
"Raya, sayang, bangun lah!" Suara Toni terdengar sangat gemetar, apalagi saat telapak tangannya yang menyapu di pipi Raya, kulit mulus kekasihnya itu terasa dingin.
"Raya, tolong bangunlah! jangan seperti ini!" lirihnya lagi mengiba.
Toni mulai membuka lakban yang menutupi bibir merah Kekasihnya itu, terlihat sedikit bercak darah di sudut bibir Raya, ngilu rasanya hati Toni membayangkan apa yang di alami Raya sebelum ini, begitupun saat Toni berusaha membuka ikatan tali di tangan dan kaki sang kekasih yang terlihat sampai memar dan membiru akibat kencangnya ikatan itu membuat darah Toni seketika mendidih, siapa yang dengan tega memperlakukan kekasihnya itu sampai sedemikian kejinya.
Andai saja pantas, sebenarnya Toni ingin menangis meraung raung saat mendapati keadaan kekasihnya yang tergeletak tak berdaya itu.
Toni lantas mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Raya yang membiru kemerahan karena memar.
"Bagaimana?" suara Panca terdengar parau saat menanyakaan keadaan Raya, dia sampai menahan napasnya untuk menunggu jawaban dari sang sahabat.
Panca baru bisa mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi saat pertama kali menemukan kondisi Raya yang tergeletak tak berdaya di lantai, dia langsung diam mematung, menyaksikan Toni yang duduk bersimpuh di sebelah tubuh Raya sambil mencoba menyadarkan Raya.
Toni terkesiap saat mendapatkan denyut nadi kekasihnya meskipun sangat lemah,
"Dia masih hidup, Raya masih hidup, kekasih ku masih hidup!" pekiknya yang langsung mengangkat tubuh Raya dalam gendongannya,
"Ayo, cepat! kita harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat," ajak Toni.
Tak terasa lelah atau berat sedikit pun saat itu, bagi Toni dia harus segera sampai menuju tempat tadi Panca memarkirkan mobilnya di sebelah motor yang tadi di kendarainya, cukup jauh mereka berjalan, melewati semak dan bebatuan yang terus menyiksa kaki Toni karena berjalan terburu buru dan tak melihat pijakan, dia hanya terus memperhatikan wajah kekasih dalam gendongannya, sambil sesekali melihat ke depan seakan tak sabar ingin segera sampai di tepi jalan.
Beberapa kali Panca dan anak buahnya menawarkan diri untuk membantunya membopong Raya, saat mereka melihat Toni kepayahan dan berulang kali hampir terjatuh, namun pria itu menolaknya,
"Aku bisa!" jawabnya pasti, seakan tak rela jika harus di pisahkan lagi dengan sang kekasih yang masih tetap terpejam meski tubuhnya terguncang akibat Toni yang setengah berlari saat menggendongnya.
Mereka bertiga pun tak bisa berbuat apa apa selain membukakan jalan di depannya untuk Toni agar dia tak kesulitan dalam melewati gelapnya malam dan medan yang sulit di lalui karena beban menggendong Raya di dadanya.
Sampailah mereka di tepi jalan tempat mereka memarkirkan kendaraannya tadi setelah sekitar tiga puluh menit berjalan tanpa henti.
Toni ikut ke mobil Panca bersama Raya, mereka harus segera membawa gadis itu ke rumah sakit demi menolong jiwanya, sementara motornya di bawa salah satu anak buah Panca untuk di bawa pulang.
__ADS_1
Karena rumah sakit jaraknya sangat jauh dari perbatasan, akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Raya ke klinik dekat sana untuk mendapatkan pertolongan pertama,
"Bagaimana keadaan pacar saya, dok?" Toni mengejar seorang dokter perempuan yang kebetulan berjaga di klinik tersebut, dini hari itu.
"Pacar anda kondisinya masih lemah, perawat sudah menginfusnya, kita tunggu beberapa saat, sekitar 30 menit, semoga pacar anda segera sadar dan ada kemajuan, namun kalau tidak, pacar anda harus tetap di rujuk ke rumah sakit besar," terang dokter itu memberi penjelasan.
Toni mengusap wajahnya dengan kasar, betapa dirinya masih belum bisa bernapas lega meski kekasihnya kini sudah di temukan, karena Raya masih belum juga tersadar dari pingsannya.
Toni mengirimkan sebuah video yang tadi di dapatnya dari cctv Lubis Corp pada Panca.
"Tolong selidiki siapa kedua orang itu!" ucap Toni dengan nada serius dan wajah yang kembali menegang.
Sudah tak terlihat lagi wajah dirinya yang kusut, sedih dan tak bersemangat seperti saat pria itu berada di dekat Raya dan menghawatirkan kondisi dari kekasihnya itu.
Sekarang berganti menjadi wajah garang dan kejam Toni yang siap menuntut balas pada siapapun yang telah dengan lancang dan berani membuat kekasih nya berada dalam keadaan se parah ini.
"Sepertinya aku pernah melihat kedua orang ini," ucap Panca sambil terus memperhatikan kedua orang pria yang berada di dalam sebuah video yang di kirimkan Toni padanya.
