
Panca menyambut kedatangan Toni di rumahnya dengan dengan wajah yang sumringah, berbeda dan lebih bahagia dari sebelum sebelumnya.
"Sial,,, apa kau tak bisa mengkondisikan wajah ceria mu itu, huh ?" kesal Toni.
"Aku kaya raya, mempunyai banyak senjata ilegal untuk ku jual!" pekik Panca kegirangan.
"Jaga bicara mu itu, sialan!" kesal Toni karena kini Panca di nilainya banyak bicara,
Akan sangat berbahaya jika sampai hal ini sampai ke telinga Rolan bahwa sebenarnya dirinya lah yang telah membajak semua kiriman senjata milik Rolan.
Berawal dari Toni yang tidak sengaja mendengar percakapan Rolan di telpon dengan koleganya membicarakan tentang pengiriman senjata itu saat dia sedang berada di rumah mewah Rolan, akhirnya terbersit ide licik di kepala Toni untuk diam diam menjarah kiriman senjata itu, dengan mengajak Panca berkerja sama, dengan meyewa orang pelabuhan dan beberapa orang anak buah Panca untuk menjarah dan memindahkan senjata senjata itu ke kontainer milik Panca, yang biasa dia gunakan untuk menyimpan spare part selundupan untuk kebutuhan bengkelnya.
Sementara anak buah Panca yang lain juga berpura pura memberi info pada petugas polisi yang memang sering berpatroli rutin di sana bahwa ada kontainer yang mencurigakan, tak lupa menghubungi beberapa wartawan untuk meliput, mereka biasanya akan semangat jika di beri bahan berita besar.
Meski ternyata baik para petugas maupun para pencari berita itu harus sedikit kecewa karena ternyata kontainer yang di curigai itu ternyata hanya sebuah kontainer kosong, tentu saja kosong, isinya sudah di kuras dan di pindahkan semua, tapi hal itu memang harus di lakukan untuk lebih meyakinkan Rolan kalau seluruh barang nya di sita oleh pihak kepolisian.
Bahkan saat meninjau langsung ke lapangan, Toni juga sengaja membawa 3 orang anak buah kepercayaan Rolan agar dia tak perlu menjelaskan lagi dan meyakinkan Rolan bahwa dia sudah melaksanakan apa yang di tugaskan oleh pria itu, namun memang ternyata hasilnya nihil.
Beruntung rencananya cukup berjalan lancar, dan sampai saat ini tak menemukan kendala apa pun.
"Mau kau apakan senjata senjata itu bro?" tanya Panca penasaran.
"Untuk sementara kita biarkan saja dulu di gudang spare part mu, sepertinya akan lebih aman di sana, aku belum punya rencana apa apa," ucap Toni yang ,memang belum mengetahui akan di apakan senjata senjata jarahannya itu, tak mungkin untuk dia jual daalam waktu dekat karena Rolan pasti kan mengetahui barang barang pesanannya, lagi pula tujuan Toni menjarah senjata senjata itu bukan untuk mencari keuntungan pribdinya, dia hanya ingin memberi kepusingan yng lebih banyak saja pada Rolan.
"Aku sudah mengeluarkan modal menyewa orang orang untuk mencuri barang barang itu, namun malah tak bisa di uangkan!" kesal Panca.
"Sialan kau, sejak kapan kau menghitung untung rugi dengan ku? semua senjata itu kau makan semua juga aku tak apa, tapi jangan sekarang, suasana masih panas, berbahaya, kecuali jika kau ingin mati muda di tangan Rolan dan anak buahnya, maka lakukan!" kesal Toni, meskipun tu apa yang di ucapkan sahabatnya itu hanya sebatas gurauan, namun tak pelak membuat pria itu naik darah.
Bukan masalah uangnya yang menjadi bahan pertimbangan Toni, namun keselamatan orang orang di sekitarnya seperti Raya termasuk Panca dan Dila akan terancam jika sampai mereka ceroboh atau salah dalam bertindak.
