Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Cila Vs Brina


__ADS_3

Cila sudah menanti kedatangan Toni di halaman rumahnya, wajahnya sumringah karena saat berbicara di telpon tadi, Toni terdengar sangat manis dan lembut saat berbicara padanya, senyuman termanisnya langsung terukir sempurna saat motor Toni memasuki halaman rumahnya, sayangnya Toni yang medapat sambutan manis dari tunangannya itu lebih memilih mengabaikan kehadiran Cila yang di anggapnya angin lalu seakan Cila adalah sosok transparan yang tak teerlihat di mata Toni.


Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Cila yang kini senyuman manisnya berubah menjadi kecut, Toni langsung masuk ke dalam rumah megah Rolan, melewati pintu utama menuju ruang kerja Rolan, pria itu sudah biasa datang dan slonong boy ke rumah itu, apalagi dengan statusnya yang sekarang sebagai calon menantu Rolan, siapa yang berani menghalangi atau menegur nya.


Dengan wajah yang muram Cila mengekor langkah Toni, sungguh suasana hati tunangannya itu tak bisa dia tebak sama sekali, sebentar manis, sebentar dingin, sebentar galak, sebentar cuek, sebentar,,,,, sebentar,,, kayaknya kok banyak gak enaknya ya, sikap Toni sama Cila ?


"Abang,,,! Kenapa gak nyapa Cila ? Padahal Cila dari tadi nungguin abang di depan rumah," protesnya, suaranya hampir tak terdengar karena sepertinya wanita itu sedang menahan tangisnya agar tak pecah.


"Aku ada urusan penting yang harus di bicarakan dengan ayah mu, apa menyapa mu hal yang di wajibkan sekali di sini ?" jawab Toni bahkan tak menghetikan langkahnya, semua kata katanya terucap sambil dirinya yang tetap berjalan menuju ruang kerja Rolan.


"Ini salinan kerja sama antara kau dan Cobra," Toni melempar map coklat yang tadi di dapat dari Sabrina ke atas meja kerja Rolan.


Pria paruh baya itu tersenyum puas saat membaca lembar demi lembar kertas di dalam map itu. Sungguh Rolan sangat puas dengan kinerja Toni, dia memang sangat bisa di andalkan bahkan untuk urusan kerja sama sebesar itu.


"Cila, kamu keluarlah dulu, ayah aa hal yang harus di bicarakan dengan Lion !" titah Rolan.


Cila menghentakkan kakinya dengan kesal, bagaimana dia tak merasa kesal, tadi saat Toni datang dia di cueki, lalu saat dirinya ingin berdekatan dengan Toni, ayahnya malah mengusirnya pergi, belum lagi kejadian menyebalkan saat kemarin di pantai, niiat hati ingin memanasi Raya dengan memamerkan kemesraannya bersama Toni, lalu sengaja mengundang pasangan Martin dan Sabrina agar Raya lebih tersiksa melihat mantan tunangannya yang kini sudah berbahagia karena mendapatkan pendamping baru, namun apa daya seperti sedang merasakan apa yang di katakan senjata makan tuan, karena Toni lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Sabrina untuk membahas masalah pekerjaan mereka.


Tak sampai di situ, saat pulang dari pantai, bahkan dirinya di biarkan pulang sendiri malam malam karena di tengah perjalanan Toni mengatakan kalau dirinya harus pergi ke suatu tempat dan tak bisa di tunda. (Cila di bohongin Toni, padahal dia buru buru pulang ke kost untuk mengambil motornya lalu menyusul Raya ke rumah Panca,)


"tolong jangan sampai hal ini bocor ke pihak Cobra, aku percayakan semua ini pada mu !" ucap Rolan menutup pembicaraannya pada sang calon menantu.


Toni tersenyum smirk, mendengar permintaan Rolan padanya. Bagaimana tidak, dia baru saja memminta tolong padanya agar meredam kejadian penyerangan yang terjadi pada Sabrina kemarin saat di pantai, Penyerang Sabrina itu tenyata orang suruhan Cila putrinya sendiri, dimana katanya itu terjadi akibat duaorang preman bayaran daerah pantai setempat itu salah menerima informasi, dan akhirnya karena kesaahannya itu mereka malah menyerang Sabrina, bisa di bayangkan bagaimana murkanya jika Sabrina atau Cobra tau kalau kedua preman itu adalah suruhan Cila, kerja sama itu akan gagal dan permusuhan di antara mereka akan kembali mengobar.


'Wait, tdi rolan bilang salah sasaran ? itu berarti sebenarnya Cila sebelumnya menyuruh dua preman itu untuk menyerang Raya, dong ! Tak mungkin mereka di bayar untuk menyerang martin atau Panca, kan ?' pikir Toni.


