Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Empat Lima


__ADS_3

Bagas memberikan beberapa dokumen yang berkaitan tentang keadaan perusahaan ke meja Raya.


"Tujuh puluh persen saham tuan jika di jual sepertinya bisa menyelamatkan perusahaan," terang Bagas menunjukkan apa saja yang menjadi tanggungan perusahaan dan berapa jumlahnya.


"Tapi,,, ayah belum di temukan, aku gak mau melangkahi keputusan ayah, rasanya tak elok jika aku mengambil keputusan di saat seperti ini," tolak Raya.


"Tapi,,, lantas bagaimana dengan nasib gaji para karyawan ?" debat Bagas, mengingatkan kalau Raya juga bertanggung jawab atas ribuan karyawan yang harus di bayar gajinya.


"Beri aku waktu untuk memikirkan nya dulu, paman, Aku tak mau terburu buru mengambil keputusan yang sangat besar seperti ini," ucap Raya.


Bagas pun hanya bisa mengangguk dan meningalkan ruangan Raya dengan segala kebimbangannya.


"Sungguh sakit dan rumit ternyata menjadi dewasa, di paksa untuk bersikap bijaksana, sementara Tuhan seakan bercanda menuliskan takdirnya untuk ku !' keluh Raya di tengah kebimbangannya.


Toni mendekat ke arahnya,


"Apa kau ingin menyerah ? Atau terlintas untuk bunuh diri saja ?" ejek Toni sengaja menyentil ego Raya yang sangat dia tahu kalau gadis itu sangat menjunjung gengsi dan egonya di atas apapun.


"Cih,,, kau saja mending yang mati, ternyata kau benar benar lebih baik diam seperti waktu awal awal, karena ucapan mu itu beracun !" cibir Raya.


"Aku hanya sedang berpikir, mungkin apa yang di rasakan ku saat ini tak ada apa apanya di banding apa yang di hadapi ayah ku di setiap harinya, mengurusi perusahaan, anak dan istri yang hanya tau shopping dengan borosnya dan foya foya setiap waktu, betapa gak bergunanya aku !" sesalnya dengan senyuman miris.


"Mungkin kau kuwalat sama ayah mu, jadi Tuhan memberi mu tanggung jawab sebesar ini, ayo selesaikan semuanya, aku akan menemani mu seperti janji ku," Toni menyodorkan ponselnya ke hadapan Raya.


"Apa ini ?!" Raya mendongak menatap wajah Toni yang sedang berdiri di sampingnya, mencari jawaban di wajah pria tanpa ekspresi itu.


Toni membuka file video rekaman cctv ruangan kerja Raya yang saat ini menjadi tempat mereka mengobrol.


"Apa ini, mengapa di rekaman cctv ku tak ada adegan ini ?" bengong Raya yang rasa rasanya setiap hari dia memantau cctv kantornya tapi tak pernah melihat cuplikan gambar seperti itu.


"Jangan menyimpulkan sesuatu sebelum semuanya benar benar jelas ! mari kita bertindak seolah olah tak pernah tau apa apa," saran Toni.


"Andai saja cctv di rumah tidak di rusak saat penyitaan itu," sesal Raya.


"apa yang ingin kau tau ?"


"Karina,,," cicit Raya.

__ADS_1


"Aku tak yakin ibu tiri mu itu masih hidup, sekarang," jawab Toni enteng.


"Apa maksud mu ?" suara Raya meninggi.


"sepertinya anak buah Cobra menculiknya, tapi aku juga tak tau apa alasannya, dan itu sepertinya tak terlalu penting buat ku," urai Toni yang baru saja mendapat kabar dari Panca yang tadi pagi di hubunginya untuk mencari tau tentang penyitaan rumah Raya yang terkesan janggal baginya.


"Posisi mu sudah sangat tak aman, kita tak bisa lagi membedakan mana kawan dan mana lawan, sebaiknya kita harus menjauh dulu dari sini sementara, kita pantau dari kejauhan," ucap Toni yang mulai menghawatirkan keselamatan Raya saat ini, karena masalah ini sudah tak sekedar perselingkuhan atau penghianatan ibu tiri dan tunangannya saja, namun sudah melibatkan mafia seperti Cobra yang entah mengapa ikut ambil peran dalam masalah kehidupan keluarga Raya.


"Tapi,,, bagaimana dengan perusahaan ini, perusahaan yang di dirikan ayah ku melalui tetesan darah dan keringatnya, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja," tolak Raya.


"Percayakan pada Bagas, dia pasti tak akan membiarkan perusahaan ini bangkrut begitu saja,"


"Tapi,,,!"


"Percayalah pada ku, kau tak punya pilihan lain saat ini," tekan Toni.


Raya pun dengan patuh mengikuti anjuran Toni untuk mempercayakan perusahaan pada Bagas, dia beralasan ingin fokus mencari ayahnya dulu agar bisa cepat mengambil keputusan.


"Baik nona, saya terima amanat ini, semoga nona dapat segera bertemu dengan Tuan, saya juga tetap bantu mencari Tuan, kabari saya secepatnya ila nona sudah menemukan tempat tinggal yang baru," Bagas terlihat berat melepas Raya yang berpamitan untuk tak lagi mengurusi perusahaan untuk sementara waktu, belum lagi Raya yang tak memberi tahunya perihal tempat yang akan di tinggali nya karena rumahnya kini sudah tak dapat di tinggalinya lagi.


Raya kini sedang berada di kamar kost Toni, membantu Toni mengemasi beberapa pakaian yang akan di bawa, atau lebih tepatnya menonton Toni mengemasi pakaiannya sendiri, karena sejak tadi Raya hanya diam memperhatikan kesibukan pria itu.


