
Aaarrgghh,,,,! rasanya Raya ingin sekali berteriak mengeluarkan semua beban di dadanya, kenapa rasanya kini beban itu semakin terasa berat dan berat, semakin bertambah dan bertambah saja.
Semua itu Raya rasakan karena tiba tiba dia merasa tak enak hati pada Toni, karena dirinya lah Toni harus mempertaruhkan dirinya dengan berpura pura mendekati Sabrina demi mendapat informasi mengenai Arsan sang ayah, Karina sang ibu tiri durjana dan mencari tau tentang dendam apa yang terjadi di antara Cobra dan keluarga Arsan Lubis hingga masalah menjadi serumit ini.
"Aku akan kembali ke perusahaan, bagaimana pun aku masih sebagai pemegang saham di sana, meskipun kecil, aku harus mempertahankan hak ku, setidaknya aku bisa memantau pergerakan Sabrina di kantor," ucap Raya mengemukakan keinginannya.
"Tapi,,, bukankah itu akan sangat membahayakan mu, untuk apa aku mati matian melakukan ini semua kalau ternyata kau kenapa kenapa," Toni sepertinya meresa keberatan dengan rencana Raya, membiarkan gadis itu masuk ke dalam lingkaran setan, sementara dirinya tak bisa sepenuhnya menjaga Raya, apakah itu tak malah akan membuat hati Toni merasa tak tenang dalam menjalankan misinya,? pikirnya.
"Tolong lah, aku juga ingin melakukan sesuatu, tak hanya duduk diam saja, aku bisa gila jika di kurung terus seperti itu, tenang saja, aku akan mengajak Dila agar bekerja dan tetap bersama ku di kantor," bujuk Raya meyakinkan Toni dan Panca yang seolah keberatan dengan keinginan Raya itu.
"Kalian tenang lah, aku akan menjaga Raya dan ikut kemana pun dia pergi, dia tak akan ku tinggalkan sendirian," timpal Dila yang siang itu sudah kembali ke Jakarta dan berada di tengah tengah mereka, setelah menyelesaikan resign di tempat kerja nya yang lama.
"Berjanjilah untuk tetap berhati hati, dan hubungi aku atau Panca kapan pun, jika ada masalah, jangan bertindak gegabah, dan diskusikan dahulu setiap apa yang akan kau lakukan, aku tak mau sampai hal buruk terjadi pada mu," Toni mendadak menjadi sangat cerewet siang itu, berbagai wejangan dan arahan dia sampaikan, panjang lebar bak gerbong kereta api yang tak ada habisnya.
Panca menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu,
"Ckkk, betapa cinta bisa merubah bongkahan es batu menjadi air hangat, bahkan panas, singa yang dulu garang, kini berubah menjadi kucing yang manis !" decak Panca meledek Toni yang langsung memberinya tatapan membunuh.
"Bukan kucing lucu dan manis, tapi kucing oren yang barbar !" timpal Raya yang di sambut gelak tawa seisi ruangan, kecuali Toni tentu saja, pria itu asik dengan ponsel yang berada di tangannya, seperti sedang mengetik sesuatu di layar itu.
"Aku harus segera pergi," Toni berpamitan dan bergegas keluar dari rumah Panca, dia sudah bisa meninggalkan rumah itu dengan tenang dan tanpa kecurigaan lagi, karena kini Dila sudah berada di sana kembali.
"Toni !" panggil Raya yang ternyata mengejarnya sampai ke luar.
Toni menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Raya yang kini datang mendekat padanya.
"Mau kemana ?" tanya Raya ragu, entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Sabrina mengajak ku bertemu," jawab Toni jujur.
Hati Raya bagai di cubit rasanya, mendengar jawaban jujur Toni, tiba tiba egonya muncul, anggaplah dia kekanakan saat ini, dia merasa Toni begitu bersemangat dan langsung bergegas pergi hanya karena sebuah pesan ajakan bertemu dari Sabrina.
Cemburu, mungkin kata itu lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana suasana hati Raya saat ini, eh tapi,,, bukan kah Toni melakukan ini semua demi dirinya, lagi pula antara dirinya dan Toni tak ada hubungan apapun selain hubungan kerja antara tuan dan bodyguardnya.
"Kamu terlihat sangat bersemangat dan bahagia, akan bertemu dengan dia !" cebik Raya, kini tampak seperti seoran kekasih yang sedang merasa cemburu karena pasangannya akan bertemu perempuan lain.
'Oh ayolah Raya, apa yang kamu katakan itu berlebihan, toni bukan siapa siapa mu, jangan terlalu naif hanya karena dia mencium mu lalu kau ingin memiliki dia seutuhnya, ingat, dia milik Cila !' begitu kira kira protes hati kecilnya yang sebenarnya sangat ingin Raya abaikan, namun sialnya itu memang kenyataannya.
