
"Masuk lah Karina, Toni di pihak kita!" titah Sabrina pada Karina yang kini berdiri di ambang pintu.
Interograsi antara Karina, Sabrina dan Toni pun di mulai, tentu saja setelah Karina selesai mengerjakan tugasnya menyuapi Yama, bocah pria itu terlihat sangat nyaman dalam pengasuhan Karina, baik Sabrina maupun Toni tak ingin pembicaraannya terdengar oleh adik Sabrina itu, makanya mereka berkumpul di ruang tamu kini.
Satu persatu kebobrokan dan kejahatan Arsan yang Karina ketahui di ungkapkan di hadapan Sabrina dan Toni. Sungguh Karina ingin menjalani hidupnya dengan normal, dia tak ingin melakukan kejahatan lagi, biarlah dirinya mengurus Yama seumur hidup asalkan keselamatan dirinya terjamin di sana, lagi pula, setidaknya dirinya bisa berguna untuk hidup orang lain, bukankah itu baik?
"Jadi, perusahaan tambang yang di Kalimantan itu milik Arsan?" tanya Sabrina yang lalu di jawab dengan anggukan Karina.
"Lalu coffe shop yang katanya milik sauadaranya itu?"lanjut Sabrina.
"Itu bukan milik saudaranya, melainkan milik Bagas yang di tugaskan untuk mengurus semua bisnis milik Arsan di sana." beber Karina, seakan sedang menguliti segala hal tentang Arsan.
"Bagas,? Sialan, Arsan dan antek anteknya memang licik," gumam Toni yang merasa geram dengan apa yang baru saja di dengarnya itu, bagaimana tidak,, dia menjadi saksi betapa Raya sangat menghormati dan menyayangi Bagas yang di anggapnya sangat baik dan melindunginya, sampai sampai dia memanggilnya dengan sebutan paman karena sudah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri, namun ternyata di balik itu semua Bagas tak lebih dari sekedar kacung Arsan yang rela berbuat apapun bahkan menutup mata hatinya untuk membodohi Raya yang tulus menganggapnya sebagai saudara.
"Ada satu hal lagi yang mungkin sangat penting untuk kalian ketahui, khususnya anda," Karina menunjuk Sabrina dengan sopan.
"Jadi, proyek yang sedang kalian tangani, yaitu proyek bar dan kasino itu bukan kerja sama antara Rolan dan ayah anda, namun itu uang milik Arsan yang sengaja di atas namakan Rolan agar ayah anda mau menerima tawaran kerja sama, tujuannya sama seperti sebelumnya, setelah semua berjalan, bar dan kasino itu akan di akuisisi secara licik olehnya, makanya itu di bangun di sana, karena di perbatasan sebagian besar adalah daerah kekuasaan Rolan, sementara untuk lokasi proyek yang sekarang ini di bangun, memang itu terkenal daerah yang para pemegang lahannya sulit untuk di ajak negosiasi, makanya Rolan menggunakan Lion untuk mengatasi itu semua, karena selain cerdas, Lion juga bisa di andalkan dalam mengatasi para preman di sana, dan terbukti proyek berjalan lancar!" ungkap Karina panjang lebar.
Sabrina mengepalkan tangannya, lagi dan lagi Arsan berniat mengusikkeluarganya lagi, kalau dulu saat Arsan mengobrak abrik keluarganya Sabrina hanya hanya bisa diam, karena di nilai masih kecil, namun tidak untuk kali ini, dia tidak akan membiarkan Arsan atau siapapun mengusik ketenangan hidup keluarganya, dia akan berdiri paling depan melawan siapa pun itu yang berani berbuat jahat pada keluarganya.
"Oke, kau boleh pergi," ucap Toni pada Karina, dia rasa sudah cukup keterangan yang di berikan Karina, saat ini dirinya butuh waktu untuk merencanakan apa yang akan di lakukan nya bersama Sabrina setelah mengetahui semua ini.
Tentu saja dia tak ingin Karina atau siapapun mendengar rencana mereka, dalam hal ini dia tak bisa mempercayai siapapun, karena jika sampai rencananya bocor maka akan kacau semuanya.
