Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Ini terlalu kejam,


__ADS_3

"Ayah,,,!" jeritnya dalam hati, betapa rasa rindunya tak dapat lagi dia tahan, Raya ingin sekali berlari dan memeluk ayahnya, namun apa daya dirinya tak bisa berbuat apapun sekarang ini,bahkan dia tak bisa untuk sekedar berteriak untuk memanggil ayahnya.


"Aku punya penawaran baik buat mu, ayo kita buat kesepakatan," ajak Rolan langsung memulai pembicaraan pada intinya.


"Kesepakatan apa maksud mu?" Arsan mengernyit, tak paham dengan arah pembicaran rekan bisnisnya itu.


"Aku punya sesuatu untuk di jadikan alat pertukaran buat mu," Rolan memberi kode pada salah satu anak buahnya untuk membawa Raya ke ruangan itu.


"Apa maksudnya ini, kenapa kau membawanya kesini, dan apa yang kau maksud tentang alat pertukaran itu dia? Tapi pertukaran untuk apa?" Arsan terlihat kebingungan tiba tiba Rolan membawa Raya yang dalam keadaan terikat ke hadapannya.


Mata Raya sungguh mengiba, sorot kedua manik coklatnya menyimpan banyak hal yang selama ini terpendam dan ingin dia ungkapkan.


Betapa saat ini Raya sangat bahagia dapat bertemu kembali dengan ayah yang sangat di rindukannya, sungguh hatinya tenang saat melihat keadaan ayah tercinta nya dalam keadaan baik, sehat dan tak kurang suatu apapun (kecuali hati!).


Raya yang tadinya di selimuti rasa ketakutan, kini hatinya kembali menghangat saat wajah Arsan nyata di hadapannya, tak lagi sekadar bertemu dalam lamunan atau impian nya saja seperti yang selama ini dia rasakan.


Alih alih mendapatkan tatapan penuh rindu dan teduh dari ayahnya, tatapan mata Arsan justru terkesaan dingin dan tak memperdulikan kehadiran Raya sedikt pun, seolah dia tak merasa iba atau terenyuh melihat putrinya yang merupakan darah dagingnya sendiri itu bersimpuh tak berdaya di lantai dengan tangan dan kaki yang terikat dan mulut tertutup lakban, hati Arsan seperti membatu, dan tak merasakan apapun melihat pemandangan seperti itu di depan wajahnya.


Namun semu itu tak menjadikan Raya kehilangan rasa rindu dan sayangnya pada Arsan, Raya masih merasa yakin, kalau jauh di lubuk hati ayahnya itu tersimpan rindu dan sayang yang teramat besar untuk dirinya.


"Kembalikan senjata senjata milik ku yang kau jarah di pelabuhan, maka akan ku serahkan putri mu, aku tau nyawa putri mu tidaklah berharga untuk mu, tapi,,, aku tau kau sedang kekurangan uang saat ini untuk melanjutkan proyek mu, apa kau lupa kalau dia masih memiliki 30 persen saham di Lubis Corp? Bukankah kau bisa mempergunakannya?" Rolan menyeringai jahat, sungguh dia merasa kalau rencananya ini akan berhasil.

__ADS_1


Rolan masih yakin kalau Arsan lah yang mencuri semua senjatanya, setelah memutar cara bagaimana untuk menekan Arsan, dia rasa carainilah yang mungkin paling baik, meskipun dia tau Arsan tak mungkin menukarkan hartanya demi nyawa putrinya sekali pun, tapi Arsan pasti tak akan menolak jika saham 30 persen Lubis Corp yang nilainya lumayan itu dapat dia miliki kembali.


Rolan yakin kalau Arsan tak akan menolak, sepanjang itu urusannya berbau uang.


Namun tanpa di sangka sangka yang terdengar kini adalah gema suara Arsan yang tertawa terbahak bahak di ruangan itu, membuat Rolan merasa sedikit kebingungan dengan apa yang dilihatnya.


"Rolan,,, berapa lama kau berteman dengan ku? Mengapa kau masih saja tak mengenali karakter ku!" Ucap Arsan di tengah kekehannya.


"Apa maksud mu? kenapa kau malah tertawa seperti itu, apa yang kau tertawakan?" kesal Rolan.


"Tentu saja aku menertawakan kebodohan mu, yang pertama, aku tak pernah mencuri senjata senjata mu, dan yang kedua, jika pun aku mempunyai semua senjata itu, tentu saja aku akan lebih memilih senjata curian itu dari pada harus menukarkannya dengan dia!" tunjuk Arsan tepat ke arah Raya yang duduk terikat di lantai.


