Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Merubah Hitam Menjadi Pink


__ADS_3

Toni menahan nafasnya, tiba tiba dadanya terasa begitu sesak, bagaimana jadinya kalau sampai Raya tau kalau pertunangan nya dengan Cila pun terjadi karena dia yang ingin membantu Raya dalam menyelesaikan semua masalahnya.


"Kenapa kamu diam, apa sedang merencanakan bagaimana dan dimana meniduri Sabrina ?" ejek Raya.


"Otak mu itu apa tak pernah berpikir yang baik baik sekali pun tentang ku ?" kata Toni sambil menekan telunjuknya di jidat Raya.


"Kamu baik kok, selama ini kamu yang selalu menjadi tempat aku mengeluh, menangis, makasih ya !" cengir Raya.


"Dasar cengeng !"


"Aku kangen di boncengin naik motor sama kamu," lirih Raya.


"Gak bisa dalam waktu dekat ini, kalau sampai Cila atau Sabrina tau, akan sangat berbahaya, kita juga tak bisa sering ketemu, tapi aku akan selalu menjaga mu !" Sepertinya Toni tau kerinduan yang sedang di rasakan Raya saat ini, apalagi mereka kini jarang sekali bertemu akhir akhir ini, akibat kesibukan masing masing.


"Apa aku boleh cemburu pada Cila dan juga Sabrina, yang bisa sering sering berdekatan dengan mu, sepertinya sangat beruntung jadi mereka," lirih Raya dengan sorot mata yang layu.


"kau lah yang beruntung, dan seharusnya mereka lah yang cemburu pada mu, karena---" Toni kebingungan harus mengatakan apa,


"Karena ?" alis Raya terangkat sebelah menunggu kelanjutan kalimat Toni yang menggantung.


"Karena,,, karena saat ini kamu yang bersama ku, bukan mereka berdua yang berada di sini bersama ku !" kelit Toni. (ya elah,,, gengsi amat timbang ngomong cinta, bang !)


"Ooo,,," Raya hanya membulatkan mulutnya sebagai ungkapan rasa kecewanya, sungguh jawaban Toni sama sekali bukan jawaban yang di harapkannya.


"Sejak kapan kau kembali dekat dengan Martin? Sepertinya kau masih punya perasaan padanya," tanya Toni yang mulai mengungkapkan rasa tidak sukanya atas kedekatan Raya dengan Martin yang sepertinya mulai terjalin kembali.

__ADS_1


"Sejak kamu main gila sama Sabrina !"ketus Raya.


"Raya, aku serius ! Aku tak suka kau dekat kembali dengannya,!" mata Toni bersirobok dengan mata Raya yang saat itu kebetulan sedang menatapnya, beberapa saat tatapan mereka terkunci, sampai Raya tersadar dan membuang jauh pandangan matanya dari wajah Toni.


"Apa urusan mu? Apa juga urusan ku tentang perasaan mu yang suka ataupun tak suka,!" cebik Raya.


"Tentu saja itu menjadi urusan ku, aku cemburu !" cicit Toni, akhirnya mengakui.


Seketika tawa Raya pecah, melihat tingkah pria gagah yang kini tak ubahnya seperti bocah kecil yang sedang merajuk.


"Kamu lucu, kita bukan siapa siapa tapi kamu cemburu !" kekeh Raya.


Namun tawa Raya harus terhenti saat kedua tangan besar Toni menangkup kedua pipi Raya yang kini langsung terdiam,


"Toni, apa ini pernyataan cinta dari mu ? lantas apa kamu sadar kalau kamu adalah tunangannya teman ku sendiri ? Cila itu teman ku, tadinya aku percaya waktu kamu bilang kamu tak punya hubungan apa apa dan tak punya perasaan apa apa pada Cila, tapi ketika tiba tiba kamu bertunangan dengan Cila, aku merasa kalau memang dari awal kamu berbohong pada ku. Kalau kamu berniat ingin membuat ku ke geeran dengan pernyataan mu itu, selamat,,, kamu berhasil, karena aku bukan hanya kegeeran tapi aku sangat berharap pernyataan cinta mu itu benar benar tulus padaku, karena jujur saja aku jatuh cinta pada mu meski aku tau itu tak mungkin," ucapan Raya terdengar panjang lebar, tapi dadanya terasa plong dan lega setelah mengungkapkan semua perasaannya, keresahannya, kekecewaannya.


Entah dorongan dari mana yang membuat nyali Raya seberani itu, tapi dadanya seperti sudah penuh dan tak bisa menampung lagi semua perasaan yang di rasakan untuk Toni, apalagi setelah mendengar pernyataan cinta dari Toni barusan, membuat perasaan di dadanya seakan meledak begitu saja, bagai bom waktu.


Tangan Toni terlepas begitu saja dari kedua pipi Raya, kenapa pernyataan cinta dari Raya yang seharusnya menjadi kabar gembira dan membahagiakan itu justru malah membuatnya menjadi merasa teramat sakit seperti hunusan pedang di dadanya, ada rasa ingin dia menyesali keputusannya untuk bertunangan dengan Cila.