"Apa rencana mu?" tanya Toni serius.
"Aku tak punya rencana apapun saat ini,!"kata Sabrina yang justru malah terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Bodoh,! apa kau ingin membiarkan mereka mencurangi keluarga mu terus terusan?"
"Tentu saja tidak! Tapi bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau Arsan mencurangi keluarga ku terus terusan?" Sabrina memicingkan matanya menelisik kejujuran di wajah pria itu.
"Aku tau semuanya, dan tak perlu aku ceritakan dari mana aku mengetahui semua itu, tapi aku punya rencana bagus, kita harus bergerilya dalam melawan mereka, yang kita perlukan saat ini hanya tetap tenang dan berpura pura lah tidak tau kalau mereka sedang mencurangi kita, jangan sampai mereka menyadai kalu sebenarnya kitalah yang sedang menyerang dan membodohi mereka semua dengan berpura pura bodoh," urai Toni menawarkan kerja samanya kepada Sabrina.
Bukankah tujuan mereka saat ini sama? musuh mereka pun sama, Arsan dan Rolan, di samping itu Toni juga punya misi khusus, dia ingin merubah stigma buruk Sabrina terhadap Raya yang dalam hal ini tidak bersalah sama sekali pada keluarganya, karena semua kejahatan yang di terima Cobra dan keluarganya itu murni atas kejahatan Arsan sendirian, tanpa ada keterlibatan Raya sedikit pun, bahkan Raya di pastikan tak tahu menahu dengan semuakejahatan yang di lakukan ayahnya itu, jika ada yang harus di persalahkan dalam diri Raya itu hanyalah karena dia terlahir sebagai anak kandung Arsan yang berhati iblis.
Namun ya tentu saja itu semua harus melalui proses, Toni tidak akan langsung meminta Sabrina ujug ujug memaafkan Raya dan memeksa dia untuk merubah pikiran buruknya pada Raya, karena bagaimana pun, Toni sangat tau kesakitan apa yang Sabrina dan keluarganya alami atas perbuatan jahat Arsan,sepertinya tak mungkin dia dengan mudah membuka hatinya untuk anak dari 'pembunuh' ibunya secara tidak langsung, penyebab adiknya tergeletak lemah tak berdaya selama bertahun tahun, danmembuat ayahnya menangis dan bersedih meski dalam diam, sementara Sabrina harus berpura pura tegar melihat kesemuanya itu, jelas itu berat dan menyakitkan, jadi Toni akan menyampaikan kebenaran tentang Rayaada Sabrina dengan perlahan.
Bahkan mirisnya, mungkin Raya tak tahu kalau mereka sebenarnya masih bersaudara, dan selama ini Raya juga tak pernah tau kalau sebenarnya dia punya adik laki laki yang masih satu ayah dengan nya, yaitu Yama, bagaimana jadinya kalau sampai dia tau hal itu?
"Aku setuju rencana mu, tapi bukan karena rencana mu itu bagus, ini hanya karena aku tak punya rencana apapun, oke deal, kita tim !" ucap Sabrina menjulurkan tangannya mengajak bersalaman tanda setuju.
"Nanti dulu, tapi sepertinya tim kita tidak hanya kita berdua saja," Toni belum menerima ajakan jabatan tangan Sabrina.
"Kekasih ku, aku dan dia adalah satu, sebelumnya kami melakukan kesepakatan berdua, dia otaknya aku eksekusinya, jika kita mau bekerja sama, maka kekasih ku harus berada di tim yang sama dengan kita," tantang Toni.
"Ish,,, dasar bucin, apa apa harus melibatkan pacar mu, apa dia bisa di percaya?"
"Aku bisa menjadi jaminannya kalausampai dia berhianat"
"Aku ingin bertemu dengan nya"
"Belum saatnya, suatu hari nanti pasti akan ku bawa dia untuk ku kenalkan pada mu, yang peting saat ini kau setuju atau tidak jika dia bergabung dengan kita?" elak Toni, karena menurutnya belum saatnya Raya dan Sabrina bertemu.
