
Panca dan Raya di buat terkaget kaget, saat mobil mereka baru mau sampai rumah, ternyata Toni sudah duduk manis di atas motornya, maaf ralat bukan duduk manis tapi duduk sangar di depan bengkel, menghalangi laju mobil Panca yang akan masuk ke garasi malam itu.
Bagaimana bisa pria itu sudah nangkring di depan rumah Panca, sementara tadi rasa rasanya mereka pulang dari pantai beriring iringan, kenapa cepat sekali dia mengantarkan Cila lalu mengambil motornya di kost, kemudian sekarang berada di depan bengkel sahabatnya, apa pria itu mengendarai buroq ? pikir Panca dan Raya keheranan.
"Lambat sekali kau berkendara, seperti mengendarai siput saja !" protes Toni.
"Apa tadi lo terbang ? Kenapa bisa sudah ada di sini sekarang ?" tanya Panca yang kini sedang membuka pintu garasi mobilnya.
"Kenapa ? Apa kau merasa keberatan aku datang ke sini " semprot Toni.
"Ish, lo ini lagi kenapa sih, bro ? Dateng dateng sewot !" cicit Panca yang hanya di abaikan begitu saja oleh Toni, karena pria itu lebih memilih memasukkan motornya ke dalam garasi yang kini telah terbuka itu, lalu berjalan masuk ke dalam rumah mewah Panca yang tersembunyi di balik bengkelnya itu.
Sementara Raya yang baru turun dari mobil bersikap acuh tak acuh dengan kedatangan Toni di sana, meski jujur saja dirinya merasa sedikit penasaran, akan maksud kedatangan pria yang sejak tadi mengacuhkan dirinya itu, makanya sekarang Raya membalas perlakuan Toni dengan balik mengacuhkan pria yang berhasil membuatnya merasa kesal plus cemburu selama seharian ini.
"Raya !" panggil Toni, saat Raya melewatinya begitu saja, bahkan tak meliriknya sama sekali.
"Apa kita saling mengenal ?" sarkas Raya menoleh dengan raut wajah yang di buat malas, dirinya masih merasa kesal dengan sikap Toni tadi selama di pantai.
"Jangan bersikap kekanakan, sini, kita perlu bicara !"ucap Toni menepuk kursi di sebelahnya yang kosong.
"Siapa yang kekanakan, bukankah kau yang duluan bersikap seolah tak mengenal ku tadi ?" sewot Raya, tetap bergeming tak berniat menuruti ucapan Toni padanya.
"Jangan keras kepala, aku ada rencana yang akan di jalankan, dan kau harus tau tentang ini semua agar tak salah paham," ucap Toni memasang wajah serius.
"Bukankah itu rencana mu, untuk apa membicarakannya dengan ku ?" gengsi Raya masih terlalu tinggi untuk beranjak dari tempatnya berdiri, meski hati kecilnya sangat ingin melompat dan duduk di sisi Toni lalu bersandar di pundaknya dan memeluk pinggangnya dengan erat, lalu menciumi pipi yang di tumbuhi bulu bulu halus itu sebagai hukuman karena telah mengacuhkan dirinya seharian, huffftt,,, tapi itu semua hanya sebatas dalam hayalan dan angan Raya semata.
"Hey,,, di ajakin rembugan malah ngelamun, cepet samperin sana, ntar keburu keluar tanduknya dia, malah berabe !" Panca membuyarkan lamunan Raya.
Dengan pura pura berat hati Raya menghampiri Toni, namun tak duduk di dekatnya, dia lebih memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu, dia takut tiba tiba dirinya kehilangan kendali dan melakukan apa yang tadi ada dalam lamunannya.
"Apa yang tadi kau bicarakan dengan Martin ?" tanya Toni menatap serius.
"Kenapa aku harus memberitahukannya pada mu tentang apa yang kami bicarakan ?" ketus Raya.
__ADS_1
Toni menghela nafas beratnya, dia harus lebih bersabar menghadapi Raya yang sepertinya sedang kesal padanya itu.
"Kenapa kau marah pada ku ?"