"Kenapa kau sensi sekali bro, tak santai seperti biasanya?" ejek Panca yang melihat wajah Toni menegang semenjak tadi.
"Pikiran ku kacau, sepertinya akan bahaya jika pertunangan ku tetap di pertahankan dengan Cila," keluh Toni yang masih teringat insiden buka bukaan Cila di hadapannya, bukan tak mungkin hal itu tak akan terulng kembali, bahkan mungkin akan lebih dari itu, dia cukup tau bagaimana karakter Cila yang pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang di inginkannya.
Lalu siapa yang bisa menjamin kalau dirinya bisa menahan godaan, rasanya berperang dengan hawa nafsunya sendiri lebih menantang dan menegangkan di banding berperang melawan musuh musuhnya di atas ring.
__ADS_1
"Bagaimana caranya kau terlepas dari jeratan pertunangan itu, rasanya itu akan sangat sulit, kecuali ku bisa membuktiikan kecurangan Rolan, maka semua perjanjian itu akan batal dengan sendirinya bukan?" Panca mnggaruk garuk kepalanya yang tak gatal, ikut bingung dengan apa yang di hadapi sahabatnya itu.
"Kalau aku tau caranya aku tak akan sepusing ini, aku memang sudah memegang semua bukti kecurangan Rolan, tapi rasanya belum saatnya aku membongkar semua ini," keluh Toni menghela nafas panjangnya.
"Ya bersabarlah sebentar lagi bro, toh hanya status saja, kalian juga jarang bahkan hampir di katakan tak pernah bersama sama,"
"Ah sudahlah, kau tak akan pernah tau bahaya apa yang aku hadapi," ucap Toni frustrasi.
"Bahayanya hanya jika sampai Raya tahu, tapi kalau tidak ketahuan, itu rezeki bro!" Panca seolah tau dan bisa menebak kebingungan yang sedang di hadapi Toni saat ini, dia pun pria, dan bukan pria baik baik yang lugu dan tak tau masalah seperti itu.
"Apa yang tak boleh aku tau?" pertanyaan Raya yang baru saja pulang dari kantor dan sampai ke rumah membut kedua pria yang sedang ber gibah itu pucat pasi.
"Eh, sayang Dila,,, ayo kita jalan jalan,,, sepertiny aku lapar, bagaimana kalau kita makan di luar?" Panca bangkit dari tempat duduknya dn langsung menarik lengan Dila yang bru masuk ruangan dan merasa kebingungan dengan apa yang terjadi karena dia tak sempat mendengarkan obrolan Toni dan Panca tadi, karena harus menutup gerbang terlebih dahulu, jadi agak terlambat masuk ke dalam rumah.
Mata Raya memicing ke arah Toni yang kini terlhat serba salah dan mengumpat Pnca dengan sejuta sumpah serapan dalam hatinya untuk kelancangan mulut sahabatnya yang lemes itu.
Ah, rasa rasanya dia ingin menghajar pria yang kini melarikan diri secepat kilat dan meninggalkan dirinya bertanggung jawab atas kekacauan yang di buatnya.
"Anu itu,,, aku hanya bilang kalau aku ingin mengakhiri pertunangan ku dengan Cila, aku hanya bertanya pakah dia punya solusi untuk itu, hanya itu,,," gugup Toni.
"Tapi memang itu masalahnya, itu yang sedang aku bicarakan dengan Panca," keukeuh Toni bertahan.
"Lalu tentang kalau gak ketahuan aku rezeki itu apa maksudnya?" cecar Raya tk inginmenyerah begitu saja.
"Itu kan Panca yang bilang, tanya dia lah, apa maksud dari perkataannya !?" Toni tak kehabisan akal, jika Panca bisa meninggalkannya begitu saja dengan semua kekacauan yang di timbulkan dari ucapan konyol nya, maka dia juga bisa melimpahkan semua kesalahan dan kekeliruan ini pada sahabat berengseknya itu.