Ada berjuta andai di kepalanya, andai dia tak bertunangan dengan Cila, mungkin dirinya dan raya bisa menjalin hubungan dengan perasaan yang sama sama bahagia,


Andai dia tak terburu buru memutuskan keputusan yang saat ini sangat di sesalinya, bukannya dia bisa menghadapi semuanya berdua dengan Raya, tetap menjaga gadis itu dan berada di sisinya, kenapa dirinya seperti tak percaya diri dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus meminta bantuan Rolan yang berakhir dengan dia terjebak dalam perangkap pria tua yang memaksanya untuk bertunangan dengan anaknya dan menjerumuskannya dalam bisnis hitamnya.


Andai,,, andai,,, andai ! semua andai seolah tak berguna dan tak ada artinya lagi, karena kenyataannya waktu sudah tak dapat lagi di putar kembali.

__ADS_1


Hanya saja kini Toni merasa sangat terpukul dengan pernyataan cinta Raya, harus bagaimana dia menyikapainya, jelas sudah ternyata mereka saling suka dan mempunyai perasaan yang sama, namun keadaan tak memungkinkan untuk mereka menjalin suatu hubungan, Toni juga tak mungkin mengingkari janjinya pada Roland dan Cila, pantang baginya mengingkari janji yang sudah di ucapkannya. Bukankah pria yang di pegang adalah janjinya ?


"Kenapa ? Apa tiba tiba suara mu hilang, huh ? Apa kamu puas sekarang, mengetahui kalau aku jatuh cinta pada mu ?" sebulir kristal bening lolos dari sudut mata Raya, mengapa perasaan cinta mereka justru malah saling menyakiti perasaan masing masing.


Bukan,,, bukan kepada Toni sebenarnya rasa kesal Raya saat ini dia tujukan, dia hanya marah pada keadaan dan takdir Tuhan yang seolah tak berpihak pada mereka, tapi bukankah itu semua sia sia? marah dengan keadaan dan takdir seperti halnya memukul angin, perbuatan bodoh !


Toni benar benar tak tau harus berkata apa, gemuruh di dadanya bahkan tak dapat dia artikan sebagai pertanda apa, bahkan dia sendiri tak tau apa yang sebenarnya sedang dia rasakan saat ini.


Toni hanya bisa segera merengkuh tubuh Raya, memeluk tubuh wanita yang sedang terisak pilu itu dengan erat, sesekali pria itu menciumi kepala Raya yang kini menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.


"Maaf, sudah membuatmu bersedih, tapi tentang perasaan ku pada mu itu memang benar dan tak ada kebohongan atau niat buruk pada mu sama sekali, aku mencintai mu Raya Lubis !" Ungkap Toni seraya mengecup dalam kepala Raya, mencium wangi khas rambut gadis itu yang selalu dia suka, wangi nya sangat menenangkan.


"Bagaimana dengan Cila, bukankah semua yang kamu katakan saat ini tak akan ada artinya, kenyataannya kamu tetap lah tunangan Cila, dan kedepannya kamu akan---- menikah dengannya," lirih Raya dengan suara tercekat, tak tahan merasakan sakit di tenggorokannya yang nyaris tak kuat mengeluarkan suaranya.


"Aku tak dapat menjanjikan apapun pada mu, hanya aku dapat pastikan kalau perasaan cinta ku hanya buat mu, tak ada orang lain di sini, kau bisa memegang kata kata ku yang ini,!" ucap Toni menunjuk dadanya sendiri.


"Mungkin akan terdengar sangat bodoh apa yang akan aku sampaikan pada mu saat ini, tapi aku akan tetap mengatakannya, aku percaya akan ada keajaiban dari Tuhan, bukankah kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok ? Jadi, aku tak akan berhenti berharap keajaiban itu datang pada kita," sunghuh Raya tak menyangka kalau yang saat ini sedang berbicara adalah Toni, mana mungkin pria datar itu bisa mengatakan hala hal yang seperti itu, ah,,, memang cinta bisa merubah semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, merubah hitam menjadi pink.


Entah siapa yang memulainya, bibir mereka tiba tiba saja kini sudah bertaut, menyalurkan rasa yang mereka rasakan, ciuman yang dalam namun entah sebagai apa, yang jelas ciuman dua orang manusia yang saling mencintai tapi tak bisa saling memiliki, mungkin begitu kira kira kalau di deskripsikan, terlalu rumit.


Ciuman hangat yang hampir berubah menuju panas itu terpaksa harus terhenti saat pintu ruangan VIP rumah makan Jepang itu di ketuk seseorang dari luar, lalu masuklah seorang pelayan perempuan memakai kimono khas negara sakura itu.


"Maaf Tuan, nyonya, saya mengganggu, tapi restoran kami akan segera tutup,!" ucap pelayan itu sambil melirik jam yang melingkar di tangannya seraya memberi tahu kalau sekarang sudah larut malam.


Wajah Raya dan Toni kini sama sama memerah, bukan karena efek saling mengutarakan perasaannya, namun karena malu, mereka sampai tak ingat waktu hingga selama itu berada di ruangan restoran itu.

__ADS_1


__ADS_2