Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Namanya Juga Bucin


__ADS_3

Lama Toni merenung, benarkah dirinya kini tengah di permainkan dan hanya di manfaatkan oleh Rolan? Betapa bodohnya dirinya kalau itu benar benar terjadi padanya, dan yang pasti, dia akan membalas sepuluh kali lebih menyakitkan jika benar Rolan haanya mempermainkan dirinya, dia tak peduli Rolan seorang ketua mafia di takuti atau apa pun, dia tak akan mentolerir orang yang sudah mempermainkan dirinya dan membuat dirinya tampak bodoh.


"Kenapa? Apa kamu baru menyadarinya sekarang?" tanya Raya, saat melihat gurat keraguan di wajah Toni, sepertinya pria itu mulai sedikit meragukan janji yang di berikan Rolan padanya.


"Aku tidak tau, masalahnya sejauh ini aku juga belum bisa memastikan kecurangan Rolan," jawab Toni mengemukakan apa yang saat ini sedang di rasakan dan di pikirkannya.


"Baik, kalau aku bilang feeling ku tidak baik tentang calon istri dan calon mertua mu itu, apa kamu mau percaya?" Raya menatap Toni, kini tak ada tatapan tajam seperti sebelumnya, hanya ada tatapan teduh yang Raya berikan pada Toni, dia cukup lelah beradu argumen dengan menarik urat, yang mungkin hanya akan membuat hubungan mereka semakin melebar dan lalu menciptakan jarak di antara mereka, siapa yang akan di untungkan? Tentu saja mereka orang orang seperti Cila yang akan bertepuk tangan sangat kencang jika mereka sampai berakhir dengan permusuhan.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Toni, sampai pada akhirnya,


"Jujur, aku bingung siapa yang harus aku percaya, sementara saat aku mengikuti kata hati ku pun ujung ujungnya aku meragukan hal itu, benarkah apa yang di katakan oleh hati ku? Padalah sebelumnya aku merasa sangat yakin kalau apa yang akulakukan ini adalah untuk membantu mu dan demi kebahagiaan mu, tapi nyatanya?" ucap Toni lesu.


Raya tau dan sangat mengerti dengan apa yang di rasakan Toni saat ini, dia pun tak ingin lagi memaksakan pria itu untuk mempercayai apa yang di katakan dirinya, dia akan membiarkan dn memberikn keleluasaan untuk Toni mendapatkan jawabannya sendiri.


"Baiklah, aku tak akan memaksa mu untuk terlalu keras berpikir dan terburu buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hal ini, atau buru buru mengklaim mana pihak yang tulus membantu dan mana yang justru bertujuan lain, aku akan memberi mu waktu dan kebebasan mencari jawabannya sendiri dengan satu syarat,,, libatkan aku di dalamnya!" pinta Raya pada akhirnya.


Ah,,, tambah bingung saja Toni, bagai mana mungkin Toni melibatkan orang yang mati matian dia lindungi untuk masuk ke dalam pusaran masalah yang dia sangat tau itu benar benar membahayakan, tidak cukupkah kalau hanya dirinya saja lah yang berkorban, toh dirinya rela dan siap mengorbankan apapun untuk gadis yang di sayanginya itu, lalu apa artinya dirinya sebagai bodyguard jika Raya malah ingin ikut berjuang bersamanya.


"Tapi--- bukankah ini sudah menjadi tugas ku, aku sudah di bayar untuk melindungi mu," Toni beralasan.


"Sebagai bodyguard, kamu memang sungguh bisa di andalkan aku tak meragukan kemampuan mu dalam bertarung atau sejenisnya dalam hal adu otot, kamu memang jagonnya,tapi tak semua hal hanya mengandlkan otot saja terkadang kita juga perlu otak untuk menentukan strategi,"


"Apa itu artinya kau ingin menyampaikan padaku jika aku bodoh ?!?" potong Toni menyambar ucapan Raya.

__ADS_1


"Hahaha,,, kamu cukup pintar bisa menangkap apa tujuan perkataan ku," Raya tertawa lebar menyaksikan wajah seram dan garang Tonikini menjadi sangat bodoh di hadapannya.


"Raya,,, kamu keterlaluan!" pekik Toni.


Namun semua itu hanya di tanggapi dengan derai tawa Raya, dan suasana pun mencair begitu saja di antara mereka, yaa begitulah orang kalau lagi bucin, bentar marahan, bentar lagi akur sayang sayangan,,(Dek... cinta tak selamanya indah dek,,,!)


***


Wajah Rolan memerah saat putri kesayangannya mengadu padanya tentang kejadian di mall, tentang dirinya yang di permalukan oleh Raya dan di tinggalkan oleh Toni dengan begitu saja di tempat itu sendirian.


"Ayah akan membicarakan semua ini dengan Toni se segera mungkin," ucap Rolan, tangannya merogoh saku celananya dan mengambil ponsel, lalu menghubungi Toni untuk menyuruhnya segera datang menemuinya di sasana miliknya.


"Pokoknya aku tak mau kalau sampai aku harus kehilangan Lion, dia harus tetap menikah dengan ku, ingat, ayah sdah berjanji pada ku kalau Lion akan menjadi suami ku,!" rengek Cila.


