Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Lima Puluh


__ADS_3

Suara raungan motor yang sangat familiar di telinga Raya, membuat gadis itu menghentikan kegiatan makan malamnya yang tertunda akibat asik bercerita bersama Dila, sahabat masa kecilnya itu, mereka seakan tak pernah kehabisan cerita, apalagi tadi juga Dila sempat bercerita tentang rumah tangganya yang terpaksa harus kandas di tengah jalan akibat seringnya menerima KDRT dari Bara sang suami yang kini sudah di ceraikannya, namun masih mengharapkan cintanya.


Raya kembali menajamkan pendengarannya, apa dirinya se kangen itu pada Toni, sehingga baru saja semalam dirinya di tinggal sang bodyguard, dia sudah mengalami halusinasi mendengar suara motor pria berwajah dingin namun selalu membuatnya merasa aman dan nyaman itu.


"Ada apa, Raya ?" tanya Dila merasa sikap sahabatnya itu seperti terlihat sedikit aneh.


"Ah, tidak,,, tidak,,, aku sepertinya tadi mendengar---" belum sempat Raya menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba,,


Tok,,,, Tok,,, Tok,,,, !


Suara ketukan pintu dari ruang tamu depan membuatnya benar benar seakan terlonjak dari kursi makannya, sungguh dirinya merasa sangat konyol saat ini berharap yang mengetuk pintu di luar adalah Toni, padahal jelas jelas pria itu mengatakan kalau paling tidak dua sampai tiga hari lagi dia baru akan kembali ke Bandung.


Tapi tetap saja dia setengah berlari dengan semangat menuju ruang tamu, untuk membukakan pintu, bahkan hatinya berdebar tak karuan saat menuju ke sana.


"Raya, biar aku saja, kamu lanjutkan makan mu !" seru Dila yang merasa tak enak hati karena justru anak majikan ayahnya itu yang pergi membukakan pintu.


"Tak apa, tenang saja !" seloroh Raya tetap berlalu meninggalkan ruang makan dengan raut wajah yang penuh harap, tangannya sedikit gemetaran saat hendak memutar handle pintu ruang tamu itu.


Mulut Raya menganga lebar saat mendapati Toni kini tengah berdiri menatapnya di ambang pintu, beberapa kali bahkan Raya mengucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang sekarang sedang di lihatnya.


"Siapa yang datang Ra--- Eh,,, kang Toni udah pulang,? katanya Raya tiga hari lagi kang Toni baru akan kembali, sini kang, pasti akang belum makan malam, kan, saya sudah masakin makanan yang sangat enak tadi,,, ayo !" Dila terlihat lebih antusias dengan kepulangan Toni yang tiba tiba itu, di banding Raya yang masih bengong di tempatnya berdiri sekarang ini.


"Raya, apa aku boleh berbicara dan mengajak mu keluar malam ini ?" ucap Toni tak mempedulikan ocehan Dila yang panjang lebar padanya semenjak tadi.


Mata Toni seakan terus terkunci menatap Raya yang sepertinya belum tersadar sepenuhnya dari kekagetannya.


"Hahh,,, berbicara ? keluar ?" Raya malah membeo menirukan ucapan Toni.


"Hemm,,, apa kau mau ?" tanya Toni lagi,.

__ADS_1


Tatapan mata Toni seakan berbeda dari biasanya, tak terlihat tatapan jutek dan sinis di sana, namun hanya terlihat pandangan mata yang sulit untuk di artikan oleh Raya, yang jelas, tatapan mata Toni saat ini mampu membuat hatinya menghangat, entah mengapa.


Raya mengangguk pelan, bibirnya terlalu berat untuk mengatakan kebersediaannya, padahal hatinya kini sudah meloncat loncat kegiranan dan ingin berteriak agar Toni dapat mendengarnya bahwa dirinya sangat mau dan sangat besedia dengan senang hati di ajak pergi oleh pria itu, kemana pun dia akan membawa dirinya.


