
"Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba dia yang jadi istrimu, bukan kah kau homo?" oceh Sabrina.
Dengan spontan Raya langsung menatap wajah Toni dengan dalam, sungguh dia benar-benar kaget mendengar apa yang di ucapkan Sabrina, dia meminta penjelasan pada suaminya yang terlihat gelagapan dan melotot ke arah Sabrina.
"Sayang?!" Nada bicara Raya datar namun terdengar sangat tegas dan lumayan membuat Toni takut sekaligus ciut mendengarnya.
"Raya, tolong jangan dengarkan ucapan ngawurnya, dia sepertinya sudah sinting, itu-itu tak seperti yang kamu pikirkan percayalah jangan dengarkan ucapan orang gila itu!" Toni menaruh jari telunjuknya dengan posisi horizontal di jidatnya.
Kini giliran Sabrina yang melotot ke arah Toni, "Hey kau mengatakan ku sinting, padahal kau sendiri yang tak waras, kenapa kau menikahi anak iblis ini?" ketus Sabrina yang merasa kesal karena harus menerima kenyataan bahwa sepertinya dirinya telah di tipu metah-mentah sekarang ini, karena Toni seolah membiarkan diriya berpikiran kalau pria itu adalah penyuka sesama jenis, padahal itu ternyata hanya upayanya untuk menolak dirinya yang tertarik pada pria itu.
Sungguh Sabrina merasa kesal karena selama ini dirinya menyangka kalau Toni tak menyukai perempuan, sehingga akhirnya dia menyerah untuk menggodanya dan mencoba untuk melepaskannya, padahal sangat ingin merasakan kehangatan tubuh pria kekar itu.
"Sekali lagi kau menghina istriku, aku pastikan hari ini adalah hari terakhir mu melihat matahari!" geram Toni yang juga tak terima karena sang istri terus menerus di hina oleh Sabrina.
Tujuan Toni datang ke rumah itu dengan membawa serta Raya adalah, yang pertama dia ingin meperkenalkan sang istri dengan adik laki-lakinya yang mungkin selama ini tidak di ketahui keberdaannya, dan yang ke dua ingin agar keluarga Cobra khususnya Cobra dan Sabrina bisa menerima Raya seperti mereka menerima Yama, karena dalam hal ini Raya juga sama hal nya seperti Yama yang hanya berperan sebagai korban dari kejahatan dan keserakahan Arsan.
"Tapi kau menipu ku, kau bilang kau hanya menyukai pria!" cicit Sabrina keukeuh tak terima.
"Itu semua asumsi mu saja, aku tak pernah sekali pun membenarkan dugaan mu, aku hanya mengatakan kalau aku sudah punya kekasih, lalu aku mengatakan kalau aku sudah menikah, hanya saja aku masih belum mau mengatakan siapa pasangan ku, karena aku punya alasan sendiri untuk belum mau mengatakannya, bagaimana bisa kau menuduh ku sudah meni pu mu?" ucap Toni yang sebenarnya Sabrina pun sudah menyadarinya kalau Toni memang tak pernah mengiyakan atau pun menolak tuduhannya, tapi tetap saja Sabrina merasa kalau dirinya di permainkan Toni.
Hanya saja memang rasa kesal itu masih ada dan terasa mengganjal di hatinya, membuat perempuan itu keukeuh melimpahkan kesalahan pada Toni yang di anggapnya sudah menipu dirinya.
Raya pun sepertinya sudah mengerti dengan kondisi kesa;lah pahaman apa yang terjadi antara Sabrina dan Toni.
__ADS_1
Raya yakin kalu suaminya melakukan itu karena dia tak ingin terlibat hubungan dengan Sabrina dan juga tak ingin menghianati dirinya, untuk itu di pun tak memperpanjang masalah tuduhan Sabrina itu.
Hanya saja dia juga agak bingung, mengapa suaminya mengajak dirinya bertemu dengn Sabrina yang jelas-jelas dari awal sepertinya memusuhi dirinya tanpa dia tau apa alasannya.
"Aku hanya mau kau dan ayah mu tidak membencinya, dalam hal ini dia tak punya salah apa-apa pada kalian, selain karena di anak dari Arsan, ma hal nya seperti adik mu, dia hanya korban, kesalahan mereka hanya karena darah Arsan mengalir di tubuh mereka tanpa mereka minta, seandainya mereka bisa memilih, mereka pun ingin mengeluarkan darah yang mengalir di tbuh mereka dan di ganti dengan drah dan daging yang tak ada unsur Arsannya sama sekali, tapi bukankah itu tak mungkin?" urai Toni.
"Tapi aku tak bisa, kau sudah tau kesakitan apa yang sudah ayahnya berikan pada keluarga ku, dan kau dengan entengnya menyuruh ku untuk memaafkannya, tidak membencinya? Oh,,, permintaan mu terlalu berlebihan, Lion!" pekiknya.
"Aku tak meminta mu memaafkan istri ku atas perbuatan yang tidak dia lakukan, atau aku harus meminta maaf karena dia anak Arsan? Lalu apa bedanya dengan Yama? Kau bisa menyayanginya!" debat Toni, baagaimana pun dia harus memperjuangkan hak Raya, dia tidak berhak di benci atas kesalahan dan kejahatan yang tidak dia perbuat.
