Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Semakin Berkobar


__ADS_3

'Sungguh itu bukan Sabrina,' gumam Toni dalam batinnya.


Sedikit banyak dia mengenal karakter Sabrina dengan baik, tak mungkin dia dan juga para sahabatnya yang lain tiba-tiba berubah menjadi tak ubahnya seperti robot penurut yang hanya di program untuk berdeham dan menganggukan kepala saja.


Jelas ada yang tidak beres dengan semua ini, namun Toni masih mencari penyebab ke 4 sahabatnya itu berubah menjadi sangat kompak dan penurut itu.


Begitu pun apa yang di pikirkan oleh Cila, radar bahaya dalam dirinya seakan memberikan sinyal kalau ini tak normal, seperti ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan atau malah mereka rencanakan, sehingga dirinya harus lebih waspada dan hati-hati dalam bertindak.


"Emh, Sabrina, apa ayah ku benar-benar telah memberikan proyek kasino dan 2 bar milik ayah ku itu pada ayah mu?" Tanya Cila tiba-tiba.


"Kau tau semua? Kau ingat semua? Aku pikir kau---" Sabrina balik bertanya sambil memasang wajah kaget dan menaruh jari telunjuknya melintang atau mengikuti garis horizontal di keningnya seakan ingin mengatakan kalau otak Cila miring alias gila.


"Aku tak amnesia, dan aku juga tidak gila! tentu saja aku tau dan ingat semua!" Sewot Cila, tanpa sadar sudah berhasil terpancing dan terprovokasi oleh pertanyaan Sabrina barusan.


"Uhuk,,,uhuk,,,!" Mendengar perdebatan antara Sabrina dan Cila membuat Raya tak sengaja tersedak, membuat perdebatan di antara keduanya terhenti begitu saja.


"Sayang kenapa, hati-hati!" Toni sibuk memberi istrinya minum dan mengusap-usap punggung Raya pelan.


"Kalian jangan berdebat saat makan," lerai Toni menatap Sabrina dan Cila secara bergantian.


"Dia yang mulai, dia mengatai ku gila!" Cila langsung mengarahkan jari telunjuknya ke arah Sabrina.


"Aku kan, cuma bertanya bukan menuduh, kenapa kau marah dan merasa tersinggung?" elak Sabrina cuek.


"Sudah, sudah, mungkin maksud Sabrina mengatakan itu semua karena dia-- maaf mendengar mu pernah di rawat di rumah sakit jiwa." Terang Raya pada Cila saat dirinya sudah mulai tenang, berusaha menengahi perdebatan mereka berdua.

__ADS_1


"Sabrina, orang yang di rawat di rumah sakit jiwa itu tidak mesti gila, bisa saja hanya depresi, lagi pula Cila kini sudah dalam pemulihan," urai Raya memberi Sabrina penjelasan, namun juga tidak menyalahkannya.


"Ya maaf, aku kan tadi sudah bilang kalau aku hanya bertanya." cicit Sabrina.


'What? sabrina minta maaf, dan mengalah begitu saja saat Raya memberi nya teguran? Oh fix, ada yang aneh dengan Sabrina!' lagi-lagi Toni hanya bisa berbincang mengutarakan keheranannya itu dalam batinnya.


Sampai pada waktunya acara sudah berakhir, semua orang sudah pulang, hanya tersisa Cila yang masih bertahan di rumah itu seakan enggan untuk pulang.


"Katakan, hal apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan dengan ku?" Tanya Toni pada Cila yang di awal kedatangannya tadi mengatakan kalau datangnya dia ke rumah itu karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Toni.


"Tapi ini sangat---" Cila melirik ke arah Raya yang sedang duduk bersamanya di teras belakang rumah, karena Toni sedang merokok, Raya tak pernah mengijinkan suaminya itu untuk merokok di dalam rumah, seakan Cila keberatan jika pembicaraannya dengan Toni di dengar juga oleh Raya.


Seakan mengerti dengan gelagat Cila yang tak ingin dirinya berada di sana, Raya pun berpamitan untuk masuk ke dalam rumah dengan alasan tak tahan dengan bau asap rokok.


"Kenapa kau tak mau Raya mendengarkan percakapan kita? Apa kau tau, tak pernah ada rahasia di antara kami, jadi meskipun saat ini dia tak ada di sini dan tak mendengarkan pembicaraan kita, aku akan tetap menceritakan dan memberi tahunya tentang apa yang kita bicarakan sekarang ini." papar Toni menegaskan pada Cila kalau apapun yang terjadi dengannya itu pasti atas sepengetahuan Raya.


"Bukan sepenting itu, tapi sangat penting." Jawab Toni seraya mengepulkan asap rokoknya ke udara, sehingga udara di sekitar wajahnya berubah warna menjadi putih semua.


"Aku ingin bertanya sesuatu, aku menemukan foto ini, abang bisa menjelaskan tentang ini? Aku tak mau Raya mendengar percakapan kita tentang ini, karena aku takut mengganggu pikirannya, orang bilang kalau orang sedang hamil itu pikirannya menjadi lebih sensitif," urai Cila sambil memperlihatkan foto di akun media sosialnya dimana menunjukkan foto dirinya dan Toni yang sedang bertunangan saat itu.