"Lalu, siapa sasaran Cila yang sebenarnya, kalau penyerangan pada Sabrina itu dikatakan salah sasaran ?" tanya Toni memicingkan matanya pada Rolan yang terlihat gelagapan, tentu saja saat ini Rolan merasa serba salah, mana mungkin dia mengatakan kalau sasaran Cila sebenarnya adalah Raya, yang jelas jelas dia tau kalau Toni sangat menyukai gadis itu.


"Ah, itu,,, sorry, aku mohon kau bisa memaklumi sifat kekanakan Cila, dia hanya terbakar cemburu, yang penting tak ada yang terluka dalam kejadian kemarin, kan ?" Rolan tetap mengelak untuk menyebutkan nama Raya, bibirnya seakan berat menyebut nama itu.


"Siapa, sasaran yang sebenarnya ?" Toni mengulang pertanyaan nya, namun sayangnya Rolan masih setia mengunci mulutnya, sungguh saat ini merupakan situasi yang sulit buat Rolan, ibarat perumpamaan makan buah simalakama.


Toni dapat melihat kalau Rolan sepertinya tak mungkin mengatakannya,

__ADS_1


"Ya sudah, aku tak akan memaksa mu untuk mengatakan siapa, karena aku sudah bisa menebak, siapa orang yang menjadi sasaran Cila sebenarnya,"


"Aku minta maaf, aku pastikan hal ini tak akan terjadi lagi, aku yang menjamin nya !" ucap Rolan, setidaknya hanya itu yang bisa janjikan pada Toni, agar pria itu tak marah pada putrinya,Cila. Dan agar Toni masih mau melakukan apa yang di mintanya tadi, yaitu untuk meredam kejadian itu agar tak sampai di telinga Cobra atau Sabrina.


"Oh,,, pantas saja tadi Sabrina mengatakan ingin datang ke sasana mu sore ini, apa mungkin dia sedang mencari cari informasi mengenai kejadian kemarin, dan dia menaruh kecurigaan pada putri mu ?" Bual Toni mulai memancing di air keruh.


"Apa, putinya Cobra akan datang ke sasana, sore ini ?" Rolan mulai termakan hasutan bohong Toni.


"Ya sudah lah, nanti akan ku hadapi langsung, bagaimana pun Cila sekarng sudah menjadi tunangan ku, kalau ada apa apanya aku pasti akan terseret juga---" ucapToni bermain peran, seolah olah dirinya benar benar ingin melindungi Cila dari Sabrina dan Cobra.


"Yang penting, jangan ganggu bagaimana cara ku meredam semua ini, bukankah yang terpenting adalah hasilnya, bukan caranya, kan?" Toni merasa di atas angin, bagaimana tidak dia merasa saat ini sekali dayung dua pulau terlampaui.


Dia masih bisa menjalankan rencananya untuk mendekati Sabrina tanpa perlu takut atau sembunyi sembunyi dari Rolan dan Cila, karena dia mendapatkan kartu AS mereka.


Sore harinya saat Toni sedang asik berlatih bersama Burhan yang lama tak di temuinya, karena lama sekali Toni kini tak pernah lagi mengkuti pertandingan.


"Apa aku mengganggu latihan kalian ?" Sabrina menghentikan langkahnya saat melewati Toni dan Burhan yang seolah tak menyadari kehadirannya di sana.


Burhan tersenyum dan mengangguk hormat, pria itu cukup mengenal Sabrina yang merupakan putri sulung Cobra yang akan mewarisi semua bisnis ayahnya, Sabrina juga sering mengadakan beberapa event pertandingan tinju bebas dan bela diri lainnya karena kecintaanya pada seni bela diri, dan itu seringkali melibatkan Burhan dalam event event nya tersebut.


Toni tersenyum dalam hati, lalu mendekat ke arah Sabrina yang berdiri sambil menatapnya intens, wanita itu kini sudah tampil cantik dan sporty dengan celana pendek dan singlet hitamnya, memamerkan badannya terlihat sangat terjaga dengan otot otot kencang yang pasti hasil dari latihan teatur.


"Kau benar benar datang, itu berarti kau sedang merindukan ku, saat ini ?" bisik Toni menatap penampilan Sabrina dari atas sampai bawah, 'not bad,' pikirnya.


"Tentu saja aku akan datang, kau pikir aku akan takut?" Sabrina menyunggingkan senyumnya seoalh mengatakan kalau dirinya tak takut dengan Cila ataupun Rolan.


"Nyali mu boleh juga, jiwa pejuang mu tinggi !" Toni mengacungkan jempol tangannya memuji keberanian Sabrina.


"Aku jelas pasti akan beerjuang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,karenanya semua yang aku ingikan pasti akan aku dapatkan," cengir Sabrina.


"Oke, selamat berjuang !" ucap Toni melanjutkan latihannya bersama Burhan.