"Baiklah, semoga kau tak mengingkari janji mu, ayah, aku percayakan semuanya pada mu!" Cila setengah berlari masuk ke dalam kamarnya, hatinya sangat terasa kesal, dia ingin melakukan sesuatu yang dapat menenangkan dirinya, seperti yang biasanya dia lakukan selama ini.


Sekitar lebih dari satu jam di nanti, akhirnya sosok Toni yang sedang di tunggunya datang juga ke sasana.


Tentu saja Toni sdah bisa menebak apa yang akan di bicarakan dan di bahasRolan saat ini, jujur saja jika tadi bukan Raya yang memaksanya untuk pergi dan menemui Rolan,,, rasa rasanya Toni sangat berat mengorbankan waktu kebersamaan dengan Raya tadi.


'Awas saja kalau pembicaraan ini tak ada untungnya buat ku, dan hanya melulu tentang kebahagiaan putrinya dan kesuksesan pekerjaan yang sedang di tanganinya,!' kesal Toni dalam hati.


"Apa yang terjadi dengan mu dan Cila tadi sore di Mall ?" tanya Rolan to the point tanpa ingin berbasa basi.

__ADS_1


"Bukankah kau sudah mendengar semua critanya dari putri mu ?" jawa Toni dengan santainya,sama halnya dengan Rolan, kali ini dia pun tak ingin berbasa basi dengan pria itu, suasana hatinya langsung tidak baik saat melihat wajah pria tua itu.


"Aku ingin medengar dari versi cerita mu, kenapa kau membocorkan tentang perjanjian kita pada wanita itu? Dan harap kau ingat, kau sudah bertunangan dengan anak ku, lalu sebentar lagi akan menikah dengannya, jadi jangan berbuat ulah!" geram Rolan, yang tentu saja ancamannya akan terdengar menyeramkan bagi kebanyakan orang, tapi tidak berarti apa bagi Toni.


"Aku tidak pernah membocorkan tentang perjanjian kita pada siapapun, dan apa maksud perkataan mu yang tadi tentang aku yang jangan berbuat ulah? Kapan aku berbuat ulah? Ulah seperti apa yang kau maksud?" nada bicara Toni menjadi terihat penuh emosi.


"Aku melakukan perjanjian kita, bertunangan dengan putri mu, lalu aku juga melakukan pekerjaan yang kau berikan pada ku, lantas aku bertanya pada mu, apa yang sudah kau lakukan untuk ku? janji mana yang kau tepati? tempat peyekapan Arsan yang ternyata tak ada hasil, atau mencoba memancing ku untuk datang ke Mall dengan iming iming informasi keeradaan Karina, hanya demi agar aku menemui dan menemai putri manja mu di sana?"


"Lion, jangan keterlaluan, yang kau sebut putri manja itu adalah tunangan mu, calon istri mu, dan mengenai Karina aku memang benar benar punya info tentang dia," kelit Rolan.


"Persetan,,,! Sampai sekarang kau tak memberikan apa apa pada ku selain harapan palsu dan bacot! aku peringatkan pada mu, jangan berbuat ulah dengan ku!" Toni tak dapat menahan emosinya lagi, bahkan dia juga membalikkan semua perkataan Rolan padanya.


Toni bahkan langsung pergi meninggalkan sasana dengan hati yang sangat dongkol, dia tak ingin lebih emosi lagi dan kalap menghajar orang se isi sasana.


"Lion,,, kau tau kau berurusan dengan siapa? Kau jangan macam macam! Aku akan membunuh mu jika kau mengingkari janji mu!" Ancam Rolan.


"Kau lebih tau siapa aku, bahkan kau tau kalau aku tak pernah takut mati, bawa Karina ke hadapan ku, baru kita lanjutkan perjanjian kita!" tantang Toni.


"Ah,,,, sialan, berengsek, bajingan kau Lion !" umpat Rolan menjambak rambut nya yang sebagian sudah memutih dengan sangat frustrasi, bagaimana tidak, dia sudah berjanji pada Cila untuk menikahkan putri kesayangannya itu dengan Toni, lalu proyek pembengunan bar dan kasino yang di pegang Toni juga baru saja di kerjakan, bahkan belum setengh jadi.


Sementara dia belum bisa memastikan apa dia bisa membawa Karina ke hadapan Toni atau tidak,syarat yang terlalu berat buatnya, bukan karena ketidak mampuannya mencari dan membawa wanita itu, hanya saja ini berkaitan dengan kerja sama yang di lakukannya dengan seseorang yang mungkin saja akan sangat sulit jika harus dia tembus.


Toni tetap melengang meninggalkan Rolan tanpa meghiraukan umpatan yang di katakan Rolan, dia hanya terus berjalan, sambil mengacungkan jari tengahnya ke udara dengan senyuman yang menghias bibirnya.

__ADS_1


Bertemu dengan Raya dan meneruskan kebersamaannya yang tadi sempat tertunda sepertinya akan lebih menyenangkan dari pada harus meladeni perdebatan dengan Rolan, pikirnya.


__ADS_2