"Siapa yang marah pada mu, aku tak peduli meski kamu mesra mesraan sama Cila lalu berdua duaan sama Sabrina, terserah, gak ada hubungannya dengan ku, emang dasarnya aja buaya, ada cewek cantik langsung aja deketin, sampe lupa kalau sudah punya tunangan,,,!" omel Raya yang mengatakan kalau dirinya tidak marah dan tak peduli dengan sikap Toni tapi cara gadis itu menyampaikan perkataannya itu dengan penuh kesal dan berapi api, sampai Toni yang mendengarkan itu semua menahan tawanya, karena merasa Raya saat ini sepertinya sedang kesal karena cemburu atas kebersamaannya dengan Sabrina tadi.
"Aku dan Sabrina sedang ada bisnis bersama jadi kita hanya membicarakan bisnis saja,!" terang Toni dengan nada bicara yang tenang, mengimbangi Raya yang kini sedang berapi api.
"Siapa peduli, gak ada urusan, mau bisnis kek, pacaran kek, emangnya aku peduli, gak ada hubungannya sama aku, ngapain juga pake acara ngejelasin segala rupa, terse---"
Cup !
Omelan panjang lebar Raya harus terhenti saat tiba tiba bibirnya di cium sekilas oleh Toni yang tanpa di sadari kapan datangnya, pria itu kini sudah duduk di sebelahnya, memandangi wajah Raya dari jarak yang sangat dekat dengan wajahnya.
Sontak saja tubuh Raya mematung dan membeku beberapa saat, nyawanya seakan loncat dari raganya seketika.
"Udah ngomel nya ?" tanya Toni yang tetiba tak dapat menahan rasa gemasnya pada Raya yang terus saja mengungkapkan kekesalannya karena cemburu dengan dirinya dan Sabrina.
"Kau berbicara terus tanpa henti, kau tak perlu cemburu baik itu pada Cila, maupun pada Sabrina, aku tak menyukai keduanya, aku bersumpah !" ucap Toni mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya di samping wajahnya membentuk huruf V.
"Ckk,,, tak menyukai tapi bertunangan, tak menyukai, tapi di pepet terus ! Lagian siapa juga yang cemburu, pede amat !" cebik Raya memalingkan wajahnya jauh dari Toni.
"Tapi aku cemburu melihat mu berduaan dengan Martin, aku juga cemburu saat tau kamu dan Panca hanya berduaan di rumah ini !" beber Toni mengungkapakan perasaannya, dia ingin memberitahukan pada Raya apa yang tengah di rasakannya saat ini.
"Eitsss,,, kenapa bawa bawa nama gue !? Gila lo ya, masa cemburu sama gue !" protes Panca yang kini bergabung duduk bersama mereka berdua.
"Aneh, lagian ngapain cemburu, siapa siapanya aja bukan, urusi noh, tunangan mu !" cibir Raya.
"Kalian ini, sama sama saling cinta kok sama sama gengsi,!" ledek Panca yang berhasil membuat Raya lagi lagi tersipu malu.
Akhirnya Raya menceritakan semua yang Martin ceritakan padanya tentang Karina yang ternyata berada di balik penculikan dan di balik kecelakaan mobil yang menimpa dirinya, pada Toni dan Panca.
Mendapat cerita seperti itu, Toni dan Panca saling melempar pandangan, mereka merasa janggal, karena sejauh yang mereka berdua telusuri, ceritanya tak seperti itu, bahkan si penculik saat Toni siksa di sasana jelas jelas mengatakan kalau orang yang menyuruhnya adalah Martin, namun Toni tak mengatakan itu semua pada Raya demi menjaga persasaannya saat itu, sementara untuk kecelakaan mobil yang menimpa Raya saat itu, Cobra sendiri bahkan sudah mengklaim kalau itu adalah ulahnya, dia memang menargetkan Raya.
__ADS_1
"Kenapa jadi berbeda seperti ini ceritanya, bro ?" protes Panca.
"Aku punya rencana meski terdengar agak sedikit gila, tapi rasanya tak salah jika di coba, jadi aku berencana akan mendekati Sabrina untuk mengetahui cerita versi siapa yang benar, gimana,,, apa kalian setuju ?" tanya Toni.
"Tidak setuju !" jawab Raya dan Panca secara kompak dan bersamaan.
"Kenapa ?" tanya Toni menoleh ke arah Raya.
