
Hanya tinggal satu langkah lagi bagi Sabrina untuk mengakhiri semua dendam dan kesakitan yang berpuluh tahun berkarat di hatinya.
Toni dan Panca saling berpandangan, menyamakan suara hatinya lewat tatapan mata, sama-sama saling bertanya, 'apa saat ini Rolan cukup bisa di percaya?' begitu kira-kira pertanyaan mereka jika di artikan.
"Kalian tak perlu ragu, meski aku tau ternyata kalian lah yang sudah mencuri senjata-senjata milik ku, dan itu akan kita bicarakan setelah ini," Ujar Rolan seakan mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Panca dan Toni saat ini.
"Sukurlah kalau kau tau pada akhirnya," timpal Toni cuek.
"Jadi bagaimana, apa aku dan anak buah ku di ijinkan untuk ikut menyerang bersama kalian?"
Toni tak langsung menjaab pertanyaan yang di lontarkan Rolan itu, jujur saja setelah sekian banyak tipuan yang Rolan berikan padanya, rasa kepercayaan nya untuk pria yang kini tak berdaya di kursi roda itu sudah pupus tak tersisa.
"Kau akan ikut kami? Dengan keadaan seperti itu?" Tanya Toni merasa tak yakin.
"Tubuh ku mungkin boleh saja lemah, tapi semangat ku untuk membantai Arsan tak pernah melemah walau sedikit pun!" ucapnya yakin.
Sekali lagi Toni melirik Panca dan Sabrina, dia butuh dukungan keyakinan, tapi kedua orang yang di liriknya hanya terdiam seolah tak ingin mengambil resiko jika mereka ternyata salah dalam mengambil keputusan, bagaimanapun Rolan adalah Rolan, tak ada yang bisa menebak apa yang ada di dalam isi kepalanya.
Terakhir Toni melirik sang istri yang sejak tadi di abaikan nya, namun di luar dugaan, Raya mengangguk pasti, seakan memberi keyakinan penuh pada suaminya kalau bantuan Rolan sebaiknya di ambil saja.
"Baiklah, kau boleh bergabung bersama kami. Untuk masalah senjata mu itu semua masih tersimpan, hanya terpakai beberapa, anggap saja sebagai kompensasi karena kau banyak menipu ku. Semoga kali ini kau bisa di percaya, karena kalau tidak, aku tak akan segan untuk mendorong kursi roda mu utu sampai ke neraka!" ancamnya.
"Masalah senjata kita bicarakan nanti , sebaiknya sekarang kita atur strategi untuk menaklukan Arsan." Jawab Rolan terkesan santai namun tetap fokus pada tujuan.
"Berapa orang anak buah yang kau bawa?" tanya Toni.
__ADS_1
"Sekitar seratusan," Rolan terlihat sedikit mengerutkan keningnya, seolah sedang mengingat-ingat.
"Perintahkan mereka untuk mengepung dan bersiaga di pinggiran sekitar hutan, jangan biarkan Arsan dan asistennya lolos dan keluar dari hutan, aku ingin semua selesai malam ini juga." kata Toni.
"Hanya itu?" Rolan seakan menantang.
"Lakukan saja dulu apa yang aku inginkan," ketus Toni lalu bangkit dari tempat duduknya dan menarik paksa istrinya untuk ikut bersamanya ke lantai atas menjauh dari semua orang yang berkumpul di ruang tamu rumah itu.
Dengan patuh Raya hanya mengikuti langkah suaminya dengann pasrah, melihat suaminyayang marah dan mengabikannya semenjaak tadi membuatnya tak berani bertanya tentang apapun pada suami arogant nya itu.
"Duduk!" Perintah Toni saat mereka sudah berada di balkon rumah itu.
"Kenapa kamu lakukan semua ini? Kenapa kamu tak mendengar apa yang aku katakan untuk tetap di rumah aman bersama Yama dan Karina? Apa kamu sengaja datang ke sini untuk membuat ku cemburu karena melihat mu berduaan dengan mantan pacar berengsek mu itu?" Nada bicara Toni memang terdengar pelan, tak ada bentakan atau terikan, tapi kalau boleh memilih, Raya saat ini akan lebih memilih di bentak atau di teriaki dari pada mendengar pertanyaan sang suami dengan nada lirih namun sangat menusuk hatinya.
Melihat Rya menahan tangis seperti itu, batin Toni pun sebenarnya merasa sakit, dia tak tega melihat sang istri seperti terintimidasi oleh dirinya.
