
"Mungkin jawabannya akan sangat mengagetkan mu, namun ini kenyataannya, kalau Yama adalah adik mu!"Toni berusaha menerangkannya dengan sangat pelan agar pikiran dan mental sang istri tidak begitu down.
"Adik? Aku punya adik?" beo Raya sampai terbangun dari posisi tidurannya, saking dia kagetnya.
"Tenang dulu, dengarkan dulu penjelasan ku, sini!" Toni merentangkan tangan kirinya agar Raya tidur di dada kirinya.
Raya Patuh menuruti sang suami, karena sungguh dia penasaran dengan cerita tentang Yama, remaka pria yang wajahnya sangat mirip dengan sang ayah itu.
Dengan pelan dan penuh ke hati-hatian Toni menceritakan tentang siapa Yama dan bagaimana dia bisa terlahir sebagai adik dari istrinya itu.
Tanpa protes dan menyela sedikit pun, Raya juga mendengarkan dengan seksama cerita yang di tuturkan oleh suaminya itu, entah karena Toni yang memang pandai memilih kata dalam penyampaian cerita, atau memang Raya yang sudah ikhlas dengan semua hal yang terjadi padanya, setelah mendengar semua penuturan Toni, Raya tak menunjukkan ekspresi atau perubahan mimik wajah sedikit pun, dia masih terlihat tenang.
"Pantas saja, waktu pertama kali melihat bocah itu, aku seperti melihat cerminan Arsan di sana!" kata Raya.
"Hey, sayang,,, dia ayah mu, kenapa kamu hanya menyebut namanya saja?" Toni meirik wajah sang istri dengan penuh tanya, bisa-bisanya Raya memanggil ayahnya hanya dengan sebutan Arsan saja.
"Aku malu punya ayah macam dia, pantas saja Sabrina sangat membenci ku, sekarang aku bisa mengerti."cicit Raya.
"Tapi Sabrina memang tak seharusnya membenci mu, yang salah dalam hal ini adalah ayah mu, dan kamu tidak berhak untuk ikut menanggung semua dosa-dosanya!" timpal Toni, seraya mengusap usap punggung halus sang istri.
"Aku ingin bertemu dengan Yama lagi," rengek sang istri.
"Ya, tapi kamu tak boleh membuka tentang hal ini padanya, kasi, dia tak akan kuat mendengar kebenaran ini, penyakitnya saja sudah sangat membuatnya menderita, apa lagi kalau harus di tambah dengan cerita tentang silsilah hidupnya," urai Toni.
"Iya, aku tau, aku hanya ingin bertemu dan mengobrol dengannya, ingin merasakan bagaimana rasanya punya adik, selama ini aku sangat menginginkan mempunyai adik, akhirnya Tuhan mengabulkan pinta ku," jauh dari dugaan Toni yang mengira Raya akan syok tau bahkan lebih parahnya akan menangis histeris saat di beritahukan hal ini, ternyata sang istri terlihat biasa-biasa saja, bahkan malah bahagia karena ternyata tiba-mendapakan adik laki-laki yang di idam-idamkannya.
__ADS_1
Lega lah sudah hati Toni sekarang ini, ganjalan yang selama ini memenuhi dadanya karena merasa tak sanggup menceritakan tentang semua itu pada sang istri kini lenyap sudah.
Apa kamu senang? Kamu bahagia?" tanya Toni mencium pipi mulus istrinya.
Raya mengangguk, "Besok antar aku ke rumah itu lagi ya, aku ingin seharian bersama adik ku!" pintanya.
"Boleh, namun ada syaratnya, kamu juga harus membuat ku senang dan bahagia dulu malam ini, baru besok kamu aku ijinkan seharian bersama adik mu, untuk sekarang, bagaimana kalau kamu bermain dengan adik ku dulu?" cengir Toni, sambil matanya melirik jahil ke arah juniornya yang sudah sedari tadi berdir tegak sikap sempurna ingin keluar dari balik jeruji yang menghalanginya.
"Haish,,, sayang kamu nakal dan mesum sekali," ucap Raya dengan wajah yang memerah sempurna.
"Ya mau gimana lagi, adikku juga kangen sama kamu, pengen di manja juga katanya!" goda Toni lagi yang tangannya sudah bergerilya nakal di balik baju tidur satin Raya yang setipis iman sang suami jika sudah bersentuhan dengan dirinya.
Baju tidur satin berwarna hitam itu pun kini sudag tak tau di mana keberadaannya, entah ke arah mana tadi Toni melemparnya dengan sembarang arah.