Hatinya tersentak dan meringis perih mendengar pernyataan ayahnya,


"Kau tak bisa menipu ku, tak ada orang lain tau tentang kiriman senjata itu, termasuk anak buah ku, tapi kenapa kau tau tentang itu?" Rolan tak terima dirinya yang di katai bodoh oleh Arsan.


"Ah, memang kau mafia bodoh, mungkin tentang pengiriman senjata itu hanya kau yang tau, tapi berita tentang hilangnya kiriman senjata mu itu hampir semua anak buah mu tau, tentu saja ku pun tau tentang berita itu, semakin tua otak mu semakin tumpul rupanya, jangan jangan sebentar lagi kau akan pikun!" ejek Arsan.


Rollan menggeram, sungguh Arsan lancang sekali dari tadi terus menghinanya, sementara kepalanya di penuhi ucapan ucapan Arsan yang memang terdengar logis, mungkin saking setressnya dia jadi tak dapat berpikir jernih lagi, kecurigaannya pun melebar ke mana mana tanpa alasan.


"Lantas, kalau bukan kau, siapa yang mencuri senjata ku?" gumamnya malah semakin terdengar bodoh.

__ADS_1


"Kau itu mafia, punya banyak anak bah, punya banyak wilayah kekuasaan, untuk memecahkan masalah mu sendiri saja kau tak mampu, memang kau benar benar harus sudah saatnya pensiun, ku sudah udzur!" lagi lagi Arsan malah mengolok oloknya.


"Sialan kau, Tapi aku sudah terlanjur menculiknya, kau ambil lah, aggap saja dia bonus cuma cuma dari ku, kau dapat saham 30 persen gratis, setelah itu kau bisa menghabisi putrimu seperti dulu kau menghabisi ibunya saat Lubis Corp sudah kau rampas dan kuasai dari tangan nya dan keluarganya." oceh Rolan.


Duarrrrr!


Terasa bak letusan gunung merapi di dada Raya saat mendengar perkataan Rolan tentang kenyataan bahwa ayahnya lah yang sudah membunuh bundanya, dan merampas perusahaan milik Maria sang ibu dan keluarganya, pantas sajadari dulu Raya penasarn mengapa perusahaan yang di pimpin ayahnya itu bernama Lubis Corp, sementara Lubis adalah nama belakang atau nama keluarga bundanya, Raya pikir Arsan sangat mencintai bundanya sehingga perusahaan yang didirikan oleh ayahnya itu di namai Lubis Corp sesuai nama belakang bundanya sebgai bentuk cinta ayahnya untuk sang istri, ternyata---


Tes,tes,tes, setetes demi setetes air mata itu jatuh juga di pipi Raya dalam diam dan ketidak berdayaannya.


Tetesan air mata Raya jatuh seiring dengan luruhnya rasa rindu, rasa cinta, rasa hormat, rasa sayang dan rasa percaya terhadap ayahnya.


Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana hancur dan porak porandanya hati Raya saat ini, sakitnya di hianati oleh orang terdekat dan terkasih itu bagai di tusuk oleh pisau tumpul dan berkarat, sakit dan perihnya akan lebih terasa.


Selama puluhan tahun dia mencintai dan menyayangi orang yang salah, mencintai dan menyayangi iblis jahat yang bertopeng sebagai ayah penyayang, Ayah yang ternyata sudah memisahkan dirinya dengan sang bunda yang sangat di cintainya untuk selamanya.


Oh, betapa saat ini Raya ingin Arsan membunuhnya juga agar dia bisa menyusul bundanya, dia benar benar merasa sendirian saat ini, tak punya tujuan hidup lagi saat ini, dan kalau pun tetap melanjutkan hidupnya, dengan cara apa dia menghadapi dunia ini, sementara hatinya hancur lebur dengan segala trauma yang dihadapinya kini.


Jelaslah Raya sudah tak mungkin lagi bisa memandang hidup dengan perspektif yang sama seperti sebelum dia mengalami hal tragis ini.


Pukulan ini terlalu berat, terlalu telak menghajar hati dan mental Raya secara bersamaan dan brutal. Sungguh kematian adalah pilihan terbaik yang ada di benak Raya saat ini, dia putus asa, sangat putus asa sampai tak punya keinginan untuk melanjutkan hidupnya yang di rasa sudah tak berarti lagi.

__ADS_1


Bahkan dia kehilangan semua iman dan keyakinannya akan Tuhan, lebih jauh dia merasa Tuhan tak adil padanya, mengapa menghukum dirinya seberat itu tanpa dia tau kesalahan berat apa ang sudah dia lakukan, atau bahkan mungkin ini karma atas semua kejahatan ayahnya?


Akh, adilkah ini, dia harus menanggung semua akibat atas kejahatan ayahnya yang sama sekali dia tak pernah mengetahuinya, ini terlalu kejam untuknya.


__ADS_2