Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Mengibarkan bendera perang,


__ADS_3

"Cukup, hentikan,!" Cila menutup kedua telinganya tak kuasa mendengar semua perkataan Toni yang terasa sangat menyiksa hatinya itu.


"Kenapa? Kau harus mendengarnya, kau harus terima semua kenyataannya, semua kebenarannya, kalau kau hanya di jadikan alat oleh ayah mu agar aku membantu bisnisnya, kau harus tau dan harus terima kalau aku sungguh sangat menyesal menerima tawaran ayah mu itu, AKU MENYESAL BERTUNANGAN DENGAN WANITA SEPERTI MU!" tunjuk Toni yang mengarah langsung ke wajah Cila.


Toni langsung pergi dari sana meninggalkan Cila yang langsung duduk bersimpuh luruh di lantai dengan tangis dan kesakitannya, airmatanya mengalir deras,


"Arrrgghhhhh sialan kau Raya, bahkan sudah mati pun kau masih bisa menyakiti ku, beruntungnya aku masih bisa menyiksa mu di ujung akhir hidup mu, hahahaha!" Cila tertawa dalam tangisnya, mengingat kejadian saat itu,


Kejadian ketika salah satu anak buah ayahnya memberinya informasi kalau ayahnya berhasil menangkap dan menyekap Raya, dia langsung bergerak cepat menghubungi salah satu preman pelabuhan yang di ketahuinya sedang membawa Raya ke hutan untuk di habisi atas perintah ayahnya, Raya menawarkan sejumlah uang pada salah satu preman itu asal dia mau memperkosa Raya dan membuat Raya sangat menderita sebelum dia di bunuh.


Cila sungguh tak rela jika Raya meninggal dengan cara yang mudah dan hanya di terjunkan ke jurang saja, baginya Raya harus sangat menderita dulu sebelum dia benar benar mati.


"Mampus kau, itu akibatnya jika kau mengusik ku, kau mati dengan cara tragis seperti itu, kan! Padahal aku sudah sering memberi peringatan pada mu saat kau masih hidup agar tak mengganggu milik ku, tapi kau malah memilih untuk mati, hahaha!" Geram Cila yang lagi lagi mengakhiri kalimatnya dengan tawa pilu bak orang yang kehilangan akal sehatnya.


***


"Ayo lakukan hari ini juga," ucap Toni pada Sabrina yang kini sedang dia temui di ruangan kantornya di Lubis Corp.


Sabrina memang sedang menemui Martin sang kekasih, saat Toni menelponnya untuk janji bertemu, sehingga Toni langsung ke Lubis Corp untuk menemuinya.


Toni merasa peperangan harus segera di mulai, mengingat setelah perlakuan kasarnya tadi pada Cila, wanita itu pasti akan mengadu pada ayahnya, dan bukan mustahil kalau Rolan pasti akan murka dan membalas perlakuan kasarnya pada putri kesayangannya itu dengan kata lain tadi Toni merasa sudah mengibarkan bendera peperangan pada Rolan secara tidak langsung.


"Ada apa dengan wajah mu? Kenapa kau terlihat tegang sekali," goda Sabrina yang lantas memberi kode pada Martin sang kekasih untuk meninggalkan dirinya dan Toni di ruangan itu berdua saja.


Sabrina memang tak pernah melibatkan Martin dalam urusan urusan besarnya, selain Sabrina yakin kalau Martin tak dapat berbuat apa apa yang berhubungan dengan fisik dan strategi perang di dunia hitam, terlebih Sabrina juga bukan orang mudah percaya pada orang lain meskipun itu kekasihnya sendiri.


"Bagaimana, uang ayah mu yang untuk biaya proyek itu apa sudah nutup dari hasil penggelembungan dana dari Arsan?" tanya Toni.


"Lebih, malah!" Cengir Sabrina.


"Oke, ayo kita lakukan, sore ini juga kita terbang ke sana, aku harus memastikan dengan mata ku sendiri kalau bangunan itu hancur!" geram Toni.

__ADS_1


"Apa kau sedang bad mood? Kau mengerikan sekali!" celoteh Sabrina lagi masih menanggapi ucapan Toni dengan santai.


"Aku bisa berangkat sendiri jika kau tak bersedia bergerak hari ini juga!" tegas Toni setengah membentak.


"Oke,,,oke, kita berangkat sore ini! Kau ini lagi kenapa sih, sebenarnya, aneh banget!" cicit Sabrina yang langsung memesan tiket pesawat secara online untuknya dan juga Toni berangkat ke Kalimantan sore ini.


"Aku ingin menyelesaikan nya secepat mungkin. Aku sudah tak sabar melihat runtuhnya tahta Rolan, dan keterpurukannya Arsan." ucap Toni


"Oke, seperti janji ku, aku dan ayah ku siap membantu, dan semua anak buah ku boleh kau gunakan, tapi jangan kau pacari!" kelakar Sabrina.