"Emh, ini--" tenggorokan Toni terasa seperti tercekat saat di sodori pertanyaan seperti itu oleh Cila, dia sungguh tak menyangka jika ternyata hal penting yang akan di bicarakan oleh Cila itu adalah masalah pertunangan mereka, pantas saja Cila tak mau Raya mendengarnya, mungkin Cila pikir Raya tak tau tentang pertunangan itu, batin Toni.


"Apa ini benar? Apa benar kita pernah bertunangan?" Cila terus meminta penjelasan pada Toni yang masih tak dapat berkata-kata.


Toni sungguh serba salah hendak menceritakan masalah pertunangan itu, jika dirinya menceritakan hal yang sebenarnya pada Cila, dia takut Cila kembali membenci istrinya dan berusaha mencelakainya lagi seperti sebelumnya, namun jika dia tak menceritakan yang sebenarnya pada Cila juga takutnya Cila berasumsi sendiri atas apa yang terjadi di antara mereka saat itu, terlebih pikiran Cila saat ini belum stabil, dia bisa saja menyimpulkan sendiri dengan pertunangan mereka.

__ADS_1


"Bang, pertunangan kita itu terjadi saat sebelum pernikahan mu dengan Raya atau terjadi setelah pernikahan kalian?"


Toni semakin bingung di buatnya atas pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Cila padanya, seakan semua membuatnya menjadi sangat sulit untuk menjawab semua pertanyaan itu, dia tak mau salah bicara dalam menjawab itu semua.


Sementara Cila tertawa dan bersorak sorai dalam hatinya karena telah berhasil membuat Toni kebingungan dalam menjawab pertanyaannya.


Sungguh sandiwaranya kalai ini sepertinya akan sangat berhasil membuat Toni merasa terjepit di antara dirinya dan juga istrinya.


"Bang, pasti Raya tak tau tentang ini semua ya? Cila mengerti jika abang tak mau menjawab semua pertanyaan Cila. Sunghuh Cila mau mengalah dan merelakan abang untuk Raya, apalagi sekarang ini Raya tengah mengandung anak abang, tapi tolong abang ceritakan pada Cila, apa benar kita pernah bertunangan, dan kapan itu di laksanakan? Apa pertunangan itu terjadi setelah pernikahan abang dengan Raya? Kalau begitu Cila pelakor, dong bang?" Celoteh Cila terus saja memaksa Toni untuk mengemukakan padanya hal yang sebenarnya terjadi.


"Ya, kita pernah bertunangan, tapi itu sudah lama berakhir, atas kesepakatan kita berdua," Akhirnya jawaban itu yang di pilih Toni untuk memenuhi rasa keingin tahuan Cila, sepertinya itu akan lebih masuk akal dan aman untuk semua orang, baik itu untuk Cila maupun Raya.


"Kenapa pertunangan kita berakhir?" tanya Cila penasaran, ingin mengikuti alur cerita yang di buat oleh Toni sebagai jawaban teraman menurut nya.


"Karena---karena kita memang sudah tak cocok dan tak mungkin melanjutkan pertunangan kita lagi." Toni tergagap dan seolah berhati-hati saat berbicara, karena salah salah semua bisa membuat Cila salah tangkap dengan apa yang di bicarakan olehnya.


"Berarti kita pernah cocok sebelumnya, sayang sekali kalau kisah kita harus berakhir begitu saja, aku juga tak menyangka kalau ternyata kita pernah mempunyai kisah manis di waktu yang lalu, namun mengapa kisah kita harus se tragis itu," Cila seolah sedang meratapi nasibnya.


"Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkan kita untuk berjodoh, kita sudah menyepakatinya, sebaiknya kita menjalani takdir kita masing masing." ucap Toni.


"Tapi mengapa aku merasa kalau pertunangan kita itu sebetulnya belum pernah berakhir, karena tak terbersit sedikit pun ingatan ku tentang pemutusan hubungan pertunangan kita, yang ada di bayangan ku hanya tentang bagaimana bahagianya kita di hari pertunangan itu," Cila terus menggiring Toni untuk tetap merasa kebingungan dalam menghadapi semua pertanyaannya.


"Maaf Cila, tapi pertunangan kita benar-benar sudah berakhir, kita juga mengakhirinya secara baik-baik dan kita mengakhiri semuanya atqs kesepakatan bersama, jadi sebaiknya kita tidak usah mengungkit masa lalu lagi, kuta jalani masa depan kita masing-masing. Aku juga sudah punya kehidupan sendiri. Aku sudah bahagia dengan kehidupan ku sekarang ini, apalagi aku juga sudah akan mempunyai bayi," kata Toni.


"Lalu, bagaimana dengan hati Cila? Karena hati Cila masih merasakan perasaan yang sama seperti dulu?" Cila menunjuk dadanya sendiri.

__ADS_1


"Tolong, jangan membuat semuanya menjadi rumit, kita sudah sepakat dan hubungan kita juga baik-baik saja, jangan buat hubungan baik ini menjadi rumit, tolong hargai istri ku, tolong hargai pilihan dan keputusan ku!" sekuat tenaga Toni berusaha menahan diri saat berbicara, sebisa mungkin dia tak memakai emosinya, karena dia takut jika ucapannya akan memercik kembali kemarahan dan kebencian Cila pada Raya yang mengakibatkan terancamnya keselamatan istri dan calon anaknya.


Namun hal yang tak Toni ketahu adalah, kebencian dan kemarahan Cila terhadap Raya itu tak pernah padam, bahkan semakin menyala-nyala dan berkobar sampai saat ini.


__ADS_2