Toni mengalah, dia berjongkok dihadapan Raya, memperhatikan dengan cermat wajah wanita yang selalu ada di pelupuk matanya dan menari nari di kepalanya itu.
"Mafkan aku, aku takut kamu kenapa-napa aku takut kamu dalam bahaya, aku takut berpisah dengan mu, aku takut kehilangan mu, aku takut--" ucapan Toni tak bisa dia lanjutkan lagi karena kini Raya sudah berhambur memeluk suaminya dengan erat.
Raya tak bisa lagi membendung derasnya air mata yang membuatnya terisak dan tergugu dalam dekapan sang suami.
Tangan Toni pun terulur mengusap lembut kepala Raya dengan sayangnya, se marah dan se kesal apapun dia pada istrinya, tentu saja dia tak akan pernah bisa tega jika melihat istrinya menangis sampai tersedu seperti itu.
"Aku--aku juga takut saat menerima pesan itu, aku takut kalau kamu benar-benar tertangkap oleh mereka, pikiran ku kacau, aku tak bsaberpikir dengan jernih lagi, makanya aku putuskan untuk datang kesini memenuhi keinginan mereka." Terang Raya denga suara yang terputus-putus akibat tersedak dengan tangisnya.
__ADS_1
"Oke,,oke,,aku minta maaf. Aku tau niat mu baik, ini mungkin karena aku yang terlalu overthinkig saja, maafkan aku, tolong berhenti menangis, jangan buat aku semakin merasa bersalah karena telah menyebabkan mu menangis seperti ini!" pinta Toni penuh sesal, sesekali dia menciumi kepala istrinya yang masih saja terisak tak mau berhenti.
"Jangan marah dan mengabaikan ku lagi!" rengek Raya.
"Iya, tapi tolong behenti menangis, ada hal penting yang harus aku tanyakan pada mu, dan ini benar-benar harus segera aku tanyakan pada mu,"
Raya mengurai pelukannya dari dada sang suami lalu mencoba menata dan menenangkan hatinya, menstabilkan emosinya yang terlanjur meninggi sehingga dia melampiaskannya dengan tangisan nya.
"Apa kamu sudah tenang sekarang?" tanya Toni lagi seraya memberikan sebotol air mineral untuk di minum istrinya.
Raya mengangguk setelah menenggak separuh dari isi botol itu.
"Aku tak ingin menyalahkan mu tentang kamu yang menghbungi dan meminta bantuan Rolan, aku mencoba untuk mengerti, saat itu kamu dalam keadaan panik, tapi pertanyaannya mengapa harus Rolan? Apa kamu lupa apa yang pernah pria tua itu lakukan pada mu?"
Raya kembali terdiam sejenak memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan kalau dirinya tak punya pilihan lain selain meminta bantuan, dan entah mengapa nama yang muncul pertama kali untuk di mintainya pertolongan adalah nama Rolan, sehingga tanpa pikir panjang dia pun langsung menghubungi Rolan yang tanpa di duga menerima nya dengan tangan terbuka, dan bersedia membantunya, seakan mereka tak pernak terlibat konflik sebelumnya, tak ada ketakutan pada diri Raya mengingat beberapa waktu lalu Rolan pernah berusaha untuk menculiknya dan mencelakakannya.
Bagi Raya, selama itu demi keselamatan sang suami, dia akan siap menghadapi apapun, bahkan jika dia harus menyingkirkan harga diri dan rasa takutnya untuk menemui Rolan yang pernah hampir merenggut nyawanya itu, keyakinan di hatinya menutupi semua itu, dia yakin kalau Roln bisa membantunya menyelamatkan Toni.
"Aku tau, aku juga ingat dan tak mungkin melupakan apa yang pernah dia perbuat pada ku, tapi saat itu aku hanya mengikuti kata hati ku, aku yakin dia mampu menolong ku menyelamatkan mu." Urainya.
Toni menghela nafas beratnya, meski dia tak dapat menerima apa yang di uraikan Raya padanya, namun dia mencoba untuk tetap mendengarkan dan berusaha untuk tak mendebat apapun yang di katakan oleh istrinya itu.
"Lantas kesepakatan apa yang Rolan minta untuk dia bisa menolong mu?" lanjut Toni.
Menurut apa yang di alaminya selama ini, Rolan bukn masusia yang sangat baik dan bisa menolong orang lain apalagi dalam hal ini Raya adalah putri dari musuhnya yang pernah dia gunakan untuk menekan Arsan, dengan cuma-cuma, Toni yakin klu ada kesepakatan anatara Raya da Rolan yang tak dia ketahui.
__ADS_1