"Enak saja, gini gini aku sudah menikah!" ketus Toni.


"Wow,,, beberapa hari menghilang, ternyata kau menikah. Eh, kau menkah di mana? Bangkok? Jerman? masih susah, kan negara yang melegalkan pernikahan pasangan sepert kalian!" tanya Sabrina kepo.


"Aku menikah di Bandung!" jawab Toni jujur.


"Gila kau, melanggar hukum tuh, Ckkk,,, cinta memang buta ya! Lantas kapan kau kenalkan dia pada ku?" goda Sabrina.


"Anak buah ku yang di sana sudah mempersiapkan semuanya sejak bulan lalu, mereka hanya tinggal menunggu komando dari kita saja. Peledak dan lain lain sudah oke semua." beber Sabrina.


***


Disinilah Toni dan Sabrina saat ini, di proyek bangunan yang selama beberapa bulan ini mereka kerjakan, sudah sekitar 90 persen bangunan itu jadi, hanya tinggal finishing saja, Arsan bahkan sudah optimis kalau akhir bulan ini bar dan kasino nya akan segera beroperasi dan menghasilkan banyak uang untuknya.


"Lion, kau yakin akan merobohkan bangunan se megah ini? Bangunnya pake duit, lho itu!" seloroh Sabrina saat mereka sedang memasang beberapa dinamit di setiap sudut bangunan baru nan megah itu.


Penjaga bangunan memang orangnya Sabrina, jadi makin memudah kan mereka menjalankan aksinya, belum lagi mereka juga di bantu beberapa anak buah Sabrina yang mamang selama ini bertugas memantau proyek di sana.


Sementara para pekerja Proyek, mereka tinggal jauh dari bangunan, dan lagi ini malam hari para pekerja sudah pulang sejak sore hari.


"Iya, aku tau semua ini di bangun pake duit, dan itu duitnya Arsan, jadi sah sah saja kalau di hancurkan," ucap Toni cuek, di susul gelak tawa Sabrina yang menggema di bangunan kosong itu.

__ADS_1


Puluhan dinamit sudah di pasang sesuai perhitungan dan sesuai titik yang sudah mereka diskusikan dengan orang yang lebih ahli dalam hal ini.


Duarrrr,,,,bruakkkk,,,,!


dengan sekali tekan tombol pengendalinya, boom! dinamit yang sudah terpasang itu meledak dan menghancurkan bangunan empat lantai itu, senyuman pun tersungging di bibir Toni, suara ledakan yang menggelegar dan suara puing bangunan yang hancur terdengar seperti lagu merdu yang mendayu dayu di indra pendengaran Toni, lega rasanya bisa menghancurkan bangunan itu, seperti telah menghancurkan kesombongan dan keserakahan Arsan selama ini.


Meruntuhkan bangunan kebanggaan Arsan itu, terasa seperti dia sedang meruntuhkan kesombongan dan ketamakan Arsan yang rela melakukan dan menghalalkan segala cara hanya demi uang dan kekuasaan.


"Kau tersenyum?!" pekik Sabrina yang baru pernah melihat senyuman Toni selepas dan se hangat itu.


Biasanya dia hanya bisa melihat senyuman sinis, senyuman iblis dan senyuman mengejek Toni, tapi senyumannya kali ini sungguh berbeda, senyuman kepuasan dan kelegaan.


"Aku senang, aku bahagia!" cicit Toni.


"Kau sakit jiwa, sekedar melihat bangunan roboh saja, bahagia!" cibirnya.


"Kebahagiaan setiap orang itu berbeda beda, bagiku melihat kehancuran Arsan dan Rolan adalah kebahagiaan ku, pencapaian terbesar dalam pembuktian cinta ku," cicit Toni.


"Pembuktian cinta? Pembuktian cinta pada siapa?" Sabrina mengernyit.


"Kau terlalu cerewet dan terlalu banyak bertanya, tidak semua urusan pribadi dan hidup ku haris kau ketahui, bukan?" sinisnya.


"Tapi aku penasaran, kenapa kau begitu dendam pada Arsan?" kejajr Sabrina kekeh mencari tau.


"Suatu saat kau pasti tau apa alasannya, tapi bukan sekarang,! Ayo kita bersiap pulang sebelum ada yang melihat kita di sini," ajak Toni.


"Hey, sakit jiwa, kita jauh jauh ke sini hanya untuk menyaksikan puing bangunan seperti ini, lalu pulang? Setidaknya biarkan aku makan atau beristirahat sebentar!" omel Sabrina.


"Kau boleh makan dan istirahat sepuasmu di sini, tapi sendirian, urusan ku masih banyak di Jakarta, belum saatnya berleha leha," Toni bergegas meninggalkan Sabrina yang terus mengomel.


"Kau memang gak asik, hidup mu terlalu serius,!" gerutu Sabrina yang mau tak mau mengikuti langkah Toni untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2