"Baik jika kamu tak mau mengatakannya pada ku, jangan harap bisa menemui ku lagi!" Raya bergegas pergi ke lntai atas menuju kamarnya dan menutup rapat bahkan mengnci kamarnya itu.
Seperti anak ayam yang di tinggalkan induknya, Toni segera berlari menyusul kekasihnya dan berdiri sambil mengetuk pintu kamar Raya seraya mengiba pada kekasihnya itu agar di bukakan pintu.
Sayangnya Raya seperti tak berniat untuk membukakan pintu untuk kekasihnya itu, dia kesal karena Toni di anggap tak mau jujur padanya tentang apa yang di bicarakannya tadi dengan Panca.
"Raya,,, buka pintunya, aku mau bicara sebentar,"
"Tidak, sebelum kamu memberi tahu ku apa yang sebenarnya kamu dan mas Panca bicarakan tadi!" teriak Raya dari dalam.
__ADS_1
"Oke,,,oke,,, aku akan meceritakanny apada mu, tapi tolong buka pintunya, birkan aku masuk, tak mungkin aku menceritakannya dari sini," Toni akhirny mengalah, enth ap yng terjadi nanti setelah dirinya memberi tahu semuanya pada Raya, toh jujur atau pun bohong saat ini posisinya sama sama terancam.
Ceklek,,,!
Pintu kamar itu terbuka dari dalam,
"Cepat ceritakan semuanya, ku akan tau jika kmu coba coba berbohong, dan aku tak akan pernah memaafkan mu!" ancam Raya.
"Aku benar benar sedang membicarakan kalau aku mencari cara untuk mengakhiri pertunangan dengan Cila," lirih Toni duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Raya.
"Lalu?" ketus Raya.
"Apanya yang lalu, hanya itu!" kelit Toni.
"Yang masalah rezeki itu, apa?" Raya melotot.
'Ah, Panca sialan, kenapa membuatku berada di posisi tak mengenakan ini!' geram Toni dalam hatinya mengutuk perbuatan sahabatnya.
"Itu hanya kesimpuln yang di buat Panca sendiri, aku bahkan belum mengatakan apa alasan ku padanya," Toni tetap tak mau mengambil alih akibat celetukan maut Panca.
"Lalu apa alasannya kamu ingin mengakhiri pertunangan mu dengan Cila?" tanya Raya.
"Karena--- karena aku ingin menikahi mu!" entah bagaimana ceritanya, kenapa malah ucapan itu yang keluar dari mulut Toni.
Raya terdiam lalu perlahan sebutir air mata menetes dari sudut matanya.
"Raya kenapa? Ada yang salah dari ucapan ku?" Toni terlihat panik.
"Aku teringat ayah ku, Aku ingin ayah ku menjadi wali dalam pernikahan ku, dan menyaksikan secara langsung kebahagian ku, tapi kenapa rasanya sulit sekali menemukan ayah ku, aku rindu padanya!" kini Raya menangis tersedu di dada Toni, terdengar tangis kesakitan dan pilu kerinduan seorang anak terhadap ayahnya.
Sementara Toni hanya bisa menelan kegetiran melihat itu semua, betpa kini dadanya terasa sesak dan sakit, menyaksikan kekasih hatinya menangisi ayahnya karena kerinduannya yang bahkan Arsan sepertinya tak pernah mengingat Raya sedetik pun kecuali uang dan kekuasaan yang memenuhi seluruh ruang di kepalanya.
Ingin rasanya Toni marah, dan mengatakan pada Raya bahwa ayahnya tak pantas untuk di rindukan, tak pantas untuk di sayangi, betapa ayahnya adalah seorang pennjahat, seorang bajingan yang rela melakukan dan menghalakan segala cara demi uang dan kekuasaan.
Ingin rasanya Toni mengatakan pada Raya bahwa ayahnya lah penyebab meninggalnya sang ibu yang sangat di sayangi Raya itu.
__ADS_1
Namun apa daya semua keinginan itu hanya bisa tertahan di hatinya saja, Toni tak kuasa mengatakan semua itu.