"Ishhh,,, kau posesive sekali, aku juga tak akan merebut pacar mu, seganteng apapun dia, oke deal, aku percaya pada mu!" kata Sabrina akhirnya.
__ADS_1
Toni tersenyum, jalan untuk membuat Raya dan Sabrina lebih dekat akhirnya akan segera terwujud.
"Oke, aku yakin kau pun tak akan menyukai kekasih ku, karena dia tidak ganteng seperti yang ada di pikiran mu!"Toni tersenyum miring.
Bagi Toni yang penting jalannya sudah terbuka, dengan begitu proses mendekatkan mereka pasti akan lebih mudah.
Rencana awal mulai di rancang, sasaran utama Toni dan Sabrina saat ini adalah menguasai lahan milik Rolan di Jakarta, jika perhatian Rolan dan Arsan saat ini tertuju pada proyek besar di Kalimantan, jelas lah perhatian pada wilayah kekuasaannya di Ibukota ini sedikit terabaikan, maka Toni akan memulai dari jarak yang dekat terlebih dahulu, dia akan menguasai beberapa wilayah yang lumayan penting di ibukota dengan cara liciknya tentu saja.
***
Tiga hari kemudian, Rolan terlihat ngamuk ngamuk pada anak buahnya di rumahnya, Toni yang kebetulan sedang berada di sana hanya tersenyum dalam hatinya, pasti itu terkait ulah usilnya yang menyusupkan beberapa anak buah Cobra untuk merebut bandar bandar yang lumayan cukup besar agar beralih membeli narkoba pada bos nya, belum lagi salah satu klub malam miliknya yang tiba tiba kebakaran sampai tak bisa beroperasi dan tentu saja mempengaruhi penghasilannya, karena di sana juga merupakan salah satu tempat transaksi narkoba yang lumayan besar yang dia dapatkan.
Meski pun serangan tidak terlalu vital, namun serangan kecil dari beberapa arah rupanya lumayan menggoyang Rolan, tepat seperti dugaannya, pria itu pasti akan meminta pertolongannya untuk membereskan kekacauan yang terjadi.
Andai saja dia tau kalau kekacauan itu hasil karya Toni sendiri, calon menantu yang selalu di bangga banggakan nya?
"Lion, aku minta tolong, kau selesaikan masalah ini, kepala ku rasana mau pevah punya anak buah yang tak becus mengurus masalah remeh seperti ini, tak berguna mereka semua!" umpat Rolan sambil melempar kursi kayu ke arah para anak buahnya yang berjejer di hadapannya sambil tertunduk ketakutan.
"Lalu bagaimana dengan proyeknya? Aku tak bisa jika harus menangani dua pekerjaan sekaligus, takut tidak fokus," Toni beralasan, dia hanya memancing agar Rolan mengalihkan sementara pemegang proyek pada anak buahnya yang lain, dengan begitu, giliran Sabrina yang mengacau proyek di sana, untuk semakin mengguncang emosi Rolan karena serangan serangan kecil dari berbagai arah sebagai pemanasan, sebelum serangan utama.
"Aku akan memberikan proyeknya sementara pada yang lain, kau bereskan dulu kekacauan di sini, otak ku pusing sekali, berengsek, bajingan siapa yang berani bermain main dengan ku?" umpatnya tiada henti, dia tak habis pikir, dengan serentetan kejadian buruk yang menimpanya.
"Oke, tapi sepertinya kau harus memberi ku kuasa penuh di wilayah itu, biar aku saja yang memegang kendali wilayah itu agar aku bisa leluasa membereskan semuanya," Toni mulai melancarkan aksinya, dan tanpa perdebatan Rolan pun menyetujuinya.
Memang terkadang mengambil keputusan di saat kalut atau pikiran kacau itu harus sangat di hindari, salah salah akan benasib sama seperti Rolan saat ini, dia tak tau kalau keputusannya ini akan berakibat fatal di kemudian hari, dan di pastikan dia akan menyesali keputusannya itu seumur hidup nya.
Toni tersenyum dalam hati, semua tepat seperti yang di harapkan nya, sesuai rencana.
__ADS_1
Tunggu kehancuran kalian yang sebenarnya, sebentar lagi.