__ADS_1
Toni tersenyum mendengar penuturan Raya yang sepertinya lagi lagi merasa cemburu,
"Kau bersikap seperti ini lagi, apa itu artinya kau ingin ku cium lagi seperti semalam ?" Toni menyunggingkan senyum jahilnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Raya yang kini sudah merona.
"Ishhh,,,, pergi sana, dasar kucing oren barbar !" pekik Raya mendorong tubuh kekar Toni agar menjauh dari hadapannya, jantungnya sudah meloncat loncat tak karuan saat hembusan nafas Toni terasa menyentuh wajahnya karena mereka saking dekatnya tadi, hampir saja Raya memejamkan mata dan mengharap mendapat ciuman yang lebih lama dari pada semalam yang hanya sekilas saja, untung saja akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, dan reflek menjauhkan wajah tampan itu dari hadapannya.
Toni kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Raya yang sampai kini masih menatap punggung lebar pria yang beberapa kali menjadi sandarannya saat mereka sedang berboncengan motor.
***
"Apa kau tak tidur di kost mu semalam ?" Sabrina membuka pembicaraan pertemuan mereka di salah satu rumah makan di dekat Lubis corp.
"Apa kau memata matai ku ?" Toni balik bertanya.
"Tadi pagi aku mampir ke tempat kost mu untuk memberikan ini," Sabrina menyodorkan sebuah map coklat yang berisi beberapa lembar perjanjian kerja sama atas bisnis yang akan mereka jalani itu.
"Atau--- kau tidur di rumah tunangan mu ?" wajah Sabrina tampak tidak senang saat menanyakan hal itu, terlihat dari sorot matanya yang seakan menatap toni dengan tatapan memohon seolah berkata 'jangan katakan iya pliss,,,!'
"Aku ada sedikit urusan dengan Panca, jadi aku menginap di rumahnya !" jawab Toni yang tak menyangka kalau Sabrina ternyata sejauh itu mencari tau tentang dirinya, terbukti dari dia yang tau dimana tempat kost yang di tinggalinya saat ini, namun Toni harus berpura pura seolah biasa saja dan tak terlihat kaget saat mendengar Sabrina yang pergi ke tempat kost nya tadi pagi.
Senyuman terulas di bibir tipis Sabrina, saat mendapat jawaban yang sangat sesuai dengan apa yang di harapkannya.
"Aku bahkan tak tau kalau mereka pacaran !" Toni mengendikkan bahunya cuek.
"Bukankah kata ayah ku kau sempat bekerja menjadi pengawal pribadi Raya Lubis ?" pancing Sabrina.
"Pengawal pribadi tak harus tau urusan pribadi bosnya, bukan ? lagi pula aku hanya bekerja sekitar satu bulan dengannya," elak Toni, dia yakin kalau saat ini Sabrina tengah mengorek masalah pribadi dirinya, dan mencari tahu sedekat apa atau bagaimana hubungan nya dengan Raya, jadi dia tak boleh salah bicara, karena salah salah itu akan membahayakan Raya dan juga menghancurkan rencana yang sudah di susunnya.
"Satu bulan, lumayan lama lah, tapi mengapa kemarin kalian tak saling menyapa, bahkan terkesan seolah tak saling mengenal ?" cecar Sabrina.
"Pekerjaan ku dengan nya sudah selesai, jadi aku tak ada urusan lagi dengannya," kilah Toni berbohong.
"Berarti kalau urusan bisnis kita sudah berakhir, kau juga akan bersikap seperti itu pada ku ?" wajah Sabrina kembali murung, dia sekan tak rela jika suatu saat bila urusan kerja samanya telah berakhir, Toni akan bersikap dingin seperti sikapnya pada Raya tempo hari.
"Lantas kau ingin aku berskap seperti apa, jika kerja sama kita sudah selesai ?" tantang Toni berusaha menebar umpan pada mangsa buruannya.
"Kalau aku mengharap lebih dari hubungan kerja sama, apa kau keberatan ?" Sabrina yang terbiasa bersikap lugas dan tegas itu mengatakan keinginannya pada Toni tanpa basi basi.
__ADS_1
Toni tersenyum dalam hati, sungguh buruannya kali ini terlalu mudah memakan umpannya dan seperti berpasrah untuk di tangkapnya.
"Lebih ? Maksud mu?" Toni berpura pura tak mengerti akan maksud perktaan Sabrina yang secara tidak langsung sedang mengungkapkan perasaan padanya.
"Sepertinya aku menyukai mu !" ucap Sabrina tanpa tedeng aling aling.
"Kita sama sama sudah punya pasangan, rasanya tak pantas membahas tentang ini, lebih baik kita kembali membahas masalah pekerjaan, aku juga
tak ingin kau terlibat masalah dengan Cila dan Rolan gara gara aku," Ton mulai memainkan perannya seolah dirinya menolaksecara halus, agar Sabrina yang terkenal pantang menyerah itu semakin penasaran dan lebih berusaha untuk mendapatkan dirinya, (Eh cie,,, si Toni sok jual mahal !)