Dila merasa lagi lagi sedang di abaikan Toni, padahal kemarin pria itu bak pangeran berkuda putih baginya yang membela dan melindungi dirinya dari penjahat yang berniat mengusik permaisuri kesayangannya, apa dia terlalu berharap banyak pada pria yang langsung menarik perhatiannya semejak pertama kali mereka berjumpa itu ?


"Apa saya boleh ikut, kang ?" Dila bagai pejuang cinta yang pantang menyerah, siapa tahu keberuntungan berpihak padanya malam ini, dan dia bisa ikut bergabung pergi bersama Toni dan Raya.


"Motor ku hanya boleh di tunggangi oleh dua orang penumpang saja," kelit Toni seakan secara tidak langsung mengatakan kalau dia tak ingin mengajak Dila, dan hanya ingin pergi bersama Raya saja malam ini.


Dila mengalah meski kini rasanya seperti meminum pil pahit dan terasa sesak di dada, dia harus menerimanya, apalagi saingan nya Raya, anak majikan ayahnya yang cantik dan sempurna, jelas dia tak ada se ujung kukunya pun kalau harus di bandingkan dengan Raya, dia cukup tau diri, kok !


Tak sampai lima menit, entah pakai jurus apa, Raya kini sudah berganti pakaian dengan jaket tebalnya secepat kilat, dan bersiap untuk pergi bersama Toni.


Mereka berkendara berboncengan motor, tak terasa sampai lima belas menit lamanya berlalu namun mereka hanya seperti berputar putar saja di sekitar kebun teh, tanpa tujuan yang pasti, Raya pun tak ingin menanyakan kemana pria yang selalu mengganggu pikiran gadis itu di setiap harinya.


Bagi Raya, berduaan dengan Toni seperti ini sudah cukup membuatnya merasa tenang, bahagia dan seolah menjadi obat atas semua masalah yang tengah di hadapinya.


"Duduk lah !" Toni menepuk bangku kosong di sebelahnya, seraya mempersilahkan gadis yang masih berdiri kaku itu untuk duduk berdekatan dengan dirinya, suaranya terdengar lembut, tak ketus seperti biasanya.


Meski sedikit merasa aneh dengan sikap Toni yang tiba tiba tak segalak biasanya semenjak kepulangannya tadi, tapi dia belum mau mempertanyakan nya pada pria yang kini duduk terdiam tepat di sampingnya dengan mata yang terus memandangi langit cerah bertabur bintang, udara dingin bercampur kabut di sekitar sana seakan sengaja mereka tak pedulikan kehadirannya.


"Bagaimana kabar mu seharian ini ? Apa semuanya baik baik saja ?" Toni membuka pembicaraannya.


'Ya Tuhan apa ini benar benar Toni si pria bermulut pedas itu ? atau jangan jangan dia sebenarnya sudah mati dan yang ada di sini saat ini adalah arwahnya yang bergentayangan ? Mengapa dia menjadi lembut dan tak galak lagi seperti biasanya ?' bisik Raya dalam batinnya.


"Raya ?!?" panggil Toni menyadarkan lamunan Raya.


'Ah, shiiitttt ! Bahkan untuk pertama kalinya pria aneh itu memanggil nama ku dengan benar, biasanya hanya memanggilnya dengan sebutan KAU !' pekik Raya yang lagi lagi itu hanya terjadi dalam batinny.

__ADS_1


"Toni,,, kamu baik baik aja, kan ? Ini beneran kamu, kan ?" tanya Raya takut dan sedikit gugup.


"Apa maksud mu, tentu saja ini aku, dan keadaan ku---- Toni sedikit menjedanya --- sangat baik !" pria itu menbuang nafasnya kasar, seolah sedang berusaha menghembuskan beban yang menghimpit di dadanya jauh jauh.


"Ah siaal, kamu bahkan tertawa seperti itu, aku yakin kau kesambet setan kebun di jalan saat perjalanan pulang tadi !" Raya bahkan kini merinding karena Toni tersenyum tipis padanya, Raya seperti melihat orang lain di diri Toni.