"Ayo, bukankah kita akan bertanding ?" tantang Sabrina,

__ADS_1


"Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya kalau aku tak bertanding dengan perempuan ?!"


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kau temani aku berlatih ?" ajak Sabrina.


"Abang,,,! Sejak kapan bang Lion berlatih bersama orang asing, lagi pula kenapa dia bisa berada di sini ?" seru Cila menghentikan kegiatan Sabrina yang kini sedang asik berlatih di temani Toni.


"Kenapa,?" bukankah tempat latihan ini di buka untuk umum, kenapa aku tak boleh datang ke tempat ini ? aku juga tak melihat ada peraturan dan larangan kalau aku di larang berlatih di tempat ini ?!" sinis Sabrina, menantang Cila lewat tatapan nyalangnya.


"Memang tak ada peraturan dan larangan untuk mu datang ketempat ini, dan benar ini tempat latihan umum, siapa pun boleh datang ke tempat ini, namun ada satu hal yang perlu kamu tau, tunangan ku ini bukan di peruntukkan bagi umum, jadi kamu bisa bebas berlatih dengan siapa pun, tapi tidak dengan tunangan ku !" tegas Cila seakan ingin menumpahkan kekesalannya dan melimpahkan semuanya pada Sabrina yang kebetulan menyalahinya saat ini.


"Jangan beralasan kalau kebersamaan kalian ini karena kerja sama bisnis, hey nona,,, partner bisnis mu ini tunangan ku, dia bukan pria single, jadi buang jauh jauh keinginan mu untuk menggoda dia, karena aku tak akan tinggal diam, dan aku tak pernah takut pada siapa pun yang akan mengambil atau mengusik milik ku, aku pasti akan melawannya,!" ancam Cila dengan nafas yang memburu karena di penuhi amarah, bahkan matanya kini teerlihat memerah dengan jari telunjuk yang di arahkan tepat ke hadapan wajah Sabrina yang tetap santai menghadapi kemarahan Cila saat ini.


"Cila !" bentakan Rolan mmbuat Cila terjingkat kaget, seumur umur, rasanya baru kali ini Rolan membentaknya dengan volume suara sekencang itu.


"A- ayah ?" kaget Cila, wajah Rolan bahkan tamak menunjukkan kemarahan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, sungguh Cila merasa aneh denga sikap Rolan padanya.


"Maafkan sikap tidak sopan putri ku, mungkin itu karena aku terlalu memanjakannya," ucap Rolan yang memberikan senyum ramah pada Sabrina.


'What? Kenapa ayah jadi minta maaf pada wanita gatal ini? Apa ini berarti bisnis ayah lebih berarti dari pada aku, putrinya?' batin Cila meratap pilu.


"Ah, tak apa, lagi pula latihan ku juga sudah hampir selesai, terimakasih,, tempatnya menyenangkan, dan orang orangnya juga ramah dan---- menyenangkan!" di akhir kalimat Sabrina sengaja melirik ke arah Toni dengan tersenyum samar seperti sengaja menantang Cila yang saat ini terlihat sangat murka padanya.


"Oke, kalau kau ingin berlatih di sini lagi, kau boleh hubungi Lion, dia akan dengan senang hati menemani mu berlatih di sini," ucap Rolan yang membuat Cila kini membulatkan matanya dengan sempurna, bagaimana bisa ayahnya seperti seolah sedang mendekatkan calon menantunya dengan wanita lain, dan bahkan itu di lakukan di depan matanya, apa Rolan tak mempedulikan apa yang di rasakan Cila saat ini yang bisa saja terluka atau bersedih dengan sikapnya saat ini.


Belum lagi Toni yang tak biasanya bersikap begitu akrab dengan seorang wanita, padahal selama ini, Lion yang di kenalnya itu adalah sosok pria yang selalu dingin dan tak pernah bisa di dekati oleh wanita mana pun, apa Toni sudah berubah, apa secepat ini ?


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Cila, sampai rasanya sangat penh dan ingin meledak.


"Bang ! Ada apa ini, kenapa ayah seolah mendekatkan abang dengan wanita itu ?" lirih Cila yang mengekor Toni sampaike ruang ganti baju demi mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu.


"Harusnya kau tanya pada dirimu sendiri, kepalamu itu di pake buat mikir sebelum melakukan sesuatu, setelah terjadi seperti ini, tetap saja aku yang harus memberskan semua masalah akibat ulah mu itu !" Toni menempelkan telunjuknya di kepalanya sendiri seraya menyuruh Cila untuk berpikir sebelum bertindak.


"Apa maksudnya ?" Cila menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Tanya lah pada ayah mu !" sungguh Toni malas berlama lama berbincang dengan wanita yang telah berniat mencelakkan gadisnya itu


__ADS_2