
Toni langsung meluncur ke rumah Panca mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, membelah gelapnya jalanan malam itu bak sedang kesetanan.
Wajahnya menegang sedari tadi saat dirinya menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu dan mengatakan kalau sang pujaan hati Raya belum pulang sampai jam segini, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tak biasanya Raya telat pulang dari kantor, paling telat biasanya dia pulang jam 7 malam, itu pun hanya kalau akhir bulan saja karena harus memeriksa pembukuan, dan ini masih awal bulan, belum saat nya dia lembur.
"Bagaimana, apa dia sudah pulang? Apa sudah bisa di hubungi ?" Toni setengah mendobrak pintu rumah Panca dengan kasar saat membuka pintu itu.
Nampak Dila yang sedang menangis sesenggukan di hadapan Panca yang kebingungan tak tau cara untuk menenangkannya.
"Ah, maafkan aku, sunghuh ini semua salah ku, kecerobohan ku!" ucap Dila bercampur dengan raungan tangisannya yang tak kunjung berhenti.
"Stop ! Hentikan dulu tangisan mu, ceritakan dari awal, apa yang terjadi?" karena saking paniknya Toni sampai membentak Dila yang tetap meraung raung menambah pusing kepalanya.
Bentakan Toni ternyata berhasil membuat Dila berhenti menangis meski napas nya masih sesenggukan.
"Ceritakan dari awal, apa yang sebenarnya terjadi!" titah Toni pada Dila.
"Ta-tadi ada 2 meeting, dan kami membagi tugas, agar masing masing dari kami menghadiri kedua meeting itu, kebetulan acaranya sama sama sore, jadi kita terpaksa berpisah untuk menghadiri dua meeting yang lumayan penting itu, pertemuan ku di adakan di ruang rapat kantor, sementara Raya, kliennya meminta bertemu di salah satu resto di hotel dekat kantor, Raya bilang untuk tak menunggunya, karena dia akan langsung pulang setelah meeting selesai, namun sampai jam 8 malam tadi aku dan mas Panca tunggu tunggu, Raya tak kunjung pulang, kita berdua sudah mengecek ke resto hotel tempat Raya bertemu klien nya, tapi tidak ada, bahkan kata pihak resto tak pernah melihat Raya saat aku perlihatkan fotonya," penjelasan panjang lebar Dila harus terhenti karena kini dia kembali menenggelamkan wajahnya ke dada Panca, dia tak kuasa menahan tangisnya, sungguh dia sangat merasa bersalah dan menyesal telaha membiarkan Raya pergi sendirian.
"Aku sudah cek cctv resto dan juga hotelnya di jam jam Raya janjian bertemu kliennya, tapi memang tak ada Raya datang ke sana," sambung Panca, dengan air muka yang tak kalah kacau dari Toni, bagaimana pun dia merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan Raya, karena selama ini selain Toni, dirinya juga ikut di mintai tolong oleh Toni untuk menjaga Raya.
"Siapa klien yang janjian bertemu dengan Raya tadi?" Tanya Toni penasaran.
"Dari PT. Serayu, aku sudah langsung menemuinya tadi, dia mengatakan kalau meeting di batalkan oleh Raya, bahkan dia memperlihatkan pesan yang di kirim Raya padanya," terang Panca yang tanpa di komando memang sudah melakukan dan mengupayakan segala hal demi untuk menemukan Raya.
"Ah, sialan, kenapa aku bisa kecolongan seperti ini,!" umpatnya kesal, sungguh saat ini rasanya dia ingin mengamuk saja, tapi pada siapa? Dalam hal ini dia juga tak bisa menyalahkan siapa pun, karena sejatinya Raya adalah tanggung jawabnya.
__ADS_1
"Arrrggghhh,,,!" geram Toni saat dirinya beberapa kali mencoba untuk menghubungi Raya lewat ponselnya, namun tak juga tersambung, sepertinya ponsel Raya kini di non aktif kan, atau mungkin kehabisan daya.
"Kita bagi tugas, aku mencari ke sekitar kantor, dan akan meminta bantuan Martin untuk mengecek cctv kantor, barangkali ada petunjuk, kau lacak gps mobil Raya, dan kau Dila, sebaiknya kau tunggu di rumah dan kabari aku dan Panca jika Raya pulang," titah Toni membagi tugas pada Panca dan juga Dila.
Mereka semua sepakat dan setuju dengan usul Toni, tanpa membuang waktu lagi merekaa bergegas pergi, Toni langsung menghubungi Martin, untuk menggunakan kekuasaan nya dalam mengakses informasi cctv Lubis Corp yang sekarang sedang di serah kan kepengurusannya pada Martin oleh Sabrina.
Sementara Panca langsung bergegas menuju ruang rahasia di bengkel nya yang terdapat alat alat canggih, salah satu nya alat untuk melacak keberadaaan mobil Raya yang selain di pasangi gps, dia juga memasangi alat pelacak canggih yang hanya bisa di lacak oleh alat miliknya.
