
"Anak anda over dosis zat amfetamin, harap lebih memperhatikan lagi pergaulan putri anda!" Dokter perempuan yang terlihat kesal dengan Rolan yang di anggap tak perhatian dengan anaknya itu langsung pergi dengan judesnya.
Bagai di sambar petir di siang bolong, Rolan seketika membeku, bagaimana bisa putri kesayangannya itu menggunakan obat obatan terlarang, dan sejak kapan itu terjadi?
Sungguh saat ini dirinya merasa menjadi ayah yang paling abai di seluruh dunia, bagaimana bisa anaknya terjebak jerat narkoba, sementara dirinya yang mengedarkan barang haram itu.
Demi Tuhan, dirinya merasa seperti menebar racun untuk keuntunganya,namun nyatanya malah di makan oleh putri kesayangannya sendiri, apakah ini yang di sebut senjata makan tuan?
Tapi saat ini dia harus mengeluh pada siapa, mempersalahkan siapa, sementara semua sudah terjadi, di luar batas kemampuannya dalam mengawasi putrinya selama ini, katakanlah ini memang salah dia sepenuhnya, dia terima itu semua.
Oh, sungguh mungkin memang perkataan dokter perempuan itu benar adanya, dirinya tak pernah memperhatikan pergaulan anaknya, sehingga semua ini harus terjadi pada dirinya dan juga putri tercinta nya itu.
Rolan bagai tertampar oleh kenyataan yang baru saja di terimanya, kehidupan seolah sedang menertawakannya,nasib seakan sedang mencemoohnya, dia yang biasa 'meracuni' orang lain dengan obat obatan terlarang yang di edarkannya, ternyata malah putri kesayangannya sendiri yang harus mendapatkan karma dari perbuatan jahatnya, dalam hal ini dia merasa seperti sudah meracuni putrinya sendiri.
"Cari tau dari mana anak ku mendapat semua barang haram itu!" Titah Rolan pada anak buahnya yang juga ikut mendengarkan pembicaraan bos besarnya dengan dokter tadi.
"Baik Tuan," patuhnya.
Kaki Rolan seakan lemas tak bertulang saat melihat putri semata wayangnya di dorong keluar ruang igd menuju ruang perawatan, dadanya bergetar hebat tat kala dia menyaksikan Cila yang yang tergolek lemas dengan bibir yang membiru, tak dapat terbayangkan olehnya jika sampai dia harus kehilangan Cila dengan cara yang setragis itu, sungguh dia belum siap dan tak akan pernah siap, apalagi jika hal itu terjadi akibat barang haram dan terlarang yang di perjual belikannya.
__ADS_1
Apabila ada pepatah yang pantas untuk dirinya saat ini adalah, 'apa yang kamu tanam, maka itulah yang kamu tuai' itulah yang sedang terjadi pada diri Rolan saat ini, 'Everything we do, come back to us!"
Perlahan Karma mulai menyapanya, sungguh dirinya merasa menjadi ayah yang paling jahat di dunia ini, karena terlalu terlena dengan urusan duniawi, selalu merasa kalau putrinya baik-baik saja dan tak pernah berbuat hal yang mencurigakan, namun kenyataan nya justru di balik itu semua dia mengetahui semua hal ini saat semua hampir saja terlambat, kematian anak kesayangannya sungguh seperti hampir berada di depan matanya, membuat hatinya seperti sesang menaiki wahana roller coaster.
"Ayah,,," panggil Cila saat dirinya baru saja tersadar dan membuka matanya.
Rolan yang saat itu tengah duduk di samping putrinya sambil tak henti meminta maaf pada putrinya itu tak peduli meski Cila tak mendengarnya, langsung terlonjak dari tempatnya duduk dan langsung menghampiri putri semata wayangnya itu.
"Akh, Cila, sayang! Kamu sudah sadar, Nak! Ayah akan memanggil dokter dan memberitahukan jika kamu sudah siuman," Rolan berdiri dari duduknya, tubuh yang biasanya berjalan tegap dan gagah itu sekarang hanya terlihat bak pria tua yang kehilangan semangat hidupnya, wajahnya yang kusut, cara jalannya yang terlihat terseok seok akibat lelah dengan semua permasalahan yang terjadi pada dirinya yang tak hanya menyiksa jiwa dan batinnya saja, tapi tubuhnya pun menjadi sedemikian rapuh akibat pria tua itu tak nafsu makan dan tak bisa tidur di setiap harinya, sungguh saat ini Rolan terlihat bak zombie yang sedang berjalan mencari mangsanya.