"Maaf, kalau selama ini aku tak pernah bersikap baik pada mu, selalu kasar, bahkan mungkin sedikit galak pada mu, tapi ini semua aku lakukan untuk kebaikan mu, aku hanya tak ingin kau terus menjadi gadis yang lemah dan mudah di injak juga di curangi oleh orang lain.Aku ingin kau menjadi wanita kuat dan tangguh !" mungkin ini kalimat terpanjang yang di ucapkan Toni pada Raya sehingga membuat Raya tiba tiba berkaca kaca dan menangis begitu saja.


"Hey, apa yang kau tangisi, aku masih di sini dan aku baik baik saja !" Toni justru merasa kaget karena Raya malah menangis tanpa sebab.


"Toni,,, apa kamu mengidap penyakit parah ? apa itu Kangker stadium akhir ? kenapa ucapan mu tadi terdengar seperti kata kata atau pesan terakhir orang yang akan mati, huu huu huuu ,,,,!" tangis Raya pecah seketika.


"Aku memang sudah tak punya harta apa apa lagi, tapi aku rela menjual mobil ku untuk di pakai untuk biaya pengobatan mu, tolong jangan mati dulu,,, aku tak punya siapa siapa lagi, nanti siapa yang akan menggantikan mu untuk menjaga ku dan menjadi bodyguard ku ?" lanjut Raya di tengah isak tangisnya yang semakin menjadi.


Tawa Toni tak dapat di tahannya lagi, untuk yang pertama kalinya dia merasakan tertawa lepas, menertawakan kekonyolan Raya, si gadis manja yang kini tengah menangis tersedu sedu.


"Aku tak akan mati semudah dan secepat itu, aku sangat sehat, jadi berhenti menangis, sebelum kau mengundang penduduk desa datang ke sini !" titah Toni, seraya menyentil jidat Raya gemas.


"Lalu kenapa kamu seperti sedang memberi ku wasiat, tadi. Kamu tak pernah berbicara panjang seperti tadi !" raungan tangis Raya mulai berhenti meski isak nya masih dapat terdengar sesekali memecah kesunyian dia natara mereka yang kembali mengheningkan cipta.


'Tuhan,,, bagaimana caranya aku menyampaikan semua kenyataan ini, bagaimana caranya aku meninggalkan dia sendirian, dia sudah cukup terluka dan menderita dengan semua masalah yang sedang di hadapinya, apa aku bisa tega melepaskannya dari penjagaan dan pengawasan ku ?' jerit batin Toni yang seakan malam ini tiba tiba berubah menjadi sangat melow.


Semakin berat rasanya meninggalkan Raya dala keadaan seperti ini, sedangkan mulai lusa sepertinya dia tak akan pernah bisa lagi berduaan seperti ini,


Toni hanya ingin menghabiskan dan menikmati waktu terakhirnya bersama Raya sebelum dirinya terikat hubungan pertunangan dengan Cila, dia ingin mengukir kisah yang tak biasa di akhir kebersamaannya.


Hanya tersisa waktu malam ini sampai besok sore saja waktunya bersama Raya, karena besok malam dia harus kembali ke Jakarta, karena di pagi harinya, dirinya akan berubah status menjadi tunangan Cila, bukan pria yang bebas lagi.


"Ayo pulang, makin malam otak mu makin tak beres !" ajak Toni,

__ADS_1


Niat hati ingin menghabiskan malam romantis dengan Raya, namun gadis manja itu malah merusak moment, bisa bisanya dia mengira Toni mengidap penyakit parah dan akan meninggal sampai dia menangis seperti anak balita yang minta susu.


'Baiklah,,, setidaknya masih ada waktu terakhir esok hari, aku akan membuat perpisahan kita menjadi perpisahan termanis, meski di perjumpaan awal kita tak ada manis manisnya sedikit pun,' tekad Toni menyemangati dirinya sendiri agar tak kehilangan harapan.


__ADS_2