"Kau sangat mencintai Cila, ya ?" lirih Sabrina, suaranya terdengar lemah.
"Kami sudah bertunangan, kau gila, menyatakan perasaan suka pada pria yang sudah bertunangan, sementara kau sudah mempunya pasangan juga," tepis Toni, sengaja tak menjawab pertanyaan Sabrina tentang perasaannya pada Cila.
"Aku tanya, apa kau mencintai Cila ?"Sabrina mengulang pertanyaanya sekali lagi, secercah harapan tumbuh di hatinya, jika Toni memang benar bennar mencintai tunangannya itu, tak perlu dia bertanya sampai dua kali pria itu pasti akan lansung mengatkan jika dia benar benar mencintai pasangannya itu, tapi Toni seolah menghindar dari pertanyaannya.
"Aku tak benar benar harus menjawabnya, kan ? Ini tak ada hubungan dengan urusan kerja sama kita !" Toni keukeuh tak ingin menjawab pertanyaan Sabrina tentang perasaannya pada Cila.
"Sudahlah, tak perlu di jawab,,, aku sudah tau jawabannya," Sabrina mendadak tersenyum, wajahnya juga berbinar, dia yakin kalau Toni sebenarnya tak mencintai Cila, mungkin ada suatu hal yang membuat pria itu bertunangan dengan anak satu satunya dari Rolan itu, dia juga tak ingin tahu, baginya mengetahui fakta kalau sebenarnya Toni tak mencintai Cila saja itu sudah cukup.
Tebakan Sabrina memang tepat, dia dengan mudahnya bisa menebak dan menyimpulkan kalau Toni tak mencintai Cila, namun sayangnya dia tak akan pernah bisa menebak pada siapa hati Toni telah berlabuh.
Perbincangan Bisnis siang itu berjalan lancar, mereka terlihat semakin akrab karena perbincangan yang semakin intens tak hanya pembicaraan tentang pekerjaan saja, Sabrina juga banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya, ketika hanya sedikit di pancing oleh Toni, ceritanya mengalir begitu saja, dan Toni harus menebalkan telinganya mendengarkan rentetan cerita Sabrina yang seakan tak ada hentinya berceloteh dan berpura pura interest dengan cerita wanita yang terang terangan sedang menarik perhatian pria lawan bicaranya itu.
Beruntunglah Toni di selamatkan oleh bunyi ponselnya yang terus terusan berdering minta untuk di angkat.
Wajah Sabrina kembali menampakan ketidak sukaannya, saat melihat nama Cila tertera di layar ponsel Toni.
Untuk pertama kalinya Toni merasa senang Cila menelpon dirinya, jika sebelumnya Toni selalu mengabaikan panggilan dari tunangannya itu karena selalu merasa terganggu, saat ini Toni langsung mengangkatnya dengan semangat, hatinya sunggug sangat bersyukur Cila menelponnya di waktu yang tepat, karena dengan begitu dia bisa terbebas dari kegiatan membosankan mendengarkan ocehan Sabrina yang tak pernah ada habisnya itu.
"Kenapa, apa Cila mencari mu ?" tanya Sabrina sedikit cemberut, saat Toni baru saja mengakhiri percakapannya dengan tunangannya itu.
"Hemh,,, aku harus segera ke sana,!" pamit Toni membereskan kembali berkas berkas yang tadi sudah berulang kali di bacanya di sela mendengarkan cerita Sabrina.
"Baiklah,,," ucap Sabrina sedikit lesu, rasanya baru beberapa menit saja berbincang seru dengan pria yang kini semakin di sukainya itu.
Seperti dapat mengerti apa yang kini di rasakan Sabrina, Toni berbalik dari langkahnya yang sudah beberapa langka meninggalkan meja tempat mereka berbincang, dan mendekat kembalike arah Sabrina yang masih setia duduk di sana sambil menatapnya.
__ADS_1
"Kau bisa menyusul ku ke sasana milik Rolan jika kau masih merindukan ku, bukan kah kemarin katanya kau ingin bertarung dengan ku di atas ring ?" goda Toni, dan lalu kembali berbalik, kali ini pria itu benar benar pergi ke luar resto meninggalkan Ssabrina denga senyum lebarnya, hatinya melompat lompat kegirangan karena merasa Ton menyambut perasaannya, itu terbukti dari ajakan bertemu pria itu, bahkan tak tanggung tanggung, Toni mengajaknya bertemu di tempat latihan milik keluarga besar tunangannnya.
"Tunggu saja, aku pasti menyusul dan menghajar mu !" teriak Sabrina tak peduli dirinya yang kini menjadi pusat perhatian para pengunjung lain yang menatapnya dengan tatapan aneh.