"Ka-karena,,,,----" Raya kebingungan untuk mengatakan kalau dirinya tak rela kalau Toni harus bersekatan dengan Sabrina, melihat Cila yang terus menempel pada Toni saja hatinya terbakar, apalagi harus di tambaah Sabrina, yang mungkin akan bermesraan juga dengan Toni, bisa bisa hatinya gosong saking panasnya.
"Gue gak setuju bro, itu akan sangat beresiko, lo akan menjadi santapan Cobra dan Rolan karena di anggap mempermainkan anak mereka, kalau sampai ketahuan, gak usah pake gitu gituan lah, ngeri gue !" Panca bergidig ngeri membayangkan jika Cobra dan Rolan bersatu untuk membantai sahabatnya itu.
"Ya makanya, jangan sampai ketahuan, aku pikir cuma dengan cara ini akan lebih efektif dan cepat mendapatkan hasil, kita tak boleh buang buang waktu, harus bergerak cepat," ucap Toni, dia merasa yakin kalau dirinya bisa menaklukan Sabrina yang terlihat tertarik padanya, dan Toni juga yakin akan berhasil mengorek info dari putri kesayangan Cobra itu, dia hanya harus berpura pura meladeni rasa ketertarikan Sabrina pada dirinya, itu saja. Bukankah semua itu harus ada pengorbanan, dan dengan senang hati Toni siap berkorban asal hasil terbaik dapat di raihnya untuk Raya.
Tentang resiko, semua hal atau pekerjaan pasti mengandung resiko entah itu besar atau pun kecil, tinggal bagaimana kita berhati hati dalam melakukan tugas, dan berusaha meminimalisir resiko jika sampai misi gagal, sesederhana itu dalam pikiran Toni, tapi menjadi sangat rumit apa bila telah sampai di telinga Raya dan Panca.
Ada banyak kemungkinan buruk yang tiba tiba mampir di kepala Panca, ada perasaan tak rela dan takut kehilangan memenuhi pikiran Raya, namun semua itu akhirnya bisa Toni atasi, mereka berdua bisa mengerti dan menyetujui rencana gila Toni meskipun dengan berat hati.
"Terserah lo dah, bro ! yang jelas lo harus pastiin kalau lo harus selamat dan baik baik saja dalam menjalankan misi ini, karena kalau sampe lo kenapa kenapa, gue pastiin gue bakal kawinin Raya !" ancam Panca yang berujung dengan lemparan asbak Toni yang hampir saja mengenai kepala Panca jika saja pria itu tak segera lari menyelamatkan diri dari bahaya amukan sang singa.
"Toni, aku mau tanya sesuatu," ucap Raya serius.
"Kenapa tadi kamu cium aku ?" sambung Raya.
"Karena aku menyukai mu !" jawab Toni enteng.
"Toni ! kamu itu sudah bertunangan, tak pantas jika kamu berlaku seperi itu pada ku, atau kamu menganggap ku perempuan gampangan yang bisa kamu cium seenaknya ?" kesal Raya karena Toni seolah menganggap enteng tentang ciumannya tadi, sementara dirinya sudah sangat berbunga bunga saat mendapatkan ciuman itu, dia tak ingin merasa kegeeran dengan semua itu.
"Aku sudah bilang, aku menyukai mu dan hanya menyukai mu, aku tak pernah menganggap mu seperti itu, bagi ku kau berharga dan berarti," ucap Toni serius.
"Lantas, kalau aku berharga dan berarti untuk mu, kenapa kamu memutuskan untuk bertunangan dengan Cila ? Bukankah itu berarti kamu lebih mencintai Cila, karena pada akhirnya dia lah yang kamu pilih untuk di jadikan pasangan mu ? dan bukankah itu berarti apa yang kamu ucapkan pada ku barusan itu bohong dan tak ada artinya sama sekali ?" kejar Raya.
"Aku bertunangan dengan Cila, dan aku akan mendekati Sabrina dalam waktu dekat ini, semua itu aku lakukan karena aku merasa kalau kau sangat berharga dan berarti buat hidup ku !" ucap Toni seperti sedang memberi penjelasan yang tak bisa di terima di akal Raya.
__ADS_1