"Kamu selalu cantik dan selalu menggoda," gumam Toni terus memuji kecantikan sang istri, sementara Raya yang di perlakukan se manis itu oleh Toni hanya bisa menikmati semua perlakuan manis sang suami yang selalu membuatnya berasa bagai terbang dan melayang ke angkasa.
***
Di rumah Rolan, semua anak buahnya sudah berkumpul malam itu, di tambah lagi pasukan bantan dari anak buah Cobra yang juga sudah datang dan bergabung bersama mereka.
Malam ini, atau tepatnya menjelang dini hari nanti, penyerangan terhadap Arsan akan segera di lakukan, mereka semua sedang mendengarkan briefing yang di sampikan oleh masing masing kepala pasukan, mereka di bagi menjadi tiga kelompok yang akan menyerang dari berbagai arah yang sudah di tentukan dan di perhitungkan oleh Rolan dan Cobra.
Duet maut antara Rolan dan Cobra seharusnya bisa melumpuhkan Arsan, bagaimana tidak, ketika dua ketua mafia yang di selimuti dendam bersatu untuk menyerang satu musuh mereka yang sama bisa saja ini merupakan hari terakhir bagi Arsan melihat indahnya dunia.
Semua persiapan bahkan sudah sangat paripurna, puluhan senjata milik Rolan juga di bagikan bagi beberapa orang terpilih yang akan bertugas untuk melindungi para pasukan dari tempat tersembunyi, mereka akan berperan sebagai sniper dalam penyerangan itu.
__ADS_1
Cobra tampak mengobrol serius dengan sang putri, Sabrina.Putri satu-satunya Cobra itu memang sudah sering ikut turun lapangan dalam
peperangan antar mafia seperti ini, bahkan tak terhitung berapa kali Sabrina terluka parah saat pulang dari pertemuran, namun wanita itu tak pernah kapok dan selalu meminta ikut serta dalam peperangan atau pun penyerangan.
Apalagi sekarang lawan yang akan mereka hadapi adalah musuh bebuyutan keluarganya, orang yang paling ingin dia bunuh di dunia ini, tentu saja Sabrina harus ikut serta dalam aksi penyerangan yang akan menjadi sebuah peperangan besar ini.
"Kau sudah siap?" tanya Cobra pada sang putri.
"Aku belum pernah se siap dan sesemangat ini sebelumnya dalam pertempuran, ayah, aku sangat siap dan bersemangat!" ucap Sabrina berapi-api.
"Kenapa kau datang terlambat?" Tanya Cobra yang tak tahu kalau Sabrina tadi dari rumah tempat Yama di rawat, dia meminta ijin meskipun tak terucap, jika dalam pertempuran itu Arsan yang notabene adalah ayah biologis Yama harus terbunuh di tangannya.
"Aku bertemu Yama dulu tadi, kebetulan Raya juga datang ke sana bersama Lion," terang Sabrina.
Cobra terlihat menerawang jauh, pandangan nya seakan kosong entah kemana.
"Apa ayah marah pada ku karena mengijinkan mereka bertemu?" sambung Sabrina yang merasa ayahnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Tidak, ayah tidak marah!" geleng Cobra.
"Mereka kakak beradik, sama seperti halnya kamu dan Yama. Dan gadis itu juga berhak tau akan itu," lanjut Cobra, sungguh diluar dugaan Sabrina ayahnya justru tak keberatan dengan hal itu.
"Ayah, apa kau tau, Raya itu ternyata gadis yang Lion nikahi, dia gila! Menolak ku hanya karena gadis itu," ucap Sabrina yang masih merasa kesal dengan kenyataan itu.
"Oh ayolah, kita tak bisa merubah takdir, mungkin itu takdir terbaik menurut Tuhan untuk mereka, karena jodoh itu tak bisa di paksakan!" kata-kata Cobra terdengar bijaksana.
__ADS_1
"Ayah, sejak kapan kau se bijaksana itu?" Sabrina bahkan memicingkan matanya ke arah ayahnya itu.
"Kau harus mulai berdamai dengan Raya, seperti hanya kau menerima Yama meski di tubuh adik mu itu menglir darah iblis, tapi sama seperti halnya Yama, gadis itu juga tak bersalah apa-apa pada mu, cobalah untuk berdamai dengannya, apalagi ayahnya akan kau habisi!" seloroh Cobra yang di akhiri dengan tawa renyahnya.