"Tunggu, apa sebenarnya yang sedang kalian perdebatkan, tolong beri tahu aku, jangan membuat ku bertambah bingung!" sela Raya menyela perdebatan suaminya dengan Sabrina.
"Sayang, nanti aku akan jelaskan, tolong beri aku waktu untuk berbicara dengan wanita keras kepala ini." ucap Toni, nada bicaranya seketika berubah menjadi sangat lembut saat berbicara dengan istrinya.
"Cih, dasar bucin, jagoan takut istri, tadi aja pas ngomng sama aku sok garang, giliran sama istrinya langsung lembek kaya kerupuk ken air!" ejek Sabrina.
"Jangan samakan dia dengan Yama! mereka berbeda," tolak Sabrina.
"Apanya yang beda? mereka sama, di tubuh mereka mengalir darah yang sama!" keukeuh Toni,dia tetap berusaha menyadarkan Sabrina yang akhirnya terdiam.
Memang mau di pungkiri seperti apapun, di tubuh Yama dan Raya memang mengalir darah yang sama, yaitu darah Arsan, untuk hal ini seribu persen ucapan Toni itu memang benar adanya, dan itu kenyataan, hnya saja memang dirinya belum bisa menerima Raya, entah apa alasannya, yang jelas masih ada ganjalan yang sulit untuk di jelaskan di hatinya, meski mereka juga sebenarnya masih saudara karena ibu mereka terikat darah yang sama walaupun hanya sepupuan.
Baiklah, aku menyerah, aku tak akan membencinya lagi, tapi itu itu bukan berati aku bisa menerimanya," lirih Sabrina yang akhirnya mengakukalah dalam perdrbatannya dengan Toni.
__ADS_1
"Oke, aku hargai itu, aku tau semua butuh waktu dan proses, setidaknya kau sudah tak membenci istri ku saja aku sudah berterimakasih pada mu, walaupun sebenarnya istri ku tak layak untuk kau benci, ini sudah semakin baik, aku menerti, dan aku menghargainya!" Toni menepuk-nepuk bahu Sabrina pelan.
"Nona, tuan Yama ingin bertemu no---" ucapan Karina yang saat itu masuk ke ruang tamu tak sengaja karena ingin memanggil Sabrina yang di panggil oleh Yama, sungguh tak ta kalau di ruangan itu ada anak sambungnya yang selama ini sering di jahatinya saat dirinya masih menjadi istri Arsan.
"Bunda?" pekik Raya spontan menutup mulutnya yang ternganga tak percaya dengan kedua tangannya, dia tak percaya jika sebenarnya sang suami ternyata menyembunyikan keberadaan ibu tirinya selama ini.
Raya menoleh ke arah Toni,
"Karina di selamatkan Martin dan Sabrina saat ayah mu menyekapnya, menyiksanya dan ingin membunuhnya," terang Toni, dia sangat mengerti keingin tahuan Raya meski hanya dari tatapan matanya saja.
"Ma-maafkan bunda Raya, selama ini bunda banyak salah pada mu, bunda bukan ibu sambung yang baik, bunda banyak melakukan kejahataan pada mu, bunda menyesal, dan bunda benar-benar ingin bertaubat, bunda mohon ampun!" Karinabersimpuh di kaki Raya yang seperti terhipnotis hanya bisa terdiam kaku.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" Toni mengusap pipi sang istri, bagaimana pun Raya belum lama ini baru saja mengalami guncangan emosi yang sangat berat akibat penculikan dan mendapati kenyataan tentang kebenaran ayahnya.
Jangan sampai niat baiknya untuk membuka tabir gelap Arsan yang memang harus di ketahui oleh Raya itu malah nantinya menyakiti wanita yang sangat di sayanginya.
"Aku baik-baik saja," Raya mengangguk.
Raya lantas membungkuk kan badannya lalu mengangkat tubuh Karina sang ibu sambung yang dulu sangat i sayanginya layaknya ibu kandungnya sendiri, sebelum semua permasalahan itu muncul di antara mereka.
"Bunda, bunda gak boleh seperti ini, ayo bangun, bunda sudh lama Raya maafkan, Raya bahagia bunda pernah menjadi bagian di perjalanan hidup Raya, malah dalam hal ini Raya lah yang seharusnya minta maaf atas kelakuan jahat Ayah pada bunda." ucapan Raya itu tak pelak memancing tangis Karina yang langsung pecah dan memenuhi se isi ruangan, mereka saling berpelukan, melepaskan semua dendam, saling memaafkan dan meluruhkan marah yang sebelumna pernah bersemayam di hati mereka masing-masing.
"Bu Karin...Bu Karin...!" panggil Yama dari dalam kamar, sepertinya suara tangisan Karina membuat bocah yang mulai menyangi Karina itu merasa cemas dengan keadaan wanita yang selalu setia merawat dan menamani hari-harinya itu.
__ADS_1
"Bunda, siapa itu yang memanggil,?" tanya Raya.
Mulut Karina seperti terkunci, dia memang sudah tau cerita se detail-detailnya tentang Yama, hanya saja bukan kapasitas dia untuk menceritakan itu semua pada Raya.