"Kita akan kemana ?" tanya Raya yang masih kebingungan mencari tempat untuk tinggal.


"Ke kebun teh milik ibu mu, tak ada yang tau tentang tempat itu, kan ?" tanya Toni, masih dengan kesibukan nya.


"Sepertinya hanya ayah ku saja yang tau tempat itu," saking banyaknya masalah yang datang secara tiba tiba dan juga banyak hal yang harus dia pikir, Raya sampai melupakan kalau dia masih mempunyai rumah kebun teh peninggalan ibunya yang di wariskan padanya itu.


"Jangan bilang kita akan naik motor ke sana, yang benar saja, pinggang ku bisa encok !" protes Raya.


"Tidak, kendaraan kita lagi on the way di antar ke sini," jawab Toni,


Baru saja pria itu merapatkan bibirnya, suara klakson mobil berbunyi beberapa kali, Toni bergegas membuka pintu dan berjalan menuju halaman depan kost.


"Mobil ku !?" pekik Raya yang ternyata mengekor langkah Toni keluar kamar kegirangan saat melihat mobil sport kuning menyala kesayangannya kini sudah berada di luar pagar gerbang kost, dia tak menyangka kalau dia masih memiliki harta berharga nya di saat saat keterpurukannya itu, padahal tadinya dia pikir mobil kesayangan hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya itu sudah tak dapat terselamatkan akibat kecelakaan malam itu.


"Bagaimana mobil mu ? Terlihat seperti baru lagi kan, nona ?" seloroh Panca membusungkan dadanya seraya menyombongkan dirinya sendiri yang telah menyulap dann memperbaiki mobil itu menjafi seperti baru lagi.

__ADS_1


Namun yang di ajak nya bicara kini malah sibuk memutari mobilnya dan mengelus setiap sisi body kendaraan mewah itu, pandangannya seakan menyimpan rindu yang teramat dalam, sungguh dia sedang teringat bagaimana bahagianya dulu saat Arsan memberikan kendaraan roda empat itu padanya sebagai hadiah sweet seventeen nya, bayangan dirinya menciumi dan memeluk Arsan yang terlihat sama bahagianya seperti dirinya berkelebatan di pelupuk matanya, membuat genangan tertahan di kedua netranya itu.


"Thanks bro, udah buat dia bahagia di tengah kesakitan dan terpaan masalah peliknya !" ucap Toni serius, dengan pandangan mata yang terus terkunci pada gadis yang terlihat sangat bahagia itu.


"Lion,,, lo beneran serius sayang banget sama pacar lo ?" Tanya Panca heran, seumur umur dia berteman dengan Toni, baru pernah melihat tatapan Toni yang teduh dan penuh cinta seperti itu pada lawan jenis.


"Dia bukan---" belum saja Toni menyelesaikan kalimatnya, Raya sudah menghampiri dan bergabung dengan mereka.


"Makasih ya mas,,, ?" Raya menjeda ucapannya mengingat ingat siapa nama teman Toni itu.


"Panca, gak usah pake mas !" protes Toni tegas dan keras, tatapannya bahkan terlihat seperti merasa tak senang saat Raya memberi senyuman manisnya pada Panca.


"Ah, iya mas Panca, tapi aku gak punya uang untuk membayar biaya perbaikannya, gimana dong ?" Raya yang justru sedang kebingungan itu malah tampak menggemaskan dengan pipi yang sengaja dia gelembungkan.


"Pantas saja pacar mu itu tergila gila, kamu memang cantik dan menggemaskan," puji Panca sambil melirik ke arah Toni.


"Cepat pergi dari sini, bawa motor ku dan rawat dia baik baik selama aku pergi !" ucapan Toni terdengar seperti sebuah ancaman bagi Panca yang telah berani menggoda Raya di hadapannya, andai itu bukan Panca, sudah dipastikan pria itu tidak akan pulang dalam keadaan utuh.


Panca yang merasa itu sebagai alarm berbahaya langsung lari mengambil motor Toni dan meninggalkan tempat itu.


"Lain kali jangan genit genit sama pria asing !" ketus Toni setelah sekitar satu jam membisu di sepanjang perjalanannya menuju kebun teh.


"Hah, genit ?" Raya tak mengerti.


"Sikap mu tadi pada Panca, murahan !"omelnya, untunglah yang di kata katai Raya yang sudah sangat hafal dan kebal dengan kata kata kasar dan maian sang bodyguard juteknya itu.


"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya kalau aku tak punya uang untuk biaya perbaikan mobil ini, lagi pula itu pasti sangat mahal," jelas Raya membela dirinya, meski dia ada sedikit geer di hatinya mendapati Toni yang sepertinya sedang cemburu pada temannya itu.


"Aku sudah mengurusnya, kalau aku membawanya ke tempat teman ku, berarti itu semua sudah menjadi urusan ku, kau terima beres saja !" Toni, masih dengan nada sinisnya.


"Apa kau se posesif ini juga pada Cila ?" goda Raya.


"Sudah aku bilang kalau aku dan dia tak ada hubungan apa apa, untuk apa bersikap posesif segala," sangkal Toni,


"Tapi bukankah di antara kita juga tak ada hubungan apa apa ?" kejar Raya.


"I- itu beda, pokoknya beda, kau tanggung jawab ku, harus ikut aturan main ku !" kelit Toni sedikit grogi saat memberi alasan pada Raya.

__ADS_1


__ADS_2