"Siapa mereka?" Tanya Toni antusias, tiba tiba tinjunya terasa gatal dan lapar ingin menghabisi nyawa orang orang yang di yakininya sebagai penculik Raya itu.
"Kalau yang ini setahu ku, kalau aku tidak salah mengenali, dia itu salah satu preman di pelabuhan," jawab Panca sambil men zoom bagian wajah pria yang di curigainya sebagai salah satu preman di pelabuhan itu.
"Preman pelabuhan?" Beo Toni, menukikkan kedua alisnya merasa bingung, bagaimana bisa preman pelabuhan menculik kekasihnya, ada masalah apa mereka dengan Raya?
Toni mulai memutar otaknya, mengingat ingat barangkali dirinya ada masalah dengan para preman pelabuhan, tapi rasa rasanya dia tak punya masalah apapun dengan mereka, dan kalaupun ada yang merasa tersinggung atau merasa bermasalah dengan dirinya, mereka juga tak mungkin menculik Raya, karena semua orang tau kalau Cila lah tunangannya, sementara hubungannya dengan Raya tak ada yang tau selain orang orang terdekat di sekitarnya seperti Panca dan Dila.
"Tuan, kekasih anda sudah mulai siuman!" seorang perawat menghampiri Toni yang sedang mengobrol dengan Panca di luar ruang rawat Raya, karena tak ingin mengganggu istirahat gadis tercintanya.
Toni mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam ruang rawat dimana Raya saat ini terbaring lemah di atas ranjang pasien.
"Sayang!" panggil Toni sambil mendekat ke sisi ranjang kekasihnya, saat terlihat Raya membuka matanya namun masih terlihat bingung dan linglung.
__ADS_1
Sungguh saat ini Toni ingin memeluk dan menciuminya untuk mengungkapkan betapa bahagianya dirinya dapat melihat kembali kedua manik mata berwarna coklat indah milik kekasihnya itu, namun menyadari betapa tubuh kekasihnya itu sedang sangat lemah, Toni mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu, Toni meraih tangan kanan Raya yang punggung tangannya di pasangi selang infus berisi cairan obat yang Toni tak mengerti untuk apa, hanya saja terbukti penanganan dokter di klinik itu sangat baik, sehingga Raya kini sudah membuka matanya.
"Raya, sayang, apa ada bagian tubuh mu yang sakit?" Tanya Toni saat melihat lelehan air mata keluar dari ujung mata kekasihnya, dengan telaten Toni mengusap lelehan bening itu dengan ibu jari nya.
Raya hanya terdiam sambil menggelengkaan kepalanya pelan, namun air mata itu seakan tak mau berhenti menetes, terus saja menganak sungai melalui sudut matanya.
"Raya, kenapa? Mana yang sakit, katakan! Aku tak tau kalau kamu hanya diam dan menangis seperti ini?" ujar Toni bingung.
Sungguh nyeri rasanya hati Toni seperti di remas keras saat melihat Raya yang mengunci mulutnya namun terus terusan menangis tanpa dia tahu apa yg menyebabkannya menangis, terluka, atau bahkan kesakitan kah?
"Sayang, jangan seperti ini!" Ucap Toni lagi yang merasa putus asa karena Raya tak kunjung mengatakan apapun padanya.
"Kamu marah pada ku? Maafkan aku yang lengah dan tak becus menjaga mu, aku bersalah pada mu!" cicit Toni terus menyalahkan dirinya.
Raya membalas genggaman tangan Toni yang sedang menggenggam tangannya, kepalanya menggeleng beberapa kali.
"Tidak, kamu tidak bersalah apapun pada ku, kamu sudah sangat maksimal menjaga dan melindungi ku," lirih Raya, suaranya bahkan masih terdengar lemah dan terkesan di paksakan.
"Ah, sayang akhirnya kamu mau berbicara dengan ku lagi, aku takut, aku pikir kamu sudah tak mau lagi berbicara dengan ku," ucap Toni sangat senang bisa mendengar lagi suara kekasihnya meski masih terdengar sangat lemah.
"Toni, apa tawaran mu saat mengajak ku menikah waktu itu masih berlaku?" Tanya Raya tiba tiba.
Toni terkesima dengan pertanyaan yang meluncur dari mulut Raya.
"Apa saat itu kamu hanya bercanda?" lanjut Raya dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa.
"Tidak, tidak, bukan seperti itu maksud ku, aku hanya--- "Toni menjeda ucapannya karena harus menetralkan suasana hatinya yang tiba tiba kacau tak karuan mendengar ucapan Raya padanya.
"Aku hanya kaget dengan apa yang kamu katakan pada ku, kenapa tiba tiba kamu---" lagi lagi Toni tak kuasa menyelesaikan kalimatnya.
"Ya, aku serius, apa tawaran itu masih berlaku? Apa kamu masih mau menikahi ku?" Tanya Raya lagi dengan tatapan mata yang sangat teduh dan agak mengiba.
__ADS_1