Terkadang kalau sedang panik, kita jadi bingung dan lupa jika banyak hal yang bisa di lakukan dalam rangka usaha pencarian Raya, itu terbukti pada Panca yang karena saking paniknya, dia tak mengingat sedikitpun jika dia bisa melacak keberadaan mobil Raya, sehingga akan memudahkan nya dalam menemukan gadis itu.
"Kenapa kau bisa teledor seperti itu? bukankah tugas mu itu menjaga Raya? Ah, kau memang tak bisa di andalkan! Ku pikir kau mampu menjaga nya, tau begini lebih baik aku saja yang----"
Buuggghhhh,,,!
Sebuah tinju mendarat di rahang kanan Martin dari Toni yang merasa kesal karena pria itu terus mengoceh dan menyalahkannya.
Ah, Martin memang mencari mati kalau mempunyai angan angan konyol seperti itu, tentu saja Toni tak akan membiarkan itu terjadi, bahkan sebelum itu terjadi mungkin pria itu sudah mati duluan di tangan Toni.
"Hey, kau itu membutuhkan bantuan ku, kenapa kau malah menyerang ku seperti ini, aku bisa saja tak mau membantu mu!" gerutu Martin sambil mengusap usap rahang kanannya yang terasa panas, ngilu dan nyeri, sepertinya rahangnya kini agak geser dan harus mendapat perawatan setelah ini.
"Coba saja kalau kau berani tak membantu ku dalam mencari Raya, kau terlalu banyak bicara, cepat buka rekaman cctv kantor ini kalau tidak, bukan hanya tulang rahang mu yang patah, tapi seluruh tulang di badan mu bisa aku patahkan!" ancam Toni.
Martin sedikit bergidik ketakutan mendengar ancaman Toni, membayangkan seluruh tulang di tubuhnya remuk membuatnya ngilu, sementara hanya rahangnya saja yang kena tinju saja rasanya masih nyut nyutan sampai saat ini.
Martin memerintahkan sekuriti kantor dan bagian tehnik untuk membuka rekaman cctv di ruang kendali, tak sembarang orang bisa meminta rekaman cctv, untunglah ada Martin.
__ADS_1
Toni tak bisa meminta bantuan Sabrina atau pun Cobra dalam hal ini, karena kedekatannya dengan Raya masih di rahasiakan dari mereka.
Tampak di layar monitor Raya keluar dari lift menuju basement kantor menuju mobilnya, tapi tunggu,,, dia tidak sendirian, ada dua irang pria bertopi dan dan memakai masker rapat mengapitnya,memasuki mobil Raya dengan Raya yang duduk di kursi penumpang belakang, lalu mobil pun menghilang.
"Kirim pada ku bagian video itu!" titah Toni.
Pria yang bertanghung jawab di ruang kendali itu mengangguk dan mengirimkan file video itu pada Toni tanpa membantah, melihat wajah sangar Toni dengan rahang yang terus mengeras seperti itu, membuat orang yang berada di sekitarnya merasa ketakutan dan tak berani membantah apapun yang di katakan dan di perintahkan oleh Toni.
Aura membunuh sang singa kembali menguar kuat saat ini, membuat seluruh ruangan itu terasa dingin dan mencekam.
"Terimakasih atas bantuan kalian, aku permisi!" Pamit Toni, dia harus segera bergerak dan mencari tahu tentang informasi yang baru saja dia dapat, tapi itu tak bisa dia lakukan di depan Martin dan kedua anaka buah nya.
Namun baru saja Toni sampai di pelataran parkir Lubis Corp, ponselnya berbunyi, terlihat nama Panca sebagai penelpon.
Tonivsegera mengangkatnya, berharap ada kabar baik kalau Raya sudah pulang dan kini berada di rumah.
"Bagaimana, Raya sudah pulang?" tanya Toni to the point.
"Belum, tapi aku baru saja menemukan titik keberadaan mobil Raya, mobilnya berada di perbatasan," terang Panca.
"Kirim lokasinya pada ku aku akan segera meluncur ke sana," pinta Toni.
"Oke, aku juga akan ke sana, kita bertemu di sana, Dila tetap aku suruh di rumah di temani beberapa anak buah ku, barangkali Raya pulang." pungkas Panca.
'Ah, apa sebenarnya yang terjadi pada Raya,? Tuhan,,, jangan biar kan terjadi apa apa pada kekasih ku, sungguh akuvtak akan memaafkan diri ku sendiri jika sampai hal buruk terjadi padanya'
__ADS_1
Jerit batin Toni di sepanjang perjalanannya di sela dia berusaha sekuat tenaga menenangkan hatinya yang terasa kacau,, namun ketakukan dan pikiran buruk itu tetap saja hadir di kepalanya dan seakan tak mau pergi.
Sungguh keadaan ini membuat hatinya sangat kacau, bayangan bayangan buruk tentang Raya silih berganti hadir di pelupuk matanya meski mati matian dia menepis semua itu, apalagi saat mengingat dua pria yang mengapit Raya saat di basement kantor dan mengikutinya masuk ke dalam mobilnya lalu menghilang begitu saja.