namanya bahagia, aku tak akan membiarkannya, akan ku pastikan kau menderita sampai akhir hidup mu!" Teriak nya memenuhi seisi ruangan.

__ADS_1


Sungguh dia tak rela dan tak terima mendengar kabar bahagia itu, karena baginya bahagia itu seharusnya hanya milik dirinya sorang.


__ADS_2