"Ayah!" panggil Cila lagi menghentikan langkah Rolan yang sudah hampir sampai ke pintu.
Rolan menghentikan langkahnya lagi dan membalikan badannya, "Ada apa? Ada yang ingin kamu inginkan?" tanya Rolan berusaha tersenyum dan tetap berusaha untuk terlihat tegar di hadapan putrinya, bagaimana pun Cila tak boleh melihat nya dalam keadaan sedih, rapuh, apalagi hancur karena masalah ini.
"Aku ingin bertemu bang Lion," pinta Cila mengiba.
Seharusnya permintaan itu sederhana saja bagi Rolan dan dengan sangat gampangnya dia memanggil Toni, hanya saja, semenjak dia di ceritakan Cila tentang dirinya yang di caci maki Toni di tempat kostnya, harga diri nya sebagai ayah merasa tersakiti dan terluka, sebenarnya dia berniat bertemu Toni setelah Cila menceritakaan hal itu, hanya saja masalah demi masalah tiba tiba datang bagai banjir bah kepadanya, sehingga pertemuannya dengan Toni urung di lakukan, sungguh dia sangat ingin menghajar pria yang telah menyakiti putrinya itu sampai mati jika saja dia tak ingat kalau putrinya itu sangat mencintai Toni dengan sebegitu besarnya.
Sebesar apa dan se dalam apa Toni menyakitinya, masih saja Cila merengek untuk bertemu dengan pria itu, membuat Rolan merasa sangat kesal di hatinya, namun tak dia tunjukkan di depan putrinya itu.
__ADS_1
"Ayah, panggilkan bang Lion, aku ingin dia, aku ingin di temani tunangan ku!" rengek Cila pada Rolan yang tak menjawab keinginan dirinya sejak tadi.
Bukannya Rolan tak mau atau tak mampu mendatangkan Toni ke sana, dia bisa saja menyeret paksa Toni untuk datang ke rumah sakit dengan bantuan anak buahnya yang banyak, hanya saja dia tak ingin harga diri Cila semakin di injak injak Toni karena pria itu merasa sangat di butuhkan oleh putrinya.
Suatu hari nanti dia sendiri yang akan menemui pria itu, berbicara antar pria, bahkan kalau perlu menyelesaikan nya dengan bertaruh nyawa sekali pun.
Namun untuk saat ini Rolan rak ingin putrinya bertemu dengan pria yang selalu menyakitinya itu.
"Lebih baik kamu istirahat dulu, ayah akan menemani mu di sini dan tak akan kemana mana, ayah janji!" ucap Rolan setengah menolak namun dengan caranya yang sangat halus, takut kalau dia melukai hati dan perasaan sang putri.
"Ayah, aku hanya minta bertemu dan di temani bang Lion, itu saja, kenapa ayah tak mau mengabulkaan permintaan sederhana ku ini," mata Cila tampak berkaca kaca, itu memang senjata nya yang paling ampuh kalau keinginaannya pada sang ayah tidak di penuhinya.
"Cila, kau di perlakukan bak barang tak berharga seperti itu oleh nya, ayah sangat sakit mendengarnya, sudahlah, kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan lebih menghargai juga mencintai mu selain dia," tolak Rolan seraya memberi tahu Cila kalau dirinya itu sedah sangat menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan di mata Toni karena apapun yang putrinya lakukan itu tak akan pernah membuat Toni jafi berpaling dan melihatnya.
"Tapi pria yang aku inginkan hanya bang Lion, ayah, aku tak mau yang lain, aku bahkan tak peduli jika dia tidak mencintai ku, dia tunangan ku ayah! Tolong bawa dia ke sini!" tangis Cila pecah di tengah keinginaannya yang tak pernah di tolak oleh ayahnya itu.
"Cila, kamu sangat berharga di mata ayah, tak akan ayah biarkan orang lain menghina dan menyakiti mu, meski itu Lion sekali pun, tolong jangan merendahkan dirimu sendiri seperti ini," Rolan sungguh kebingungan dengan sikap Cila yang merajuk meminta di pertemukan dengan Toni.
Dia juga tak tau bagaimana cara dia menolak keinginan dari putrinya itu yang keukeuh ibgin bertemu dengan pria pujaan hatinya dan tak pernah menganggapnya sama sekali.
__ADS_1
"Aku akan marah dan tak mau berbicara lagi dengan ayah jika ayah tak mau membawa bang Lion ke sini,!" ancam Cila memalingkan wajahnya menghadap ke dinding merajuk seperti biasanya.
Rolan hanya menghela nafas dalam dan panjang melihat semua itu, sungguh saat ini dia bingung harus berrbuat apa.